
*dor.....
Suara tembakan yang mengagetkan semua orang tiba-tiba terdengar. Suara itu tidak berasal dari senjata api yang di pegang oleh Santa, melainkan senjata milik Aki yang berbentuk seperti jarum lah yang menembakkannya.
Tak disangka, ternyata senjata unik yang di bawa oleh Aki bukanlah sebuah katana. Melainkan sebuah jarum yang bisa menembakkan peluru.
Santa yang tak menyangka kalau Aki akan menembaknya pun tak bisa menghindari peluru yang melesat ke arahnya. Ia tumbang setelah menerima tembakan di kepalanya.
Kelompok mafia dari Gun Devil sekarang hanya tersisa para kroco saja yang masih hidup. Pemimpin serta komandan mereka telah berhasil di tumbangkan dengan mudah oleh Goro dan Aki.
"Himeno-san, aku telah membalaskan dendammu" sebuah kata-kata muncul dari laki-laki berambut kuncir tersebut.
Nampak sekali kalau Aki sangat menyimpan dendam kepada Santa, ia benar-benar tak terima harus kehilangan orang yang dicintainya setelah dia mengungkapkan isi hatinya.
Denji yang dari tadi hanya diam saja menghampiri Aki dan menepuk kepalanya "ini sudah selesai, ayo kita pulang dan memulai awal yang baru lagi".
Aki tiba-tiba langsung menangis ketika mendengar kata-kata Denji. Sekarang Aki mau tidak mau harus memulai hidup yang baru tanpa Himeno di sisinya.
Goro yang melihat hal itu pun hanya bisa tersenyum dan berkata dengan pelan "tolong buat Makima bahagia, tuan muda".
Setelah itu ia menghampiri kedua sahabat yang tengah berpelukan tersebut.
"Tuan muda, Aki-kun, pulanglah sekarang, aku akan mengurus sisanya" sahut Goro kepada Aki dan Denji.
Denji melepaskan pelukannya, ia mengangguk dan merangkul Aki sambil berjalan pergi.
Para mafia yang berada dalam pihak Denji pun membuka jalan untuk mereka berdua, semua mafia itu membungkukan badannya untuk menghormati Denji yang sedang lewat.
"Majima-ojisan" Denji berhenti sesaat "kalau kita bertempur lagi, jangan lakukan itu lagi" sambungnya sambil melanjutkan langkahnya.
Goro pun mengangguk dengan senyuman, sepertinya Goro merasa bangga dengan Denji. Bocah yang masih duduk di bangku SMA itu berani menantang seorang mafia kelas kakap yang sedang mengincar nyawanya.
Kalau orang normal pasti sudah memilih untuk lari dan bersembunyi jika nyawanya sedang di incar oleh mafia. Namun Denji dengan gagah dan berani malah menantang mafia yang mengincar nyawanya.
Terlebih lagi mafia itu bukanlah orang biasa, Gun Devil seorang mafia yang namanya telah tersebar di seluruh Jepang. Orang yang tak pernah meleset ketika menembak, orang yang misterius dan tak bisa di temukan oleh orang biasa.
Denji dan Aki pun perlahan lahan telah pergi dari kawasan gudang, mereka berdua sudah tak nampak lagi di mata.
Goro pun berbalik menatap kelompok mafia Gun Devil, senyuman iblis nampak ia ukir di mulutnya.
Para mantan anak buah Gun Devil pun ketakutan, mereka telah terkepung dari segala arah, mereka tak bisa pergi kemana mana. Mau melawan pun percuma karena mereka kalah jumlah.
"Tolong ampuni kami!!!" Seorang dari kelompok Gun Devil membuang senjatanya dan bersujud untuk meminta ampunan.
Satu persatu dari mereka semua mulai mengikutinya. Sampai pada akhirnya mereka semua membuang senjatanya dan bersujud di hadapan Goro Majima.
"Heh, merepotkan sekali!!" Goro menyalakan rokoknya "KALIAN SEMUA!!! HABISI MEREKA TANPA AMPUN!!!"
----------
"Yoshida-san, apakah kau juga ada di malam ayahku terbunuh?" Tanya Makima kepada Yoshida.
Yoshida pun terkejut dan langsung terdiam ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Makima tersebut.
"Makima-chan...." Power tak percaya kalau Makima akan bertanya seperti itu kepada Yoshida.
Mereka bertiga kini berada di apartemennya Makima, Yoshida memutuskan untuk tetap tinggal karena merasa khawatir kalau harus meninggalkan kedua gadis itu.
Lagi pula ia percaya kalau Denji akan memenangkan pertempurannya karena memiliki Goro Majima di sisinya.
Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Yoshida pun menjawab pertanyaan Makima tersebut "iya, aku ada di malam itu dan aku tahu kau adalah gadis kecil itu".
Makima pun menarik nafasnya dan berkata "apa kau tahu, kenapa ayahku dibunuh?".
