
Kedua sahabat itu kini tengah berpelukan sambil menangis, laki-laki berambut pirang dan berkuncir yang selama ini di kenal sebagai jagoan di sekolahnya telah menunjukkan sisi lain dari mereka.
Denji seolah-olah merasakan hatinya Aki ketika ia memeluknya. Hati yang hancur karena di tinggal sang kekasih untuk selama-lamanya.
Para orang-orang yang masih berada di pemakaman pun juga terharu karena melihat pemandangan langka dari kedua sahabat itu.
"Bodoh... Kenapa mereka berdua menangis sambil berpelukan" ujar Power sambil mengelap air matanya.
Makima membantu ibunya Himeno untuk berdiri. Walaupun sebenarnya ia masih belum rela karena di tinggal oleh putrinya secepat ini, namun sekarang ia harus mulai belajar untuk mengikhlaskan kepergiannya.
"Aki Hayakawa" panggil ibu Himeno.
Aki pun melepaskan pelukannya kepada Denji dan menoleh "iya? Ada apa Kobeni-san".
"Putriku sangat mencintaimu, dia ingin kau hidup bahagia dengan mengorbankan nyawanya, sekarang lupakanlah Himeno-chan dan mulailah kehidupan barumu". Ibunya Himeno yang bernama Kobeni itu memerintahkan Aki untuk move on dan memulai kehidupan barunya.
Aki pun mengangguk, mau tak mau dia harus memulai hidup baru tanpa Himeno dan mencari pasangan hidup yang baru. Tak mungkin Aki bisa bersama Himeno sekarang, mungkin dia bisa bersama Himeno lagi ketika ia berada di akhirat nanti.
"Mari saya antarkan pulang" Makima menuntun tangannya Kobeni dan berjalan dengan pelan.
Power pun menyusul dari belakang, karena mereka sama-sama wanita, jadi Makima dan Power mengerti bagaimana perasaan Kobeni sekarang. Tak mungkin juga mereka membiarkan Kobeni pulang sendirian dengan pikirannya yang kacau sekarang.
Setelah ketiga wanita itu keluar dari area pemakaman, Goro langsung menghampiri Aki dan Denji sambil membawa sebuket bunga di tangannya.
"Siapa kau??!" Aki bertanya kepada Goro karena ia tak pernah melihatnya.
"Tenanglah Aki, dia adalah Majima-ojisan tangan kanan ayahku dulu" Denji mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Mendengar kalau orang asing itu adalah orang yang penting, Aki langsung menunduk dan meminta maaf "maafkan saya, terima kasih karena hadir di pemakaman Himeno-san".
Goro meletakkan buket bunganya di makamnya Himeno, ia pun duduk berjongkok dan mulai berdoa di samping makamnya.
Setelah selesai, Goro pun berdiri dan kembali menghampiri Denji dan Aki "Aki Hayakawa-kun, aku turut berbelasungkawa atas kematian kekasihmu".
"Baik, terimakasih banyak" timpal Aki sambil membungkuk dengan sopan.
"Majima-ojisan, sebelum kembali aku ingin mampir ke apartemen. Aku harus mengambil Pochita" Denji berkata kepada Goro.
"Hmm Pochita? Sudah lama aku tidak melihatnya".
"Denji, kapan kau akan pergi bertempur??" Aki secara tiba-tiba menimpali obrolan antara Goro dan Denji.
Denji dan Goro sempat terkejut karena pertanyaan Aki. Mereka tak menyangka kalau Aki sudah bersiap itu untuk memburu Gun Devil.
"Secepatnya Aki, kita akan memburu Gun Devil secepatnya" Denji menjawab sambil menepuk pundak Aki.
"Kalau begitu kita cari dia sekarang!!!" Aki kembali mengajak Denji untuk mencari Gun Devil secepatnya.
"Tak usah buru-buru, kita harus menyiapkan rencana untuk memburunya" Goro mencoba menenangkan Aki.
"Itu benar Aki, Gun Devil memiliki banyak pasukan" timpal Denji.
