
Saat Aksa bangun tidur, kepalanya pusing banget. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Ia masih belum sadar bahwa di dekatnya itu ada wanit lain yang sedang memeluk dirinya. Setelah rasa sakit di kepalanya agak reda, barulah dia melihat ke arah samping.
"Inez." Ucap Aksa yang langsung berdiri, namun melihat tubuhnya yang tanpa sehelai kain, ia langsung menutupinya dengan selimut.
"Sayang, sudah bangun?" tanya Inez seakan tak terjadi apa apa.
"Apa yang kamu lakukan padaku?" Bentak Aksa.
"Aku gak melakukan apa apa, aku udah dari tadi malam menginap di hotel ini. Dan tadi pagi aku melihat kamu pingsan, jadi aku bawa kamu ke kamar tapi kamu malah merayu aku dan mengajak hubungan intim. Bahkan kamu memaksa aku untuk melayanimu. Kamu lihat tubuhku yang penuh tanda merah bahkan di tubuhmupun juga banyak tanda merahnya, bukan? Kenapa kamu pura pura linglung begini setelah kita menghabiskan tidur bersama dengan olah raga?" tanya Inez dengan senyumannya.
"Kamu gila! Aku tak mungkin menghianati istriku dan melakukan hubungan dengan wanita yang sudah stres seperti kamu." ujar Aksa
"Benarkah? Tapi nyatanya kamu sudah melakukannya bersamaku." Jawab Inez tertawa.
"Kamu gila, kamu benar benar gila." Aksa mengambil bajunya yang berserakan di lantai. Lalu membawanya ke kamar mandi. Ia memakai baju itu di kamar mandi dan setelah itu, ia pun mengambil tas dan juga berkas berkas yang ada di meja. Dan membawanya keluar. Ia tak ingin berlama lama di kamar itu bersama wanita ular dan licik seperti Inez. Inez hanya tersenyum menanggapinya. "Ini masih permulaan sayang." Ucap Inez tersenyum. Ia segera memakai bajunya dan segera check out dari hotel.
Aksa sendiri merasa sangat frustasi, ia memukul mukul stir mobil. Ia gak tau harus berbuat apa, apalagi leher, badan dan perutnya penuh dengan tanda merah. Ia gak tau bagaimana harus menjelaskannya kepada Balqis. Aksa hanya bisa menangis sepanjang jalan. Ia takut Balqis akan pergi darinya jika ia tau apa yang terjadi.
"Ya tuhan..............kenapa ini harus terjadi pada hamba?" Teriak Aksa yang masih berusaha untuk menyetir dengan tenang walau hatinya dalam tidak keadaan yang baik baik saja. Ia gak tau harus berbuat apa sekarang, ia tak punya keberanian untuk pulang hari ini. Ia masih belum siap untuk bertemu dengan istrinya. Aksa pun memilih untuk pergi ke hotel milik Adzriel, Aksa menginap di sana tanpa sekalipun memberikan kabar kepada istrinya. Ia tak ada keberanian untuk menghubungi istrinya karena ia merasa bersalah karena sudah menghianati istrinya secara tidak sadar.
Sedangkan Balqis sendiri, ia merasa hawatir. Ia berulang kali menelvon suaminya tapi gak di angkat angkat. Ia juga mengirim pesan namun tak ada satupun yang di balas. Sedangkan jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Gak biasanya Mas Aksa gak ngasih kabar aku sama sekali seharian ini." Ujar Balqis ngomong sama dirinya sendiri.
"Apa perlu aku menghubungi Axel karena hanya dia yang bisa melacak keberadaan seseorang." Ujar Balqis.
Setelah menimang nimang, akhirnya Balqispun menelvon Axel.
"Assalamu'alaikum tante." Ucap Axel setelah telfon terhubung.
"Waalaikumsalam sayang, apakah kamu sibuk hari ini?" tanya Balqis.
"Gak tante, ini lagi ngaji bareng Alexa di kamar sambil nunggu Adzan maghrib tiba." Ujar Axel padahal jam masih menunjukkan pukul lima sore dan Adzan maghribpun masih kurang setengah jam lagi. Tapi Axel dan Alexa memilih mengaji setelah habis sholat ashar karena memang mereka berdua tak ada aktivitas apapun.
