DI CINTAI JIN TAMPAN

DI CINTAI JIN TAMPAN
Tamat


"Kau!" ucap T yang sudah mulai terbakar dan Gavin mengucapkan syukurnya.


"Alhamdulillah," setelah itu Gavin kembali ke alamnya dan melihat Hana yang sedang bersedih setelah mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.


Dengan suara lirih Hana meminta maaf pada Gavin dan mengucapkan rasa terimakasihnya karena telah membantu dirinya.


"Sama-sama, Hana. Ini menyangkut banyak nyawa dan sudah mengambil sahabatku, jadi aku tidak bisa tinggal diam.


" Hana, kamu mau setelah ini kita pergi ke pesantren sama-sama, kita menimba ilmu di sana," ajak Gavin yang masih tak mau memandang Hana.


Sedangkan Hana, gadis itu melihat ke arah Gading dan Gading dengan isengnya menggoda Gavin yang tertunduk itu.


"Yakin menimba ilmu? Bukan merakit cinta?"


"Uhuk!" Gavin terbatuk mendengar itu, dari mana dia tahu kalau Gavin sudah jatuh cinta pada Hana, pikirnya.


"Kakak!" lirih Hana yang berada di samping Gading.


"Cie malu! Keputusan ada di tangan kamu, Hana. Kakak mau yang terbaik buat kamu!" jawab Gading.


Hana berfikir, mungkin dirinya bisa seperti itu karena kurangnya pengetahuan membuat Hana memantapkan untuk ikut bersama Gavin.


Hana akan menitipkan tokonya pada Lina, orang kepercayaannya.


Satu bulan telah berlalu, sekarang Bram sedang mencari-cari keberadaan Hana.


"Mbak, Owner kemana ya? Kenapa nggak pernah kelihatan?"


"Mbak Hana sedang di pesantren, Kak," jawab Lina yang sedang membungkus orderan Bram.


"Apa? Pantas aja nggak pernah kelihatan Kalau boleh tau pesantren mana, Mbak?"


Lina pun memberitahu alamat Hana dan saat Bram baru saja keluar dari pintu, dirinya berpapasan dengan Paman Hana.


"Dimana ponakan saya?" tanyanya tanpa sopan santun.


"Maaf, Bapak ini mencari siapa?"


"Saya cari Hana, mana Hana!" bentaknya.


"Mbak Hana lagi nggak ada, mungkin lain kali bapak bisa kembali lagi," kata Lina.


"Nggak bisa, ini penting. Rumah saya disita gara-gara bocah sialan itu nggak mau kasih saya uang!" teriaknya seraya berjalan dan mengacak-acak etalase.


Lina dan tiga pegawai lainnya itu berteriak membuat Bram yang sudah berada di mobilnya itu kembali turun.


Bram melihat bapak-bapak yang terlihat sangat kusut dengan pakaian compang-camping, Bram pun membawa pria tua itu keluar toko.


"Lepas!" teriaknya yang sedang diseret oleh Bram.


"Hana! Hana kamu dimana, maafkan Paman Hana!" teriak pria itu yang menangis duduk di tanah dengan kaki yang meronta, seperti anak kecil menangis minta permen.


Anehnya, setelah menangis dia tertawa dan berniat jahat pada Hana.


"Hahahaa, awas kamu Hana, tidak seharusnya kamu bahagia, bocah bau kencur, aku harus bisa mengendalikan Hana, ya harus!" ucapnya dengan optimis dan Bram menggelengkan kepala melihat orang itu yang sepertinya sudah stres.


****


Di rumah Bram, dirinya meminta izin pada ibunya untuk pergi ke pesantren, dirinya ingin memberanikan diri untuk melamar Hana.


Tentu saja, Bram mendapat dukungan penuh darinya dan malam itu juga Bram berkemas, membawa baju ganti juga membawa cincin yang sudah disiapkan.


Bram memandangi cincin cantik itu, berharap Hana tidak menolaknya, Bram tahu betul kalau Hana belum memiliki kekasih membuat dirinya merasa yakin kalau akan diterima.


Keesokan harinya, Bram berangkat pagi-pagi sekali agar cepat sampai di pesantren yang ditujunya, Bram mengendarai sendiri mobilnya.


Sesampainya di sana, hari sudah petang, Bram menanyakan alamat pesantren itu pada penduduk sekitar.


"Oh, sudah dekat, tinggal lurus saja ketemu pertigaan belok kiri, nah di sekitar situ, nanti ada plangnya."


"Terimakasih," ucap Bram yang kemudian kembali ke mobilnya.


Benar saja, Bram melihat nama pesantren yang sedang dicarinya. terlihat sangat ramai.


"Mungkin memang suasana pesantren seperti ini," gumam Bram. Lalu Bram pun turun dari mobilnya, bertanya pada santriwati yang sedang membawa aneka makanan yang akan di bawa ke rumah Kyai.


"Dik, maaf mau tanya, di sini ada yang namanya Hana?"


"Ada, Om mau ketemu sama Kak Hana?"


"Iya," jawab Bram.


Bram pun mengikuti gadis yang mengenakan gamis berwarna abu-abu itu.


Gadis kecil itu membawa Bram ke ruang tamu Kyai, di sana terlihat Hana sedang dipakaikan cincin oleh Aminah, Bunda Gavin.


"Jangaaaan!" teriak Bram dalam hati. seketika pria itu patah hati, berdiri mematung di pintu ruang tamu mengusap dadanya.


"Sudah jauh-jauh kemari, ternyata Hana udah dilamar sama orang lain," gumam Bram.


Ya, Gavin melamar Hana di pesantren, Hana menerima Gavin, karena Gavin membuat dirinya menjadi dekat dengan agama, Hana yakin kalau Gavin akan menjadi imam yang baik, juga Gavin menerima apapun itu masa lalu Hana.


Bram mengurungkan dirinya untuk masuk, pria itu segera membalikkan badan dan pergi dari pesantren itu.


Kisah cinta Hana dan Gavin berlanjut, tidak menunggu lama keduanya menikah karena tidak ingin membuat dosa dengan berpacaran.


TAMAT.