
Aku terbangun saat merasakan ada hembusan nafas di leherku dan tangan yang melingkar di perutku. Seketika aku mengingat kalau aku tadi merebahkan badanku di sebelah Raka, tapi tunggu! Bukannya tadi jarak kami berjauhan ya , sekitar satu meter. Kenapa sekarang bisa menempel begini. Membuat badanku terasa kaku tidak berani bergerak, tapi karena pingin ke kamar mandi jadi dengan pelan-pelan aku pindahkan tangan Raka.
Terasa sangat lega begitu bisa duduk dan terlepas dari pelukan Raka. Aku langsung berlari ke kamar mandi menuntaskan hajatku, sekalian ambil wudhu untuk sholat ashar.
Selesai sholat asar ku lihat Raka sudah bangun, tapi masih dengan posisi rebahan dengan mata melihat ke arahku.
"Ada apa?"
"Kok aku gak di bangunkan, biar kita bisa sholat asar berjamaah."
"Maaf,aku berencana membangunkan kamu setelah selesai sholat asar."
"Lain kali bangunkan aku, biar kita bisa sholat berjamaah." Ucap Raka sambil bangun dan berjalan ke kamar mandi. Aku melangkahkan kakiku menuju balkon kamar, untuk melihat padatnya jalanan ibu kota di sore hari.
Sebuah tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggangku, membuat badanku sedikit tegang.
"Kaget ya?" Bisik Raka membuat bulu kudukku merinding.
"Kita harus mulai belajar kontak fisik,biar tidak terlalu kaku. "
"Modus !" Ucapku sambil melepaskan pelukan Raka dan berjalan masuk ke dalam kamar.
"Haha bukan modus sayang, ini ada salah satu cara memperkuat rasa cinta. Karena rasa cinta yang kuat salah satu pondasi untuk memperkuat rumah tangga." Ucap Raka sambil berjalan masuk, tidak lupa mengunci kembali pintu.
"Memperkuat rasa cinta merupakan alat untuk memperkokoh bahtera keluarga. Sebab jika rasa ini sudah hilang baik pada suami ataupun isteri, maka rumah tangga akan menemui kehancuran. Kontak fisik adalah salah satu caranya."
"Hmmm," jawabku.
"Jangan hmm doang sayang, jawab dong?"
"Aku harus jawab apa?"
"Kamu bisa jawab iya mas, iya sayang, iya honey."
"Harus ya pakai bahasa kaya begitu, ko geli aku ya dengernya."
"Kamu ini ya, nasib punya istri masih polos ya kaya gini!" Ucap Raka sambil menarik hidungku.
"Sakit bego!"
"Ais tidak boleh mengumpat atau ngomong kasar sama suami." Ucap Raka yang ku jawab dengan dengusan. Aku berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum.
"Kalau ngomong kasar atau mengumpat, mas akan hukum Kamu !"
"Hmm mm."
Emang berani menghukum ku, kira-kira apa ya hukuman nya.
"Kenapa diam, lagi mikir ya kira-kira apa hukuman yang akan ku berikan?"
"Sok tahu," bohongku.
"Bagaimana kalau sekarang kita belanja bulanan,beli peralatan mandi dan dapur."
"Apa kamu tidak capek ?"
"Mas bukan kamu."
"Hmm."
"Jangan hmm doang nanti kalau kelepasan lagi mas hukum."
"Ko sukanya main ancam hukum-hukum Mulu dari tadi."
"Demi kebaikanmu sendiri. Lagian kita kan sudah janji untuk saling menerima pernikahan ini. Bagaimanapun awal pernikahan kita, kita harus menjalani dengan benar. Karena pernikahan selain sakral juga ibadah,"ucap Raka lembut.
Aku merasa sejak acara ijab qobul kemarin Raka berubah menjadi pribadi yang lembut, apa karena ada maunya ya?
"Ayo sana siap-siap!"
"Gak pakai baju ini saja ?"
"Celananya terlalu pendek!"
"Hah, yang benar aja ?"
Celana selutut di bilang terlalu pendek, gimana dengan hotpants yang biasa aku pakai di rumah.
Dengan menggunakan celana sobek dan kaos oblong warna putih, aku pergi dengan Raka. Tapi saat jalan di mall ,Raka tiba-tiba melepaskan jaketnya dan memakaikannya padaku.
