
Aki mengayuh sepedanya dengan sangat cepat menuju rumah Denji, dia sangat khawatir karena baru kali ini dia mendengar Denji berteriak minta tolong.
"Denji, apapun yang terjadi tunggu aku!!!" kata Aki sambil mengayuh sepedanya lebih cepat.
Karena jarak antara rumahnya Himeno dan Denji itu cukup jauh, mau tak mau Aki harus memotong jalan melewati kompleks perumahan.
Jika dia tidak melakukan itu dan tetap lewat jalan utama, bisa-bisa setengah jam baru sampai.
*Brak...
Tanpa pikir panjang Aki langsung menjatuhkan sepedanya begitu saja ketika sudah sampai di rumah Denji.
Ia langsung memanjat pagar dan berlari ditengah halaman hingga dia sampai di depan pintu rumahnya.
*Tok tok tok... "Oe Denji, ada apa?!! Aku sudah sampai!!!" masih dengan wajah yang panik, Aki mengetuk pintu rumah Denji.
Dan tak lama kemudian pintu itu terbuka dan terlihat lah sosok Denji yang masih utuh tanpa luka apapun.
"Oh, kau sudah datang??" begitu entengnya Denji bilang seperti itu setelah melihat Aki yang ngos-ngosan.
"Huh?? Ada apa?? Mengapa kau berteriak meminta tolong??" jantung Aki berdetak sangat kencang, bukan karena dia sedang jatuh cinta, melainkan karena dia baru saja cosplay menjadi pembalap downhill.
"Aku bosan dirumah, aku memanggilmu untuk menemaniku bermain game" jawab Denji yang seolah tanpa dosa.
Bak melihat hantu di siang hari, Aki diam mematung setelah mendengar alasan Denji memanggilnya.
Sebuah perempatan muncul di dahinya. Tak lupa, dia juga mengeluarkan senyum psycho nya.
"Ayo cepat masuklah, aku tau kau sudah tida-..."
*Ting....
Sebuah tendangan tepat kearah ************ Denji langsung membuatnya terdiam.
"A-aki....." kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Denji sebelum dia jatuh tersungkur ke depan.
"KAU MEMBUATKU PANIK BODOH!!! KUKIRA ADA ORANG YANG INGIN MEMBUNUHMU!!!" teriak Aki didepan Denji.
"Gomen..." dengan suara yang terdengar sangat rendah Denji mencoba untuk meminta maaf.
Kesabaran Aki sangat diuji hari ini, tadi dia sudah dibuat jengkel oleh Himeno, sekarang dia malah dibuat naik darah oleh sahabatnya sendiri.
Namun karena dia menganggap Denji seperti saudaranya sendiri, akhirnya dia tidak mempermasalahkannya lebih jauh, jika tadi orang lain yang melakukan itu kepada Aki, sudah bisa dipastikan kalau orang itu akan babak belur.
Dia pun lalu menggendong Denji masuk kerumahnya dan membaringkannya di depan tv.
"Guk.. guk"
"Oh, Pochita.. tenang saja Denji hanya sakit perut" Aki beralasan saja kepada Pochita. Pochita pun yang tak tahu apa-apa hanya mengangguk saja.
Hmm, dengan hewan saja berbohong, apalagi dengan wanita.
----------
"Hah... Aki-kun, mengapa mendapatkan mu sulit sekali" Himeno berbicara sambil menyalakan rokoknya.
Yaa, walaupun dia seorang perempuan faktanya dia sangat menyukai rokok.
Menurutnya, rokok adalah teman yang bisa mengobati luka apapun, dia juga selalu merasakan ketenangan ketika dia menghisap rokoknya.
"Oh Kami-sama, bantu aku mendapatkan Aki-kun!!!" Himeno berdoa kepada Tuhan sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Oh, kau masih belum bisa mendapatkan hatinya??" sebuah suara wanita tiba-tiba muncul dari belakangnya.
"Ibu, rokok ku ada di kamar, bukan disini" timpal Himeno.
"Ara, fufu..fu kau sudah tau ya" langsung saja ibunya Himeno itu kembali turun untuk mengambil rokoknya.
Setelah kejadian singkat itu, Himeno kembali memandang ke langit, dia membayangkan kembali mengapa dia bisa jatuh cinta kepada Aki.
-----flashback-----
"Siapa namamu?" tanya Himeno ke seorang murid baru.
"Aki" murid baru itu menjawab dengan wajah yang cuek.
Namun, bukannya marah Himeno malah kembali bertanya "Kenapa kau mau sekolah disini?"
"Karena temanku" kata Aki sambil menunjuk Denji.
