
Hana ikut mengantarkan Damar ke tempat peristirahatan terakhir nya begitu juga dengan Gading.
Setelah itu, ia kembali ke rumah di antar oleh Gading.
"Makasih, Kak. Aku jadi ngerepotin," ucap gadis berambut hitam itu seraya turun dari motor.
"Nggak apa, kebetulan aku masih cuti jadi enggak begitu sibuk, oia, aku permisi dulu, Eyang sendirian di rumah. Maaf ya nggak bisa bantu," kata Gading.
"Nggak papa, malah aku makasih banget udah ditolong-in."
Setelah itu, Gading kembali ke rumahnya, meninggalkan Hana seorang diri yang mulai membereskan pecahan beling.
"Kasian Damar, harus meninggal di usia muda, ah tapi kan umur nggak ada yang tau!" gumam Hana dalam hati.
Sementara itu, Gavin sedang menangis di kamarnya setelah di bawa pulang oleh kedua orang tuanya.
"Bu, dengerin Gavin, Bu. Gavin tau siapa pelakunya, dan pelaku itu harus dihukum, Bu!" ucap Gavin dari kamar.
"Bagaimana ini, Pak. Masa anak kita gila!" kata Aminah Ibunda Gavin.
"Ya gimana, untuk saat ini lebih baik Gavin kita kurung dulu dari pada membahayakan orang lain, apalagi yang diserang seorang gadis dan kucing," timpal Handoko seraya memakai jaket kulit berwarna hitam.
"Lah, Bapak mau kemana? Anak lagi keadaan kaya gini masa Ibu mau ditinggal!" protes Aminah.
"Anak buah di toko kalau nggak di awasin bisa malas-malasan, Bu, kalau ada apa-apa kabarin aja!" ucap Handoko seraya memberi punggung tangan untuk dicium oleh istri tercintanya.
"Hati-hati, Pak!"
"Hmm, ya," jawab pria yang sedikit garang itu dengan kumis tipis menambah ketampanannya di mata Aminah.
__________
Di kamar, Gavin merasa menyesal karena tidak ikut ke pemakaman teman rasa saudara yang dimilikinya.
Pria yang masih lengkap dengan seragam batik bermotif 'pring sedapur' itu mengepalkan tangan, dendamnya masih belum terbalaskan, pria yang biasanya selalu cengengesan itu bertekad akan membalas kan kematian Damar.
Gavin keluar dari kamar melalui jendela, pria yang tersulut emosi itu kembali menemui Hana dengan membawa belati yang ia simpan di laci meja belajar.
Sekarang Gavin sudah berada di depan pagar rumah Hana, ia membuka pagar perlahan dan melihat kucing yang diincar sedang menatap duduk di tengah pintu, dan pria itu merasa kalau kucing tersebut sedang menertawakan dirinya.
Gavin mengeluarkan belati dari saku celananya, berjalan seraya mengayunkan dan tangannya tertahan oleh Hana yang mencegahnya dari belakang.
"Lepas Hana!" seru Gavin.
"Kamu gila, Gavin. Kenapa kamu bisa sebenci ini sama Tomo!" kata Hana seraya menahan tangan Gavin.
Dan Hana yang merasa kalau tenaganya itu kalah, membuat gadis berbibir tipis itu berteriak meminta tolong.
Teriakan Hana mengundang para warga mendekat, warga sekitar menganggap Gavin gila dan sangat membahayakan.
Salah satu warga yang berhasil melerai Gavin dan Hana itu menelepon rumah sakit jiwa.
Gavin meronta saat ambulan datang.
"Gue nggak gila, kalian akan menyesal karena tidak mendengar ucapan gue!" teriak Gavin.
"Aaaaaaaa, Awas kamu kucing sialan!" teriak Gavin, dan ternyata ada beberapa dari temannya yang baru pulang sekolah dan melayat itu melewati rumah Hana dan melihat kerumunan yang mengundang rasa penasaran siswa dan siswi dari sekolah Gavin dan Damar, salah satunya ada Kia.
Gadis berambut coklat itu merasa kalau apa yang di ucapkan oleh Gavin adalah benar, mengingat Hana adalah dukun lotre bisa saja Hana melukai Damar membuat pria yang ia sukai itu kehilangan nyawa.
Di rumah sakit jiwa, Gavin duduk di bawah pintu yang terkunci dengan menekuk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana.
Di luar kamar Gavin, ada Aminah dan Handoko yang saling menguatkan, mereka tak menyangka kalau anak bungsu dari dua bersaudara itu akan bernasib malang.
Waktu berlalu begitu cepat bagi semua orang, tetapi tidak bagi Hana dan Gavin.
Gavin tak memejamkan mata barang sedetikpun.
Sedangkan Hana, ia memikirkan Gavin yang berkali-kali ingin menghabisi nyawa Tomo membuat dirinya tidak fokus dalam belajar membuat cake.
Selesai dengan belajarnya, Hana pergi menemui Gavin, gadis cantik itu melihat Gavin dari jendela yang di teralis, terlihat pria yang sedang meringkuk di atas brangkar.
________________
Setelah itu Hana pergi dari RSJ tersebut, ia berpapasan dengan Kia saat menuruni anak tangga, tapi keduanya tak saling menyapa.
Kia terus melanjutkan langkah kakinya ingin segera menemui Gavin, hanya Kia lah yang mempercayai ucapan Gavin.
Dari jendela, Kia memanggil pria yang masih meringkuk itu.
"Gavin."
Gavin pun melihat kearah sumber suara, setelah itu, pria yang sembab tersebut bangun dari brangkar.
"Ki, lo percayakan kalau gue enggak gila!"
"Iya, gue percaya, tapi cara lo yang salah Gavin!" jawab Kia dari balik jendela.
"Terus gue harus gimana, Kia?" tanya Gavin seraya jarinya menggenggam besi teralis.
"Jangan bertindak aneh, bersikap sewajarnya aja, gue juga nggak suka sama Hana tapi nggak gitu caranya!" kata Kia.
"Ok, Ki. Gue minta sesuatu boleh?" tanya Gavin menatap manik mata Kia.
"Apa?"
"Beliin gue kopi!"
"Cih, lagi kaya gini aja sempet-sempetnya minta ngopi!" gerutu Kia yang kemudian pergi meninggalkan Gavin untuk membelikan apa yang Gavin minta.
Kia segera memberikan kopi tersebut, setelahnya gadis imut itu segera pulang karena hari sudah malam.
_________________
Di rumah Hana, dirinya baru saja sampai dan sekarang gadis yang terlihat murung tersebut sedang menutup pintu pagar.
Ia segera membuka pintu utama dan di susul oleh Tomo yang entah datang dari mana, dan sekarang Tomo mengekori Hana, mengikuti langkah kaki Hana.
"Dari mana, Tomo?" tanya Hana seraya menutup pintu, tidak lupa ia menguncinya.
______________
Di RSJ, Gavin duduk lesehan menatap kopi hitam yang berada didepannya.
"Kenapa gue sebodoh ini, seharusnya gue cari bukti dulu kalau memang kucing itu bersalah atau tidak. Dan lagi, apakah benar kucing itu pembunuh Damar? Kenapa tidak ada bekas luka seperti cakaran atau semacamnya!" kata Damar berbicara sendiri.
Gavin memutuskan untuk tidak meminum kopi tersebut untuk memastikan sekali lagi tentang kucing hitam milik Hana, apakah ia akan datang menemuinya lagi atau tidak, mengingat Gavin telah menyerangnya berkali-kali.
Bersambung.
Apakah Gavin akan bertemu dengan Tomo? Bagaimana kelanjutannya?