
"Uhh... Dimana aku" Power membuka matanya secara perlahan.
"Kau sudah bangun?" Tanya seorang lelaki yang duduk di sampingnya.
"A-Aki??" Power mencoba memperjelas pandangannya yang kabur.
"Istirahatlah, obat bius itu masih belum hilang sepenuhnya darimu" Aki menyalakan satu rokoknya.
Perlahan-lahan, pandangan Power kembali pulih, ia kembali menatap Aki dengan pandangan yang lebih jelas.
Namun, Power sangat terkejut ketika melihat dahi Aki yang mengeluarkan darah "Aki!! Kenapa dengan dahimu?!! Dan dimana orang-orang yang menggangguku tadi?"
"Itu mereka" Aki menunjuk ke arah sekumpulan orang-orang yang tergeletak tak berdaya.
Mata Power membulat ketika melihat para pria yang tadi ingin menculiknya telah tumbang tak berdaya. Power langsung mengerti kenapa dahi Aki berdarah, laki-laki itu baru saja menghajar orang yang ingin menculiknya.
"Aki, apa kau tidak apa-apa??" Tanya Power yang khawatir.
"Mereka cukup tangguh tapi aku bisa mengatasinya, lebih baik khawatirkan dirimu sendiri" ucap Aki yang menandakan kalau dia tidak apa-apa.
"Tapi... Kenapa kau bisa tahu aku ada disini?"
"Bodoh!! Apa kau pikir aku akan membiarkanmu pergi sendirian di pulau ini??!" Mendengar penjelasan Aki tersebut, semburat merah kecil muncul di pipinya Power.
Ia tak menyangka kalau Aki membuntutinya dari tadi, entah apa yang akan terjadi kalau Aki tidak membuntuti dan menyelamatkan Power.
"Ayo kembali, mereka pasti sudah khawatir" Aki bangkit dari duduknya.
Power pun mencoba untuk berdiri namun ia langsung terjatuh kembali "Aduh..." Pengaruh obat bius yang masih ada membuat kondisi tubuh Power sangat lemah. Bahkan untuk berdiri saja dia kesulitan.
Aki yang melihat Power tak bisa berdiri pun langsung mengulurkan tangannya "Kemari lah"
Power pun memegang tangan Aki "Terimaka-... Eh!!!" Power terkejut karena tiba-tiba Aki menggendongnya.
"E-eh Aki, turunkan aku!!" Power sangat malu setengah mati, Aki menggendongnya dengan bridal style.
"Kau tidak bisa berjalan kan" Aki memandang ke arah Power yang berada dalam dekapannya.
"I-iya tapi..."
"Sudahlah!! Kita akan dapat pelanggaran kalau tidak cepat kembali!!" Aki mulai berjalan.
Terlihat raut wajah Power yang memerah karena berada dalam posisi yang memalukan, semburat merah pun sebenarnya juga muncul di pipinya Aki.
Aki juga tidak tahu kenapa ia melakukan hal ini, kenapa tubuhnya yang tiba-tiba berinisiatif untuk menggendong Power yang tidak bisa berjalan.
Power sempat mencuri pandangan ke arah Aki, ia sedikit merasa bersalah ketika melihat darah yang mengalir di dahi laki-laki tersebut. Wajah Aki terlihat cukup tampan dari dekat, Power yang selama ini hanya melihat wajah Aki dari jarak yang tak terlalu dekat tak menyangka kalau Aki sebenarnya setampan ini.
Semburat merah yang tak hilang menjadi bukti kalau Power mengagumi wajah Aki yang tampan, sekaligus dia juga malu karena di gendong oleh Aki.
"Jangan menatapku terus, aku tahu aku tampan" ucap Aki secara tiba-tiba.
"B-bodoh, aku tidak menatapmu" Power membuang wajahnya karena malu.
Bagaimana bisa Aki berkata seperti itu dengan pedenya.
"Akhirnya sampai" tak terasa, akhirnya Power dan Aki telah kembali ke perkemahan mereka.
Momen Aki yang menggendong Power pun tak luput dari perhatian murid-murid, mereka bertanya-tanya kepada dahi Aki berdarah dan kenapa Aki menggendong Power.
"Denji-kun" Makima menepuk pundak Denji lalu menunjuk ke arah Aki dan Power.
