Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Putus Tunangan


Andi mengendarai mobilnya menuju rumah Alexa. Setibanya di sana ternyata kedatangannya memang sudah di tunggu. Di ruang tamu sudah ada Adzriel, Zahra dan juga Alexa. Sedangkan Aulia menemani Ayunda di kamarnya karena Adzriel tak ingin Ayunda menghampirinya dan mendengarkan urusan orang dewasa sehingga Adzriel meminta bundanya untuk menemani putrinya di kamarnya.


"Assalamualaikum," ucap Andi


"Waalaikumsalam," jawab Adzriel, Zahra dan Alexa


"Sini masuk Nak Andi," ucap Adzriel karena Andi masih ada di depan pintu.


Andi pun hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Duduk sini, jangan berdiri terus nanti capek," ujar Zahra ramah karena Andi terlihat kaku dan gugup. Andi pun duduk di tempat duduk yang sudah di sediakan.


"Bagaimana kabarnya?" tanya Adzriel sedangkan Alexa memilih diam karena ia bingung mau ngomong apa.


"Alhamdulillah baik aby," jawab Andi seramah mungkin walaupun kini hatinya dag dig dug dar.


"Alexa gimana kabarnya?" tanya Andi


"Baik," jawab Alexa ramah walaupun hatinya sangat kesal tapi tadi Adzriel sudah menasehati Alexa agar dirinya tak tak memarahi Andi karena akhir-akhir gak bisa di hubungi.


"Alexa aku minta maaf karena aku gak bales saat kamu chat aku bahkan aku gak berani mengangkat telfon kamu," ujar Andi.


"Kenapa mas? Ada apa? Kamu pasti punya alasan kan kenapa kamu melakukan itu semua?" tanya Alexa


"Iya kamu benar. Ini berawal saat waktu itu aku pulang kerja, sesampai di rumah aku langsung mandi dan aku lupa jika Hpku ada di saku baju sehingga saat aku membuka baju di kamar mandi, hpnya jatuh ke air. Jadi malam itu gak bisa chat kamu seperti biasanya.


Hpnya baru aku bawa ke toko service hp saat aku pulang dari masjid setelah habis sholat isya', dan ternyata hpnya gak bisa selesai malam itu juga. Paling tidak keesokan harinya.


Jujur aku ingin sekali ke sini untuk memberitahu karena entah kenapa, firasatku gak enak. Namun aku ragu dan gak enak. Sehingga aku memilih diam di rumah namun sepanjang malam, aku gak bisa tidur karena terus mikirin kamu.


Paginya setelah habis sholat shubuh, aku pergi ke pasar untuk beli lauk pauk karena aku ingin masakin masakan kesukaan kamu.


Namun setelah selesai semua dan ketika aku ambil Hp nya di toko Service Hp. Aku kaget, saat menghidupkan Hp ternyata kamu sudah pergi keluar negeri pagi itu juga.


Jujur aku marah, kesal dan kecewa. Tapi aku berusaha sabar karena memang itu salahku karena hpku mati sehingga aku gak bisa di hubungi.


Masakan yang aku masak pun akhirnya aku berikan ke orang yang ada di pinggir jalan.


Sepanjang hari itu, aku memilih diam dan gak ceria seperti biasanya dan itu di manfaatkan Vita untuk mendekati aku dan mengungkapkan perasaannya namun gak aku hiraukan.


Hingga sore hari, saat pulang kerja. Aku ingin makan di warung yang ada di sebrang jalan karena aku males untuk masak di rumah.


Namun saat itu, entah kenapa tiba-tiba ada sepeda motor yang melintas dengan kecepatan tinggi dan Vita menolongku, ia mendorong ku hingga aku terdorong ke depan namun naasnya malah Vita yang tertabrak.


Saat itu kondisinya sangat kritis, bahkan aku harus mengamputasi tangan kanannya karena luka parah yang sudah gak bisa di selamatkan. Sedangkan kedua kakinya lumpuh permanen dan selamanya Vita akan cacat.


Jujur aku merasa bersalah karena seharusnya aku yang ada di posisi itu, bukan Vita.


Sekarang masa depannya Vita sudah hancur. Ia gak lagi seperti dulu. Karena ia kehilangan satu tangannya dan juga kakinya pun tak lagi berfungsi hingga ia akan selamanya berada di kursi roda.


Siapa laki-laki yang mau menikahi Vita di saat ia cacat seperti itu. Hanya punya satu tangan dan gak bisa jalan. Ia juga gak bisa beraktivitas seperti dulu lagi apalagi kerja sebagai dokter karena keterbatasannya itu.


Aku bingung Al. Untuk itu aku berjanji akan selalu ada di samping nya, berjanji untuk selalu ada buat dia. Bukan karena aku mencintainya tapi karena aku punya hutang nyawa padanya.


