Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 33


Tengah malam Felly merasakan perutnya sangat lapar. Padahal ia sudah tidur beberapa jam. Tangannya menyibakkan selimut yang membungkus dirinya.


Felly menurunkan kakinya perlahan dari tempat tidur. Ia memakai sendal dengan bulu-bulu halus.


Tujuannya adalah dapur untuk mencari apa pun yang bisa ia makan. Dengan cahaya yang remang-remang ia menuruni tangga.


Masih ada suara TV menyala dari ruang santai keluarga. Sepertinya ada seseorang yang tengah menonton siaran sepak bola di sana jika didengar dari suaranya.


Felly mengucek matanya sebentar untuk melihat siapa orangnya. Ternyata ... “Erland?”


Orang yang merasa dirinya dipanggil pun memutar tubuhnya untuk melihat sumber suaranya. “Fel? Kenapa bangun? Apa suara TV nya terlalu besar dan mengganggu tidurmu?”


Felly menggeleng pelan. “Tidak, aku lapar dan ingin mencari makanan di kulkas. Kau kenapa tak menonton TV di kamar?”


Erland mengedikkan bahunya. “Hanya ingin menonton di sini saja, lebih leluasa.”


“Lanjutkan saja.” Felly memberikan isyarat menggunakan tangannya agar Erland kembali melihat TV dan menghiraukannya.


Kaki jenjang yang betisnya terekspose itu kembali mengayun menuju tempat tujuannya. Felly membuka kulkas dengan dua pintu. Ia membuka sisi kanan dan kiri untuk melihat keseluruhan isi di dalamnya.


“Ada coklat.” Mata dan tangan Felly langsung tertuju pada makanan manis itu. Ia mengambilnya dan juga buah-buahan segar yang sudah dikupas dan dipotong.


Felly kembali menutupnya, ia sangat terkejut saat ada seseorang yang berdiri di samping kulkas. “E ... setan, maling, copet, pocong, kuntilanak.” Saking terkejutnya, ia menyebutkan jenis makhluk tak kasat mata. Makanan yang ada di tangannya pun terjatuh di lantai. Untung saja buahnya berada di dalam wadah tertutup, jadi tak akan berserakan.


Orang yang membuat Felly seperti itu pun terkekeh mendengarnya. Ia berjongkok untuk mengambil coklat dan buah. Ia memberikannya pada Felly dan langsung diterima.


“Untung aku tak memiliki penyakit jantung, bisa mati berdiri karena kaget aku jika kelakuanmu seperti setan,” cibir Felly dengan kesal.


“Mana ada setan setampan aku.” Erland mengacak-acak rambut Felly. Ia rindu bisa berduaan dengan wanita yang masih bersarang di hatinya.


Felly meletakkan makanan yang ia bawa, ia menarik kursi yang ada di ruang makan dan mendaratkan pantatnya di sana. “Kau lapar juga?” tanyanya pada Erland.


Erland yang berdiri pun ikut duduk di samping Felly. “Tidak, aku hanya rindu berdua denganmu. Sudah lama rasanya kita tak seperti ini.”


Dengan mulutnya yang mengunyah coklat, Felly mencoba menghela napasnya. “Ingat, Erland. Kau sudah memiliki istri yang harus kau jaga perasaannya, kita harus saling melupakan dan merelakan.”


Erland meraih tangan Felly. Ia menggenggamnya dengan erat, bahkan ia menghiraukan Felly yang mencoba untuk menarik tangan dari genggamannya.


“Sulit, Fel. Kau sangat berbeda dengan Fenny. Jauh. Melupakanmu sangatlah berat dan tak mungkin bisa.”


“Tapi harus dilakukan, Erland. Ingat, calon anakmu ada di dalam perut Fenny. Kau harus menjaga perasaannya. Ia sudah rela mengandung anakmu.”


“Fel, kau tahu betul bagaimana bisa seperti itu. Aku dijebak olehnya. Aku tak mencintainya.” Selagi ada kesempatan, Erland ingin mencoba membujuk Felly. Mungkin ia bisa kembali lagi.


...........


Jangan lupa:


1. Like


2. Komen


3. Hadiah


4. Follow akunku


5. Follow instagram aku: heynukha