Setelah itu, selama MOS Himeno terus saja memperhatikan Aki, mungkin bisa dibilang kalau dia juga jatuh cinta pandangan pertama.
Dan ternyata diam-diam Aki juga selalu memperhatikan Himeno, ia mengakui kalo kakak kelasnya itu sangat cantik.
Namun dirinya lebih mementingkan pertemanan ketimbang cinta.
-----flashbackend-----
*Tok tok tok
"Hahh berisik sekali!!!" teriak Power dengan kesal sambil menuju pintunya.
Dia sangat marah karena ada seseorang yang menggangunya ketika ia sedang bersantai, namun ketika iya membuka pintu dan melihat tamu itu, perasaannya seketika langsung senang.
"Makima-chan!!!" teriak Power.
"Power-san" timpal Makima dengan senyum manisnya.
"Masuklah ke dalam" Power mempersilahkan gadis itu untuk masuk kerumahnya.
Gadis berambut merah itu hanya mengangguk dan mulai mengikuti Power.
Setelah mempersilahkan Makima duduk, Power beranjak untuk mengambil Snack dan membuat minuman untuk Makima.
"Jadi ada apa kau tiba-tiba datang kemari" tanya Power sambil membawa nampan berisi Snack dan minuman.
"Ada hal yang ingin kutanyakan kepadamu" jawab Makima dengan memasang wajah serius nya.
Melihat akan ada hal yang serius di tanyakan, Power langsung duduk dan membuka satu buah Snack.
"Oh ya?? Apa itu? Tanyakan saja" sambil memakan makanannya, Power juga mulai memasang wajah serius.
"Apakah Denji-kun, anak dari seorang mafia?" bagai disambar petir di siang hari, Power terkejut bukan main mendengar pertanyaan itu.
Bagaimana Makima bisa tau akan hal itu?, sedangkan Denji saja menyuruh semua temannya yang tau masa lalunya untuk merahasiakannya.
"Dan juga Power-san, apakah orang tua Denji... memiliki anjing bernama Pochita?" lagi-lagi Power dibuat terdiam dengan pertanyaan Makima.
Dia tau kalau Pochita dulunya adalah anjing kesayangan ayahnya Denji, semenjak ayahnya meninggal, Denji lah yang menjadi majikan baru Pochita.
Dia tak ingin berbohong kepada Makima, namun dia juga tidak enak dengan Denji bila dia menjawab jujur pertanyaan Makima.
"M-makima-chan, kau mendapatkan informasi itu dari mana?" Power bertanya dengan gugup.
"Power-san, ayahku dibunuh oleh seorang ketua mafia, dan orang itu memiliki peliharaan bernama Pochita." Makima menjelaskan sedikit tentang masa kelamnya.
Lagi dan lagi, Power dibuat mati kutu oleh Makima, sekarang dia tak bisa mengelak lagi, setelah mendengarkan kata-kata Makima, Power yakin kalau ayah Denji lah yang membunuh ayahnya Makima.
"Power-san jawab aku!" Makima mulai meninggikan suaranya.
Hal ini membuat Power semakin gugup, baru kali ini dia melihat gadis yang lugu itu menjadi dingin.
Makima yang dari tadi merasa kebingungan memutuskan untuk bertanya kepada Power, ia memang sengaja tidak bertanya kepada Denji langsung karena ia takut Denji akan berbohong.
Dengan tangan yang gemetar, Power mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan Makima.
"M-makima-chan, ayah Denji bernama Shimano-san, dia m-memang seorang mafia tapi aku yakin bukan Shimano-san yang membunuh ayahmu" Power menjawab dengan sedikit berbohong dan sedikit jujur, karena dia benar-benar tak enak kepada Denji dan Makima.
Mendengar jawaban yang telah ia nantikan itu, Makima langsung merasakan lehernya tercekik, ia kesulitan untuk bernafas, jantungnya berdebar kencang.
Terungkap sudah misteri siapa sebenarnya orang yang membunuh ayahnya. Dan ironisnya, orang itu adalah ayah dari orang yang dicintainya.
"Hmm apakah kau tau Power-san? Orang yang telah membunuh ayahku, memiliki liontin ular yang memiliki tulisan 'SHIMANO FAMILY' itu bukan kebetulan kan?" Makima mulai meneteskan air matanya.
Power sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, ia juga sudah tak bisa untuk menutup nutupi lagi.
Dia baru saja mengakatan nama dan asal-usul ayahnya Denji, dan siapa sangka ternyata hal itulah yang membuat Makima tau kalau ayah Denji yang telah membunuh ayahnya.
"Power-san, apakah aku boleh tinggal disini?" Tanya Makima sambil memeluk Power.