Jika kamu tanya bagaimana perasaanku, rasanya sakit. Sakit banget. Ini seperti mimpi buruk bagiku. Aku gak akan menyangka semua ini akan terjadi. Bahkan aku merasa ini gak adil buat aku.


Tapi apalah daya, aku gak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa menerima semua keadaan ini. Mungkin Allah sedang menguji kesabaran ku," ucap Andi menitikkan air mata begitupun dengan Alexa yang juga menangis mendengar penjelasan orang Andi, orang yang diam-diam mulai mencuri hatinya. Orang yang diam-diam sudah merebut posisi Edwin di hatinya. Orang yang selama ini membuat hari-harinya menyenangkan.


Tapi sekarang semuanya berubah menjadi gelap hanya karena satu alasan.


"Lalu apa keinginan kamu sekarang mas?" tanya Alexa dengan suara seraknya. Zahra memeluk putrinya itu karena Zahra seperti merasakan apa yang di rasakan oleh putrinya.


"Aku ingin memutuskan pertunangan ini," ucap Andi dengan suara bergetar. Air mata terus menetes membasahi pipinya.


"Baiklah, jika memang itu maumu. Aku ikhlas. Aku rela kamu memutuskan pertunangan ini," ujar Alexa sambil membuka cincinnya dan memberikannya kepada Andi.


"Kamu gak perlu mengembalikan cincin ini, anggaplah ini kenang-kenangan dari aku," kata Andi yang sudah tak mampu lagi menahan rasa perih yang ada di hatinya


"Tapi aku juga gak bisa menyimpannya mas karena aku gak mau menyimpan sesuatu yang bukan milikku lagi, karena itu akan sangat menyakitkan buat aku. Ambillah cincin ini, jika kamu gak mau. Buanglah," ujar Alexa yang terus saja menangis. Zahra hanya bisa memeluknya.


"Maafkan aku Alexa. Maafkan aku," ucap Andi. Yang bahkan sudah terisak. Jujur ia malu menangis di depan mertuanya itu namun hati gak bisa di bohongi, hatinya terlalu sakit. Hatinya terlalu perih. Wanita yang selalu ia perjuangkan hingga akhirnya mau menerimanya, harus ia lepas begitu aja. Andi ingin bangun dari tidurnya jika memang ini adalah mimpi buruk tapi kenyataannya, ini bukanlah sebuah mimpi tapi sebuah kenyataan yang harus ia jalani.


"Aku sudah memaafkan mu mas. Aku tau ini juga bukan maumu. Aku tau, kamu melakukan ini juga karena terpaksa. Aku mengerti keadaanmu," ujar Alexa yang merasa hatinya begitu sakit. Ia pun langsung pergi ke kamarnya dengan di ikuti oleh Zahra karena Zahra takut putrinya itu kenapa-kenapa.


"Aby, maafin aku," ujar Andi


"Aby sudah maafin kamu. Ini bukan salah kamu, jika memang Alexa adalah jodoh kamu. Kalian pasti akan bersatu kembali," ucap Adzriel menasehati Andi.. Adzriel juga sakit melihat dua orang yang saling mencintai harus berpisah seperti ini.


"Aby, aku sangat mencintai Alexa," Andi mengungkapkan isi hatinya


"Aby tau, Aby sangat tau. Tapi sekarang kamu harus fokus sama Vita karena dia adalah masa depanmu sekarang. Namun jika memang kelak Allah mentakdirkan kalian bersama. insyaAllah kalian pasti akan bersatu. Tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Berdoalah, minta sama Allah jalan yang terbaik." ucap Adzriel menasehati Andi, Adzriel juga sangat menyayangi Andi bahkan Adzriel sangat bahagia karena Alexa mempunyai tunangan sebaik Andi. Laki-laki Sholeh, baik, penyayang dan juga tulus. Ia juga sangat mandiri.


"Iya aby, aku akan berdoa sama Allah agar Allah memberikan jalan terbaik agar aku bisa lepas dari semua masalah ini. Aby aku harus pulang, aku takut Vita nyariin aku. Salam buat Alexa, Umy, Oma dan juga Ayunda," ujar Andi sambil menghapus air matanya


"Iya nanti Aby sampaikan. Jangan lupa cincinnya di bawa, kamu simpan baik-baik. Siapa tau kelak kamu bisa bersama lagi dengan Alexa,"


"Iya aby, Aamiin. Bantu doa ya by agar aku bisa bersatu kembali dengan Alexa,"


"Pasti, Aby pasti akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu dan juga Alexa,"


"Aku pamit pulang Aby, Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


Setelah itu, Andi pun pulang dengan membawa cincin yang ia taruh di saku bajunya. Sepanjang jalan menyetir mobil, Andi terus saja menitikkan air mata, rasanya hidup yang ia bayangkan tidaklah semanis bayangannya.


Masa depan yang tadinya bahagia, mendadak suram seakan tak ada sedikitpun cahaya.