DI CINTAI JIN TAMPAN

DI CINTAI JIN TAMPAN
Kagum


Jangan lupa Like dan Rate ya kak, dijamin nggak bakal bikin jempol keseleo (candaseleo).


****


Lelaki tua itu kembali ke kampung halaman dengan menyimpan dendam dan ingin memiliki harta Hana.


"Awas saja kamu Hana!"


Sementara itu, Hana sedang bersiap untuk berbelanja kebutuhan toko.


"Lina, aku pergi dulu ya! Titip toko!" kata Hana yang kemudian mengusap kepala Tomo yang sedang duduk di tempat yang sudah Hana siapkan.


"Jangan nakal ya, Tomo! Aku sebentar aja kok!" setelah itu Hana pun pergi ke toko bahan kue yang letaknya tidak jauh dari toko Hana, baru saja Hana akan menyebrang jalan seseorang sudah menjambret dompet Hana.


"Tolong! Tolong!" teriak Hana seraya mengejar jambret tersebut, lalu Hana menghentikan langkah kakinya saat melihat seseorang yang tidak asing baginya, orang itu adalah Gavin. Gavin sedang berkelahi dengan jambret itu dan berhasil merebut dompet Hana.


"Ini dompet kamu!" kata Gavin seraya mengulurkan tangannya.


Hana pun menerima itu tidak lupa berterimakasih. "Gavin? Kamu Gavin kan?" tanya Hana seraya terus memperhatikan wajah Gavin.


Gavin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya, kamu masih ingat aja sama aku? Eh... ya jelas lah ingat, dulu kan aku hampir celakai kamu! Aku minta maaf ya, Hana!" kata Gavin yang menundukkan pandangan.


"Astaghfirullah, kenapa Hana semakin cantik, Astaghfirullah," ucap Gavin dalam hati.


"Maaf Hana, aku harus pergi, aku mau ke makam Damar sebelum kembali ke pesantren," kata Gavin dan Hana pun mengiyakan. Hana masih berdiri di tempatnya memperhatikan Gavin yang semakin menjauh lalu Hana memanggil Gavin.


Hana berlari ke arahnya.


"Boleh aku ikut? Aku juga udah lama enggak ziarah ke makam Damar," kata Hana.


"Boleh," kata Gavin, keduanya pun berdiri bersama di tepi jalan menunggu angkutan umum.


Sementara itu, Tomo yang terus memperhatikan Hana merasa cemburu dengan kedekatannya bersama Gavin.


"Anak itu, apa dia pikir ilmunya sudah setara dengan ku? Hanya ku injak saja sudah mati dia!" geram Tomo.


****


Di makam, Hana merasa kagum dengan Gavin yang pandai membaca ayat-ayat suci Al-Quran membuat Hana teringat kalau dirinya sudah jauh dari Tuhan.


"Ya Tuhan, hatiku bergetar mendengar Gavin mengaji, apakah ini caramu mengingatkanku? Mempertemukanku dengan Gavin yang nampaknya sudah menjadi lelaki sholeh? " tanya Hana dalam hati.


"Shadaqallahul-'adzim'."


Gavin selesai membaca surah Yasin untuk sahabatnya. Setelah itu keduanya berjalan beriringan dari makam, keduanya terlibat obrolan kecil, Gavin tidak ingin terburu-buru langsung mengutarakan niatnya karena takut membuat Hana takut.


"Oia, Hana. Nanti di masjid dekat rumahku ada pengajian, mau datang? Ini langsung Kyai aku yang jadi penceramah, dari Jatim, ya sekalian lah buat nambah ilmu pengetahuan kita tentang agama, mau?" tanya Gavin pada Hana dan sekarang mereka sudah berdiri di tepi jalan, menunggu angkutan umum.


"Boleh, jam berapa?" tanya Hana menatap Gavin yang tak mau menatapnya.


"Habis sholat isya, kalau nanti aku jemput aja mau? Sebelum maghrib?" tanya Gavin seraya menyetop angkutan umum yang sudah mulai mendekat.


"Astaghfirullah," ucap Gavin dalam hati, Lagi-lagi Gavin mengagumi Hana, "maafin aku Damar, selesai misi ini aku berniat melamar Hana, ridhoi kami dari alam ya sana, Mar!" lanjut Gavin, ia berbicara dalam hati.