"Bolehkah kalian ke sini, ini sangat penting. Seharian ini suami tante gak bisa di hubungi, tante kirim pesan juga gak ada yang di balas satupun. Ini gak seperti biasanya. Tante minta tolong ya agar kalian ke sini, tante takut suami tante kenapa napa." ujar Balqis sambil menangis.
"Oke tante, saat ini juga aku ke sana. Tante di sana gak perlu sedih, aku akan bantu tante."
"Makasih ya sayang, tante tunggu kedatangan kalian."
"Oke tante."
"Assalamu'alalikum."
"Waalikumsalam."
Setelah mematikan telvonnya, Balqis tetap menunggu suaminya di depan rumah.
Sedangkan Axel, ia segera menyudahi baca qur'annya.
"Ada apa kak?" tanya Alexa yang juga ikut mengaji di sampingnya.
"Om Aksa gak bisa di hubungi seharian ini, Tante nyuruh kita ke sana sekarang." Jawab Axel.
"Oh gitu, iya udah ayo." Alexa menaruh Alqur'annya di atas meja dan setelah itu, ia pun membuka mukenahnya dan melipatnya dengan sangat rapi. Setelah itu, ia memakai jilbab panjangnya.
"Ayo, kita ijin dulu ya sama umy." Ucap Axel.
"Oke."
Mereka berduapun pergi ke kamar Zahra.
"Umy?" panggil Axel dari luar pintu karena ia gak bisa langsung masuk kamar gitu aja walau itu adalah kamar Zahra sekalipun, ibu yang telah melahirkan mereka.
"Iya sayang, ada apa?" tanya Zahra saat ia membuka pintu dan melihat kedua buah hatinya ada di depan pintu.
"Umy, aku sama Alexa mau ke rumah tante Balqis. Boleh gak?" tanya Axel.
"Mau ngapain ke sana sayang? Ini sudah sore, bentar lagi maghrib. Apa gak bisa nunggu setelah selesai sholat maghrib aja, biar nanti aby yang nganterin." Ujar Zahra lembut.
"Tapi aku dan Alexa pengen ke sana sekarang." Jawab Axel.
"Emagn ada apa sayang? Kasih umy alasan yang jelas dulu biar umy bisa mempertimbangkannya boleh apa gak nya kalian keluar." Ucap Zahra.
"Gini umy, Om Aksa seharian ini gak bisa di hubungi. Tante Balqis sudah berulang kali menelvonnya tapi gak di angkat. Bahkan tante kirim pesanpun gak ada yang di bales dan gak seperti biasanya om aksa seperti ini. Tante meminta aku untuk ke sana sekarang. Mungkin dia meminta aku untuk melacak keberadaan suaminya, soalnya tante hawatir banget dari tadi." Jawab Axel.
"Oh gitu, iya sudah gak papa. Tapi nanti pulangnya gak boleh terlalu malam ya. Tapi jika memang urusannya belum kelar sampai malam, mending kalian menginap aja di sana dan pulang besok pagi." Ujar Zahra yang memang gak bisa terlalu mengekang keinginan buah hatinya apalagi niat mereka berdua adalah membantu seseorang yang membutuhkan bantuannya.
"Iya umy, siap. Kami berangkat dulu ya umy. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah berpamitan dan mencium tangan Zahra, mereka berdua pun segera keluar dan memanggil sang sopir.
"Pak, antarkan kami ke rumah tante balqis." Ujar Axel.
"Siap, den."
Sang sopir pun segera pergi ke garasi untuk mengambil mobil sedangkan Axel dan Alexa menunggu di depan rumah.
"Ayo masuk den, non." Sang sopir membukakan pintu mobil setelah mobilnya keluar dari garasi.
"Terima kasih pak." Ucap Axel dan Alexa setelah mereka masuk ke dalam mobil dan sang sopirpun segera menutup pintunya kembali.
Setelah itu, mereka pun berangkat menuju rumah Balqis.