
Hari H untuk rekreasi pun tiba, banyak murid-murid yang sudah berkerumun di depan sekolah menunggu bus yang akan memberangkatkan mereka.
Rekreasi di adakan secara bertahap, kelas 10 dan 11 dahulu baru kelas 12, kelas 12 baru akan berekreasi setelah ujian mereka.
Walaupun kelas 10 dan 11 berekreasi pada waktu yang sama, namun tujuan mereka berbeda.
"Wow, banyak sekali yang sudah berkumpul di sini" ujar Arai yang baru saja sampai.
"Tentu saja, kita kan akan berekreasi" timpal Angel.
"Apa teman-teman kita yang lain belum datang?" Tanya Arai yang melihat-lihat ke sekitarnya.
"Tidak tahu, aku saja juga baru datang"
"Baiklah ayo kita cari mereka" Angel dan Arai pun berjalan mendekati kerumunan siswa-siswi yang lain untuk mencari rombongannya.
"Denji sialan itu, kemana dia!!!" Power berjalan sendirian di tengah kerumunan untuk mencari Denji.
"Dia bilang ingin berangkat bersama Makima-chan, tapi sampai sekarang dia masih belum datang juga!!" Power di buat kesal karena harus menunggu sendirian.
Gadis berambut pirang itu tetap mencari keberadaan Denji di sekolah, ia tidak ingin berjalan bersama Denji, ia hanya ingin mencari Makima yang sedang bersama Denji.
Tak berselang lama, bis pun datang. Terdapat enam buah bis yang akan memberangkatkan para siswa dan siswi itu.
Power pun di buat semakin panik karena ia masih belum bisa menemukan Makima sedangkan bus sudah datang, ia ingin duduk bersama di samping Makima.
"Denji sialan, kalau ketemu akan aku bunuh dia!!"
"Power-chan!!" Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan Power.
"Pak Kishibe?!!"
"Apa yang kau lakukan disini, semua temanmu sudah naik ke bis" ujar pak Kishibe.
"Ah benarkah?!!" Power terkejut mendengar bisnya sudah siap berangkat.
"Iya, bis nomor empat, cepat kesana sekarang"
Power pun segera berlari dengan membawa tasnya yang berisi makanan "Sialan!! Pokoknya aku harus duduk di sampingnya Makima-chan!!"
Setelah sampai di tempat parkiran bis, Power berusaha mencari bis yang ada nomor empat di kaca depannya, gadis berpakaian Hoodie navi itu melihat dengan bus dengan seksama.
"Nomor lima... Ah itu dia nomor empat!!" Dengan cepat Power langsung berlari ke dan masuk ke dalam bis tersebut.
"HOI DENJI SIALAN!!! AKU AKAN DUDUK DI SAMPING MAKIMA!!!" Power berteriak ketika masuk ke dalam bis tersebut.
Para teman-temannya yang lain pun kaget dan kebingungan melihat Power yang berteriak secara tiba-tiba.
"Denji, Aki dan Makima belum datang bodoh!!" Seru Arai dari tempat duduknya.
Power pun terkejut mendengar ketiga orang itu yang belum datang padahal bis sudah mau berangkat "haa?!! Apa katamu?!!"
"Pak Kishibe sedang mencari mereka sekarang" sahut Angel kepada temannya yang cerewet tersebut.
"Bagus, dengan begini aku masih bisa duduk bersama Makima-chan" Power pun mulai mencari tempat duduk yang pas untuknya dan Makima.
Akhirnya, Power memutuskan untuk duduk di kursi nomor 3 dari barisan belakang "ini sempurna!! Aku akan duduk di jendela dan Makima-chan akan duduk di sampingku!!".
Satu persatu dari bis itu pun mulai berangkat, hingga saat ini hanya bis dari rombongan Power yang masih belum berangkat.
"Oe ayolah!! Kenapa kita belum berangkat" seru salah satu siswa di bis tersebut.
"Kita masih menunggu Denji" sahut siswa lainnya.
Hingga pak Kishibe kembali dan masuk ke dalam bis tersebut "anak-anak, apa kalian ada yang melihat Denji-kun? Dia masih belum datang bersama Makima-chan dan Aki-kun, mereka juga tak bisa di hubungi"
Sebuah pengumuman yang tak mengenakkan tersebut membuat beberapa murid resah, mereka sudah tak sabar ingin berangkat namun Denji and the gang malah tidak terlihat sama sekali.
"Tinggalkan saja mereka!!!" Seru salah satu murid.
Beberapa murid yang lain pun juga ikut menyoraki agar Denji, Aki dan Makima ditinggal saja.