Power pun langsung membalas pelukannya dan bilang "Tentu saja, apapun asal kau masih mau berteman denganku" Power yang merasakan air mata Makima menetes menjadi tak tega.
Namun ia juga merasa bersyukur karena Makima masih mau berteman dengannya.
Lantas, ia pun bertanya kepada Makima "Makima-chan, bagaimana jika Denji tau kau sudah tidak tinggal di apartemen lagi?".
Mendengar pertanyaan Power, Makima menghentikan tangisnya, ia melepaskan pelukannya dengan Power.
----------
*Huachuuh....
Denji yang sedang asyik bermain game tiba-tiba bersin seolah ada yang membicarakannya.
"Oe Denji, kalau kau ingin bersin tutupi dulu mulutmu itu!!" Aki merasa risih karena efek bersin Denji menyebar kemana-mana.
"Ahh... tak sempat, tiba-tiba aku merasa ingin bersin" timpal Denji sambil mengucek hidungnya.
"Oh ya kau bilang tadi habis dari rumahnya Himeno-san, apa yang kau lakukan disana?" Denji menoleh ke arah Aki yang sedang memegang stick.
"Tak ada, ia hanya ingin bertemu" jawab Aki dengan singkat dan jelas.
Denji merasa sedikit iri kepada Aki, dia benar-benar beruntung disukai oleh gadis seperti Himeno-san.
Dia juga berandai-andai jika ia diposisi Aki, namun dengan Makima tentunya.
"Oe Aki apa kau yakin tidak ingin segera menembak Himeno-san? Nanti direbut orang lo!" dengan nada sedikit mengejek, Denji bertanya kepada Aki.
"Tinggal hajar saja orangnya" jawab Aki dengan santainya.
Denji bersemangat ketika mendengar kata 'hajar saja orangnya' karena ia sangat suka berkelahi.
Dia pun juga berpikir, kalau ada laki-laki lain yang mendekati Makima maka ia juga akan menghajarnya.
Namun, saat ini Denji tidak mengetahui kalau sifat Makima sudah berubah.
Dari yang awalnya adalah gadis cantik dan lugu, sekarang menjadi gadis pendiam dan dingin.
----------
Entah mengapa tiba-tiba Makima merubah sifatnya itu, Power yang sedang membantu Makima merapikan bajunya pun merasa seperti orang lain.
Apakah karena rasa bencinya lebih besar dari rasa cintanya??
Apakah karena kerasnya hidup yang Makima alami yang membuat Makima berubah?.
"Power-san terimakasih" Makima mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Power karena mau mengizinkan ia tinggal.
"Makima-chan... Kau tidak membenci ku kan? tanya Power dengan keraguan.
Tiba-tiba Makima tersenyum setelah mendengar pertanyaan Power itu "aku tidak membenci Power-san, aku hanya membenci Denji-kun" dengan senyuman di bibirnya Makima menjawab dengan tenang.
Namun malah Power yang tidak bisa tenang, bagaimana jika besok Denji tau kalau Makima membencinya?
Bagaimana jika Denji tau kalau mendiang ayahnya adalah orang yang telah membunuh ayahnya Makima??
Dia tak tahu harus berpihak kepada siapa jika besok Denji dan Makima bertengkar.
----------
"Aku pulang dulu" Aki berjalan menuju pintu.
Ia ingin pulang karena hari sudah lumayan sore, dia harus mandi dan menyiapkan makanan terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja.
Apalagi, ia juga belum memberi makan rubah kecilnya.
"Yaa hati-hati... Eh tunggu aku ikut" dengan cepat Denji mematikan PS dan tv-nya.
Ia langsung berlari dan menyusul Aki yang sudah sampai di pintu.
"Antarkan aku ke supermarket dulu, nanti kau pulang saja duluan"
"Huh?? jika kau ingin membeli makanan biar aku saja yang pergi, kau tetaplah disini" timpal Aki yang mencoba membantu.
Namun, Denji menolaknya "tidak aku ingin ke supermarket, sekalian jalan-jalan".
Mendengar jawaban temannya itu Aki hanya mengangguk, ia mengambil sepedanya yang ia robohkan tadi "naiklah di depan" Aki menyuruh Denji untuk naik di tengah body sepeda.
"Yuhuu.... Sudah lama kita tidak melakukan ini" dengan penuh semangat Denji langsung naik ke body sepeda dengan posisi di depan Aki.
Karena sepedanya Aki tidak memiliki boncengan di belakang, maka mau tak mau Denji harus duduk diantara setir dan tempat duduk.
Sambil menikmati suasana di sore hari, kedua sahabat itu nampak bernostalgia tentang masa kecil mereka.
