
Wanita itu mendorong pintu, memaksa masuk.
"Dari mana anda tau alamat saya tinggal?" tanya Hana yang ikut terdorong olehnya.
"Kamu pikir saya bodoh, setelah memberikan uang yang cukup banyak, saya harus memastikan, dan ternyata kamu kabur dari tempat yang lama," kata wanita itu seraya duduk di ranjang.
"Mau apa anda kemari?"
"Tidak sopan," jawabnya.
"Saya datang kemari untuk memberikan imbalan lebih karena ramalan mu itu selain memuaskan tetapi menjadi nyata," kata wanita itu seraya membuka tas tangannya.
"Apa? Jadi gadis yang tadi ku lihat itu benar dia?" kaget Hana, ia hampir terhuyung karena hilang keseimbangan.
Wanita itu meraih tangan Hana, lalu membawa Hana untuk duduk di sebelahnya, memberikan uang yang lebih banyak lagi.
"Maaf, saya tidak bisa menerima ini," kata Hana seraya mendorong uang itu.
"Hei, jangan munafik! bahkan kamu sudah memakai uang ini untuk membayar sewa kos, juga untuk makan bukan?" kata Wanita itu yang kemudian pergi meninggalkan Hana yang terdiam.
Hana segera sadar dan mengunci pintu setelah Tomo masuk kamar.
"Tomo, kamu dari mana saja?" tanya Hana seraya memeluk Tomo, ia membawanya berbaring di ranjang.
Dengan terisak Hana menceritakan pada Tomo.
"Tomo, apakah aku telah membunuh orang?" tanya Hana dengan suara yang amat lirih. Ia sangat menyesal karena telah meramal wanita itu.
Hana menangis sampai ia tertidur.
Lalu, Hana membuka mata saat ia merasakan ada belaian lembut mengusap kepalanya.
Hana melihat dirinya sudah berada di dalam kamar yang sangat luas, membuat Hana terkejut, ia mengingat kejadian semalam. Di kamar itulah Hana melakukan hubungan terlarang dengan T.
Dengan gesit, Hana turun dari ranjang.
"Kenapa Hana?" tanya T seraya menatap Hana yang kebingungan.
"Kenapa aku ada disini? Dan kenapa kamu selalu ada di mimpiku?" tanya Hana.
"Tenanglah, aku tidak akan melukaimu," kata T seraya berjalan mendekati Hana.
"Jawab T!" perintah Hana.
"Karena aku mencintaimu Hana, aku akan selalu bersamamu, berada di sisimu."
"Tapi, kita baru saja saling mengenal, kenapa kamu sudah jatuh cinta padaku?" tanya Hana seraya menyingkirkan tangan T yang meraih tangannya.
"Karena kebaikanmu, dan ketulusan mu, Hana."
"Aku tidak baik, T. Baru saja aku seperti telah membunuh seorang gadis," lirih Hana yang menggelengkan kepala.
T membawa Hana ke pelukannya, membuat Hana dapat mencium aroma wangi dari tubuh T.
Dan, T. Ia mengusap pucuk kepala Hana.
"Tenanglah, jangan bersedih, coba ceritakan dengan pelan agar aku tau apa yang telah mengganggumu."
Hana menceritakan kejadian kemarin saat ia meramal dan hari ini menjadi kenyataan.
"Anggap saja itu takdir dari gadis itu," kata T seraya mengangkat dagu Hana.
"Cup." T mengecup bibir Hana yang basah karena terkena air matanya.
"Jangan menangis," ucapnya seraya mengusap air mata Hana.
Hana mengangguk, dalam hatinya, ia merasa heran karena tidak dapat menolak apapun yang T lakukan padanya.
Sekarang T membopong Hana, membawanya ke ranjang. T mengetahui kalau Hana masih merasakan sakit di area intimnya, ia tidak mengajak Hana untuk melakukan hubungan, ia hanya memeluk Hana, menenangkannya, memberikan rasa nyaman untuk Hana.
