Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
156. Raka Tergoda


Selama Clara di rumah hampir tiap hari dia membantuku ngurus kafe. Sejak ungkap cinta Raka di saat pernikahan Cantika,aku dan Raka belum bertatap muka kembali. Karena malamnya Raka harus ikut papanya ke Surabaya untuk mengurus masalah rumah sakit di sana. Ada masalah salah satu apoteker yang bertindak curang, mengganti obat dengan obat kadaluarsa.


"Berati Lo masih Virgin?"


"Hus itu mulut ." Ucapku sambil melihat sekitar takut ada yang mendengar, mengingat pernikahan kami masih sangat di rahasia.


"Hehe maaf."


"Aku masih takut ya."


"Kan pernikahan mu sudah terdaftar sudah resmi secara negara."


"Kan aku baru tahu kemarin."


"Berati kalau suamimu minta hak nya kamu sudah siap ?"


"Taruh ah jangan bahas itu dulu, gw mau jalani saja dulu seperti air yang mengalir ."


"Aku dengar dari Cantika dan Satria dulu Raka tidak pernah mau ikut campur urusan dengan rumah sakit. Kenapa sekarang mau ,apa gara-gara kamu ?"


"Mana Kutahu, Cantika cerita ke kamu?"


"Aku tidak sengaja denger, Satria berharap Raka mau mengurus rumah sakit. Karena Satria mau fokus mengobati pasien, jika dia mengurus rumah sakit ia tidak bisa fokus menangani pasien."


"Aku tidak tahu, aku juga mau terlalu jauh Ikut campur."


"Tapi Raka itu sekarang suamimu wajar jika kamu ikut campur."


"Aku belum bisa memberikan hak nya sebagai suami, jadi aku tidak berani ikut campur untuk sekarang."


"Ya udah berikan haknya."


"Tidak semudah mengucap Mak,"kesalku.


"Mama Mak gw bukan Mak Lo. Kenapa tidak mudah buktinya orang-orang di klub malam biasa aja berciuman di club malam."


"Gw bukan mereka ya,gw aja masih gemetaran kalau tangan Raka pegang gw, apalagi kamu suruh begituan waras loo!"


"Haha masak, gw jadi kasian atau harus ngucapin selamat karena dia mendapatkan sepupu gw yang terlewat polos."


"Apaan sih lo? Ayok turun udah jam 10 malam ni, bantu beres-beres di bawah !" Sejak Raka ke Surabaya aku habiskan waktuku di kafe, bahkan aku akan pulang bersama karyawan yang lain yang sibuk tinggal di kafe.


Clara pulang kerumahnya sedangkan aku akan pulang ke apartemennya Raka. Karena arahnya yang berbeda kami menggunakan kendaraan yang berbeda.


POV. RAKA


Sudah 3 hari aku pergi ke Surabaya membantu papa menyelesaikan masalah kecurangan seorang apoteker, padahal dia termasuk karyawan lama yang sudah terpercaya.


"Bagus papa suka caramu mengatasi masalah, cepat, cermat dan tepat. Bagaimana kalau kamu mulai memegang jabatan sebagai wakil direktur rumah sakit ?"


"Aku di sini hanya untuk membantu anak anda yang lagi bulan madu, bukan untuk merebut posisinya !"


"Tetapi kamu lebih kompeten dari pada kakakmu, kakakmu hanya cocok menjadi dokter. Dokter yang lembut menghadapi pasien. Jika menjadi dokter mungkin dia ahlinya, tapi masalah manejemen rumah sakit kamu bisa papa andalkan."


"Aku tidak berniat,"ucapku sebelum berjalan menuju ruangan yang di sediakan untukku sementara di sini. Akuu sempat belajar manejemen rumah sakit selama 2 tahun, secara otodidak dari mantan pacarku waktu kuliah. Aku tidak mau mereka tahu aku belajar manejemen rumah sakit, karena aku tidak mau di anggap berusaha menguasai rumah sakit yang papa dirikan. Sejauh ini baru ada 3 cabang rumah Sakit, di Jakarta, Surabaya dan Bandung.