"Oe Aki, kau rasa sudah berapa lama kita tidak menaiki sepeda bersama?" tanya Denji sambil tetap melihat ke depan.
"Hmm, kurasa terakhir kali waktu SD" Aki mencoba mengingat-ingat momen masa kecilnya.
"Heh??? Lama sekali!!!" Denji sangat terkejut karena ia merasa sudah sangat lama semenjak terakhir kali ia dibonceng Aki.
"Kau juga ingat kan, disini tempat pertama kali kita bertemu Power" kata Aki sambil menunjuk sebuah pohon.
"Ahh iyaa pertama kali kita bertemu dengan Power tepat dibawah pohon ini" Denji dengan sigap menanggapi.
Tak terasa kayuhan demi kayuhan telah mengantarkan mereka ke supermarket.
"Baiklah terimakasih Aki, sekarang pulanglah duluan, aku akan pulang naik taksi" Denji berterimakasih kepada Aki karena sudah mau mengantarkannya.
"Kau yakin?? Aku bisa menunggumu jika kau mau" Aki mencoba menawarkan kembali tumpangan kepada Denji.
Namun, Denji menolaknya karena ia tak ingin merepotkan Aki lagi, apalagi nanti dia juga akan bekerja di cafenya.
Akhirnya Aki pun berpamitan pergi, Denji tetap memandangi tubuh Aki hingga siluetnya perlahan hilang, baru setelah itu dia masuk ke supermarket nya.
Tanpa ia sadari, seorang wanita telah mengikutinya semenjak ia keluar dari rumah, Reze telah berhasil melacak Denji dan mengetahui rumahnya.
"Fufufu... Aku menemukanmu, Denji-kun".
-----------
Malam ini sangat indah, ribuan bintang bertaburan menghiasi langit, cahaya bulan yang menyinari, udara malam yang dingin, sungguh sangat cocok bagi orang yang ingin ketenangan.
Namun indahnya malam ini tetap tidak bisa menenangkan hati seorang Makima.
Ia hanya melihat ke atas selama berjam-jam, sesekali ia juga meneteskan air matanya.
Power yang sudah berusaha membujuk Makima untuk masuk ke dalam rumah sudah menyerah.
Mungkin hampir 15 kali ia menasehati Makima untuk masuk ke dalam rumahnya karena angin malam itu tidak sehat.
"Makima-chan, ayolah besok kita sekolah apa kau tidak ingin tidur sekarang?" tanya Power sambil mengucek matanya.
"Power-san tidurlah dulu, aku akan menyusul" jawab Makima dengan dingin.
Power benar-benar sudah mengantuk, jam hampir menunjukkan pukul 12, tapi Makima masih tetap saja berada diluar.
*Duarrr
Terdengar suara ledakan bom dari kejauhan, walaupun suaranya tak begitu keras, tapi tetap saja membuat Power dan Makima terkejut.
"I-itu suara bom!! Apakah ada pengeboman lagi??" Power merasa ketakutan karena suara itu, ia teringat tragedi pengeboman di pusat kota dulu yang memakan banyak nyawa.
Berbeda dengan Power, Makima kembali menunjukkan ekspresi dinginnya, ia seolah-olah tak peduli tentang bom yang meledak.
"Makima ayo tidur, aku takut" kali ini Power menarik paksa tangan Makima.
Makima pun akhirnya menyerah setelah melihat rasa khawatir di wajah Power.
Ia ikut ke dalam setelah Power menarik tangannya dengan paksa.
----------
Keesokan paginya, Makima berangkat ke sekolah bersama Power, namun karena mereka tidur tengah malam, mereka berangkat terlambat pagi ini.
Mereka membuka pintu kelas mereka dan terkejut sudah ada pak Kishibe di dalam.
"M-maaf pak ka-..." "Makima-chan, Power-chan duduklah" mendengar pak Kishibe yang langsung memotong perkataannya, Power sedikit heran.
Ia mengira kalau pak Kishibe akan menghukumnya bersama Makima, namun ketika ia menuju tempat duduk ia kembali terkejut melihat Aki dan Denji yang belum datang.
"Power-chan, Makima-chan apa kalian sudah tau?" tanya pak Kishibe kepada mereka berdua.
Makima dan Power yang tidak tau apa apa pun hanya menggelengkan kepala mereka.
"Apakah kalian mendengar suara bom tadi malam??" tanya pak Kishibe kembali.
"Iya pak" kali ini Makima yang menjawab pertanyaan gurunya itu.
"Suara itu adalah.... Suara ledakan rumahnya Denji-kun".
-----tobecontinued-----