DI CINTAI JIN TAMPAN

DI CINTAI JIN TAMPAN
Bukan Kucing Biasa


Gavin memutuskan untuk tidak meminum kopi tersebut, dan saking lelahnya membuat Gavin cepat tertidur.


Benar saja, begitu Gavin tertidur Tomo pun langsung mendatanginya. Ditengah kegelapan Gavin sedang berdiri di sinari cahaya dari rembulan, terlihat ada pepohonan tua tanpa daun di setiap rantingnya.


"Hahaha," tawa Tomo terdengar menggelegar membuat Gavin celingukan melihat ke kanan dan kirinya.


"Siapa, jangan jadi pengecut lo, keluar!" sergah Gavin.


Tidak lama kemudian keluarlah Tomo dari salah satu pohon besar yang berada di depan Gavin.


"Ck!" decak Tomo menertawakan Gavin yang terlihat lemah tak berdaya di matanya.


"Perkenalkan, saya adalah yang mendapat serangan bertubi-tubi dari kamu hari ini!" ucap Tomo seraya mengulurkan tangan.


Sedangkan Gavin, pria muda itu terlihat panik, Gavin langsung mengerti apa maksud dari ucapan pria dewasa yang berada di depan matanya, Gavin mundur satu langkah.


"Kemana nyali kamu? Kenapa sekarang menciut?" sindir T yang tak lain adalah Tomo.


"Hah!" Gavin terkejut dan otaknya masih nge-blank, masih belum paham betul dengan apa yang di ucapkan oleh Tomo, lalu Tomo merubah dirinya menjadi kucing, Tomo menyerang Gavin seperti malam itu.


Gavin sekarang mengerti kenapa Tomo begitu santainya saat Gavin berulang kali menyerangnya. "Ternyata dia bukan kucing biasa!" gumam Gavin dalam hati, tangannya menahan serangan Tomo yang hampir mencakar wajahnya.


Gavin mundur satu langkah, merasakan perih yang teramat di lengannya.


"Akkh!" pekik Gavin.


Lalu Tomo berubah menjadi manusia kembali, Tomo menertawakan Gavin.


"Hahaaa, ini belum seberapa dibandingkan dengan temanmu itu!"


"Berarti benar kamu yang udah bunuh sahabat gue!" serba Gavin seraya berlari menyerudug Tomo. Serudugan Gavin tak ada rasa bagi Tomo yang memiliki kekuatan lebih besar dari Gavin.


Tomo pun menendang perut Gavin menggunakan lututnya hingga Gavin mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Uhuk!" suara Gavin terbatuk.


Tomo pun melempar Gavin hingga pria kurus itu terpental mengenai pohon kering tanpa daun.


"Apa gue harus nyusul Damar secepat ini?" tanya Gavin dalam hati.


Tomo yang mengetahui isi kepala Gavin itu pun menjawab, "Akan saya segerakan kamu menyusul temanmu itu!"


"Apa alasan lo melakukan ini?" tanya Gavin seraya mengusap dadanya yang merasa sakit.


Tomo tak menjawab karena menganggap kalau Gavin tak perlu mengetahuinya karena percuma saja, ajalnya akan datang sebentar lagi. Tomo mengeluarkan kuku panjang yang berwarna hitam dan bersiap menusuk perut Gavin.


"Lo pikir enggak akan ada yang bisa mengalahkan lo, hah!" bentak Gavin.


"Memang tidak, karena aku akan selalu menjadi pemenang!" ucap Tomo seraya berjalan dengan santainya lalu menarik kerah baju Gavin, mata keduanya saling menatap, terlihat hanya ada kebencian di mata kedua mahluk tampan itu.


"Kasih gue waktu buat buktiin kalau gue bisa kalahin lo di suatu hari nanti!" ucap Gavin mengundang gelak tawa dari Tomo.


Tomo pun melepaskan tangannya dari kerah baju Gavin dan menghilang hanya ada suara tanpa rupa yang menertawakan dan menantang Gavin kalau dirinya akan siap kapanpun Gavin datang.


Gavin pun berhasil selamat malam ini. Pria tampan itu membuka mata dan memanggil suster yang sedang berjaga, dirinya ingin menghubungi kakaknya yang sedang berada di pesantren, di Jawa Timur.