"Jika kita menunggu terlalu lama, akan banyak korban lainnya!! Apa kau juga ingin Makima menjadi korban??" Aki benar benar sudah tidak sabar untuk membalaskan dendamnya Himeno.
"M-Makima?" Goro sedikit terkejut mendengar kata Makima yang keluar dari mulut Aki.
"Ada apa Majima-ojisan??" Denji keheranan melihat Goro yang terkejut.
"Ayo kita ambil Pochita dan langsung memburu Gun Devil!!!" Tiba-tiba Goro juga ingin memburu Gun Devil saat itu juga.
Entah apa yang membuat Goro tiba-tiba berubah pikiran, padahal awalnya dia sendiri yang menyarankan kepada Aki untuk bersabar dan menyusun rencana terlebih dahulu.
"Ayo Denji!!! Aku juga harus membawa Fox ke tempat yang aman" Aki semakin tak sabar setelah mendengar Goro setuju dengan ajakannya.
Mau tak mau, Denji harus menuruti kemauan dua orang itu. Rencananya untuk membunuh Gun Devil harus ia laksanakan sekarang juga, tanpa rencana dan persiapan apapun.
Terlalu berbahaya memang jika harus menyerang sekarang, kemungkinan Denji tidak selamat akan semakin tinggi jika menyerang tanpa rencana. Namun, setidaknya ia sudah mengatakan isi hatinya kepada Makima walaupun ia masih belum mendapatkan jawaban dari Makima sampai sekarang.
Akhirnya, mereka bertiga pun langsung menuju ke apartemennya Aki. Sesampainya di sana, Denji langsung berganti pakaian menggunakan jas hitam, ia menggendong Pochita sambil mencari-cari senjata yang bisa ia gunakan untuk bertempur.
Aki pun juga menggunakan jas hitam yang sudah ia pakai semenjak pemakaman tadi, dia meletakkan Fox di dalam kandang. Aki membuka lemari dan melempar semua baju yang ada ke belakang, hingga dia menemukan katana di dalam lemari tersebut, Aki pun mengambil katana tersebut dan meletakkannya di punggungnya.
Sementara Goro, ia malah asyik makan di dapurnya Aki. Dia mengambil semua makanan siap saji yang ada, seluruh makanan di lemari dan kulkas sudah habis di makan oleh Goro.
"Oeoeoe... Majima-ojisan, kenapa kau malah asyik makan seperti itu!!" Gerutu Denji yang kesal dengan kelakuan Goro tersebut.
"Tuan muda, ketika kita ingin bertempur kita harus makan dan mengisi energi terlebih dahulu. Kita akan menyerang tanpa rencana makanya kita harus menyiapkan fisik kita sebaik mungkin" jawab Goro dengan entengnya.
"Guk.. Guk!!"
Pochita pun juga nampak kesal dengan kelakuan Goro tersebut, bagaimana bisa dia bersantai sambil makan-makan sedangkan yang lain sedang sibuk bersiap-siap.
"Aku sudah siap!!" Aki muncul sambil menenteng sebuah kandang berisi rubah albino.
"Tunggu dulu Aki!! Aku belum menemukan senjata untukku" Denji masih kebingungan karena belum menemukan senjata satupun.
Di apartemen itu sama sekali tidak ada senjata api ataupun senapan lainnya. Denji juga tak bisa bermain pisau jika ingin menggunakan pisau sebagai senjata.
"Tuan muda, banyak senjata di mansion saya. Anda bisa memilih senjata di sana nanti" Goro bangkit dari duduknya.
"Baiklah kalau begitu... Ayo kita berangkat!!!" Denji berseru dengan semangat.
Goro memainkan daggernya ketika berjalan, Aki menyalakan rokoknya dan menenteng sebuah kandang, katana yang berada di belakangnya membuat penampilannya semakin cool, Denji berlajan sambil menuntun talinya Pochita, senyum sinis terlihat sangat jelas di wajah pria berambut pirang tersebut.