"Aku tidak tahu, aku hanya menerima perintah dari Shimano-san untuk ikut dengannya" jawab Yoshida.
Sesaat kecanggungan terjadi, obrolan singkat antara dan Makima tersebut seolah-olah menjadi mimpi buruk untuk Power.
Jika sampai Makima salah paham atau salah tangkap dengan omongan Yoshida, bisa-bisa Makima kembali membenci Denji seperti dahulu. Dan tentu saja rencana Power untuk menyatukan Makima dan Denji akan gagal.
"Ah, sudahlah aku akan membuatkan minuman untuk kalian" Power berusaha untuk mencairkan suasana.
Power pun bangkit dan segera bergegas ke dapur. Namun, ia lupa kalau sekarang ia berada di apartemennya Makima, Power pun kebingungan mencari letak sirup yang disimpan oleh Makima.
"Ano, soal laki-laki bermata satu itu, sepertinya aku juga pernah melihatnya" ujar Makima, gadis berambut merah itu juga ingin mencairkan suasana yang akward.
"A-ah tidak!! Dia tidak ada di sana malam itu!" Yoshida berusaha mengelak ketika Makima membahas Goro.
Melihat Yoshida yang panik, Makima pun merasa heran "nee?? Kenapa kau bertingkah aneh?"
Yoshida menggelengkan kepalanya, Makima tidak paham kenapa Yoshida seolah menghindar ketika dirinya ingin membicarakan pria bermata satu yang ia lihat tadi. Padahal Makima tau kalau Yoshida telah mengetahui masa lalunya yang kelam.
"Nee Yoshida-san, apakah kau mengetahui rahasia lain yang aku tak ketahui?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Makima itu seolah membuat Yoshida membisu. Yoshida benar-benar diam tak bersuara ketika mendengar pertanyaan dari Makima.
"Makima-chan!! Kau meletakkan dimana sirupnya??" Suara teriakan Power yang terdengar dari dapur seolah menjadi penyelamat bagi Yoshida.
"Sebentar!!" Makima bangkit dari duduknya dan menuju ke arah dapur.
Yoshida pun ikut bangkit dari duduknya, ia langsung berlari menuju ke pintu keluar apartemen. Yoshida ingin menjaga Makima dan Power dari luar, ia tak ingin mendapatkan pertanyaan lagi dari Makima.
Makima yang melihat Yoshida berlari pun merasa heran "Yoshida-san, kau mau kemana??" Namun teriakan dari Makima itu seolah tak di dengar oleh Yoshida.
Yoshida tetap membuka pintu dan keluar dari apartemen "Pertanyaan itu sangat berbahaya, Makima tidak boleh mengetahuinya sampai orang itu yang mengatakannya sendiri" gumam Yoshida setelah menutup pintu.
Makima berjalan ke arah dapur dan memberi tahu Power tentang Yoshida yang tiba-tiba bersikap aneh.
"Power-san, apakah menurutmu ada rahasia lain tentang masa laluku yang belum aku ketahui??" Tanya Makima sambil mengambil botol sirup di atas lemari.
"Aku tidak tahu Makima-chan, lebih baik kau tidak memikirkan lagi masa lalu mu dan fokuslah memulai hidup baru bersama Denji" Power berusaha meyakinkan Makima untuk melupakan semua masalahnya.
Pipi Makima sedikit memerah ketika mendengar kalau dia sekarang akan memulai hidup baru bersama laki-laki yang ia cintai.
----------
"Yosh yosh yosh... Anak pintar" Denji mengelus-elus kepala Pochita ketika ia kembali ke apartemennya.
Aki dan Denji baru saja mengambil Pochita dan Fox dari mansion milik Goro, dan sekarang mereka telah sampai di apartemennya Aki.
"Jangan tinggalkan aku, Fox" Aki memeluk rubah kecilnya dengan erat.
Momen kedua sahabat dengan hewan peliharaannya itu benar-benar membuat suasana sangat menenangkan.
Mereka berdua baru saja pulang dari pertempuran, walaupun bisa dibilang kalau itu bukan pertempuran yang sengit, namun mengingat kalau lawan mereka adalah mafia besar sekelas Gun Devil tentu saja itu tidak bisa dianggap remeh.
Beruntung sekali Denji dan Aki mempunyai Goro Majima di sisinya, Goro lah orang yang menyusun strategi untuk mengepung Gun Devil. Goro tau kalau menantang Gun Devil tanpa strategi apapun sama saja menyerahkan nyawanya.
Dan jangan lupa kalau tanpa bantuan dari Goro, Denji sudah mati tertebas oleh Gun Devil.
"Aki... Mulai sekarang kita akan bisa hidup dengan normal seperti dulu lagi" ujar Denji yang sedang memangku Pochita.
"Bersekolah, berkelahi, membolos, Himeno-san aku rindu itu semua" sahut Aki.
