
Awalnya Damar menolak ajakan Gavin, ia ingin membuktikan kalau dirinya akan baik-baik saja setelah menemui Hana.
"Dasar cemen lo, bilang aja nggak mau lawan gue main game ya kan?" Gavin sengaja memancing Damar agar mau begadang.
"Bukan gitu, gue nggak mau ngantuk di sekolah,"
"Hilih, bilang aja seorang Damar takut lawan Gavin!"
"Enggak, lawan juga percuma kalau udah pasti gue yang menang!" jawab Damar penuh percaya diri.
"Gini aja deh, nanti malam minggu gue lawan lo sampai pagi," jawab Damar seraya menutup buku pelajaran yang baru saja ia kerjakan.
Sementara itu, Gavin seperti sedang berfikir, bagaimana caranya agar Damar mau begadang.
Gavin memperhatikan Damar yang masuk kamar mandi sampai keluar kamar mandi lagi, lalu Gavin mengambil ponselnya membuat siaran langsung tentang kegiatannya malam itu di kamar Damar.
Gavin mengompori dan memancing Damar agar menerima tantangannya.
"Hahaaa, halo guys khususnya buat anak SMA Negri 24 Jakarta, liat nih cowok yang katanya paling tampan di sekolah tapi takut lawan gue, hahaaa," ucap Gavin seraya menertawakan Damar yang menatapnya datar.
Gavin menjulurkan lidah pada Damar, lalu ia mendapatkan lemparan bantal dari Damar tepat mengenai wajahnya dan membuat ponsel Gavin jatuh.
"Weh, untung kagak pecah ponsel gue!" gerutu Gavin seraya mengambil ponselnya.
"Bodo!" jawab Damar seraya mengambil ponsel miliknya di ranjang, ia melihat siaran langsung yang sedang Gavin siarkan, ia melihat komentar teman-temannya yang ikut mengompori, dan akhirnya Damar menerima tantangan Gavin.
Setelah itu, Gavin dan Damar bermain sampai malam. Benar saja Gavin selalu kalah oleh Damar.
"Gue bilang juga apa!" kata Damar.
"Ini efek semalam gue gadang dan belum tidur lagi, jadi gue kalah," jawab Gavin seraya fokus bermain.
"Ngeles aja lo, lagian gue heran. Kenapa sih orang kaya lo bisa pinter di sekolah, kerjaan main mulu, tapi nilai bagus terus!" kata Damar.
"Oh jelas, kan gue pinter dari sananya," jawab Gavin.
"Aaarrrhggh," geram Gavin ia kembali kalah bermain.
Lalu tiba-tiba terdengar suara Miranti yang menegur dua anak remaja itu dari pintu.
"Kalian, besok masih sekolah, tidur udah malam!" kata Miranti yang kemudian menutup pintu.
"Lo sih berisik," kata Damar yang kemudian mengakhiri permainan, setelah itu Damar naik ke ranjang dan menelusupkan kepalanya di bawah bantal.
Gavin terus menarik kaki Damar agar tak tertidur.
"Paan sih, lo lama-lama ngeselin! keluar sana, gue mau tidur!" gerutu Damar seraya mendorong Gavin keluar dari kamar.
"Gavin!" suara Miranti membuat Gavin menjadi takut, setelah melihat Gavin yang terdiam di depan kamar Damar, Miranti kembali masuk kamarnya.
"Mar," lirih Gavin dari balik pintu.
"Astaga, gimana ini, gue nggak mau lo kenapa-napa," lirih Gavin yang kemudian memutuskan untuk tidur di depan kamar Damar, tergeletak di bawah pintu.
_______________
Di tempat lain, yaitu di kamar Hana ia sudah terlelap dan kembali bertemu T di alam mimpinya.
Hana dan T bermain tebak-tebakan, siapa yang kalah harus di cium, sedangkan Hana, ia selalu kalah dan T selalu menjadi kesempatan untuk menciumi wajah Hana.
Lalu, T ingin merasakan dicium oleh Hana ia sengaja mengalah oleh tebakan receh yang Hana buat. Hana merasa senang karena akhirnya ia bisa membuat T tak dapat menjawab pertanyaannya.
"Sekarang kamu kecup ini," kata T seraya menunjuk bibirnya.
"No! aku mau cium pipi, nggak pake debat!" kata Hana seraya memiringkan wajah T.
Namun, T yang sangat iseng itu berpura-pura menuruti Hana, padahal ia merencanakan sesuatu, secepat kilat T memalingkan wajahnya sehingga Hana mengecup tepat mengenai bibir T.
T tersenyum, sedangkan Hana ia membulatkan matanya, merasa malu membuat pipinya merona, walau begitu Hana masih belum melepaskan kecupan itu membuat T melu*mat benda kenyal yang sudah menjadi candu baginya.
Apa yang terjadi selanjutnya? T kembali mengajak Hana untuk berolahraga di atas ranjang T yang sangat empuk.
Selesai dengan Itu, T membawa Hana kedalam pelukan.
____________
Keesokan harinya, Gavin bangun sebelum subuh dan ternyata pintu kamar Damar sudah tak terkunci. Ia segera masuk dan menggoyangkan kaki Damar, ia takut terjadi sesuatu yang buruk padanya.
"Eeemmm, paan sih," gerutu Damar seraya menyingkirkan tangan Gavin dari kaki.
"Syukurlah, kayanya nggak terjadi apa-apa sama nih anak," gumam Gavin seraya berkacak pinggang.
"Dasar parno lu!"
"Itu karena gue care sama lo," kata Gavin, "dah lah gue balik, entar emak gue nyariin gue lagi," lanjutnya.
"Alah, gaya. Lo ilang juga kayanya nggak bakalan di cari," ledek Damar yang masih tengkurab di kasur.
Dan Gavin tak menghiraukan ledekan Damar itu, melihat temannya dalam keadaan baik-baik saja ini sudah cukup baginya.
Bersambung