"Jangan!!! Kalau Denji dan Aki di tinggalkan tidak apa-apa tapi kita tidak boleh meninggalkan Makima!!!" Seru Power yang ikut berpendapat.
"Aku tidak sabar lagi!!"
"Tinggalkan saja mereka, biar mereka menyusul!!"
"Tunggu, aku rasa Power benar!!"
Banyak dari murid-murid yang beradu argumen, mereka terbelah menjadi dua kubu, kubu yang sabar menunggu dan kubu yang tidak sabar menunggu.
Pak Kishibe pun juga kebingungan harus melakukan apa, ia sebenarnya juga ingin menunggu murid kesayangannya itu, tapi ia juga merasa tak enak dengan muridnya yang sudah tidak sabar ingin berangkat.
"Yo Mina, maaf kami terlambat" sebuah suara tiba-tiba mengejutkan seisi bus.
"Maaf semuanya, kami terlambat" sambung wanita yang baru saja datang tersebut.
"Denji bodoh itu kebingungan mencari perlengkapan" satu orang lagi naik ke bis.
Akhirnya sampai juga ketiga manusia yang mereka tunggu-tunggu dari tadi "kalian lama sekali sialan!!"
"Apakah itu masalah untukmu?!!" Denji menatap tajam ke arah murid yang protes tersebut.
Murid seisi bis pun terdiam ketika Denji memberikan tatapan tajamnya, hanya seorang wanita berambut pirang yang berani berdiri dan menghampiri Denji.
*Pletak....
"TENTU SAJA ITU MASALAH BODOH!!! KITA TERLAMBAT HAMPIR SETENGAH JAM KARENAMU" Power langsung menjitak kepala Denji ketika ia menghampirinya ke depan.
"Aduh... Sialan itu sakit!!!" Denji meringis sambil memegangi kepalanya yang kesakitan.
"Sudah sudah hentikan, silahkan kalian duduk agar kita bisa berangkat" pak Kishibe mencoba menenangkan pertengkaran kecil tersebut.
"Ayo Makima-san" Denji memegang tangan kekasihnya tersebut untuk mengajaknya duduk bersama.
*Tak.....
Power menangkis tangan Denji yang sedang memegang tangannya Makima, Aki yang merasa akan ada pertengkaran lagi pun memilih untuk duduk duluan.
"Makima-chan akan duduk bersamaku!!!" Tegas Power kepada Denji.
"Tidak!!! Makima-san harus duduk bersamaku!!" Denji tak terima dengan keputusan Power.
"Denji-kun, biarkan aku duduk bersama Power-san" Makima mencoba meyakinkan kekasihnya tersebut.
Denji pun tak bisa berkata apa-apa setelah keputusan kekasihnya tersebut, ia hanya pasrah ketika melihat Makima di tarik oleh Power menuju ke tempat duduk.
"Denji!! Apa kau akan berdiri sepanjang perjalanan??" Seru Aki dari tempat duduknya.
"Baik, aku datang" sahut Denji dengan wajah yang lesu.
Ia berjalan dengan gontai menuju ke tempat duduknya di sebelah Aki "Aki, biarkan aku duduk di dekat jendela"
"Terserah kau saja" Aki pun bergeser dari kursinya.
Bis pun akhirnya berjalan meninggalkan sekolah. Sebelum duduk, Denji melihat Makima yang sedang duduk bersama Power di bangku belakang, tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.
"Oe Aki, ayo duduk di belakang mereka berdua" ajak Denji kepada Aki.
"Haa?!! Serius aku baru saja duduk!!" Aki merasa kesal karena harus berpindah tempat duduk.
Tanpa basa-basi, Denji langsung menarik tangan Aki yang sedang duduk hingga ia berdiri. Mereka berdua pun langsung menuju ke bangku di belakang Makima dan Power yang sudah di duduki oleh dua siswa lainnya.
"Hoi kalian!! Cepat duduk di depan!! Aku ingin duduk di sini!!" Denji memerintahkan kedua temannya itu untuk berganti kursi.
"Tidak mau!! Aku sudah duduk di sini duluan" salah satu murid itu menolak untuk bertukar tempat dengan Denji.
"Pindah atau mati!!" Aki tiba-tiba mengancam kedua siswa tersebut.
Mendengar ancaman yang menakutkan tersebut, sontak kedua siswa itu bangkit dan langsung menuju ke depan sambil menenteng tasnya.
"Hehe dengan begini aku bisa mengobrol dengan Makima-san" ujar Denji ketika ia duduk.
"Oi Denji, aku peringatkan jangan ganggu obrolanku dengan Makima!!" Power bangkit dari duduknya untuk memperingatkan Denji.
"Hei dia itu pacarku!!" Lagi-lagi sebuah pertengkaran terjadi antara Denji dan Power.
