
Halo, Readers. Jangan lupa buat tetap dukung karya ini ya, caranya klik like dan rate lima yah. Kotak hadiah juga menunggu kalian untuk klik, lohðŸ¤.
Terimakasih yang selalu dukung author 🤗.
Di pondok pesantren, seorang pemuda lengkap dengan baju kokonya sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, pemuda itu adalah Gavin, sekarang pria itu menjadi lebih baik, lebih dekat dengan Tuhan Sang Pencipta.
Pria berpeci putih itu melihat jam di dinding dan ternyata waktu subuh sudah tiba, segera Gavin mengumandangkan azan, setiap kali Gavin mengumandangkan azan setiap kali itu juga penduduk pelosok Jawa Timur itu memuji suara merdu Gavin.
Selesai dengan sholat subuh, Gavin menyapu halaman pesantren itu bersama dengan teman-temannya, lalu seorang pria tampan, memakai sarung dan koko, pria itu adalah Rama kakak dari Gavin.
"Gavin, kamu diundang ke ruangan Kyai!" kata pemuda yang selisih usianya itu berbeda dua tahun dengan Gavin.
"Ada apa, Kak?" tanya Gavin.
"Penting katanya, udah sana cepet!" kata Rama seraya mengambil sapu yang berada di tangan adiknya.
Gavin berjalan cepat, mencuci tangan dan kakinya terlebih dulu, setelah bersih Gavin segera mengetuk pintu itu ruangan itu.
"Assalamu'alaikum, Kyai. Manggil saya?" tanya Gavin.
"Eh, Nak Gavin. Iya sini masuk cepat, ada hal perlu saya bicarakan terkait masalah kamu dulu," tutur Kyai seraya mempersilahkan Gavin untuk masuk.
"Iya, ada apa Kyai. Dulu kata Kyai saya harus nunggu tiga tahun baru ilmu saya akan setara dengan jin itu."
"Begini, Gavin. Nyawa gadis itu terancam, cepat atau lambat jin hitam itu akan membawa Hana ke alamnya," kata Kyai.
"Apa? Jadi, saya harus bagaimana, Kyai?" tanya Gavin terkejut, "Kalau jin itu membawa Hana, bisa tidak terbalaskan dendamku!" lanjut Gavin dalam hati, pria itu mengepalkan tangannya membuat Kyai mengetahui kalau Gavin masih menyimpan dendam.
"Ingat, diniatkan untuk menolong sesama, bukan karena dendam!" tutur Kyai.
"Astaghfirullah," ucap Gavin kemudian seraya mengusap dadanya.
"Kyai, saya mohon, bantu saya menyelamatkan Hana, sudah banyak korban yang berjatuhan, Kyai," kata Gavin dan Kyai tersebut menanyakan dari mana Gavin tau.
"Dari sahabat saya di Jakarta, Kyai. Siapapun pria yang mendekati Hana, pria itu akan tewas, Kyai."
"Ya sudah, kita harus cepat melakukan ruqiah pada Hana dan menyingkirkan jin hitam itu!" kata Kyai.
****
Di Jakarta, Hana baru saja bangun dari tidurnya, gadis itu kembali basah, Hana pun terkekeh, "hanya mimpi saja sampai seperti ini, T."
Hana bangun dan turun dari ranjangnya, gadis itu segera pergi mandi, tidak berlama-lama karena Hana harus segera pergi berbelanja kebutuhan toko kuenya.
Selesai bersiap, Hana yang membopong Tomo itu di kejutkan seorang lelaki tua yang tidak asing bagi Hana.
"Paman? Kenapa paman ada di sini?" tanya Hana seraya mengunci pintu rumahnya.
Melihat Hana, lelaki tua itu segera memeluknya dan meminta maaf.
"Maafkan Paman, Hana!" lirih lelaki tua itu dengan bergetar menahan tangis.
"Sudah, Paman! Hana memaafkan Paman. Jelaskan kenapa Paman sampai ke Jakarta?" tanya Hana seraya melepaskan pelukan itu.
"Apa? Jadi Paman mencari Hana karena uang? Hana kira Paman menyadari kesalahan Paman dan meminta maaf dengan tulus!"
Hana tidak habis pikir.
"Berapa yang Paman butuhkan?" tanya Hana tanpa melihat wajah lelaki tua itu.
"Dua ratus juta, Hana," katanya.
"Apa? Sebanyak itu? Astaga, Paman!" gerutu Hana, Gadis berbadan ramping itu mengeluarkan cek dan meminta Pamannya untuk segera pergi dan jangan datang lagi.
"Sombong, mentang-mentang udah kaya sekarang, sering muncul di tivi, sama keluarga sendiri menistakan seperti itu!" ucap lelaki tua itu.
Hana mendengar, ingi tidak menggubris tetapi kehadiran pamannya itu membuka ingatan lama Hana saat ditipu olehnya.
"Keluarga? Apakah kita keluarga, Paman? Paman lupa kenapa saya bisa sampai di Jakarta?" tanya Hana dengan suara lirih namun tegas.
"Itukan kebodohanmu sendiri!" kata pamannya seraya menciumi cek itu.
"Memang Hana bodoh, Paman! Bisa saja percaya ucapan Paman yang mengatakan kalau Ibu dan Ayah Hana ada di Jakarta, padahal jelas-jelas Bibi mengatakan kalau orang tua Hana sudah meninggal, Hana tau saat Hana sampai Jakarta, alamat yang Paman berikan itu palsu! Apa Paman memikirkan nasib Hana yang terlunta di Jakarta? Apa Paman memikirkan dimana Hana tidur? Apa Paman memikirkan Hana sudah makan atau belum? Ingat Paman, Paman menelantarkan keponakan Paman yang sekarang sukses dan Paman datang langsung meminta uang dua ratus juta, Paman pikir itu uang atau daun?" cerocos Hana seraya mengingat masa lalunya.
"Sudah pandai bicara kamu, Hana!" kata Pamannya.
Hana pun segera keluar dari rumah, meninggalkan lelaki tua itu yang sedang merasa senang mendapatkan cek.
Hana menunggu taksi yang sudah dipesannya, begitu datang Hana langsung masuk ke mobil dengan senyum yang tidak bisa diartikan.
****
Siang ini, toko kue Hana mendapat orderan yang sangat banyak, meminta roti dengan beranekaragam isian.
Hana merasa senang karena semakin hari toko kuenya semakin ramai dan ternyata pesanan roti itu adalah dari kantor Bram yang dengan sengaja memborong roti itu untuk para karyawannya.
Hana memberikan diskon untuk Bram yang sudah menjadi pelanggan tetapnya.
****
Di Bank. Lelaki tua itu tengah menukar cek yang Hana berikan, setelah mengetahui nominal yang Hana berikan, lelaki tua menggeram. Ia berhasil Hana tipu, karena uang yang Hana berikan adalah hanya dua puluh juta.
Hana memanfaatkan kerabunan pamannya itu yang rabun dekat.
Berkali-kali lelaki tua itu memeriksa cek tersebut dan hasilnya sama yaitu angka nolnya hilang satu.
"Kurang ajar anak itu, pantas saja dengan mudah memberikan cek ini!" gerutu lelaki tua.
Dengan terpaksa lelaki tua itu menerima uang pemberian Hana, tetapi lelaki tua merencanakan sesuatu untuk Hana.
Sesuatu apa itu?
Kita tunggu kelanjutannya di episode yang akan datang.