
Di saat Balqis sibuk dengan masalahnya maka beda lagi dengan Zahra yang mana ia selalu saja merasakan kebahagiaan sepanjang waktu. Suami dan ibu mertuanya begitu memanjakannya hingga Zahra merasa begitu bahagia bahkan ia merasa hidup ini begitu sempurna. Setelah apa yang ia lalui, tuhan kini telah memberikan kebahagiaan untuknya.
Ia percaya, manusia itu tidak mungkin selamanya menangis dan menderita. Akan ada waktunya dimana tuhan akan memberikan dirinya kebahagiaan yang tertuga. Dan kini kebahagiaan itu telah di rasakan oleh Zahra.
Ia juga mempunyai kedua buah hati yang begitu penurut dan pintar, mereka adalah anak kebanggaan Zahra dan juga Adzriel. Zahra berharap kelak putra dan putrinya itu bisa menjadi anak yang membanggakan untuk semua orang, menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, menjadi anak yang bermanfaat untuk dirinya sendiri dan untuk orang orang yang ada di sekelilingnya.
Dan sekarang, Zahra pun di ajak suaminya untuk melihat hotel mewah yang akan segera ia bangun dalam waktu dekat. Sedangkan Aulia pergi ke luar kota untuk mengecek salah satu cabang resto dan kedua anaknya sedang ada di sekolah.
Sepanjang jalan Adzriel selalu menggandeng tangan Adzriel dan itu membuat Zahra sangat bahagia. Bahagia mempunya suami yang begitu posesif dan penuh perhatian.
"Sayang, nanti setelah dari sini. Kita jalan jalan lagi yuk berdua." Pinta Zahra.
"Oke. Aku akan mengantarkan kamu kemanapun kamu pergi." Ucap Adzriel lembut.
"Terima kasih ya sayang, terima kasih untuk semuanya. Aku bahagia menjadi istrimu mas." Ujar Zahra.
"Dan aku juga ucapkan terima kasih karena kamu masih mau memberikan aku kesempatan untuk menjadi suami dan ayah dari anak anak kita setelah apa yang aku lakukan terhadapmu." Ucap Adzriel.
"Sudahlah jangan bahas masa lalu mas. Aku sudah memaafkan semuanya." Ucap Zahra tersenyum.
"Kamu memang wanita yang baik." Ujar Adzriel tersenyum sambil mencium kening istrinya sekilas.
\========================================
Setelah selesai dengan urusannya, Adzriel pun mengajak Zahra jalan jalan keliling kota.
"Mas aku pengen makanan itu." Ucap Zahra sambil melihat nenek nenek yang jualan cenil.
"Kamu yakin?" tanya Adzriel.
"Iya mas, entah kenapa aku pengen jajan itu." Jawab Zahra.
"Baiklah kita akan beli. Sabar ya." Ujar Adzriel sambil mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya.
"Iya udah ayo turun." Ucap Adzriel lembut.
Zahra dan Adzriel pun turun dari mobil dan pergi menuju nenek nenek yang berjualan cenil itu.
"Mbah beli ceninya ya." Ujar Zahra lembut.
"Berapa neng?" tanya mbak itu.
"Berapaan mbah?" tanya balek Zahra.
"Dua ribu boleh." Jawab mbak itu tersenyum.
"Kalau gitu, aku belli 10 ribu ya mbak jadikan dua, lima ribuan." Ucap Zahra.
"Iya neng, sebentar ya." Ucap nenek itu. Ia pun segera mengambil daun dan menaruh beberapa cenil di daun itu lalu di atasnya di taburi dengan parutan kelapa dan setelah itu di kasih sesendok air gula merah.
"Ini neng." Ucap Mbah itu sambil memberikan cenil yang ia pegang.
Zahra pun mengambil cenil itu dan memberikan uangnya sebesar 50 ribu.
"Ini neng kembaliannya." Ujar nenek itu.
"Gak usah mbak, itu buat mbah aja.." Jawab Zahra.
"Makasih ya neng." Ucap nenek itu senang.
Zahra pun hanya tersenyum dan mengangukkan kepalanya lalu ia pun pergi menuju ke mobil bersama dengan Adzriel.
Di dalam mobil Zahra segera memakan cenil itu dengan sangat lahap.
"Kamu suka?" tanya Adzriel sambil menjalankan mobilnya.
