
''Hahahahaha," tawa Hana saat melihat film kesukaannya di layar ponsel, yaitu Mr Bean. Ia menggelengkan kepala melihat kekonyolan Mr Bean.
"Aduuh, ketawa sampai sakit perut, astaga, sampe lupa makan pula," gumam Hana seraya mematikan ponselnya, ia ingin membeli nasi goreng.
Lalu, Hana mengambil uang dari tas kecilnya.
"Tomo, aku keluar dulu sebentar ya," kata Hana seraya mengusap kepala Tomo.
Tomo memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan dari Hana.
Hana keluar berpapasan dengan seorang wanita yang baru saja pulang bekerja, Hana menganggukkan kepala dan dibalas senyum olehnya.
Wanita itu masuk ke kamarnya di pintu nomor 17, tidak lama ia keluar lagi, ia keluar lagi karena melihat Hana yang pergi tanpa mengunci kamarnya.
Dengan berani dan pedenya ia masuk kamar Hana, ia mencari sesuatu yang berharga.
"Itu ada tas," gumamnya lalu meraih tas tangan yang menggantung di paku atas televisi.
Ia terkejut melihat uang gepokan sangat banyak.
"Ini kalau gue ambil dua juta aja, dia nggak bakal nyariin," gumamnya.
"Duh, kelamaan kalau gue itung dulu, dah lah," gumamnya dalam hati, lalu ia asal mengambil uang milik Hana. Entah berapa banyak yang ia ambil.
"Sssssttt, jangan bilang majikan mu, ya!" ucapnya pada Tomo yang sedang memperhatikan.
Kemudian, ia mengintip dari jendela kamar Hana, setelah melihat keadaan sepi dan aman ia segera keluar dari kamar Hana.
Dengan cepat ia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
"Waaaah, maaf ya niatku mau ambil dua juta tapi malah ke ambil tiga juta," ucapnya seraya mencium uang tersebut.
"Hmmmm, wangi," katanya, setelah itu ia memasukkan uang tersebut kedalam dompetnya.
"Asik nih, besok gue bisa traktir temen-temen," gumamnya, lalu ia mengambil handuk dan pakaiannya, tidak lupa membawa sabun beserta gayung nya.
Ia mandi dengan perasaan senang karena baru saja mendapatkan uang lumayan banyak, kalau tidak ketahuan ia berniat untuk mengulanginya lagi.
______________
Di pangkalan nasi goreng, Hana sedang mengantri, ia bertemu dengan anak ibu kos.
"Eh kamu, beli disini juga?" sapanya.
"Iya," jawab Hana singkat.
"Sini duduk!" ucapnya seraya bangun dari duduknya, ia memberikan kursi plastik itu untuk Hana.
"Makasih," ucap Hana.
"Oia, kenalin, gue Damar, lo?" tanyanya tanpa mengulurkan tangan.
"Aku Hana," jawab Hana.
Lalu terdengar suara abang nasi goreng.
"Ini, Mas. mie gorengnya," ucapnya seraya memberikan pesanannya.
"Emmm, gue duluan ya."
Setelah itu, ia pergi meninggalkan Hana, dan Hana menganggukkan kepala.
"Manis banget sih, pantes aja Gavin klepek-klepek," gumam Damar dalam hati.
___________
Setengah jam kemudian, Hana sudah mendapatkan pesanannya, ia membayar dan segera kembali ke kos.
"Halo, Tomo. Maaf ya lama, tadi ngantri banget," kata Hana seraya mendudukkan bokongnya di ranjang.
Hana makan berdua dengan Tomo, Hana mengira Tomo kucing liar sehingga ia mau makan apa saja termasuk nasi goreng.
"Kamu lucu banget sih, nasi goreng aja mau," kata Hana,ia tersenyum dan mengusap pucuk kepala Tomo.
Setelah selesai makan, Hana mendengar suara ketukan pintu. Hana membuka dan mempersilahkan orang berada di balik pintu masuk.
"Ayo, Kak Vie. Silahkan masuk."
"Di sini aja, Aku cuma mau bagi ini, tadi siang aku dapet kiriman mangga dari kampung, diterima ya," kata Vie seraya menyodorkan tangannya.