----------
"Hahahaha.... Siapa sangka aku yang sedang mencari anaknya Shimano malah bertemu dengan dirimu!!" Tawa menggelegar terdengar dari sebuah gudang tua.
"G-Gun-sama, tolong lepaskan saya" seorang wanita mencoba melepaskan diri dari tali yang mengikatnya.
"REZE!!! KAU TELAH MEMBOHONGI KU BERULANG KALI DAN KAU MENGHARAPKAN AKU AKAN MELEPASKANMU?!!!" teriakan dari Gun Devil itu kembali membuat Reze menunduk.
"Gun-sama, aku sudah berhasil menusuk Denji, akan tetapi ketika dia di rumah sakit Yoshida menjaganya, aku tidak bisa memenggal kepalanya"
Reze mencoba membela dirinya.
Reze benar-benar ketakutan sekarang, ia tak berdaya di sekapan Gun Devil.
"Oh yaa?? Bagaimana jika aku memenggalmu sekarang??" Gun Devil mencekik leher Reze.
Reze pun tak bisa berkata apa-apa karena lehernya tercekik dengan erat, ketika ia hampir kehabisan nafas Gun Devil melepaskan cekikannya.
"Heh, mungkin aku bisa memanfaatkanmu".
----------
"Goro-sama, ada bocah yang membuat kerusuhan di mansion anda" sambut salah satu anak buah Goro ketika mereka sampai di mansion.
"Apakah kalian sudah membunuhnya??" Tanya Goro kepada anak buahnya tersebut.
"Tidak, Yoshida-san melindungi anak itu" jawab anak buah tersebut.
Goro pun keheranan karena informasi yang ia dengar tersebut. Mengapa Yoshida melindungi orang yang telah berbuat onar di mansionnya?? Siapakah bocah yang berbuat onar tersebut??
"MASTER DENJI-SAMA!!!" sebuah teriakan terdengar dari kejauhan.
Denji dan Aki pun terkejut melihat siapa orang yang telah membuat masalah tersebut.
"Sharky??!!" Seru Aki dan Denji bersamaan.
"Huh?? Kalian kenal dengan bocah itu?" Tanya Goro yang keheranan.
"Master Denji-sama!!! Ijinkan aku ikut bertempur denganmu!!" Sharky ngos-ngosan ketika berada di depan Aki dan Denji.
"Hah?? Bertempur?? Dari mana kau tahu??" Denji yang masih keheranan bertanya kepada Sharky, dari mana dia tahu rencananya padahal Denji tak pernah memberi tahunya.
"Oe bocah!! Dari mana kau tahu keberadaan mansionku??!!" Goro merasa geram terhadap Sharky karena seenaknya saja membuat masalah di mansionnya.
"Aku mengikuti Denji-sama semalam ketika ia keluar dari bioskop bersama Yoshida-san, lalu ketika aku melihat mereka masuk ke mansion ini, aku kira mereka berdua masuk ke markasnya Gun Devil makanya hari ini aku ingin menyelamatkannya" jawab Sharky dengan entengnya.
*Bughhhh
Sebuah pukulan melayang ke wajah Sharky, pukulan itu sangat cepat dan keras hingga Sharky langsung pingsan ketika menerima pukulan tersebut.
"Goro-san" Aki mencoba menenangkan Goro.
"Dasar bocah bodoh!! Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu!!" Seru Goro yang geram dengan penjelasan Sharky.
"Yahh... Tenanglah Majima-ojisan, bocah itu memang sedikit gila" timpal Denji.
"Aki-kun, kenapa kau membawa katana dan hewan peliharaan mu??" Yoshida bertanya kepada Aki, ia merasa heran mengapa Aki membawa katana.
"Yoshida-san, kita memutuskan untuk memburu Gun Devil sekarang juga!!" Jawab Denji yang menimpali pertanyaan Yoshida.
"Goro-san??" Yoshida bertanya kepada Goro untuk memastikan perkataan Denji.
