
"aku ingin pulang bersama Reze" pernyataan Denji itu sontak membuat Makima sedikit kaget.
Ia merasa sulit untuk bernafas dan merasa lehernya tercekik. Sebaliknya, sebuah senyuman licik terukir di bibirnya Reze.
Dengan keputusan Denji untuk pulang bersamanya, ia bisa melakukan rencananya hari ini.
*Heh, tugasku akan segera selesai dengan begitu Gun-sama tidak akan membunuhku* kata Reze dalam hati.
Sedikit rasa sakit yang dirasakan oleh Makima, dirinya yang memutuskan untuk memaafkan masa lalunya dan menerima Denji malah mendapat penghianatan darinya.
Walaupun begitu, Denji membuat keputusan ini demi keselamatan Makima. Ia tak ingin gadis yang ia cintai itu berada dalam bahaya.
Sebaliknya, sebenarnya ia juga sedikit tertarik kepada Reze akan tetapi entah kenapa dia tidak peduli kalau Reze juga akan menjadi incaran para mafia itu.
*Pletak.....
Power menjitak kepala Denji dengan keras, Denji pun meringis kesakitan akibat menerima pukulan dari Power.
"Aduh!!! Hei Power, kau ini kenapa!!!" seru Denji.
"Hari ini kau akan pulang dengan Makima!!! Jika kau tidak melakukannya maka aku akan membunuhmu!!!" Timpal Power dengan penuh amarah.
"Haa??!! Mengapa kau ingin membunuhku?!! Padahal aku hanya akan pulang bersama teman baru kita!!" protes Denji yang sama-sama penuh amarah.
"Tak apa Power-san, biarkan Denji-kun pulang dengan wanita pilihannya" kata Makima yang mencoba untuk menangkan mereka berdua.
"Huh, kau dengar sendiri kan wanita aneh??!! Biarkan aku pulang dengan Denji-kun" Reze mencoba ikut campur karena ia kesal dengan Power.
Ia merasa kalau Power akan menggangu rencananya, untung saja Denji memilih untuk pulang dengannya.
"Baiklah, ayo Reze-san" ajak Denji sambil memegang tangan Reze.
Lagi-lagi rasa perih yang dirasakan oleh Makima, ia melihat pria yang dicintainya menggandeng wanita lain di depan matanya sendiri.
Sedikit air mata mulai keluar dari mata indahnya. Power pun mencoba untuk menenangkan sahabatnya tersebut "Makima-chan, maafkan aku" ia merasa tak enak hati dengan Makima.
Ia yang terus mengatakan kepada Makima kalau Denji sangat mencintainya, ia juga yang menyarankan Makima untuk mengajak Denji pulang bersamanya, tapi Denji malah memilih pulang bersama wanita yang baru dikenalnya pagi tadi.
Nampaknya, dia juga mengalami cinta pandangan pertama bersama Reze.
"Tenanglah Makima" suara Aki tiba-tiba muncul dari belakang.
Ia yang dari tadi hanya menyaksikan drama itu dari bangkunya sekarang bangkit untuk membuka pembicaraan.
Tadi ia memilih untuk tidak ikut campur, karena masalahnya adalah dua wanita yang merebutkan Denji maka hanya Denji lah yang berhak menyelesaikannya sendiri.
"Denji menjauhi mu demi keselamatanmu" tambah Aki.
Makima sedikit heran dengan perkataan itu, apa maksudnya Denji menjauhinya untuk melindunginya?
"Aki-san, jangan mencoba untuk menghiburku" Makima mencoba untuk tidak mempercayai perkataan Aki.
"Apa yang maksud perkataan mu itu kuncir??" Timpal Power.
"Sebenarnya ada sekelompok mafia yang mengincar nyawanya, ia takut kalau orang terdekatnya juga menjadi incaran mafia itu" Aki mencoba menjelaskan perihal informasi yang sebenarnya terjadi.
"Huh?? Apa maksudmu?? Jadi pengeboman itu?..." Power menjeda kata-katanya, menunggu Aki menjawab dengan jelas.
"Yaa... Itu adalah ulah mafia itu, Denji bertengkar denganku itu hanya rencananya" tambah Aki menjelaskan.
Secercah harapan muncul kembali di pikiran Makima, ternyata Denji lebih mengkhawatirkan nyawanya ketimbang Reze.
Namun, tetap saja kejadian tadi membuat hatinya terluka, tanpa basa-basi, ia pun segera berlari keluar untuk menyusul Denji.
Ia ingin mendengar kan penjelasan langsung dari mulutnya.
----------
"Denji-kun, ayo kita ke cafe itu!!" Reze menarik tangannya Denji menuju sebuah cafe di pinggir jalan.
Denji pun mengikuti tarikan itu dengan tergesa-gesa "t-tunggu Reze-san pelan-pelan saja".
