
Hana menutup dan mengunci semua pintu, ia juga mengecek jendela, Hana bersyukur semua jendela di teralis.
Hana berkeliling rumah itu, ia juga mencari sesuatu untuk alasnya tidur.
"Ya ampun, namanya kontrakan mah beda nggak kaya kos, tinggal masuk semua udah ada di kamar, kalau kaya gini paling enggak aku butuh kardus dulu buat alas."
Hana merasa lelah, ia tak menemukan apapun untuk alas tidur.
Lalu, Hana kembali ke kamar utama. Ia meletakkan tas punggungnya di sudut kamar.
"Tomo, kamu dimana?" seru Hana memanggil Tomo.
Setelah berteriak memanggil peliharaannya, Hana merasa sedikit takut di dalam rumah sederhana itu seorang diri, ditambah dengan suara Hana yang menggema. Ia merasa kalau ada yang mengikutinya di belakang, Hana juga merasa diawasi.
"Duh, kok merinding ya, walaupun rumah ini nggak besar tapi kalau buat tinggal sendirian ya agak gimana gitu," gumam Hana seraya mengusap lehernya.
Setelah itu, Hana menutup pintu kamar, ia menguncinya. Lalu, Hana mengambil handuk dari tas untuk digunakannya sebagai alas tidur.
Hana membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamarnya.
"Seandainya aku punya Ibu dan Ayah, mungkin hidupku tidak akan seperti ini," gumam Hana, tanpa terasa meneteskan bulir air mata.
"Ibu, Ayah, semoga kalian bahagia di sana, Hana baik-baik aja di sini," lirihnya,
Hana menangisi hidupnya yang sebatang kara, sudah begitu Hana semakin menangis saat mengingat kejadian kelam beberapa hari lalu yang merenggut mahkotanya.
"Aku ingin bahagia, bahagia bersamamu T di sini," lirih Hana tanpa terasa menyebut nama T.
Sedangkan T, ia sedang memberi hukuman untuk Belina, ia merasa terpanggil.
"Kau beruntung, malam ini sampai di sini dulu, dan jangan harap kamu akan bisa keluar dari labirin ini," kata T seraya menghilang dari pandangan Belina yang sedang ketakutan.
Setelah kepergian T, Belina berlari ingin keluar dari labirin yang T buat.
Namun, hanya rasa lelah yang Belina dapat.
"Aaaaaaaaaa!" teriak Belina merasa frustasi.
Sementara itu, T. Ia kembali pada Hana, T merasa tak tega melihat pujaan hatinya meringkuk di atas handuk tipis nan rombeng.
T mengangkat kepala Hana, membawanya kepangkuan. T membelai lembut rambut kekasihnya itu.
"Sayang, tidurlah dengan lelap, aku akan menjagamu di sini," kata T.
______________
Di rumah Gading, ia baru saja masuk, Gading mendapati Belina tertidur di sofa ruang tengah, Gading membangunkan tetapi tidak ada respon darinya.
"Mungkin Ibu capek, wajah Ibu kenapa?" gumam Gading yang kemudian pergi meninggalkan Belina.
Gading masuk ke kamarnya sendiri.
"Kenapa ya, anak itu mendadak pindah dari kos, apa di kamar itu ada hantunya? Makanya dia nggak mau tinggal di sana?" gumam Gading seraya melepaskan jaket jeans denim dari badannya, ia menggantungkannya di belakang pintu.
"Aaahh, nyamannya, capek banget hari ini, " lirih Gading yang sudah mapan di ranjangnya.
Tetapi, Gading harus kembali bangun, ia belum mengecek keadaan Eyangnya.
Lalu, Gading turun dari ranjang, ia keluar kamar dan melihat ke kamar Eyang, terlihat Eyangnya sudah tidur dengan pulas.
Setelah itu, Gading kembali ke kamarnya dan ia berpapasan dengan Ayahnya yang sedang membopong Belina, memindahkannya ke kamar.
"Selamat istirahat, Ayah," kata Gading.