________


"Ibu, Gavin mau ke pesantren!" pinta Gavin seraya memakan semur jengkol buatan Aminah.


"Kamu serius? Bukannya dulu kamu menolak buat nyusul kakak kamu! Apa karena teman kamu sudah tidak ada baru kamu mau ke pesantren?" tanya Aminah menyelidik.


"Hmmm," jawab singkat Gavin.


Lalu, Aminah melihat tangan putranya kembali memiliki luka cakaran.


"Kamu berantem sama kucing lagi?"


"Oh ini. Nggak papa kok, Bu," jawab Gavin sesantai mungkin, terlihat kondisinya sudah stabil dan dokter pun mengizinkan Gavin untuk dibawa pulang.


Selama perjalanan Gavin hanya banyak diam, dirinya memikirkan Hana yang hidup bersama dengan jin hitam yang menyukainya.


"Kasihan sekali dia!" gumam Gavin seraya melihat kearah luar kaca mobil.


****


Sementara itu, Kia mencari keberadaan Gavin kerumahnya dan Ibunya mengatakan kalau Gavin sedang berada di luar kota. Setelah itu Kia memutuskan untuk menemui Hana.


"Kamu Hana Lestari kan? Yang ada di konten ini? Kamu seorang dukun? Apa jangan-jangan kematian Damar yang meninggal mendadak itu ada hubungannya dengan kamu?" tanya Kia seraya menunjukkan wajah Hana yang berhasil discreenshot olehnya.


"Maaf, kita enggak saling kenal, dari mana kamu bisa berfikir kalau saya membunuh Damar? Anda salah orang dan itu hanyalah konten palsu, sekarang lebih baik kamu pergi dari rumah saya!" kata Hana yang sedang berdiri di pintu pagar, setelah mengusir Kia, Hana pun menutup pintu pagar yang berwarna hitam itu.


_____


Setelah kejadian itu Hana tak pernah lagi melihat Gavin, entah di mana sekarang dia berada, Hana tidak ingin tau tentang dia lagi dan teman-temannya yang selalu menuduhnya sebagai pembunuh Damar.


Satu tahun berlalu, Sekarang Hana sudah sukses dengan usahanya yang membuka toko kue, memiliki lima karyawan dalam setiap toko dan Hana memiliki lima cabang.


Usaha Hana tak mengalami kesulitan, semua pelanggan datang begitu saja untuk membeli kue buatan Hana.


Sampai pada suatu hari ada seorang pelanggannya yang ingin mendekati Hana agar mau menjadi menantunya, tetapi sayangnya Hana tidak memiliki rasa tertarik pada pria manapun, Hana sudah senang dan akan selalu menunggu pria tampannya untuk datang menemuinya di malam hari.


Akankah Hana bisa terlepas dari Tomo?


"Maaf, Bu. Tapi saya masih terlalu muda untuk menjadi seorang istri dari anak Ibu," ucap Hana seraya mengusap punggung tangan wanita paruh baya yang duduk didepannya.


"Saya akan menunggu, bagaimana kalau kalian bertemu dulu, siapa tau setelah bertemu kalian akan saling jatuh cinta!" bujuk si Ibu seraya menatap mata Hana.


"Aduh, gimana ini, aku nggak mau menyakiti hati siapapun karena aku tidak memiliki hati untuk anaknya," gumam Hana dalam hati, lalu Hana tersenyum terpaksa mengiyakan permintaan si Ibu.


Dan benar saja, si Ibu langsung menghubungi anaknya yang sedang bekerja, tidak lama kemudian datang seorang pria muda, tampan seperti suami artis dari Titi Kamal kalau kata Hana.


Hana dan si Ibu yang sedang duduk di sudut toko kue itu berdiri menyambut kedatangan yang sedang ditunggu.


"Nah, ini dia anak saya, bagaimana? Tampan kan?" tanya si Ibu seraya mengusap lengan anaknya.


"Perkenalkan, saya Bram," ucap pria tampan itu seraya mengulurkan tangan kanannya.


Bersambung.


Maaf ya kelamaan nggak upp, biar author rajin upp jangan berhenti dukung author ya caranya klik like, vote atau gift dan tinggalkan revew kalian di kolom komentar.