Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 64


Danesh bersyukur sekali, karena pemilik kedai yang ingin dia beli sangatlah baik hati dan percaya dengannya. Meskipun tak berhasil bernegosiasi harga agar lebih murah lagi, namun ia berhasil mendapatkan cicilan. Ia boleh membayar seharga dua ratus juta rupiah di awal dan sisanya menyusul dengan cara mencicil. Karena sang pemilik kedai buru-buru ingin pindah ke luar negeri, sehingga ia tak akan ada waktu untuk menunggu pembeli kedainya. Bahkan Danesh pun membayar sisanya dengan mentransfer.


Keesokan harinya, Danesh langsung berniat membuat grand opening coffee shopnya. Ia tak butuh waktu lama untuk mempersiapkan semuanya, sebab kedai yang ia beli sudah bagus dan lengkap semua peralatannya. Ia hanya mencopot nama kedai lama dan mengganti dengan yang baru saja.


“Aku ikut, ya?” rengek Felly saat keduanya selesai sarapan dan Danesh terlihat rapi seperti ingin keluar. “Aku ingin membantumu juga di sana.”


Tak ada jawaban dari Danesh, membuat Felly mengerucutkan bibirnya. “Tenang saja, aku tak akan bekerja yang berat-berat. Biarkan aku jadi kasir di sana. Lagi pula, kau kan belum memiliki karyawan. Memangnya bisa melakukan semua pekerjaannya sendiri?” lanjutnya mencoba bernegosiasi.


Danesh tersenyum pada istrinya. “Iya, boleh. Tadinya aku memang ingin meminta bantuanmu.”


“Yes ....” Felly sangat senang diizinkan bekerja bersama suaminya. Reflek, dia pun mengecup pipi Danesh.


...........


Kedai coffee shop milik Danesh berada di salah satu ruko yang tak terlalu luas, namun penataannya rapi, serta tempat parkirnya juga lumayan sedang. Banner yang dipesan olehnya secara mendadak dan untungnya bisa jadi dalam waktu satu hari, sudah dipasang di depan kedai.


Danesh sengaja segera membuka usahanya, sebab ia tak ingin terlalu lama menganggur dan berakhir uangnya habis untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.


“Abang bule, yang punya tempat ini?” tanya salah satu pengunjung itu.


“Iya.” Danesh tersenyum ramah. Ia tak boleh datar seperti biasanya. Bisa-bisa pelanggannya kabur semua. “Silahkan langsung memesan ke kasir dan pilih kursi yang masih kosong.” Danesh memberikan arahan pada pengunjung.


“Selamat datang di Triple D Coffee, ada yang bisa dibantu?” Felly langsung menjalankan tugasnya, ia menyapa pengunjung dari balik mesin kasir.


Danesh menamai kedainya dengan Triple D Coffee, sebab ia sangat rindu dengan keluarganya yang memiliki inisial nama sama semua dengannya.


Sementara itu, di rumah besar keluarga Wilson. Fenny tengah mendapatkan omelan dari Papanya karena tak mau bekerja menggantikan Felly. Keduanya tengah duduk saling berhadapan dengan pembatas meja kerja.


“Pa, nilai bisnisku kan selalu jelek. Memangnya Papa mau perusahaan keluarga kita bangkrut? Lagi pula aku sedang hamil, Pa. Mana bisa aku berpikir yang berat-berat,” tolak Fenny dengan mengerucutkan bibirnya.


“Jika bukan kau, lalu siapa lagi? Papa? Papa sudah tua, tenaga tak sebanyak saat muda lagi. Felly pun hamil tetap bekerja dan tak menjadikan sebagai alasan. Mulailah belajar menjadi anak yang bermanfaat untuk keluarga!” tegas Papa Rey. Ia tak mau diberikan penolakan apa pun.


“Lagi pula ini salah Papa, kenapa Papa harus menyuruh Felly berhenti bekerja,” kesal Fenny.