DI CINTAI JIN TAMPAN

DI CINTAI JIN TAMPAN
Mengalahkan T


Dukun tersebut terkejut melihat sosok tinggi besar dengan rupa yang menyeramkan, dia tidak merasa mengundang jin lain lalu jin siapa ini yang mendatanginya.


"Apa jangan-jangan dia jin yang mengalahkan jin ku?" tanyanya dalam hati.


"Siapa kamu berani sekali mengusik ketenangan ku bersama kekasihku!" bentak T pada dukun itu.


"Haha," dukun itu tertawa mendengar T mengatakan itu.


"Jin yang malang, hanya mencintai tanpa dicintai!" kata dukun itu membuat T geram.


T mencekik dukun itu lalu melemparkannya ke sesajen yang berada di atas meja kecilnya.


"Crakh!" suara benda-benda yang pecah.


"Uhuk!" dukun itu terbatuk dan kembali muntah darah.


"Sialan!" gerutu dukun itu yang kemudian merasakan lehernya terlilit dan itu adalah ulah T yang tidak segan menghabisi dukun itu.


"SIAPAPUN YANG MENGUSIK HANA, DIA AKAN BERHADAPAN DENGANKU!" kata T dengan mata yang merah menyala.


T kembali teringat dengan ucapan dukun itu yang mengatakan kalau cintanya tak terbalas membuat T berfikir kalau itu memanglah benar, Hana hanya menganggap T mimpinya bukan nyata dan T berniat membawa Hana ke alamnya dan menjalin cinta yang sesungguhnya di alam T tanpa hambatan dan tanpa repot lagi menyingkirkan orang-orang yang mendekati Hana.


T kembali ke toko dan tak mendapati Hana, dimana Hana? T bertanya-tanya.


Hana sedang dalam perjalanan bersama Gavin.


Hana menangis sesenggukkan di belakang Gavin, gadis itu sempat tidak percaya pada Gavin dan marah, tetapi yang Gavin ucapkan memang benar semua.


Flashback on


Gavin kembali ke toko Hana, mengatakan apa yang terjadi pada dirinya.


"Hana!"


"Ya," Hana yang sedang membantu menyusun kue di etalase itu melihat kebelakang.


"Gavin? Ada apa?" tanya Hana merasa heran.


"Aku mau bicara empat mata, di luar," kata Gavin dan Hana mengikutinya.


"Hana, aku mau jujur sama kamu, sekarang entah semua keputusan ada di tangan kamu, apa kamu mau menjadi lebih baik lagi? Demi Allah, Hana. Aku tidak berbohong."


"Gavin, aku nggak ngerti sama maksud kamu," kata Hana.


Gavin pun sudah pasrah, terserah Hana akan percaya atau tidak setelah dirinya mengatakan yang sejujurnya.


Gavin bertanya,


"Hana apa kamu selalu bermimpi ditemui oleh pria tampan?"


"Apa, bagaimana dia tau? Dan aku harus jawab apa?" batin Hana.


"Jujur saja Hana, ini menyangkut hidupmu!" kata Gavin mencoba meyakinkan Hana.


Hana terdiam membuat Gavin menyimpulkan bahwa diamnya Hana adalah jawab dari iya.


"Kamu tau? Kenapa semua pria yang mendekatimu akan tewas?" tanya Gavin dan Hana menggelengkan kepala.


"Itu semua karena kucing kamu Hana!" kata Gavin membuat Hana kembali muak karena Gavin kembali menyalahkan seekor kucing.


"Aku kira kamu sudah berubah, Gavin. Tapi ternyata sama saja!" kata Hana seraya membalikkan badan meninggalkan Gavin yang menatapnya.


Gavin ingin meraih lengan Hana dan memaksanya untuk percaya tetapi ditahannya karena Gavin tidak ingin menyentuh gadis yang bukan muhrimnya.


"Hana, tapi semua yang ku katakan adalah benar, aku bisa membuktikan, kamu harus tau kebenarannya, Hana!" seru Gavin dari tempatnya berdiri.


Hana berdiri di pintu masuk tokonya, membenarkan semua yang Gavin tau.