Reze pun membuka pintu cafe tersebut, terlihat deretan meja dan kursi yang berjejer rapi.
Mereka pun mulai berkeliling mencari tempat duduk yang pas untuk mereka berdua.
Hanya sebentar saja, mereka sudah memilih sebuah kursi yang terletak di lantai dua. Mereka memilih duduk di dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan jalan raya.
Seorang pelayan pun langsung menghampiri mereka "permisi, kalian ingin pesan apa?"
Pelayan itu menyodorkan sebuah menu kepada Denji.
"Uhh, aku ingin satu hamburger dan satu milkshake" kata Denji, pelayan itu pun menulis pesanannya.
Lalu, ia pun gantian memberikan menu itu kepada Reze "aku ingin pesan satu spaghetti dan black tea".
Setelah selesai mencatat, pelayan itu langsung mengambil menunya kembali dan mulai berjalan pergi.
"Hmm, ada apa Denji-kun? Kenapa kau terlihat sedang memikirkan sesuatu?" Reze bertanya kepada Denji, ia merasa kalau laki-laki itu sedang memikirkan sesuatu.
"Eh, tidak ada!!" Denji mengelak, padahal sudah jelas kalau ia sedang memikirkan perasaan Makima.
Denji membuang mukanya ke arah lain setelah mendapatkan tatapan dari Reze, ia merasa malu menatap gadis cantik itu.
"Denji-kun" panggil Reze.
Denji yang namanya dipanggil pun mau tak mau harus menoleh ke arah Reze.
"Apa nanti kau mau mandi bersamaku?" Tanyanya kepada Denji.
Jantung Denji seketika berdetak kencang, aliran darahnya mengalir deras, tubuhnya langsung gemetar setelah mendengar tawaran itu.
Ia benar-benar tidak menyangka ada wanita yang mengajaknya untuk mandi bersama.
"E-eh a-apa..."
"Mau apa tidak?" Kali ini Reze menggunakan senyumannya yang manis untuk menggoda Denji.
Denji meneguk ludahnya, ia memejamkan matanya untuk berpikir, tawaran mandi bersama wanita yang cantik tentu tidak akan datang dua kali.
"Emm" Denji menganggukkan kepalanya, ia menerima tawaran itu.
Reze pun tersenyum, tapi bukan senyum karena tawarannya di iyakan oleh Denji, melainkan senyuman karena rencananya untuk membunuh Denji sudah semakin dekat.
"Permisi, silahkan menikmati" pelayan yang tadi datang kembali sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman yang mereka pesan.
"Terima kasih" Denji mengulas sebuah senyuman yang manis.
Reze melihatnya dengan perasaan aneh, ia merasakan sesuatu di hatinya. Apakah ia juga menyukai Denji??
Tidak tidak, ia langsung membuang jauh-jauh pikiran itu. Ia mulai kembali berpikir kalau Denji harus mati di tangannya.
"Ah tunggu Reze-san, aku ingin ke kamar kecil" tanpa menunggu jawaban, Denji langsung berlari ke arah tangga dan langsung menuruninya.
Reze hanya kebingungan melihat tingkahnya, ia pun melanjutkan kembali melahap makanannya.
Tapi tiba-tiba....
"Hihi....." suara tawa kecil itu mengejutkan Reze.
Ia pun langsung menoleh ke belakang untuk melihat orang yang telah mengejutkannya itu.
Akan tetapi setelah menoleh, ia lebih terkejut lagi melihat sebuah dagger yang di todongkan ke arah matanya.
Dengan badan yang gemetar, ia melihat seorang pria bermata satu memakai jaket motif kulit ular yang sedang tersenyum dan menodongnya.
"Hihihi.... kau adalah utusannya Gun-chan kan, katakan kepadanya aku akan menemuinya" kata pria itu sambil mengarahkan daggernya ke matanya Reze.
"S-siapa k-kau??" Reze ketakutan setengah mati, kalau ia secara tidak sengaja menyinggung pria itu, tentu saja satu matanya akan tercongkel sekarang.
"Katakan saja kepadanya, Goro Majima akan datang kepadamu!!" Reze menelan ludahnya setelah mendengar nama dari pria tersebut.
Tentu saja dia tau siapa pria yang menodongnya itu, karena sejak kecil ia telah terjun di dunia kriminal.
Tidak ada satupun orang di dunia malam yang tidak kenal dengan Goro Majima. Tangan kanan dari Shimano itu dijuluki 'ANJING GILA DARI SHIMANO'.
Ia terkenal karena kegilaannya terhadap musuh, ia takkan ragu untuk membunuh atau menyiksa musuhnya jika mendapatkan perintah dari Shimano.
Karena kepatuhannya itulah yang membuatnya mendapatkan julukan anjing, dan karena kegilaannya dalam memperlakukan musuhnya ia mendapatkan julukan anjing gila.
