DI CINTAI JIN TAMPAN

DI CINTAI JIN TAMPAN
Episode sembilan (mencari tempat tinggal baru)


"Hana, kamu mau kemana?" tanya Bu Eha di seberang jalan yang sedang menyapu halaman warteg nya.


"Hana mau pindah, Bu. Kamarnya mau di tempatin sama ponakan Bu Miranti katanya," jawab Hana yang masih berdiri di depan gerbang.


"Sini, Ibu mau ngomong penting!" kata Bu Eha seraya melambaikan tangan.


Hana melihat kanan dan kirinya, jalanan terlihat sepi, ia pun segera menyebrang jalan menghampiri Bu Eha.


"Iya. Kenapa, Bu?" tanya Hana yang sudah berada di depan bu eha.


"Semalam, Ibu dapat pesan, katanya beliau nggak bisa datang, terus minta kamu sendiri yang datang ke sana, gimana mau nggak?" tanya bu Eha yang menghentikan aktivitasnya.


"Untuk sekarang enggak jadi dulu, Bu. Hana mau buka usaha," tutur Hana, ia ingin pergi dari area tersebut, karena ia merasa kecewa dengan Bu Miranti yang mengusir nya tanpa menjelaskan kesalahan Hana.


Lalu, Hana dan Bu Eha di kejutkan dengan kedatangan ambulan yang masuk gerbang kos Bu Miranti.


Keduanya memperhatikan para petugas yang memakai seragam putih itu membawa tandu ke lantai atas.


"Ada apa itu, Hana?" tanya Bu Eha sedikit panik.


"Nggak tau, Bu, Hana juga baru keluar pagi ini," jawab Hana.


Lalu, Bu Eha pamit pada Hana untuk melihat ke seberang jalan.


"Hana pamit, Bu," seru Hana dari tempatnya berdiri.


"Iya, kamu hati-hati Hana, semoga beruntung," jawabnya seraya berlari masuk gerbang kos Miranti.


"Pufttt, kita mau kemana Tomo?" tanyanya seraya mengusap pucuk kepala Tomo.


Setelah itu Hana memutuskan untuk melangkahkan kaki, mengikuti kemana langkah membawa.


Ia sudah berjalan sepanjang 1km, merasa lelah ia memutuskan untuk berhenti dan duduk di bawah pohon mangga yang tumbuh liar di pinggiran jalan.


Sedangkan Tomo, sebenarnya ia ingin membawa Hana ke dunianya agar Hana tidak kebingungan lagi dengan tempat tinggal, tetapi Tomo tidak bisa karena ia sendiri ingin hidup bersama dengan Hana sesuai dengan apa yang Hana mau, Tomo memutuskan untuk setia berada di sisi Hana di manapun Hana berada.


_____________


Lalu, Hana yang sedang duduk itu melihat seorang nenek-nenek yang sepertinya ingin menyebrang jalan, terlihat nenek itu hampir terserempet motor.


Dengan cepat, Hana bangun dan menolong nenek itu, Hana menariknya ke belakang membuat nenek itu selamat.


"Nenek mau kemana? Ada yang luka tidak?'' tanya Hana seraya memperhatikan si nenek.


" Nenek enggak kenapa-kenapa, terimakasih," katanya.


Setelah itu nenek kembali ingin menyebrangi jalan dan Hana membantunya, kemudian terdengar suara seorang pria muda memanggil nenek dengan sebutan Eyang, mungkin itu adalah cucunya si nenek.


Dengan nafas tersengal, pria itu mengejar nenek.


"Eyang, mau kemana?" tanyanya seraya menahan lengan nenek.


"kamu siapa, saya mau pulang," jawab nenek.


"Jalan pulang ke sana, Eyang!" kata pria itu seraya menunjukkan arah sebaliknya.


"Maaf, Masnya cucu Nenek ini ya?" tanya Hana yang masih berdiri di samping Nenek.


"Saya cucu nya, Nenek saya udah linglung, kabur-kaburan mulu," jawab pria itu.


"Ya udah kalau gitu, aku permisi dulu," kata Hana yang kemudian meninggalkan nenek dan cucu yang masih berdebat di tepi jalan.


Terdengar kalau nenek tidak mau pulang, dia bilang tidak mengenal pemuda tersebut, justru si nenek terus memanggil Hana sebagai cucu nya.


"Gading," seru nenek itu seraya mengikuti Hana.


"Iisshh, ya ampun. Nenek ayo cepat pulang, ini Gading di sini," kata pria itu seraya mengejar si Nenek.


Hana yang merasa diikuti, ia melihat ke belakang, ia menghentikan langkah kakinya setelah melihat Nenek mengejarnya.