"Iya, ini punya kamu satu." Ujar Zahra sambil memberikan cenil millik Adzriel.
"Gak usah, buat kamu aja." Ucap Adzriel tersenyum.
"Yakin?" tanya Zahra.
"Iya." Jawab Adzriel.
"Makasih ya." Ujar Zahra sambil terus menikmati cenil yang ada di hadapannya.
"Resto mana?" tanya Zahra.
"Itu di sana, katanya ada resto baru tapi entah punya siapa. Aku cuma ingin mampir aja sekalian makan." Jawab Adzriel.
"Kamu aneh, punya resto sendiri tapi masih mau makan di resto orang lain." Ujar Zahra tertawa.
"Gak papa, anggap aja aku lagi berbagi rezeki." Ucap Adzriel.
Zahra pun hanya menganggukkan kepala sambil menikmati makanannya.
Sesampai di depan resto, Zahra pun sudah menghabiskan semua cenil yang telah ia beli.
"Udah habis?" tanya Adzriel tak percaya.
"Sudah mas." Jawab Zahra tersenyum.
"Gak nyangka aku sayang, kamu bisa rakus juga ya." Ujar Adzriel tertawa.
"Entahlah, aku akhir akhir ini lapar mulu. Gak kayak biasanya dan makannya pun selalu banyak." Ucap Zahra.
"Gak papa biar kamu gemuk." Ujar Adzriel.
"Aku udah gemuk mas, kamu tau gak berat badanku berapa sekarang?" tanya Zahra.
"Berapa emangnya?" tanya Adzriel.
"60 mas" Jawab Zahra.
"Itu mah masih dikit." Ujar Adzriel.
"Dikit apanya mas, dulu sebelum aku nikah denganmu berat badanku cuma 50 kg, sekarang naik 10 kg." Ujar Zahra.
"Itu karena kamu sudah melahirkan anak anakku. Tapi walau kamu berat badanya segitu, kamu tetep cantik kog kayak anak ABG hehe." Ucap Adzriel.
"Gak usah pura pura mas, aku tau wajahku sekarang terlihat lebih tua dari mas." Ujar Zahra.
"Gak kog itu cuma perasaanmu aja. Ya udah yuk turun, kita ngobrol di dalam aja." Ucap Adzriel. Zahra pun hanya mengangukkan kepala.
Adzriel dan Zahra segera turun dari mobil dan pergi ke resto. Adzriel memesan ruangan VVIP.
"Enak juga mas tempatnya, walau kecil dan sederhana tapi nyaman." Ucap Zahra sambil duduk di kursi yang ada di ruangan VVIP.
"Iya kamu benar." Ucap Adzriel sambil melihat lihat ruangannya.
Tak lama kemudian beberapa pelayan datang, Adzriel dan Zahra pun segera memesan makanan dan minuman. Setelah selesai mencatat, pelayan itu segera pergi dan tak lama kemudian pelayan itu sudah datang dengan membawa beberapa makanan dan minuman yang telah mereka pesan.
"Mbak, nanti selama aku di ruangan ini bersama istriku. Aku tak ingin siapapun masuk ke ruangan ini termasuk para pelayan." Ucap Adzriel.
"Baik pak." Ujar pelayan itu tersenyum ramah lalu pergi.
"Nah sekarang kamu bisa buka cadarmu dan kita nikmati makanan ini berdua." Ucap Adzriel tersenyum.
"Kamu mas, ada ada aja. Oke deh." Zahra pun membuka cadar itu dengan pelan. Adzriel emang selalu gitu, tiap ke resto ia akan memesan ruangan VVIP dan setelah itu meminta para pelayan untuk jangan masuk sebelum di panggil.
"Kamu cantik sayang." Puji Adzriel sambil melihat wajah istrinya itu. Entah kenapa Adzriel gak pernah bosan menatap wajah cantik istrinya.
"Sudah sudah jangan muji aku terus. Lebih baik kita makan yuk." Ucap Zahra.
"Oke."
Adzriel dan Zahra pun makan sambil saling menyuapi satu sama lain.
\==========================
Yang kemaren di kolom komentar ada yang minta foto Zahra, ini aku kasih. Maaf kemaren lupa gak di kasih, tak fikir udah. Eh ternyata belum hehe. Maap ya