"Wah!!!! Aki dan... Eh!!!" Denji sempat heboh karena melihat Aki yang menggendong Power, namun ketika ia menyadari kalau sahabatnya tersebut terluka ia langsung berlari menuju ke arah Aki.
"Aki!! Kenapa dahimu?!!" Tanya Denji yang panik.
Aki tidak langsung menjawab, ia tetap membawa Power ke arah tenda dan menurunkannya di depan tenda.
Setelah ia menurunkannya, tubuh Aki langsung ambruk ke tanah karena kelelahan "Sialan, aku lelah"
"Aki!! Oe Power, apa yang terjadi!?" Denji berbalik bertanya kepada Power.
"Dia diganggu preman, dan aku menghajar mereka" jawab Aki yang sedang terbaring.
"Power-san, apa kau juga terluka??" Tanya Makima yang khawatir ketika mendengar Power di ganggu preman.
"Oeoe ada apa ini??" Para murid-murid yang lain mulai berkerumunan.
Mereka penasaran kenapa Aki terluka dan terjatuh lemas setelah menurunkan Power.
"Aki-kun, siapa yang menghajar mu??" Pak Kishibe pun juga ikut melihat keadaan muridnya yang terluka itu.
"Bukan siapa-siapa, mereka hanyalah berandalan pulau ini" jawab Aki dengan suara lemas.
"Hei!! Bubar kalian semua ini bukan tontonan!!" Denji menyuruh murid-murid yang berkerumun itu untuk bubar.
"Hei kami ingin tahu apa yang terjadi"
"Iya benar biarkan kami melihat"
"AKU BILANG INI BUKAN TONTONAN!!!" Teriakan dari Denji itu berhasil membuat para murid-murid ketakutan dan membubarkan diri.
Sehingga sekarang hanya tersisa Denji, Makima, Power, Aki dan pak Kishibe. Denji dan pak Kishibe pun mengangkat tubuh Aki yang terbaring ke dalam tenda bersama Power.
"Makima-chan, tolong bawakan kotak obat di tenda saya" perintah pak Kishibe kepada Makima.
"Baik" Makima pun langsung bergegas keluar tenda untuk mengambil kotak obat tersebut.
"Power-chan, coba ceritakan kejadiannya" pak Kishibe mencoba memahami masalah yang terjadi.
"Aku ingin membeli jamur Enoki, tapi aku tidak menemukan satupun toko yang buka dan aku di cegat oleh para preman tersebut" ucap Power yang masih dalam keadaan lemas.
"Enoki? Ya ampun, Power-san aku membawa jamur Enoki, kenapa kau tidak meminta kepadaku saja" ujar pak Kishibe setelah mendengar pengakuan Power.
'Dasar tua bangka sialan!!! Kenapa tidak bilang dari awal!! Aku hampir saja di perkosa oleh orang-orang itu bodoh!!' Power merutuki gurunya tersebut dalam hati.
"Aki, apa benar kau tidak apa-apa??" Denji kembali bertanya kepada Aki untuk memastikan keadaan sahabatnya tersebut.
"Aku hanya lemas" jawab Aki.
"Apa perlu aku hajar lagi para preman itu??" Tanya Denji dengan semangat.
"Tidak perlu, mereka sudah ku hajar semuanya"
Denji sedikit kecewa karena tak bisa membalaskan dendamnya kepada preman yang telah menganggu kedua temannya tersebut.
"Kalian memang suka bertarung ya, tapi kenapa kalian tak pernah menang kalau bertarung dengan saya?" Aki dan Denji kompak memasang wajah datar mereka ketika mendengar kata-kata dari pak Kishibe tersebut.
"Huh, kalian tak pernah menang?? Padahal kalian selalu mengeroyok pak Kishibe" tatapan datar dari kedua sahabat itu yang tertuju ke arah Power.
Bagaimana bisa gadis itu berbicara dengan entengnya seperti itu padahal dia sendiri tak pernah bertarung melawan pak Kishibe.
"Ini pak, kotaknya" Makima kembali masuk ke dalam tenda tersebut dan memberikan kotak obat kepada pak Kishibe.
"Ah terima kasih Makima-chan" ucap pak Kishibe yang berterima kasih kepada Makima.
Pak Kishibe lalu membuka kotak obatnya dan mulai mengobati Power dan Aki, pak Kishibe memberikan sebuah pil kepada Power untuk menghilangkan efek obat bius dalam tubuhnya, sedangkan Denji membersihkan darah di dahi Aki dengan kapas dan alkohol lalu memperban kepalanya.