"Makasih banyak, Kak Vie," ucap Hana setelah menerima mangga dalam kantung.
"Sama-sama, iya udah aku pamit dulu ya, baru pulang kerja, capek banget," kata Vie seraya merenggangkan otot di bahunya.
"Iya Kak Vie, selamat istirahat."
"Aku nggak boleh kemaleman, besok kan mau belanja," gumam Hana seraya meletakkan kembali ponselnya.
Ia mengambil sikat gigi dan odol, lalu pergi ke kamar mandi.
Selesai dengan itu, ia kembali ke kamar, menjatuhkan diri di ranjang.
Ia tidur memeluk guling, dengan Tomo yang berada di kaki Hana.
Malam ini, Hana tidur pulas, ia tidak bertemu dengan T dalam mimpinya.
_________________
Di kamar 17, ia kedatangan tamu tak diundang dalam mimpinya.
Ia melihat pria tampan sedang duduk di kursi kayu, melipat kakinya, tangan bersedekap dada.
Gadis itu melihat ke sekeliling, ia terkejut berada di tengah hutan yang gelap.
"Siapa kamu," tanya gadis itu.
"Tidak penting bagimu mengetahui siapa aku, karena sebentar lagi ajal mu akan datang!"
"Apa maksudmu?" tanya gadis itu, kemudian ia berlari ingin keluar dari hutan belantara yang gelap.
Namun, ia kembali berada di depan pria tampan tadi, terlihat tatapan matanya sangat dingin. Pria itu bangun dari duduknya, ia mendekati gadis itu.
"Aku tidak pernah suka pada orang yang berbuat jahat pada kekasihku," kata pria tampan itu yang tak lain adalah T.
"Aku tidak pernah menganggu siapapun, kamu sangat tidak jelas," kata gadis itu yang kemudian kembali berlari mengelilingi hutan belantara.
Merasa lelah, ia beristirahat di bawah pohon besar, duduk memeluk kakinya.
"Di mana aku? Kenapa tidak ada jalan keluar, apa aku tersesat," gumamnya.
Lalu, ia melihat sepasang kaki yang menggunakan sepatu pantofel berdiri di depannya.
Ia mendongakkan kepala, melihat wajah si pemilik sepatu itu.
"Jangan ganggu aku, pergilah," katanya, setelah mengetahui siapa pria yang berada di depannya.
"Kamu, masih tidak mau mengaku?" tanya T seraya mengangkat kerah kaos yang gadis itu kenakan.
"Lepaskan! aku memang tidak pernah menganggu siapapun!"
T melempar gadis itu hingga mengenai pohon.
"Uhuk." Gadis itu terbatuk, mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Aaaaakh," peliknya, kemudian ia berusaha untuk bangun.
Ia ketakutan setengah mati, sedangkan T melangkahkan kakinya mendekat.
Dengan terseok, Gadis itu berusaha melarikan diri.
Tetapi, tidak mudah baginya karena T terus mengejarnya. T sangat membenci orang yang tidak mau mengakui kesalahannya.
T menarik rambut gadis itu, ia menyeretnya.
"Apakah harus ku ingatkan apa kesalahanmu?" tanya T seraya melempar gadis itu hingga ia terguling di tanah yang berdebu.
Lalu, T menginjak jari gadis itu yang sudah terkapar.
"Ini tanganmu yang telah berani mencuri milik kekasihku," geram T seraya menekan kakinya.
"Aaakhh!" pekiknya, mendengar ucapan T membuat ia teringat karena baru saja mencuri uang Hana.
Gadis itu merasa kesakitan berusaha untuk melepaskan kaki T dari tangannya.
"Ya Tuhan, sakit sekali," gumamnya dalam hati. ia tidak dapat menggeser sedikitpun kaki T dari tangannya sudah membiru.
"Masih tidak mau mengakui?" geram T seraya semakin menekan kakinya.
Melihat T yang tak memberinya ampun membuat ia semakin ketakutan dan tak dapat berkata sepatah kata pun.
Gadis itu hanya bisa meringis, Dan T terus menyiksa gadis itu sampai ia tewas.
Di atas ranjang kamar nomor 17, ia memuntahkan darah dari mulutnya.
_____________
Bersambung.
Mampir? Jangan lupa like dan fav ya kak 😇