
Pagi harinya, Felly baru membuka matanya sebentar tapi kembali menutup lagi. Tubuhnya benar-benar berasa ringan setelah ia tidur selama dua belas jam. Jalan kaki di siang hari sungguh membuatnya lelah. Ia belum sepenuhnya sadar, nyawanya masih perlahan mengumpul. Namun perut keroncongannya sunggu mengganggu dirinya yang masih ingin bergelayut di atas ranjang.
“Lapar, ya? Anak-anakku?” Tangan Felly mengelus perutnya, matanya masih terus terasa mengantuk. “Maafkan Mommymu ya, sepertinya terlalu lama tertidur. Daddymu masuk ke dalam mimpi Mommy, membuat Mommymu ini malas untuk bangun,” kelakarnya seolah memberikan alasan pada janin di kandungannya.
Dirasa nyawanya sudah mengumpul, Felly pun membuka matanya. Ia mulai duduk sejenak sebelum ia keluar kamar untuk mencari makanan yang bisa mengisi perutnya.
Felly melihat pakaiannya. “Siapa yang mengganti pakaianku? Apakah Danesh?” gumamnya saat mengetahui kain yang melekat di tubuhnya sudah tak sama lagi.
“Tentu saja dia, memangnya di dalam apartemen ini ada orang lain lagi selain aku dan suamiku.” Felly menjawab sendiri pertanyaannya.
Felly mulai menurunkan kakinya dari ranjang untuk menapaki lantai dengan keramik biasa. Ia hendak berdiri namun diurungkan karena ia tersadar sesuatu. “Tunggu. Berarti semalam bukan mimpi? Apa itu sungguh terjadi namun aku hanya berasa semua ilusi?” ujarnya dengan wajah yang mulai merona.
“Apa aku harus bertanya dengannya? Apakah aku memuaskannya?” Felly justru takut jika dirinya tak bisa membuat Danesh puas. Mungkin dirinya bisa membuat suaminya jatuh cinta dengannya menggunakan hal itu.
Felly pun memutuskan untuk keluar kamar. Bertepatan dengan Danesh yang baru saja masuk ke dalam apartemen dengan meneteng plastik berwarna putih berisi nasi uduk yang baru saja ia beli.
“Akhirnya kau bangun juga, kau tidur sudah seperti orang mati. Lama sekali,” kelakar Danesh seraya kakinya mengayun mendekati meja kecil untuk makan. “Sarapannya.” Ia meletakaan bawaannya ke sana.
Felly bingung dan menimbang-nimbang, apakah ia harus bertanya tentang hal intim semalam atau tidak. Ia sejujurnya malu ingin bertanya, tapi ia sangat takut jika suaminya tak puas dengan dirinya.
“Em ... Danesh?” panggil Felly.
Danesh yang tengah menyiapkan piring untuk mereka berdua makan pun menghentikan aktivitasnya dan berbalik menatap istrinya. “Ya?” balasnya.
Danesh menaikkan sebelah alisnya. “Apa? Mau bertanya sesuatu?” Ia semakin mendekati istrinya hingga keduanya saling berhadapan dan berjarak satu langkah saja.
“Apa semalam kau yang menggantikan bajuku?” tanya Felly. Matanya lurus kedepan sehingga yang ia tatap adalah dada bidang Danesh, sebab tubuh pria bule itu sangatlah tinggi.
“Iya, maaf aku tak meminta izinmu. Aku ingin membangunkanmu untuk membersihkan dirimu tapi tidurmu sangat pulas, jadi aku tak ingin menggangumu,” jelas Danesh dengan kepala yang sedikit menunduk untuk melihat Felly.
“Terus, baju dan dalaman ini milik siapa? Aku tak membawa ganti satu pun.” Wanita itu sangat penasaran.
“Milikmu, aku yang membelikannya semalam.”
Felly mendongakkan kepalanya menatap Danesh. “Milikku? Bagaimana kau bisa tahu ukuranku?”
Danesh terkekeh. “Tentu saja aku tahu, kita kan pernah tidur bersama dan aku pernah memegang milikmu. Aku sudah bisa memperkirakan sendiri dengan sekali pegang,” tuturnya.
Felly menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Jadi, apakah semalam kau menelanjangiku?”
Danesh mengangguk. “Maaf.”
“Apakah semalam aku membuatmu puas?” tanya Felly. Ia menggigit bibir bawahnya setelah melontarkannya.