"Hahaha... Oe Aki, kau terlihat lucu dengan perban itu" Denji tertawa terbahak-bahak setelah selesai memperban kepala Aki dan melihatnya.
"Hahaha..." Pak Kishibe dan Power pun juga ikut tertawa setelah melihat kepala Aki yang terbungkus perban dan menyisakan rambut kuncirnya.
"Fufufu..." Makima pun juga tak bisa menahan tawanya ketika melihat hal tersebut.
"Hah... Baiklah karena sudah malam jadi kalian harus tidur karena besok kita akan mengadakan aktivitas di pulau ini" ujar pak Kishibe sembari membereskan kotak obatnya.
"Baik pak!!" Jawab ketiga orang dengan serentak.
'Tua Bangka sialan!! Awas saja kau akan kubunuh kau suatu hari nanti!!' Power masih merutuki gurunya tersebut dalam hatinya.
Namun walaupun hati Power memaki-maki pak Kishibe, tapi ia tetap menampilkan senyuman ketika pak Kishibe pamit keluar dari tenda.
"Ayo Makima-san" Denji mengajak Makima untuk keluar dari tenda.
"Oeoeoe Denji kau mau kemana?!!" Tanya Aki.
"Aku? Tentu saja aku ingin tidur di tendaku, kalau tidur disini tidak akan cukup"
"Tunggu!!! Makima-chan akan tidur di sini denganku" seru Power yang tak terima.
"Power-san, aku akan tidur denganmu besok, sekarang aku ingin tidur bersama Denji-kun" Makima mencoba menenangkan sahabatnya tersebut.
"T-tapi..."
"Oe Denji jangan bercanda!! Kau ingin aku tidur berdua dengan Power?!!" Aki mencoba untuk menentang keputusan temannya tersebut.
"Yah, mungkin ini adalah takdir kalian untuk tidur bersama malam ini" jawab Denji dengan entengnya.
"Takdir bodoh macam apa itu?!! Hoe Denji tunggu jangan pergi!!" Aki semakin panik ketika melihat Denji keluar tenda bersama Makima. Ia ingin ikut pergi keluar dengan Denji namun tubuhnya sudah tak mempunyai tenaga lagi untuk bangkit.
"Yah, selamat malam!!" Ucap Denji sebelum menutup pintu tenda tersebut.
"Sialan kenapa aku harus tidur bersamamu juga!!" Seru Power kepada Aki.
"Hah?!! Kau pikir aku mau tidur bersamamu??" Ujar Aki yang tak terima.
"Jangan pikir karena kau telah menyelamatkan aku jadi kau bisa dengan bebas tidur denganku yaa!!" Ujar Power kembali.
"Jika aku masih bisa bergerak aku lebih memilih tidur diluar!!" Aki kembali menimpali ocehan dari mulut Power tersebut.
"Ya sudah sana tidur di luar" Power menantang Aki untuk tidur diluar.
"Hei!! Aku yang mendirikan tenda ini jadi ini adalah tendaku, jadi kau yang harusnya pergi!!"
"Tubuhku lemas karena obat bius bodoh!!!"
Perdebatan antara kedua belah insan itu terus berlanjut hingga larut malam, banyak dari siswa-siswi yang berada di samping tenda mereka merasa terganggu dengan perdebatan tersebut. Namun karena yang berdebat itu adalah Aki maka mereka tak berani untuk ikut campur atau memarahi.
"Diamlah, aku ingin tidur dan jangan berani macam-macam!!" Power mengancam Aki agar tidak bermacam-macam.
"Heh, lagi pula siapa yang ingin macam-macam denganmu" jawab Aki dengan sinis.
"Laki-laki mana yang tak berpikiran aneh ketika dia tidur bersama wanita" ejek Power kembali.
----------
"Hah, dasar mereka itu berisik sekali" ujar Denji yang merasa terganggu.
"Bukankah kau yang menyuruh mereka untuk tidur berdua?" Sahut Makima yang berbaring di sebelah Denji.
Makima dan Denji kini telah berbaring bersama-sama berbaring di tenda mereka, Denji sedikit merasa gugup melihat penampilan Makima yang menggunakan short dan kaos biasa. Namun ia dengan cepat menepis pikiran kotor yang datang ke kepalanya agar bisa tidur dengan nyenyak.
