
Malam sudah menjadi subuh, mendengar alarm membuat Miranti membuka mata, melihat jam di ponselnya waktu menunjukkan pukul 04.15 wib.
Miranti bersiap untuk melaksanakan sholat subuh, selesai dengan itu semua, ia membangunkan damar.
Miranti membuka pintu, dirinya melihat Damar masih dengan posisi yang sama, terlentang, seperti semalam. Lalu Miranti berjalan mendekati anaknya, ia menggoyangkan kaki Damar.
"Damar, bangun, Nak!" kata Miranti, tak mendapat respon membuat Miranti menggoyangkan lengan Damar.
"Damar, bangun. Udah pagi, Nak!" seru Miranti, ia merasa heran karena tak biasanya Damar seperti ini.
Lalu, Miranti menepuk-nepuk pipi Damar.
"Damar, sayang. Bangun!" kata Miranti, ia mulai panik karena anaknya tak sedikitpun bergerak.
Miranti meletakkan telunjuknya di hidung Damar, dan tidak merasakan hembusan nafas dari putranya itu.
"Damar!" teriak Miranti, "bangun, Nak!" lanjutnya diiringi dengan tangis.
Miranti meraung, ia terduduk lesu, memeluk anaknya.
Teriakan Miranti membuat asisten rumah tangganya segera berlari ke kamar Damar.
"Ada apa, Bu?" tanya wanita paruh baya tersebut yang ikut panik, melihat majikannya sedang menggoyangkan bahu Damar, berharap anaknya akan segera membuka mata.
"Panggil Dokter, Bi!" seru Miranti dan segera dilaksanakan oleh Bibi.
Terlihat pilu, baru saja semalam ia mengatakan semua baik-baik saja pada suaminya, lalu apa yang akan ia katakan pada suaminya.
Miranti merasa gagal menjadi Ibu, karena tak mengetahui apa yang terjadi pada anaknya.
Setelah menelepon dokter, Bibi ikut memastikan apa yang terjadi pada Damar.
"Innalilahi," ucapnya.
"Bu, yang sabar," ucap Bibi seraya mengusap lengan Miranti yang masih memeluk Damar.
"Apa yang terjadi, Bi. Semalam semua baik-baik saja, kenapa ini sangat mendadak!" kata Miranti terdengar sangat putus asa.
"Sabar, Bu. Ini sudah takdir," jawab Bibi berusaha menenangkan majikannya, dan Miranti menggelengkan kepala.
"Ayah, anak kita, Yah!" lirih Miranti, pilu. Ia tidak bergeming dari sisi anaknya, lalu, Bibi menghubungi Ayah Damar.
"Apa?" jawab Ayah Damar tak percaya.
"Bagaimana ini, saya akan segera pulang!" kata Ayah Damar yang baru saja mendarat. Awalnya ia ingin memberi kejutan untuk anak dan istrinya setelah dua tahun tidak berjumpa, dirinya akan segera pulang, tetapi justru dirinyalah yang terkejut.
________________
Di rumah Damar, Gavin datang lebih awal karena ia merasa khawatir, dan sesampainya di depan gerbang, lelaki tampan tersebut melihat bendera kuning bernamakan Damar.
Gavin meletakkan motornya begitu saja, ia tak menghiraukan motornya yang oleng karena dirinya lupa men standar, pria dengan seragam batik bercelana putih itu berlari masuk ke rumah Damar yang sudah ia anggap saudara.
"Maaar!" seru Gavin melihat Damar terbujur kaku di ruang tengah, pria yang berdiri di pintu itu berlari lalu mengguncangkan tubuh temannya yang ditutupi kain jarik.
"Bangun, Mar. Ini apa yang terjadi, Tan?" tanya Gavin pada Miranti yang masih menangisi anaknya. Dan Miranti menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Apa ini ada sangkutannya dengan Hana?" tanya Gavin dalam hati, ia mengepalkan tangannya lalu berlari keluar dari rumah Damar, Gavin mengendari motornya ke rumah Hana, terlihat Hana sedang menyusun aquarium untuk menjual es di siang hari dan sore hari akan kursus membuat cake.
Gavin turun dari motornya, ia segera melabrak Hana.
"Apa yang udah lo lakuin ke Damar, Hah?" bentak Gavin pada Hana seraya menggebrak meja, membuat Hana terkejut dengan kedatangan Gavin.
"Aaaa!" teriak Hana, ia ketakutan dengan amarah Gavin.
"Mana kucing lo, hah! dasar pembunuh!" teriak Gavin seraya menerobos Hana memaksa masuk ke rumah, mencari Tomo, dan Gavin melihat Tomo yang sedang duduk di pintu memperhatikannya.
