
Balqis menangis sepanjang malam, lagi lagi ia merasakan malam pertama yang begitu menyakitkan. Dulu saat malam pertama dengan Adzriel, ia harus menangis semalaman karena Adzriel tak datang menemui dirinya dan sekarang di saat malam pertamanya dengan Aksa, lagi lagi ia harus di tinggal seorng diri. Aksa lebih memilih menemui kekasihnya dari pada dirinya yang sudah sah jadi istrinya. Tapi apalah artinya sebuah status jika di hati dan fikiran Aksa hanya untuk kekasihnya bukan untuk dirinya.
Balqis memeluk boneka yang ada di kamar hotelnya, ia meremas remas boneka itu. Entah kenapa hatinya begitu sakit melihat kenyataan bahwa ia menikah dengan orang yang tidak bisa mencintainya. Lagi, lagi dan lagi ia harus menelan kenyataan yang begitu pahit.
Balqis berfikir dengan meninggalkan Adzriel, ia bisa merasakan kebahagiaan tapi nyatanya kesedihan itu terus saja menghantui dirinya. Entah sampai kapan penderitaan ini akan segera berakhir.
"Zahra, maafkan aku. Maafkan aku yang telah merebut suamimu, maafkan aku yang telah membunuh kedua orang tuamu hanya karena ingin kau merasakan kehilangan seperti aku yang kehilangan Adzriel. Zahra, maafkan aku yang sudah membuat hidup kamu menderita, maafkan aku Zahra." Ujar Balqis yang terus saja menyebut nama Zahra.
"Zahra kini aku sudah merasakan apa yang kamu rasakan dulu dan itu sangat menyakitkan. Tuhan, maafkan aku hiks...hiks...." Ujar Balqis memenangis.
Seharusnya aku membatalkan perjodohan itu bukan malah menerimanya setelah aku tau bahwa ia telah mempunyai kekasih. Aku terlalu bodoh. Ya Tuhann...........apa yang harus aku lakukan sekarang?
Aku fikir dengan menerima Aksa jadi suamiku, aku akan merasakan kebahagiaan dan Papa pun juga akan merasa bahagia karena ia bisa besanan dengan sahabatnya dan juga putri satu satunya telah menikah.
Tapi nyatanya, aku malah tambah menderita. Jika papa tau apa yang terjadi denganku, entah apa yang akan ia lakukan melihat putri kesayangannya menangis karena seorang laki laki yang tak bisa menghargai perasaanya.
Suaminya bahkan terang terangan mengatakan kalau ia akan menemui kekasihnya di malam pertamanya bahkan sedikitpun ia tak memikirkan bagaiaman perasaanya Balqis.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa." Balqis teriak sekencang mungkin untuk meluapkan semua perasaannya yang membuat dadanya begitu sesak.
"Mama, aku kangen mama. Maafkan aku ma, karna aku mama pergi. Ma, aku butuh mama di samping aku. Aku ingin mengutarakan semua isi hatiku ma. Mama, aku gak sanggup dengan semua ini ma, aku ingin ikut mama pergi. Mama hiks hiks." Balqis menangis terisak mengingat mamanya yang kini telah tiada, andai mamanya masih hidup ia ingin berbagi keluh kesah kepada mamanya itu.
"Aku benci sama diriku sendiri, aku benci. Kenapa rasanya begitu sakit. Kenapa?" teriak Balqis frustasi sambil memegang dadanya.
"Maafin aku Zahra, maafin aku. Aku salah, aku sudah merebut suamimu dulu hingga sekarang aku pun harus merasakan posisi yang sama seperti mu." Ujar Balqis mengingat masa lalunya yang begitu buruk.
"Aku sekarang percaya karma itu memang ada. Yang menyakiti kelak juga akan tersakiti. Dan sekarang aku sudah menerima karma itu. Aku gak menyangka ternyata akan sesakit ini." Ucap Balqis sambil memegang lututnya sendiri, ia membuang boneka itu sembarangan, ia hanya duduk di samping tempat tidur sambil memeluk lututnya sendiri.
"Hiks hiks........apakah Mas Aksa akan meninggalkan aku demi kekasihnya itu? Apakah aku harus menjadi janda untuk yang kedua kalinya?" tanya Balqis pada dirinya sendiri.
"Aku gak mau jadi janda lagi, aku gak mau." Ucap Balqis.
"Papa, apa yang papa lakukan sekarng ini. Aku ingin menemui papa." Ujar Balqis.
"Tapi jika aku menemui papa, pasti papa tau kalau aku sekarang lagi sedih karena kepergian Mas Aksa. Dan aku gak mau jika papa tau tentang kesedihanku ini. Apa yang harus aku lakukan, aku butuh seseorang untuk menenangkan aku. Kenapa semuanya jadi begini. Kenapa? baru beberapa jam aku menyandang sebagai Nyonya Damian tapi sekarang aku sudah merasa tak mampu bagaimana dengan hari hari yang selanjutnya? Apakah aku bisa bertahan dengan semua kenyataan yang menyaktikan seperti ini? Apakah aku terus mengalah dan membiarkan suamiku bersama dengan wanita lain atau aku harus bertindak tegas? Ya tuhan........aku bingung." Ucap Balqis sambil terus mengoceh sendiri sedangkan air mata terus mengalir tiada henti.