"Aduuh, Mbaknya saya boleh minta tolong nggak?" tanya pria itu yang mengiringi Nenek.


"Minta tolong apa?"


"Kalau Mbaknya enggak sibuk, tolong anterin Nenek saya pulang dulu, nanti kamu diam-diam kalau mau pergi," katanya, terdengar memberi saran.


"Kasian juga sih ni anak," gumam Hana dalam hati, ia pun menyetujui permintaan pria itu yang bernama Gading.


Lalu, Gading berjalan di belakang Nenek dan Hana seraya menunjukkan kemana arahnya.


Gading membawa dua wanita itu masuk komplek elit.


"Enggak kok, dikit lagi, sebagai gantinya nanti akan saya antar kamu pulang," jawab pria itu yang jaraknya tidak jauh dari Hana dan neneknya.


"Manis banget sih nih cewek," batinnya seraya memperhatikan Hana dari belakang.


"Pulang? Aku aja nggak punya rumah," batin Hana.


"Nah, itu dia rumah saya," kata pria itu seraya menunjukkan pagar rumah yang terbuka, terlihat ada seorang wanita berpakaian sangat rapih, ia berdiri di pintu menunggu Gading dan neneknya pulang.


Semakin dekat, Hana semakin jelas dapat melihat siapa wanita itu, Hana menghentikan langkah kakinya setelah melihat jelas wajah wanita itu.


"Apa, dia kan wanita kaya itu," gumam Hana dalam hati.


"Ayo masuk dulu," kata Gading mengajak Hana.


Hana menggelengkan kepala, ia tahu sifat wanita itu, ia memutuskan untuk segera pergi.


"Aku sampai sini aja ya," kata Hana seraya memberikan tangan nenek pada pria yang dipanggil Gading.


"Gading, ketemu dimana Eyang kamu ini!" tanya wanita itu seraya mendekati Nenek dan membawanya masuk.


Wanita itu melirik dan tersenyum pada Hana. Entah, Hana tidak mengerti apa maksud senyumannya itu.


Hana memutar balikkan badannya, ia kembali berjalan kaki menuju gerbang komplek elit tersebut.


Sesaat kemudian, Hana mendengar suara motor gede yang berhenti di samping nya.


"Mau kemana biar saya antar?" kata pria itu yang mengambil Tomo dari gendongan Hana, ia membopong kucing tersebut dan mengelus kepalanya.


"Aku nggak punya tempat tinggal, jadi bingung mau pulang kemana," jawab Hana jujur seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mau cari kos?" tanyanya.


Hana mengangguk.


"Saya ada kos-kosan, banyak kamar kosong, di sana kos putri, sepertinya bakal cocok sama kamu," katanya seraya mengembalikan Tomo.


"Ayo, naik," perintahnya.


Lalu, Hana naik ke motornya dan benar saja pria itu membawa Hana ke kos putri yang terdiri dari 40 pintu.


Hana turun dari motornya, ia menanyakan berapa sewa untuk satu bulan.


"Untuk bulan pertama saya kasih gratis dulu, sebagai ucapan terimakasih udah bantu Eyang," kata pria itu.


"Mas Gading," lirih seorang wanita yang sepertinya baru pulang bekerja, terlihat dari seragamnya, ia bekerja di salah satu bank swasta.


Gading dan Hana melihat kearah wanita itu.


"Ayo mampir, Mas," ajaknya yang masih berdiri di depan gerbang.


"Kamu duluan aja," kata Gading, ia merasa geli dengan wanita yang selalu mengejarnya.


"Ayo masuk, sini aku bantu bawa," kata Gading seraya meminta tas di punggung Hana.


Hana yang merasa lelah itu membiarkan Gading mengambil tas miliknya.


"Krucuk," terdengar suara perut Hana yang mengundang perhatian dari Gading.


Gading melihat ke arah sumber suara itu, ia tersenyum pada Hana yang salah tingkah. Lalu, Gading mengambil ponselnya di saku celana, ia memesan makanan online.


Setelah itu, Gading membawa Hana ke salah satu kamar kos, kamar itu ada di lantai tiga, pintu nomor lima.


Hana melihat kamar yang lebih bagus dari milik Miranti.


Kamar kos Gading lengkap dengan AC.


"Untuk bulan selanjutnya kamu bayar normal yah, satu juta lima ratus," kata Gading seraya memberikan kunci kamar.


Hana mengangguk.


"Mas," lirih Hana memanggil Gading yang sudah berada di tangga.


"Iya, kenapa?" tanya Gading melihat kearahnya.


Bersambung.


Mampir? Jangan lupa like dan fav ya kak ✌