Reze benar-benar tak menyangka, orang yang telah hilang semenjak kematian Shimano kini muncul kembali ke hadapannya.
Apalagi, orang itu dengan jelas sedang menodongnya dengan dagger favoritnya.
"Pergilah sekarang dan beri tahu Gun-chan!!" Goro mengancam Reze dengan mendekatkan daggernya ke mata Reze.
Ia hanya ingin berlari dan menghindar dari Goro. Denji yang baru keluar dari kamar kecil pun melihat Reze yang sedang meninggalkan cafe.
Ia heran, mengapa Reze meninggalkannya tanpa pamitan terlebih dahulu.
"Hmm kenapa dia terlihat ketakutan seperti itu??" Tanya Denji pada dirinya sendiri.
Mau tidak mau, sekarang ia harus membayar makanannya dan pulang sendirian. Karena merasa kecewa, Denji langsung berjalan pulang begitu saja ketika selesai membayar, ia tak menyentuh makanan dan minumannya sama sekali.
"Hahh... Harusnya aku pulang bersama Makima" Denji sedikit menyesali keputusannya, tapi karena itu demi Makima sendiri, Denji rela bila harus di benci oleh Makima.
Dengan wajah yang lesu ia menyusuri jalanan menuju apartemennya Aki, ia benar-benar merasa kalau moodnya sedang anjlok sekarang.
"Denji-kun!!!" suara panggilan itu membuat Denji berbalik ke belakang.
"M-makima-chan??!".
----------
"T-tuan!!! dia a-akan datang!!!" Reze berbicara di handphonenya dengan perasaan takut.
"Haa?!!! Dia siapa!!!" Suara teriakan dari Gun Devil itu seakan ingin membuat speaker handphonenya pecah.
"T-tangan kanan Shimano, G-goro Majima telah kembali!!!" Kali ini, Gun Devil itu yang dibuat terkejut.
Hal yang ia khawatirkan telah terjadi, kembalinya seorang legenda hidup mafia yang telah lama menghilang.
Kini telah muncul kembali dan sedang mencari dirinya.
Tentu saja Goro muncul kembali untuk melindungi Denji dari incaran Gun Devil.
"SIALAN!!! KAU AKAN MENEMUI KU MAJIMA??!!! LIHATLAH APAKAH KAU MASIH BISA MEMBELAH PELURUKU"
----------
*Hachuuu....
Goro yang sedang menikmati spaghetti milik Reze tiba-tiba bersin, "hahh, apakah tuan muda sudah pulang duluan?? Padahal ada sesuatu yang penting ingin kutanyakan kepadanya".
Walaupun sebenarnya Goro adalah pria yang menyeramkan, tapi sebenarnya dia juga memiliki sifat yang konyol.
Tubuhnya sebenarnya tidak besar, tapi tubuhnya sangat lincah, ia lihai dalam memakai dagger.
Dengan kelincahan tubuhnya, dagger itu menjadi senjata yang mengerikan di tangannya.
Bahkan, ia pernah berhasil memotong peluru yang ditembakkan oleh Gun Devil dengan daggernya. Sedikit keberuntungan memang, akan tetapi mengingat sekelas Gun Devil saja khawatir karena kemunculannya, tentu saja Goro adalah orang yang sangat kuat.
----------
"Denji-kun, jujurlah padaku dan ceritakan semuanya" Makima menyeret Denji ke sebuah gang kecil.
Ia memojokkannya ke dinding dan menghimpitnya dengan kedua tangannya.
Makima memaksa Denji untuk menceritakan semuanya, tentang peristiwa pengeboman itu dan alasan Denji menjauhinya.
Denji yang menerima perlakuan seperti itu merasa malu, apalagi yang melakukannya adalah gadis yang ia cintai. Dengan jantung yang berdebar dengan kencang ia mencoba untuk menceritakan nya.
Ia tak peduli kalau rahasia yang ia jaga akan terbongkar, karena tatapan Makima sangat tajam dan posisi mereka yang terbilang ambigu, Makima yang Denji lihat sekarang benar-benar Makima yang berbeda dari yang dia kenal dulu.
Gadis yang dulu merupakan gadis yang lugu dan pemalu kini telah berubah menjadi yandere.
.......... Beberapa menit telah berlalu
Denji telah menceritakan semuanya kepada Makima, mulai dari pengeboman dan informasi dari Yoshida telah ia ceritakan kepada Makima.
Makima yang mendengarkan cerita itu hanya terdiam, namun sorot matanya masih tajam menatap Denji.
Walaupun telah bercerita, akan tetapi Makima sama sekali tidak melepaskan tangannya dari tembok, jadi dari tadi Denji bercerita dengan posisi yang dihimpit.
Denji benar-benar takluk oleh wanita, ia merasa tak berdaya dalam posisi ini. Tatapan mata dari Makima benar-benar membuat nyalinya menciut.