"Nee Denji-kun, kalau kita sudah menikah nanti kau ingin anak laki-laki atau perempuan??" Tanya Makima kepada kekasihnya tersebut.
"A-aku?? Eh laki-laki atau perempuan tak masalah untukku" Denji menjawab pertanyaan tersebut dengan gugup, bagaimana bisa seorang perempuan bertanya seperti itu kepada kekasihnya sendiri
"Aku ingin mempunyai anak perempuan" Makima mendekatkan tubuhnya dengan Denji.
Jantung Denji semakin berdetak dengan kencang, kalau Makima terus seperti ini bisa-bisa dia hilang kendali dan akan melakukan hal itu.
"Denji-kun, jantungmu berdebar kencang" Makima merasakan detak jantung yang berdebar kencang saat memegang dada bidang milik Denji.
"T-tidak, M-makima..." Makima menutup mulut Denji dengan telunjuknya.
"Denji-kun, antara aku dan Pochita mana yang lebih kau sayangi?"
Denji pun kebingungan harus menjawab apa ketika Makima melayangkan pertanyaan tersebut.
"Aku, sayang keduanya" jawab Denji dengan gugup.
"Apakah kau mau membunuh Pochita demi aku?" Pertanyaan Makima kali ini sontak membuat Denji kaget dan langsung bangkit terduduk.
"Makima-san, apa maksudmu!!" Denji secara tiba-tiba menatap Makima dengan tajam.
Makima pun melihat tatapan tak biasa dari kekasihnya tersebut, baru pertama kali ini dia mendapatkan tatapan mengintimidasi dari Denji. Makima juga tak menyangka kalau Denji cukup sensitif jika membahas Pochita.
"Denji-kun..." Makima meraih kepala Denji dan membawanya ke dekapannya.
Wajah Denji yang semula terlihat marah kini kembali menjadi gugup kembali. Wajahnya berada dalam dekapan hangat Makima, kedua semangka besar itu bisa dirasakan oleh Denji menggunakan pipinya.
Pikiran Denji benar-benar kosong, bau tubuh Makima yang harum membuat pikirannya kembali menjadi tenang.
"Denji-kun, anak pintar" Makima mengelus-elus kepala Denji selayaknya anjing peliharaan.
Denji hanya menurut saja, ia benar-benar masih menikmati buah semangka yang berada di depannya.
"Denji-kun, apakah kau mau menjadi Pochita ku?" Tanya Makima kepada Denji.
Denji hanya menjawabnya dengan anggukan, Makima pun tersenyum senang melihat kekasihnya yang akan menjadi anjing peliharaannya.
"Denji-kun" Makima mengalihkan wajah Denji agar menatapnya.
*Cup.....
Sebuah ciuman manis mendarat di bibirnya Denji, ciuman keduanya dengan Makima ini tidak akan dia duga akan terjadi malam ini ketika ia berkreasi.
Tentu saja pikiran Denji menjadi tidak karuan setelah menerima ciuman tersebut, perlahan-lahan Denji mendorong tubuh Makima untuk berbaring.
Dan.........
----------
"Huh, kau pasti mengintipku yaa tadi malam" tuduh Power yang baru bangun dari tidurnya.
"Oeoeoe yang benar saja!! Apa kau punya bukti??" Ujar Aki yang mencoba membela dirinya.
"Aku tidak butuh bukti, aku tahu kau pasti berpikiran kotor tadi malam" Power kembali menuduh Aki.
Aki pun merasa jengkel dan memilih untuk keluar dari tendanya karena tak ingin merusak suasana paginya dengan bertengkar.
Tubuhnya kini sudah mulai membaik, tenaga Aki telah kembali dan dia bisa bergerak dengan lincah sekarang, walaupun perban masih terpasang di kepalanya.
Aki pun langsung menghirup udara pagi di pulau Onikawa ketika ia keluar "Udaranya sangat segar disini" Aki benar-benar menikmati suasana pagi di pulau Onikawa.
"Huh? Makima!!" Denji memanggil seorang wanita berambut merah yang sedang membuang sampah.
"Oh, selamat pagi Aki-san" sapa Makima.
"Apa yang kau lakukan? Oh iya dimana Denji? Apa dia masih tidur?" Tanya Aki kembali.
"Aku ingin membuang sampah bekas tadi malam dan Denji-kun, dia masih kelelahan" ujar Makima.
"APAA?!!!!!"
-----TOBECONTINUED-----