"Kenapa ?"
Berati kamu yang punya fantasi liar, tidak semua orang berotak kotor kaya kamu.
"Kenapa ?"
"Tidak !"
"Pasti kamu ngatain aku otak kotor. Suamimu ini lelaki normal bukan otak kotor."
"Haha terserah kamu, sekarang kita mau kemana dulu?"
"Mau beli baju, sepatu atau tas?"
"Enggak buat apa, aku bukan wanita karier ini. Aku cuma pelayan kafe."
Tiba-tiba Raka menyentil dahiku, "Mana ada pelayan kafe kemana-mana bawa Honda jazz."
"Haha itu hadiah, bukan hasil keringatku sendiri !"
"Sama saja sayang, kita belanja kebutuhan dapur saja." Raka menarik pinggangku dan membawa berjalan ke dalam swalayan. Raka pamit untuk ke alat-alat elektronik, jadinya aku memilih sayuran dan buah-buahan sendiri .
"Lo Kia kan?"
"Hai,"jawabku malas melihat Leora dan Jasmine. Hanya karena kesopanan saja aku menjawab sapaannya.
"Aku dengar beberapa tahun lalu Lo kecelakaan sampai, buta dan lumpuh."
"Tapi sepertinya sudah sembuh lihat dia belanja seorang diri." Ucap Jasmine memotong ucapan Leora.
"Haha bener Lo. Kalau Lo butuh bantuan kami siap bantu loo, sekarang kami berdua sudah menjadi dokter." Ucap Jasmine percaya diri.
"Oh selamat kalau begitu Bu dokter. Tapi sorry gw masih harus belanja." Ucapku sambil mendorong troli belanjaanku melewati mereka berdua.
Aku berkeliling mencari semua keperluan mu, setelah aku selesai aku mengantri di kasiran tanpa memberi tahu Raka.
"Lo belanja begitu banyak gak bawa temen,emang bisa bawanya nanti."
"Bisa,"jawabku asal. Meladeni Leora itu tidak akan ada habisnya, di cuekin pasti akan terus ngerecokin. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Leora lagi di kasiran.
"Oya sayang kenalkan dia Azkia teman SMP ku." Ucap Leora mengenalkan seorang laki-laki dibelakangnya.
"Pratama panggil saj Tama, dokter spesialis bedah."
"Azkia." Jawabku dengan membalas uluran tangannya.
"Ko gak bilang kalau sudah di kasiran sih yang." Ucap Raka yang baru muncul dan langsung memelukku. Otomatis perlakuan Raka menjadi pusat perhatian, apalagi Leora sampai melotot.
"Eh pak Caraka,"ucap Tama.
"Mas Raka,"cicit Leora.
"Belanja juga ?"
"Iya pak."
"Duduk sana,biar aku yang antri di kasiran." Saat aku hendak menyerahkan dompet, Raka menolaknya dan menyuruhku untuk duduk.
"Lo ada hubungan apa dengan mas Raka ?" Tanya Jasmine yang menghampiriku.
Dasar orang-orang kepo, lepas dari Leora muncul di Jasmine.
"Tanya saja sama orang yang bersangkutan."
"Apa susahnya jawab sih!"
"Kalau aku jawab nanti kamu tidak percaya." Ucapku bertepatan dengan seorang lelaki berseragam yang menghampiri Jasmine.
"Yang kenali teman SMP ku Kia."
"Diano."
"Kia." Jawabku sambil melihat kearah Raka yang berjalan kearah ku bersama Ardan temannya.
"Wah aura pengantin baru masih terlihat ya," canda mas Ardan. Membuat Jasmine melotot mendengarnya, berbeda dengan Raka yang tersenyum cerah.
"Selamat sore Ndan!" Mas Ardan hanya mengaguk mendengarnya.
"Ayuk ngopi dulu, pasti Ani senang bertemu denganmu!" Tanpa menyapa Jasmine Raka menarikku pergi. Satu tangan di gunakan untuk membawa barang belanjaan, dan satu tangan lagi untuk merangkul pinggangku. Jujur jalan dengan pinggang yang saling menempel begini, terasa tidak nyaman.
Kami ngopi bersama dengan mbak Ani yang sibuk dengan anak-anaknya, sampai menjelang magrib kami baru berpisah.