"Bodoh!! Bukankah kau baru saja bertempur dan membunuh satu anak buah Gun Devil!!" Seru Denji ketika mendengar hal yang di rindukan oleh Aki.
"Dia adalah orang yang membunuh Himeno-san, aku membunuhnya karena ingin membalas dendam, bukan untuk bersenang-senang" Aki menjelaskan maksud dari perkataannya.
Denji tersenyum, ia pun berkata "Aki, ayo besok kita memulai hidup yang baru..."
----------
"Power, Makima kenapa kalian jarang sekolah sekarang?" Tanya Angel ketika melihat Makima dan Power yang masuk ke kelas.
"Heh!! Itu bukan urusanmu!!!" Seperti biasa, Power menyahuti pertanyaan dari temannya.
"Dasar sialan!! Aku hanya bertanya" Angel juga tak terima dengan ocehannya Power.
"Fufufu... Sudahlah kalian berdua" Makima tertawa karena ulah kedua temannya tersebut.
"Tapi serius, kalian berdua selalu di tanyakan oleh pak Kishibe" Arai ikut campur dengan drama pagi itu.
"HEI!! APA KAU TULI AKU BILANG ITU BUKAN URUSANMU!!!" Power berbalik berteriak ke arah Arai.
"Aku hanya berkata, dasar cerewet!!!" Arai mengadu kepalanya dengan Power.
Nampak sekali kalau kedua orang ini siap bertengkar sekarang.
"HOI KALIAN!!!!" Tiba-tiba Denji berteriak di ambang pintu beserta Aki yang sudah berdiri di belakangnya.
Denji langsung berlari ke dalam kelasnya, Arai sempat ketakutan karena mengira kalau Denji akan menyerangnya. Namun, ternyata Denji berlari ke arah Makima dan berlutut di depannya.
Makima merasa kaget karena Denji yang tiba-tiba berlutut dan memegang kedua tangannya.
"Aki!!!" Denji memanggil Aki untuk masuk ke dalam kelas.
Aki pun masuk dengan membawa sebuket bunga dan sebuket coklat di kedua tangannya, Aki masuk dan menahan malu, nampak sekali ia hanya menatap kosong ke arah depan.
Setelah Aki berdiri di belakangnya, Denji pun melanjutkan kegiatannya "Makima-san, kau adalah jawaban dari Tuhan atas semua doa-doa ku"
Semua murid yang berada di kelas itu hanya bisa bengong melihat Denji yang sedang berjongkok di depan Makima dan mengatakan kata-kata yang aneh.
"Kau adalah type wanita yang aku cari selama ini..." Lanjut Denji.
Power pun melongo ketika melihat kalau temannya yang bodoh itu berusaha untuk menembak Makima.
'dasar sinting...' kata Aki dalam hati.
"Maukah kau... Menjadi pendamping hidupku Makima-san??" Denji berkata dengan penuh keseriusan, tak ada rasa malu yang ia tunjukkan sekarang.
Sebaliknya, Makima merasa salah tingkah karena ulah Denji tesebut. Baru saja kemarin ia membalas perasaan Denji, sekarang laki-laki itu dengan berani menembak dirinya di depan teman-temannya.
Dengan pipi yang memerah, Makima menganggukan kepalanya dan membantu Denji untuk bangkit, Makima pun langsung memeluk Denji dengan erat ketika Denji berdiri.
Rasa lega sekarang telah dirasakan oleh Denji, ia membalas pelukan Makima dengan erat. Denji sangat bersyukur karena sekarang ia telah memiliki Makima.
Power berjingkrak kegirangan ketika melihat dua insan itu berpelukan, ia memegang bahu Arai dan menggoyangkannya "LIHAT ITU BODOH!!! MISIKU TELAH BERHASIL!!!"
"LEPASKAN AKU WANITA SINTING!!" Dengan kesal, Arai mencoba melepaskan diri dari tangannya Power.
Para murid yang lain pun bersorak gembira karena drama singkat yang terjadi di depan mereka tersebut.
'kalian semua sinting' kata Aki dalam hati.
"Wah wah wah... Itu sangat manis sekali" suara pak Kishibe melerai pelukan antara Denji dan Makima.
Para murid yang lainnya pun langsung melihat ke arah pintu yang ternyata sudah ada pak Kishibe yang berdiri dan membawa tasnya.
"Selamat untuk Makima-chan dan Denji-kun, tapi simpan dulu rasa bahagia kalian karena kalian membolos selama beberapa hari maka saya akan menghukum kalian ber empat sekarang" ujar pak Kishibe dengan santai.
"Ber empat??" Power berusaha memastikan siapa orang empat yang akan terkena hukuman tersebut.
"Iya... Denji dan Aki-kun, Makima dan Power-chan akan saya hukum" jawab pak Kishibe.
"TIDAK!!!!!!!"
-to be continued atau end?? Wkwkwk
-----TOBECONTINUED-----