"Itu adalah perintah dari tuan muda" jawab Goro dengan serius.
Yoshida pun menganggukan kepalanya tanda mengerti, ia pun juga ingin bersiap-siap sebelum ikut dalam pertempuran.
"Majima-ojisan, dimana senjata yang kau katakan itu??" Denji sudah tak sabar ingin memegang senjata yang ingin ia gunakan.
"Yoshida, antarkan tuan muda ke gudang senjata" Goro memerintahkan Yoshida untuk menunjukkan tempat di simpannya semua senjata di mansion ini.
"Baik, mari ikuti saya tuan muda" Denji pun mengikuti langkah Yoshida menuju ke gudang senjata.
Sedangkan Aki menurunkan kandang yang dari tadi dibawanya, ia membuka kandang itu dan keluar seekor rubah albino kecil.
Rubah itu pun langsung berlarian bersama Pochita, seolah-olah mereka mempunyai ikatan persahabatan yang sama seperti majikannya.
"Rubah albino?? Hewan itu mungkin hanya ada satu di dunia" Goro kagum ketika melihat keindahan Fox.
"Iya, rubah itu adalah peninggalan mendiang ayahku" jawab Aki dengan senyuman.
"Dia sama langkanya seperti Pochita" sahut Goro.
Aki pun heran dengan perkataan Goro tersebut, "Hmm? Tapi bukankah Pochita hanya anjing biasa yang berwarna oranye??".
"Tidak, Pochita adalah anjing yang unik, di dunia ini tidak ada anjing yang satu spesies dengannya, dia di temukan oleh Shimano-san ketika berada di hutan. Dia membawanya ke dokter hewan dan dokter tersebut terkejut karena baru pertama kali melihat anjing seperti Pochita" Goro menjelaskan kepada Aki tentang latar belakang Pochita.
Aki juga sedikit terkejut mendengar hal itu, ia tau kalau Pochita cukup langka karena warnanya oranye dan memiliki ekor yang unik. Akan tetapi dia tak menyangka kalau Pochita selangka itu.
----------
"Apa!!! Benarkah Makima-chan??" Power heboh sendiri ketika mendengar cerita dari Makima.
Makima menceritakan kepada Power tentang kencannya tadi malam bersama Denji. Walaupun sebenarnya kencan itu bisa dibilang telah gagal karena Denji pergi meninggalkan Makima.
Kedua wanita itu baru saja pulang dari rumahnya Himeno, mereka pulang setelah keadaan Kobeni cukup tenang. Mereka berdua sekarang sedang dalam perjalanan pulang, Makima memutuskan untuk pulang kerumahnya Power untuk sementara agar dirinya merasa aman.
"Itu benar, Denji-kun mengatakannya sendiri di depanku" jawab Makima.
Power seperti orang gila, ia meloncat loncat kegirangan karena mendengar kalau Denji mengutarakan isi hatinya kepada Makima.
"Nee... Nee, lalu bagaimana dengan jawabanmu??" Power kembali bertanya dengan senyuman di bibirnya.
"Kurasa kau sudah tau jawabanku, Power-san" jawab gadis berambut merah itu.
Lagi-lagi Power dibuat kegirangan karena temannya itu. Ia benar-benar bahagia karena kedua temannya itu sedikit lagi akan menjalin sebuah hubungan.
"Jadi... Nanti ketika kau bertemu Denji, apa kau akan mengatakan hal itu kepadanya??"
Makima hanya mengangguk saja ketika mendengar pertanyaan tersebut. Kedua insan itu tengah di Landa rasa bahagia setelah mengalami kesedihan.
"Tapi... Dimana Denji sekarang??" Power tiba-tiba teringat kalau Denji tadi masih berada di makam.
"Kurasa, sekarang dia sedang bersama Aki-san" jawab Makima.
"Hmm... Apa kau ingin ke apartemennya Aki sekarang??" Power menawarkan Makima agar dirinya bisa bertemu Denji.