"Kucing sialan, apa yang lo lakuin ke teman gue, hah!" bentak Gavin pada kucing tersebut.
"Kamu jangan gila, Gavin, dia hanya kucing, memangnya apa yang bisa dilakukan kucing!" ucap Hana seraya menarik lengan Gavin yang ingin mencekik Tomo, dan Amarah Gavin seolah membuatnya lupa dengan Tomo yang pernah mendatanginya dalam mimpi waktu itu.
Gavin mengibaskan tangan Hana dari lengannya, lalu pria bermata tajam itu mengambil aquarium milik Hana dan berniat untuk dilemparkannya ke Tomo.
Hana melihatnya tak tinggal diam, ia mendorong Gavin sebelum melempar aquarium itu, dan 'crah' suara aquarium yang pecah mengenai dinding rumah Hana.
Gavin yang terjatuh itu bangun, pria tampan tersebut mendorong bahu Hana membuat Hana menjadi ketakutan, ia teringat dengan masalalu kelamnya di gang buntu saat itu.
Hana berjongkok dengan dua tangan menutupi telinganya.
Dan Gavin mengangkat kerah baju Hana, ada sedikit rasa tidak tega di hati Gavin telah membuat Hana menangis ketakutan.
"Damar meninggal," lirih Gavin seraya melepaskan Hana dari cengkraman.
Lalu terdengar suara ngebass dari belakang Hana, pemilik suara itu adalah Gading. Pria berkulit putih langsat itu tak sengaja melihat kekacauan di depan rumah Hana membuat dirinya menepikan motor dan melihat pertengkaran antara Gavin dan Hana.
"Eh lo diam aja! ini bukan urusan lo!" kata Gavin seraya menunjuk wajah tampan Gading.
Gavin mengambil sapu dan mengayunkan gagang sapu tersebut pada Tomo, tapi tak semudah itu bagi Gavin untuk melukai Tomo, karena Gading menahan gagang sapu tersebut, sedangkan Hana ia membopong Tomo dan membawanya berlari menghindari amukan Gavin.
"Lepas!" teriak Gavin pada Gading, dan Gading mendorong Gavin sehingga Gavin terjatuh dan tangannya mengenai pecahan aquarium, membuat tangan Gavin berdarah.
"Aaarrgggh," erang Gavin, ia bangun berniat untuk mengejar Hana dan kucingnya.
"Apa lo gila, hah! kucing aja mau lo bunuh!" seru Gading seraya menahan tas gendong milik Gavin.
"Lepas!" ucap Gavin seraya mengibaskan tangan Gading dari tasnya, Gavin berlari mengejar Hana.
"Tolong! tolong!" teriak Hana, ia takut dengan Gavin yang mengejarnya, sedangkan langkah kakinya kalah cepat dengan Gavin sehingga dengan Mudah Gavin mengejar Hana dan menarik rambut panjang Hana yang terurai.
Dan, apa yang di lakukan oleh Gavin mengundang perhatian dari orang-orang yang berlalu lalang, begitu juga dengan Pak RT yang sedang mengendarai mobilnya, Pak RT menepikan mobilnya segera melerai Gavin dan Hana.
Sementara itu, Gading mengamankan Hana dan Tomo, Pak RT meminta pada warganya yang melihat itu untuk membantu.
"Lepas, kalian tidak tau saja apa yang udah dilakukan oleh kucing sialan itu, dia pembunuh," kata Gavin seraya menunjuk Tomo.
"Ini anak gila kali, masa kucing dibilang pembunuh," ucap seseorang yang ikut menahan lengan Gavin.
Dan Pak RT pun mengamankan Gavin di rumahnya, lalu, pria dengan brewok tipis tersebut menanyakan nomor telepon orang tua Gavin pada anak remaja yang tengah tersulut emosi itu, setelah mendapatkan nomor ponselnya segera ia menghubungi Ibu, Bapaknya.
Sementara itu, Gading membawa Hana kembali ke rumah Hana, dirinya menanyakan apa yang terjadi dan Hana menjawab tidak tahu, karena Gavin datang langsung mengamuk dengan alasan yang tidak jelas.
"Kak, terimakasih. Tapi Hana harus pergi dulu untuk memastikan sesuatu!" kata Hana yang kemudian meninggalkan rumahnya yang berantakan.
"Biar aku antar!" kata Gading, dan Hana tidak menolak karena memang ia sedang terburu-buru.
Hana memberitahu alamat Damar, sesampainya di sana, Hana melihat bendera kuning.
"Ya Tuhan, baru semalam aku ketemu dia masih sehat-sehat aja, dan sekarang Damar udah nggak ada," gumam Hana dalam hati.
Hana masuk untuk melayat.
Bersambung.