"Hmmm," jawab Hana yang masih memejamkan matanya.
"Aku mencintaimu, maukah kamu menikah dengan ku?"
"Aku masih terlalu muda untuk menikah, T."
"Aku akan menunggumu sampai kamu siap menikah," kata T yang kemudian menghilang.
Hana pun membuka mata, ia mengusap bibirnya, masih terasa bekas kecupan dari T.
"Semua terasa seperti nyata, T," lirih Hana seraya bangun dari tidurnya.
Ia melihat jam di layar ponselnya, ternyata hari sudah sore.
Hana merasa kuat setelah bertemu dengan T yang selalu memberinya kekuatan.
Hana mengambil handuk, baju ganti dan peralatan mandi yang masih berada di kresek. Hana menyempatkan untuk mengusap kepala Tomo yang sedang tertidur di ranjang.
"Dasar kucing, kerjaannya tidur terus," kata Hana. Setelah itu ia segera pergi mandi, Hana mandi dengan cepat. Kali ini, ia tidak melepaskan semua pakaiannya karena ia merasa seperti ada yang mengawasi.
Selesai dengan mandi, ia segera kembali ke kamar, ia memakai bedak tabur dan lipgloss, membuat Hana tampil lebih fresh.
Hana pergi tanpa membawa Tomo.
"Kamu jangan kemana-mana, ya!" kata Hana seraya mengusap kepala Tomo.
Setelah Hana pergi, Tomo berubah menjadi pria tampan yang berada di mimpi Hana, karena ia memiliki sifat yang posesif, ia akan selalu mengawasi Hana, apapun yang Hana lakukan tak pernah lepas dari pengawasannya.
Bahkan, ia tidak segan untuk menyakiti siapapun yang berani mendekati Hana.
Contohnya Gavin, beruntung ia masih hidup sampai sekarang, karena Gavin hanya mengajak Hana berkenalan, membuat ia hanya mendapat peringatan dari pria yang menjelma menjadi kucing.
"Gadis kecilku, mulai sekarang akulah pelindungmu," katanya seraya melihat Hana yang sedang duduk di sofa ruang tamu ibu kos.
Kemudian, pria itu segera mengubah dirinya kembali menjadi kucing saat melihat Hana sudah mulai berjalan keluar dari rumah ibu kos.
____________
"Tomo!" seru Hana yang baru saja masuk kamar. Ia kembali dengan perasaan senang karena mendapatkan izin dari ibu kos untuk berjualan di depan.
''Besok, kita mulai belanja ya," kata Hana.
Sebenarnya ia sedikit berfikir, apa pantas dirinya memakai uang pemberian dari wanita itu.
Lalu, Hana teringat dengan ucapan T yang mengatakan 'anggap saja itu sudah takdir gadis tersebut'.
"Ya, itu sudah takdirnya!" kata Hana seraya melihat uang yang sangat banyak.
Melihat uang yang sangat banyak, membuat Hana berfikir untuk menyewa kios.
"Eh, tapi jangan dulu ding, aku harus tau pasar dulu, jangan sampai nanti setelah nyewa kios tapi warung nggak jalan, bisa habis percuma uang ini," kata Hana.
Lalu, ia memutuskan untuk memulai segala sesuatunya dari yang kecil.
Lalu, Han teringat degan makanan kucing yang di berikan oleh anak ibu kos.
"Tomo, ini makan mu, sekarang aku akan terus memberi kamu makan yang enak. Oia, makanan ini pemberian dari seseorang tadi siang," kata Hana seraya menuang makanan kucing ke lantai.
"Ya ampun Hana, aku di suruh makan di lantai," kata Tomo dalam hati.
"Besok, kita belanja perabotan ya, Tomo. Biar kamu nggak makan di lantai lagi," kata Hana seraya mengusap kepala Tomo.
"Kamu memang perhatian, Hana," kata Tomo dalam hati.
Tentunya, perlakuan lembut Hana semakin membuat Tomo jatuh hati pada Hana.
Bersambung.