"Dia adalah Jin yang jatuh cinta sama kamu, Hana! Setidaknya percayalah sedikit saja demi orang-orang yang sudah meninggal itu termasuk Damar!" kata Gavin, pria itu ingin Hana membuka mata dan pikirannya.


Hana terdiam...


"Baik, buktikan kalau ucapanmu benar, Gavin!" kata Hana.


"Ikutlah dengan ku, Hana. Aku akan membawamu pada kyai yang InsyaAllah bisa menolongmu," bujuk Gavin.


"Tapi aku masih belum percaya seratus persen sama kamu, Gavin. Aku takut kamu apa-apakan di jalan nanti. Aku hubungi kakak dulu!" kata Hana yang kemudian menelepon Gading.


Dengan senang hati Gading mengantar Hana dan Gavin.


Flashback off


Sekarang Gavin, Hana dan Gading sudah sampai di rumah Gavin.


"Besar juga rumah Gavin, aku kira dia anak yang enggak jelas dulu... apa karena aku menilai dari penampilan aja," gumam Hana dalam hati.


"Assalamu'alaikum" seru Gavin seraya mempersilahkan tamunya masuk.


"Wa'alaikumussalam," sahut Kyai dan orang tua Gavin yang sudah menunggu.


"Oo, jadi ini. Cantik, pantes Gavin terpesona," ledek Kyai yang membuat Gavin merasa malu.


"Astaghfirullah," ucap Gavin seraya mengusap dadanya.


Tidak berlama-lama lagi Gavin dan Kyai masuk ke kamar Gavin, entah apa yang mereka lakukan. Kyai juga meminta Hana untuk mengambil wudhu dan Hana pun menurut.


Gavin duduk bersila, memejamkan mata. Dirinya bersiap untuk menemui T dan melunasi janjinya yang mengatakan akan mengalahkan T.


Benar saja, T yang sudah geram dengan Gavin itu ternyata sudah menunggu, karena setelah melawan Gavin T akan membawa Hana, T ingin menunjukkan kekuatannya pada pria muda itu.


"Berani sekali kamu mencariku!" kata T yang sedang duduk di bangku taman tempat biasa berpacaran dengan Hana.


"Aku akan melunasi apa yang dulu ku katakan!" jawab Gavin.


Pria itu mulai membacakan ayat-ayat suci Al-Quran membuat T merasa panas, begitu juga dengan Kyai yang sedang me-rukiah Hana.


T merasa di kepung oleh orang-orang yang baru Hana temui.


T merasa jengkel, jin itu pun mulai mengeluarkan kuku hitam panjangnya, tetapi Gavin tidak takut, pria itu semakin keras membacakan ayat-ayat suci Al-Quran.


"Aaakhh," pekik T seraya tangan menutup telinganya.


"Hentikan!" teriak T seraya berlari ke arah Gavin dan perkelahian pun terjadi.


Gavin berhasil menghindari serangan demi serangan dari T dengan mulut yang tak berhenti melantunkan ayat-ayat suci.


"Kau, keparat!" kata T yang mulai sudah tidak dapat menahan rasa panas di tubuhnya.


Begitu juga dengan Hana yang sedang merasa mual-mual karena dirukiah oleh Kyai.


Gavin ingin membalas kematian temannya dengan cara yang menyakitkan untuk T, lebih menyakitkan dari T menyiksa Damar.


"Bagaimana? Aku bukan lagi anak kecil yang bisa kau remehkan!" kata Gavin pada T yang sudah berlutut seraya memegangi kepalanya.


T melepaskan tangan dari kepalanya setelah Gavin berhenti membacakan ayat-ayat suci.


T kembali ke wujud aslinya yang menyeramkan, tinggi besar, hitam dengan mata merah, T berlari ke arah Gavin berdiri.


Melihat itu Gavin sedikit terkejut, pria itu mundur satu langkah lalu mengeluarkan tasbih yang berada di saku kokonya. Gavin mulai bertasbih, walau Gavin sempat terkena pukulan di dadanya tidak membuat Gavin gentar dan takut.


Gavin melawan jin itu dengan mulut terus bertasbih lalu Gavin tidak ingin berlama-lama lagi, pria itu duduk bersila melantukan ayat-ayat suci membuat jin hitam itu mulai terbakar dan menyesal karena tidak segera membawa Hana ke alamnya.


Bersambung