
Fenny baru saja pulang dari belanja. Setiap hari wanita itu memang senang berfoya-foya. Sangat sulit untuk hidup hemat. Karena dengan berbelanja terus ia bisa menyombongkan hartanya pada teman-temannya. Ia keluar dari mobil barunya dengan gaya angkuhnya. Terlihat Danesh tengah menyapu daun-daun kering yang gugur dari pohon rindang di rumah besar keluarga Wilson.
“Heh miskin,” panggil Fenny pada Danesh.
Danesh tak menengok sedikit pun ia juga tak menanggapi. Dirinya tak merasa dipanggil.
Fenny yang geram pun datang mendekati Danesh dan mendorong tubuh pria bule itu dengan sekuat tenaganya, membuat Danesh sedikit mundur karena kuda-kudanya tak terlalu kokoh.
“He! Kau dengar tidak aku panggil?” tanya Fenny dengan ketus. Wajahnya sangat menyebalkan.
“Kau memanggilku? Aku tak merasa ada yang memanggil namaku,” elak Danesh kembali melanjutkan aktivitasnya untuk menyapu.
Fenny menggemelatukkan giginya, matanya mendelik seperti ingin keluar dari tempatnya. “Miskin ....” Ia berteriak. “Itu panggilan yang cocok untukmu dariku,” lanjutnya.
Danesh menatap datar Fenny. “Aku punya nama, Danesh! Ingat itu!” tegurnya tak suka dirinya dipanggil miskin.
“Tak cocok, lebih cocok, m-i-s-k-i-n, miskin.”
Danesh malas menanggapinya. Hanya membuang tenaga saja mengikuti permainan Fenny.
“Ambil belanjaanku di bagasi, dan bawakan ke kamarku. Jangan sampai ada yang tergores ataupun rusak sedikit pun. Bahkan papper bagnya jangan sampai tergores, harus tetap utuh. Aku tak yakin kau akan bisa menggantinya jika barang-barang brandedku yang baru rusak,” titahnya. Tak lupa ia menyunggingkan senyum mengejeknya pada kakak iparnya itu.
Danesh tetap tak menjawabnya. Namun ia menjalankan apa yang diperintahkan oleh Fenny. Hal itu masih normal dilakukan oleh seorang pelayan, jadi ia tak masalah melakukannya.
Danesh langsung turun lagi ke bawah untuk membersihkan area dalam rumah utama. Pekerjaannya sebagai pelayan di rumah keluarga Wilson sungguh melelahkan. Hampir delapan puluh persen pekerjaan dialihkan padanya semua.
Fenny yang duduk di sofa ruang santai keluarga melihat kondisi rumah. “Felly belum pulang, kesempatan untukku menyiksanya,” gumamnya saat ia melihat sekitarnya masih sepi dan jam menunjukkan pukul tiga sore, belum waktunya saudara kembarnya itu untuk pulang.
Wanita licik dan suka berlaku seenaknya itu tersenyum smirk. Ia memanggil Danesh untuk mendekat.
“Ada apa lagi?” tanyanya dengan nada malasnya.
“Ambil makanan di dapur, jangan menggunakan sendok,” titah Felly dengan tangannya yang terlipat di dada.
Pria bule itu bergegas mengambilkan pesanan Felly. Dan kembali lagi setelahnya. “Ini.” Ia menyodorkan pada Fenny piring berisi tumis kangkung dan ikan goreng.
Danesh menghela napasnya, lagi-lagi ia sudah merasa tak enak dengan permintaan adik iparnya itu. Namun ia tetap meletakkan di tempat yang disebutkan oleh Fenny.
“Sudah, kau makanlah itu, pekerjaanku masih banyak,” pamit Danesh hendak meninggalkan Fenny.
“Siapa yang mengizinkanmu pergi!” seru Fenny.
Membuat Danesh berbalik. “Apa lagi?” sentaknya sudah sangat kesal.
“He! Turunkan nada bicaramu itu! Aku majikanmu,” peringat Fenny.
Danesh hanya memutar bola matanya malas.
“Makan itu, dan jangan menggunakan tangan untuk memakannya. Gunakan mulutmu langsung.” Fenny tersenyum membayangkan pria itu melakukan hal yang ia minta.
“Kau pikir aku hewan? Yang benar saja jika memberi perintah!” tolak Danesh. Enak saja dirinya direndahkan seperti itu.
“Berani kau membantahku? Akan aku adukan pada Papaku,” ancamnya.
...........
Jangan lupa:
1. Like
2. Komen
3. Hadiah
4. Follow akun noveltoon/mangatoon aku
5. Follow instagram aku: heynukha