Sedangkan Hana, gadis yang sekarang berpenampilan feminim itu bertanya-tanya, "Gavin kenapa nggak mau liat aku, ya? Apa aku jelek?" gumam Hana seraya memperhatikan penampilannya.


****


"Hati-hati, Hana! Nanti aku jemput jangan lupa!" seru Gavin yang masih berada di dalam angkutan umum, sedangkan Hana ia sudah turun tepat di depan toko bahan kue, Hana mengacungkan jempol kanannya pada Gavin.


Setelah itu, Gavin menemui seorang pemuda yang sudah diperintahkannya untuk menunggu di sebuah gang kecil.


"Aduh, lama banget sih, Bang!" gerutu pemuda yang tadi terlibat perkelahian dengan Gavin.


"Makasih, Bang."


"Iya sama-sama. Jangan lupa, jangan tidur ya kalau nggak mau kena sial!" kata Gavin membuat pemuda itu penasaran.


"Hah, apa hubungannya tidur sama sial?"


"Ya adalah, pokoknya tunggu sampai besok baru boleh kamu tidur! Ya sudah aku permisi, kamu jangan lupa pesan saya!" tutur Gavin yang kemudian pergi meninggalkan pemuda itu.


****


Hana baru saja kembali dari berbelanjanya dan ternyata tadi sempat ada yang mencari.


"Siapa, Lin?" tanya Hana.


"Kalau nggak salah, Ibu yang waktu itu duduk sama Mbak di pojok sana," kata Lina seraya menunjuk sudut toko, tempat kemarin dirinya duduk bersama dengan Ibu Bram.


"Oh, kenapa nyari aku?" tanya Hana, "untung tadi aku nggak ada di sini," lanjut Hana dalam hati.


Setelah itu Hana masuk ke ruang kerjanya tidak lupa membopong Tomo yang sedang duduk menunggunya di depan pintu.


"Maaf ya, Tomo. Aku nggak nepatin janji yang katanya cuma sebentar," kata Hana seraya mengusap bulu halus Tomo.


"Nanti aku mau pergi lagi, kamu jaga toko ya sama yang lain!" perintah Hana seraya meletakkan Tomo di meja kerja Hana.


****


Di sebuah gubug, Paman Hana sedang menemui seseorang yang dikenal dengan kesaktiannya 'membunuh tanpa menyentuh', tapi bukan itu yang Paman Hana mau, lelaki tidak tau diri itu meminta Hana dibuat tunduk terhadapnya agar apapun yang dikatakan olehnya Hana menurut begitu saja.


"Itu urusan gampang, siapkan saja maharnya!" kata si dukun.


"Mahar gampang, saya punya uangnya," kata Paman Hana.


"Aku sudah tidak sabar ingin menguasai apa yang Hana punya!" gumam lelaki tua itu dalam hati.


Setelah memberikan mahar yang diminta sekarang dukun tersebut meminta pada Paman Hana untuk pergi dan menunggu hasilnya.


Tidak lupa Paman Hana meninggalkan foto dan tanggal lahir Hana lengkap sesuai permintaan dukun tersebut.


"Baik, siap Ki!" kata Paman Hana yang kemudian pergi meninggalkan gubug.


Dukun tersebut segera menjalankan perintah Paman Hana, ia memerintahkan jin peliharaannya untuk mengganggu Hana tanpa dukun itu tahu kalau jin miliknya itu akan berhadapan dengan Tomo.


Benar saja, perkelahian sesama jin itu tak dapat dihindari.


"Tidak bisa diremehkan, sepertinya ilmunya sedikit berada di atasku!" gumam Tomo yang sekarang sedang berhadapan dengan jin suruhan dukun tersebut.


"Pergi kamu, kalau tidak akan saya musnahkan kamu!" kata jin kiriman.


"Kau yang harus pergi! Jangan pernah ganggu kekasihku! Siapapun yang mengganggu akan mati!" kata Tomo.


Dengan susah payah Tomo harus melawan dan bertahan demi kekasih hatinya itu dan Tomo berhasil melawan jin kiriman tersebut.


"Dasar jin bodoh! Mau saja kau disuruh manusia!" seru Tomo seraya melempar jin kiriman dan jin tersebut kembali ke pengirimnya membuat si pemilik jin memuntahkan darah dari mulutnya.


"Uhuk!" dukun itu terbatuk.


"Sialan! Ternyata ada yang melindunginya!" kata dukun tersebut uang kemudian kedatangan tamu tak diundang.


Siapakah tamu itu?


Bersambung.