"Denji-kun, ayo kita pulang" Makima melepaskan himpitannya, sebaliknya ia malah memeluk Denji dengan erat.
Untuk yang kedua kalinya, ia merasakan pelukan dari Makima. Pelukan yang sangat erat itu benar-benar membuat Denji tak berdaya.
Apalagi ia kembali merasakan semangka yang kenyal milik Makima, sungguh perasaannya yang sekarang tidak bisa ia gambarkan.
"Denji-kun, jangan menjauhi ku, aku tidak peduli jika aku akan mati bersamamu" kata-kata Makima itu bagaikan sambaran petir bagi Denji.
Ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi, ia telah menolak untuk pulang bersama Makima, akan tetapi ia juga gagal untuk pulang bersama Reze.
Tak terasa, Makima menggandeng tangannya, sambil berjalan dengan diam, Denji hanya bisa memperhatikan tubuh Makima dari belakang.
Jika boleh jujur, Makima memiliki body yang jauh lebih bagus dari Reze, akan tetapi Reze memiliki kecantikan setara Makima. Itulah yang dipikirkan Denji sekarang.
Melihat laki-laki yang ia gandeng hanya diam saja, Makima mulai mengajaknya berbicara "Denji-kun" panggil Makima.
"Iya Makima-chan??" Denji akhirnya berbicara kembali setelah tadi dia diam cukup lama.
"Mulai sekarang panggil aku 'Makima-san' "Makima menyuruh Denji untuk mengganti panggilannya.
Denji terkejut dengan permintaan Makima "eh, kenapa kau ingin kupanggil seperti itu?" Tanya Denji yang keheranan.
"Hmm?? Aku ini lebih tua dari mu lo, walaupun tak terpaut jauh" jawab Makima sambil meletakkan jarinya di dagunya.
"Jika kau memanggilku Makima-san, aku akan mengajakmu tidur bersamaku" kata Makima sambil mengeratkan cengkramannya di tangan Denji.
Lagi-lagi Denji dibuat terkejut oleh wanita yang dicintainya, bila tadi dia di ajak mandi bersama Reze, sekarang dia di ajak tidur bersama dengan Makima.
"Bagaimana?? Denji-kun?" tanya Makima kembali.
"Makima-san" jawab Denji dengan pelan dan singkat.
"Hmm bagus! Kalau begitu nanti malam aku akan pindah lagi ke apartemen mu" timpal Makima.
Mendengar hal itu membuat Denji keheranan, mengapa Makima ingin pindah ke apartemennya lagi??
"Eh apa maksudmu Makima-cha... Eh Makima-san??" Tanya Denji yang keheranan.
"Aku pindah ke rumahnya Power, apa kau tak tahu?" Jawab Makima, mendengar hal itu, Denji pun bertanya kembali kepadanya.
"Mengapa kau pindah??"
"Hmm... Nanti akan aku ceritakan bila kita tidur bersama" jawab Makima dengan senyuman manisnya.
Wajah Denji benar benar memerah seperti tomat, ia benar-benar lupa dengan tujuannya untuk menjauhi Makima demi keselamatannya.
Ia melupakan kalau nyawanya sedang diburu oleh mafia, kecantikan dan body Makima benar-benar membuat Denji lupa dengan dunia.....
----------
"Hmm?? Kau akan tidur dengan Makima??" Tanya Aki sambil mengaduk kopinya.
"Lalu bagaimana dengan rencanamu untuk menjauhinya?" timpal Aki.
"Hahh... Aki jangan bertanya seperti itu, aku sedang bingung sekarang" jawab Denji dengan sebal.
Sore yang indah untuk Aki, tapi sore yang memusingkan untuk Denji.
Ia benar-benar bingung, andai saja tadi Reze tak meninggalkannya begitu saja, pasti ia akan tetap menjauhi Makima.
Namun, bila sudah waktunya ia harus memilih, ia benar-benar tak tahu harus memilih siapa.
Mandi bersama Reze, atau tidur bersama Makima.
"Sial, aku benar-benar tak berdaya sekarang" Denji merasa kalau ia sedang berada dalam pilihan yang sulit.
"Guk..."
"Hmm Pochita? Kalau kau di posisiku, siapa yang akan kau pilih?" Denji menunduk sambil mengelus-elus kepala Pochita.
*Drtttt
Denji mengangkat teleponnya nya tanpa melihat siapa orang yang telah meneleponnya.
"Halo" jawab Denji singkat.
"Halo Denji-kun? Aku telah selesai memindahkan semua barang ku ke apartemen, bila nanti kau kesini.... Bisakah kau mampir ke rumahnya Power-san untuk mengambilkan CD ku yang ketinggalan?"
"EHHH??!!!!!!!"
-----tobecontinued-----