Dan lagi-lagi Denji harus melongo melihat kekasihnya yang lebih memilih Power dari pada dirinya, Power pun menjulurkan lidahnya kepada Denji untuk mengejeknya.
"Tch, dasar wanita" gumam Aki dengan suara kecil.
Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh. Selama perjalanan, para murid-murid hanya sibuk berbincang dengan teman duduknya sendiri sendiri.
Banyak juga murid yang sudah terlelap karena kelelahan menunggu di dalam bis, ada juga beberapa murid yang bermain hp karena di tinggal tidur oleh teman duduknya.
Begitupun Power dan Makima, kedua wanita cantik dan manis itu sudah terlelap di kursinya masing-masing, Denji sebenarnya sangat ingin mengobrol dan berbincang-bincang dengan Makima.
Namun ia tak ingin mengganggu kekasihnya yang tengah lelap tertidur tersebut, sekarang yang bisa ia lakukan hanya mengobrol dengan Aki.
"Benarkah?? Kenapa kau mau membuat perjanjian itu dengan Power?" Tanya Denji di tengah obrolan mereka.
"Entahlah, aku sendiri juga tak tahu"
Kedua sahabat itu mengobrol dengan santai, tak ada pertengkaran dan candaan di obrolan mereka. Dengan Snack di kedua tangan mereka dan minuman di kursi mereka membuat obrolan itu semakin asyik.
"Lalu, bagaimana jika kau belum mendapatkan pacar saat kenaikan tiba?" Tanya Denji kembali.
"Bukan masalah, lagi pula aku hanya bertaruh dengan Power, bukan dengan mafia" jawab Aki dengan santai.
Denji pun tertawa ketika mendengar kata mafia, semenjak kematian dari Gun Devil ia sudah tidak pernah berhubungan dengan mafia kembali. Yoshida sudah menjadi manager di cafenya yang berada di puncak, Goro yang kembali melanjutkan bisnisnya sehingga tak bisa bertemu dengan bebas lagi.
Kehidupan Denji benar-benar normal semenjak kemenangannya dari Gun Devil.
"Aki, apa kau akan berkuliah setelah lulus nanti??"
"Kau sendiri?" Aki balik bertanya kepada Denji.
"Aku?? Tidak, aku tidak ingin bangun pagi kembali" benar-benar suatu alasan yang sangat bodoh.
"Kalau kau tidak kuliah aku juga tidak" jawab Aki dengan tegas.
"Dasar, aku ini bukan ayahmu, jadi kau tidak harus mengikuti keputusanku" Denji merasa heran melihat Aki yang selalu mengikuti jalan sesatnya.
"Hoammm.... Aku mengantuk, aku tidur dulu" Denji sudah menguap, nampak kalau rasa kantuk sudah menyerang dirinya.
"Tidurlah, nanti aku bangunkan" timpal Aki.
"Huh? Kau tidak tidur?" Tanya Denji yang keheranan.
"Tidak" jawab Aki dengan singkat.
"Yasudah" Denji pun langsung menutup gorden jendela dan menyenderkan kepalanya ke jendela.
Tak menunggu waktu lama, Denji langsung terlelap dalam tidurnya dan sudah masuk ke dunia mimpi. Sekarang, Aki hanya bisa diam dan menikmati perjalanan.
Tak ada temannya untuk mengobrol sekarang, ingin bermain hp pun Aki juga merasa malas, ingin tidur tapi dia tak merasa ngantuk sama sekali.
"Membosankan sekali" gumamnya sendiri.
----------
"Denji-kun, bangunlah kita sudah sampai" Makima menggoyangkan tubuh Denji yang sedang tertidur pulas.
"Hah?? Makima-san??" Denji terkejut ketika melihat suasana sudah gelap.
"Bangunlah, semuanya sudah turun" ujar Makima kembali.
"Hah... Aku masih mengantuk" Denji meregangkan tubuhnya sembari mengumpulkan nyawanya.
Makima hanya bisa sabar menghadapi kekasihnya yang tukang tidur tersebut. Makima terlihat seperti seorang ibu yang membangunkan anaknya untuk pergi ke sekolah.
"Ah, dimana Aki??" Denji terkejut ketika melihat bis hanya ada dia dan Makima.
"Aki-san?? Dia turun duluan"
Denji merasa jengkel karena di bohongi, Denji ingat betul kalau Aki bilang akan membangunkannya ketika sampai di pulau Onikawa nanti.
"Aki sialan!! Bisa-bisanya dia membohongi aku!!" Ujar Denji dengan geram.
"Denji-kun..." Makima memegang tangan Denji, jantung Denji seketika berdetak kencang ketika merasakan tangan kekasihnya yang lembut.