Mereka berdua sama sekali tidak tau kalau Denji tidak berada di apartemennya sekarang. Mereka berdua juga tak tahu kalau Denji sedang mempersiapkan dirinya untuk bertempur melawan Gun Devil sekarang.
"Boleh saja" Makima mengukir senyuman manis di bibirnya.
Mereka berdua pun berbelok ke kiri ketika berada di sebuah perempatan. Yang awalnya mereka ingin pulang ke rumahnya Power sekarang mereka merubah tujuannya menuju apartemennya Aki.
Ketika mereka melewati jalan yang sepi tiba-tiba....
"Ketemu kalian!!!" Seorang wanita meloncat secara tiba-tiba di depan mereka.
Makima dan Power pun kaget mengetahui siapa wanita yang telah menghadang mereka tersebut.
"R-Reze??" Power terkejut melihat wanita yang telah lama menghilang tersebut.
Apalagi Makima, ia hanya bisa terdiam mematung melihat orang yang telah menusuk pujaan hatinya tersebut.
"GUN-SAMA!! AKU TELAH MENEMUKAN MEREKA!!!" Reze berteriak sambil menghalangi kedua wanita tersebut dengan tangannya.
Tiba-tiba... Seorang laki-laki bertubuh besar muncul dari belakang mereka. Laki-laki menggunakan jas hitam dan memakai sarung tangan hitam dan membawa pistol di tangan kanannya.
Makima dan Power ketakukan ketika melihat pria bertubuh besar yang sedang berdiri di belakang mereka tersebut.
"Ikuti aku!!!!".
----------
"Woahhh, ini keren sekali Yoshida-san!" Denji merasa kagum setelah melihat banyaknya senjata yang tersedia di mansion tersebut.
"Pilihlah yang anda suka, tuan muda"
Denji pun melihat-lihat ke seluruh penjuru ruangan yang di penuhi oleh segala macam senjata, dari mulai senjata mele dan range.
Denji pun menghentikan pandangannya pada sebuah chainsaw yang tergeletak di atas meja. Denji pun menghampiri chainsaw tersebut dan membawanya.
"Yoshida-san, apakah kalian juga menyimpan chainsaw sebagai senjata??" Tanya Denji sambil mengangkat chainsaw dengan kedua tangannya.
"Ahh tidak, itu milik Sharky-kun, dia datang kemari sambil membawa chainsaw itu" jawab Yoshida.
"Yoshh... Aku akan menggunakan ini" Denji memutuskan untuk membawa chainsaw tersebut dalam pertempuran.
Yoshida pun keheranan, mengapa Denji memilih chainsaw padahal banyak senjata yang lebih bagus tersedia disini. "Tuan muda, anda akan menghadapi Gun Devil dengan chainsaw???".
"Si Gun Devil itu pandai dalam hal menembak kan? Aku akan menantangnya berduel mele denganku, jika aku beradu tembakan dengannya sudah pasti aku akan kalah" Denji menjelaskan kepada Yoshida maksudnya membawa chainsaw tersebut.
*Drttttt
Hp Denji tiba-tiba bergetar ketika ia masih memegang chainsaw. Ia pun meletakkan chainsawnya kembali dan mengambil hpnya.
"Makima?? Kenapa Makima-san menelponku??" Denji sempat keegeran ketika melihat Makima meneleponnya.
Dia mengira kalau Makima akan memberikan jawaban tentang perasaannya semalam.
"Halo... Ada apa Makima-san?" Jawab Denji ketika mengangkat telepon tersebut.
Namun, bukan suara Makima yang terdengar. Malah suara tawa dari seorang laki-laki yang menjawab dari telepon tersebut.
"Hahahaha... Akhirnya aku bisa berbicara kepadamu anaknya Shimano, aku telah menyekap pacarmu bersama temannya, jika kau ingin mereka berdua selamat, datanglah ke gudang tua di perbatasan kota sendirian, jika kau membawa banyak pasukan aku akan langsung membunuh kedua wanita ini....".
-----TOBECONTINUED-----