Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 77


Felly dan Papanya pun duduk berhadapan di salah satu kursi dekat dengan pintu masuk. Satu-satunya kursi yang baru saja kosong.


“Ada apa Papa mencariku?” tanya Felly setelah ia meletakkan satu cup kopi buatan Danesh.


Papa Rey tak meminumnya. Ia hanya melihat cup itu sekilas dan kembali menatap putrinya. Ia harus waspada, siapa tahu menantu yang tak ia harapkan itu memberikan sianida di dalamnya.


“Kembalilah bekerja, aku tak tega melihatmu hidup kesusahan seperti ini,” ucap Papa Rey. Ia gengsi sekali untuk mengatakan permasalahan perusahaan yang dia hadapi.


“Terima kasih tawaranya. Tapi maaf, aku tak tertarik. Aku sudah bahagia hidup seperti ini bersama suamiku,” tolak Felly dengan tegas.


Membuat Papa Rey mendelik. Sialan, dengan terpaksa dirinya harus mengatakan yang sesungguhnya. Mungkin dengan Felly mengetahui perusahaan yang kacau, bisa menggugah hati putrinya itu untuk mau menerima tawarannya kembali mengelola perusahaan.


Papa Rey berdehem sejenak untuk menurunkan gengsinya pada anak sendiri. “Perusahaan sedang membutuhkanmu, terutama kerja sama dengan Mr. Nakamoto. Dia hanya ingin bekerja sama langsung denganmu, dan saat ini perusahaan sedang sangat kacau akibat Fenny yang tak becus mengelolanya,” jelasnya. Sudah dipastikan, saat ini ia sangat malu di hadapan Felly. Namun ia tak akan mengakui kekalahannya.


Felly menaikkan sebelah alisnya. “Apa artinya, saat ini Papa sudah menyesali perbuatan Papa?” tanyanya.


“Memangnya ada alasan untukku menyesali perbuatanku? Suamimu itu memang pantas ku perlakukan seperti itu,” tutur Papa Rey angkuh.


Felly menggeleng, tak habis pikir dengan Papanya. Sudah seperti ini masih saja Papanya itu tak sadar diri. “Maaf, Pa. Aku tak bisa kembali ke perusahaan lagi. Silahkan nikmati kopinya. Tenang saja, kami bukan orang jahat yang tega memasukkan sianida ke dalam minuman orang.” Ia pun bangkit dari duduknya. “Silahkan Papa renungkan lagi, sebelum Papa menyesal ketika perusahaan keluarga Wilson gulung tikar,” ujarnya menakut-nakuti. “Permisi.” Ia hendak melangkahkan kakinya kembali masuk ke area yang dikhususkan untuk karyawan saja.


“Tunggu.” Papa Rey mencegah Felly untuk berhenti. “Aku menyesali semua perbuatan yang aku lakukan pada suamimu.” Terpaksa dia harus mengatakan itu. Dia tak ingin perusahaannya tinggal nama.


Felly tersenyum puas. Ia sudah tahu sedari melangkahkan kaki keluar rumah besar, pasti hari seperti ini akan terjadi. Ia pun memutar tubuhnya untuk menatap Papanya. “Jika menyesal, minta maaflah pada suamiku.”


“Oke, panggilkan dia ke sini.” Sejujurnya, Papa Rey tak rela melakukan hal yang diperintahkan oleh putrinya itu. Namun mau bagaimana lagi. Ia belum ingin hidup susah akibat bangkrut. Meskipun dia bisa menjalankan perusahaan sendiri, namun rekan bisnis perusahaannya mayoritas sudah berganti kepemilikan dan hanya menginginkan kerja sama dengan yang berumur setara.


Papa Rey menghela napasnya sejenak. Ia pun berdiri agar pandangannya sejajar dengan Danesh. Ia mengulurkan tangannya. “Maafkan perbuatanku selama ini. Aku sudah banyak menyiksamu, bahkan berniat jahat ingin membunuhmu.”


Danesh menaikkan sebelah alisnya. Ia melihat sekilas tangan mertuanya namun tak membalas.


Felly menyenggol tangan suaminya. “Kau memaafkan Papaku atau tidak?” tegurnya.


“Tidak,” jawab Danesh singkat.


Membuat Felly dan Papa Rey membulatkan matanya mendengar jawaban itu.


“Sombong sekali, aku bahkan sudah menurunkan harga diriku untuk meminta maaf denganmu,” sergah Papa Rey dengan nada bicara kesalnya.


“Aku tak memintamu untuk menurunkan harga dirimu,” balas Danesh tetap dengan dirinya yang minim ekspresi.


Papa Rey sudah mengepalkan tangannya di bawah sana. Matanya pun mendelik. Benar-benar ia sangat emosi dengan menantunya satu itu.


Felly mengelus lengan suaminya dengan lembut. “Dengar, memaafkan itu indah. Tuhan saja maha pemaaf, kenapa hamba-Nya tidak?” bujuknya.


Danesh menengok ke kanan dengan kepalanya yang sedikit menunduk agar bisa melihat wajah istrinya. “Sayangnya, aku bukan Tuhan.”


Danesh hendak kembali ke tempatnya semula, namun ia berbalik terlebih dahulu untuk mengatakan sesuatu. “Jika dengan kata maaf semua perbuatan jahat terselesaikan, maka penjaga neraka dan petugas sipir penjara akan makan gaji buta karena tak memiliki pekerjaan. Kejahatan tetaplah kejahatan, harus ada balasan setimpal.” Ia pun kembali ke balik mesin kasir. Ia sudah merencanakan pembalasan untuk mertuanya dan juga adik iparnya saat hukumannya selesai.