"Denji-kun ku tidak boleh marah-marah" Makima menggigit jari telunjuk Denji kembali.
Jantung Denji benar-benar berdetak sangat kencang hingga ingin meledak, suasana bis yang sepi membuat hawa sedikit memanas.
Melihat wajah Denji yang memerah, Makima pun melepaskan gigitannya "ayo kita turun sekarang"
Denji mengangguk dengan wajah yang bengong, ia berjalan mengekori Makima yang berada di depannya. Setelah turun, terlihat beberapa murid mendirikan tenda yang sudah di sediakan oleh pihak sekolah, ini diluar ekspektasi Denji, Denji mengira kalau mereka akan tidur di penginapan, namun ternyata mereka malah mendirikan kemah.
"Oi Denji, ternyata kau masih hidup" sapa Aki dari belakang.
"Sialan, kenapa kau tidak membangunkan aku!!!" Denji tak bisa menahan rasa kesalnya ketika melihat Aki.
"Hah?!! Bodoh sudah hampir setengah jam aku membangunkanmu dan kau masih tertidur seperti orang mati!!" Seru Aki yang balik memarahi Denji.
"Haa?? Apakah itu benar, Makima-san??" Denj menoleh ke arah Makima untuk memastikan perkataan Aki.
Makima hanya tersenyum dan menggedikkan bahunya, ia tak ingin membuat kekasihnya tersebut malu.
"Hehe, maafkan aku" Denji terkekeh ketika menyadari bahwa dirinya lah yang tak bisa dibangunkan.
*Pang....
Power menimpuk kepala Denji dengan panci dari belakang "jika bukan karena Makima-chan aku pasti sudah menyirammu dengan air!!"
"Hoe itu sakit bodoh!!" Denji meringis kesakitan karena kepalanya baru saja di hantam dengan panci.
"Fufufu..." Makima hanya terkekeh melihat kekasihnya yang sedang kesakitan tersebut.
"Ini pancinya Makima-chan, aku akan membeli jamur Enoki terlebih dahulu" ujar Power sembari memberikan pancinya kepada Makima.
"Kau mau pergi kemana malam-malam begini??" Tanya Aki yang tahu kalau Power ingin pergi dari lokasi kemah mereka.
"Oh Tuhan... Tentu saja aku ingin ke toko bodoh!! Aku sudah bertanya kepada semua orang dan tak ada dari mereka yang membawa jamur Enoki" sahut Power dengan mulut cerewetnya.
Aki hanya berdehem mendengar ocehan dari mulut cerewetnya Power.
"Baiklah Power-san, serahkan sup nya kepadaku, ayo Denji-kun" Makima pun pergi bersama Denji.
"Hei Aki, bantulah mereka!!" Perintah Power kepada Aki.
Tanpa mengatakan kata-kata lagi, Power langsung pergi begitu saja untuk mencari toko yang menjual jamur Enoki.
Suasana sepi menyerang ketika Power meninggalkan kawasan kemahnya, ia tak tahu kenapa banyak toko yang sudah tutup padahal masih pukul setengah delapan malam, ia tak menyangka kalau suasana malam di pulau Onikawa akan sehening ini.
"Huh... Kalau tanpa Enoki supnya tidak akan lengkap!!" Gumam Power sendirian.
Power merasa jengkel karena tak bisa menemukan satu pun toko yang masih buka, ia hanya terus berjalan sendirian di sisi lain pulau tersebut.
"Hai nona, apa kau sendirian?!!" Tiba-tiba seorang laki-laki muncul di depan Power.
"Hahh?!! Menyingkirlah dari ku!!!" Power mendorong laki-laki tersebut hingga terjatuh.
"Kau kasar juga yaa, kalian semua keluar!!!"
Tiba-tiba muncul tiga orang lagi yang sedang bersembunyi ketika mendengar teriakan laki-laki yang di dorong Power tersebut.
"Sialan!!" Power berusaha menghalau laki-laki yang sedang mengerubunginya dengan pukulannya.
*Grep....
Tangan Power berhasil di tangkap oleh salah satu laki-laki yang berbadan besar "fufufu... Dapat kau!!"
Power berusaha melepaskan tangannya dengan sekuat tenaga, namun tentu saja tenaganya kalah dengan pria tersebut.
"Lepas-...." Salah satu kawanan tersebut berhasil membekap mulut Power dari belakang.
Power pingsan hanya dalam beberapa detik, ternyata tangan dari pria tersebut sudah ada obat bius yang di oleskan, hingga Power harus tertidur sekarang.
"Fufufu... Sekarang kita bisa menikmati wanita ini"
-----TOBECONTINUED-----