"Hhmmm," jawab Wicaksono, Ayah Gading.
_________________
Sementara itu, Wicaksono merasa heran dengan Belina.
"Kamu ini tidur apa pingsan sih."
Tanpa Wicaksono tau, sebenarnya Belina sedang menjadi tawanan T di alamnya.
__________
Di alam T, Belina yang kelelahan, ia duduk dengan menekuk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana.
"Kenapa saya tidak bisa keluar dari labirin ini," lirih Belina.
Lalu, Belina mendengar ada suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya.
Belina mendongakkan kepala, ia melihat pria tampan yang menyeramkan, tatapan matanya menyorot kan kebencian.
Melihat siapa yang datang, membuat Belina bangun dan berlari. Namun, Lagi-lagi Belina kembali ke hadapan pria itu.
"Ck," decak T, ia bersedekap dada, memperhatikan Belina yang sudah acak-acakan penampilannya.
Lalu, Belina yang sudah merasa lelah, ia bersujud di kaki T.
"Tolong lepaskan saya, saya berjanji akan melakukan apa saja untukmu," kata Belina seraya menyentuh sepatu T.
T menendang tangan Belina hingga ia terjengkang. "Saya tidak membutuhkan manusia seperti mu, dan sekarang apakah kamu sudah mengerti dimana salahmu?"
Belina mengatupkan telapak tangannya, memohon ampun, tetapi ia masih belum menyadari apa kesalahannya, kesalahan Belina adalah telah berani mengusik wanita yang T cintai.
T mulai menyiksa Belina, menampar, dan menarik rambut Belina seraya mengingatkan kesalahannya.
T juga menginjak tangan Belina.
"Ini tanganmu yang sudah kamu gunakan untuk menyakiti kekasihku!" kata T seraya semakin keras menginjak.
"Aaaaaaa," tangis Belina, ia masih belum menyadari juga, karena Belina telah menyakiti banyak orang, dan ia tidak mengerti maksud pria itu, wanita mana yang telah Belina sakiti.
"Kamu tidak pantas hidup!" kata T.
Dan di kamar Wicaksono, ia yang sedang di kamar mandi, tidak menyadari kalau istri mudanya itu sedang meregang nyawa.
____________________
Keesokan harinya, Wicaksono membangunkan Belina untuk menyiapkan sarapan ibunya tetapi Belina tidak merespon.
"Bel, bangun! Bel!" seru Wicaksono, tidak mendapat jawaban membuat ia menggoyangkan lengan Belina.
Lalu, Wicaksono menaruh telunjuknya di hidung Belina, ternyata sudah tidak ada nafas Belina.
"Bel!" seru Wicaksono, ia menangis karena ia harus kehilangan salah satu anggota keluarganya lagi.
______________________
"Hoaaam." Hana yang baru membuka mata itu masih mengantuk, ia mengucek matanya.
"Udah pagi," gumam Hana seraya melihat ke jendela yang tertutup tirai tipis.
''Bangun Hana, banyak kerjaan pagi ini, kamu harus tetap semangat," ucapnya menyemangati diri sendiri.
Lalu, Hana merenggangkan badannya, menarik tangannya ke atas sehingga membuat tubuhnya sedikit melengkung.
"Hana, kenapa kamu bisa seksi sekali," kata Tomo yang sedang memperhatikan Hana.
"Eh Tomo, kamu dari mana saja?" tanya Hana seraya merengkuh Tomo membawanya ke pelukan.
"Aku ada dan selalu bersamamu, Hana!' jawab Tomo dalam hati.
Setelah itu, Hana meletakkan kembali Tomo ke lantai, Hana pergi mandi sebelum memulai aktivitasnya.
Sementara itu, Tomo memperhatikan Hana yang sedang membersihkan dirinya, membuat Tomo ingin membantu untuk mengusap punggung Hana.
Bersambung.
Jangan lupa dukung karya ini ya kak. Dengan like, love dan Votenya, terimakasih atas dukungannya ❣️