Aku berharap hari ini masalahnya bisa selesai dan malamnya aku bisa langsung kembali ke Jakarta. Setelah menghubungi beberapa pasien dan minta maaf secara langsung, serta memberikan kompensasi berupa pelayanan gratis. Kini tinggal menunggu kasus mau di selesaikan secara hukum apa kekeluargaan, semua sudah ku pasrahkan pada papa. Tugasku hanya menyelesaikan masalah dengan nama baik rumah sakit , supaya tidak tercemar.


"Pa aku pulang ke Jakarta sekarang!"


"Kenapa tidak besok pagi saja,kamu bisa istirahat dulu!"


"Tidak pa, lebih baik aku istirahat di apartemenku saja."


"Ya udah hati-hati papa pulang besok saja, tidak ada yang menunggu papa ini di rumah."


"Ceraikan saja mamaku biar papa bisa menikah lagi."


"Tidak akan pernah, papa sudah sangat menyesal karena mengucapkan talak pada mamamu. Papa tidak akan mengulangi dengan menceraikan mamamu!"


"Papa itu egois !"


"Biarkan saja, jika tidak bisa memiliki mamamu maka tidak boleh ada yang memiliki mamamu."


Aku tidak lagi berkomentar apapun langsung pergi meninggalkan papa di ruangannya. Dari rumah sakit aku langsung menuju bandara untuk pulang.


Pukul 2 dini hari aku sampai di apartemen, saat aku masuk ke dalam kamar kami. Aku melihat Kia yang tidur dengan memeluk bantal yang biasa aku pakai. Apa ini pertanda kalau Kia sedang merindukan aku. Ada perasaan hangat di hatiku menyadarinya,aku usap pipinya yang lembut. Aku kecup sebentar kening dan kedua pipinya sebelum aku masuk ke dalam kamar mandi. Aku basuh badanku dengan air hangat dan tidak lupa aku keringkan rambutku. Baru naik ke atas ranjang ,ku ambil bantal yang Kia peluk secara pelan-pelan. Tapi setelahnya aku malah tergoda untuk mencium bibir mungilnya yang sedikit terbuka.


Tahan Raka jangan menjadi pencuri ciuman, meski yang kamu cuti ciuman itu istrimu sendiri.


Sekuat tenaga aku menahan untuk tidak melahap bibir Kia, tapi yang terjadi malah di luar kendali selimut yang di pakai Kia turun ke bawah. Menampilkan Kia yang hanya memakai tang top dengan tali satu tanpa bra. Membuatku menelan ludah, secara pelan-pelan tanganku menyikap selimut yang di pakai Kia. Seketika pemandangan yang tidak pernah Kia perlihatkan nampak di depanku. Kia dengan tang top yang super minim tidak hanya memperlihatkan belahan dadanya tapi juga pusarnya. Serta celana super pendek mungkin hanya sejengkal memperlihatkan paha putihnya.


Ah bisa gila kalau aku melihat tapi tidak bisa menyicipinya. Aku lelaki normal yang punya nafsu bila melihat yang begini. Dengan perlahan aku tempelkan bibirku pada bibir Kia , tidak ada perlawanan dari Kia. Aku beranikan untuk ******* bibirnya yang tipis dan lembut itu secara perlahan, dengan tangan yang mengusap perut rata Kia sambil berjalan ke atas 2 gunung kembarnya.


"Egh egh." Suara lenguhan dari Kia membuatku bisa memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Pikiranku sudah tertutup oleh nafsu , aku hisap mulut Kia dengan tangan yang mulai meremas seperti bermain sequisi. Hingga bayangan Kia lagi marah menghentikan kelakuan ku. Jangan gila Raka, jangan membuat Kia takut padamu.