
Liburan panjang telah di mulai, setelah Denji dan kawan-kawannya selesai berekreasi di pulau Okinawa, mereka semua pulang dan mengikuti ujian beberapa hari kemudian.
Mereka semua tidak mengalami kesulitan sedikitpun dan mengerjakan ujian dengan lancar. Dan sekarang para murid hanya tinggal menunggu raport.
Aki berada di apartemennya saat ini, lelaki itu memilih untuk tetap di rumah selama liburan. Aki lebih memilih menghabiskan waktunya bersama Fox dari pada pergi liburan ke luar kota.
Berbeda dengan Denji, lelaki berambut pirang itu lebih suka menghabiskan waktu jalan-jalannya bersama Makima, walaupun Denji masih tinggal bersama Aki di apartemennya.
"Pochita, apa kau lapar??" Tanya Aki ketika ia melihat Pochita yang baru bangun dari tidurnya.
"Gug... Gug"
Pochita seolah menanyakan keberadaan majikannya kepada Aki, anjing itu nampak melihat sekitar untuk mencari keberadaan Denji.
"Pochita, Denji sedang keluar" Aki mencoba untuk berkomunikasi dengan anjing kesayangan Denji tersebut.
Pochita pun menunduk ketika mendengar majikannya tidak ada di rumah, Pochita merasa sedikit kesepian setelah Denji berpacaran dengan Makima, karena Denji lebih banyak menghabiskan waktu bersama Makima dari pada Pochita.
"Sudahlah Pochita, Denji sedang sibuk sekarang, Fox temani Pochita bermain" Aki mengelus-elus kepala rubah kecil yang berada di pangkuannya.
Fox pun langsung turun dari pangkuan Aki dan mulai mengajak Pochita bermain. Pochita pun nampak kembali gembira ketika Fox mengajaknya bermain bersama.
"Denji sialan, dimana dia sekarang" gumam Aki yang merasa kasihan kepada Pochita.
*Ceklek...
Suara pintu yang terbuka membuat Aki terbangun dari sofa dan langsung menoleh ke arah pintu "Hoe Denji, Pochita mencari mu" seru Aki ketika melihat sosok Denji yang masuk ke dalam apartemen.
"Huh?? Mencari ku??" Sahut Denji yang keheranan.
Mendengar suara majikannya, Pochita langsung berlari menghampiri Denji. Anjing itu menjilati tangan Denji dengan antusias.
"Hei Pochita kau rindu denganku yaa" Denji merasa gemas dengan tingkah anjing kesayangannya tersebut.
"Ajaklah dia jalan-jalan bersama sesekali" ujar Aki dari tempat duduknya.
"Baiklah, aku akan mengajak Pochita bersama Makima malam ini" ucap Denji sembari mengelus kepala Pochita.
"Kau kencan dengan Makima lagi malam ini??" Tanya Aki.
"Iya, apa kau mau ikut juga??"
"Bodoh, tidak mau!!" Tegas Aki yang menolak ajakan Denji.
"Kau tahu? Power terus mengejek mu karena kau tidak memenuhi perjanjiannya" Denji kembali mengingatkan Aki tentang pernjanjian yang dia buat dengan Power.
"Heh, siapa peduli, lagi pula dia juga belum punya pacar" Aki berdecak kesal ketika mengingat perjanjian bodoh yang pernah ia buat bersama Power.
"Kenapa kau tidak berpacaran dengan Power saja??" Ucap Denji dengan entengnya.
Aki pun langsung membantah kata-kata Denji tersebut "Tidak!!! Lebih baik aku lajang seumur hidup dari pada berpacaran dengan gadis cerewet itu"
Denji pun semakin menggoda Aki ketika melihat pipi laki-laki berambut kuncir itu mulai memunculkan semburat merah.
"Hei Aki, tadi malam aku menonton drama" ujar Denji.
"Lalu kenapa?!!" Aki seolah sudah mengerti kalau sahabatnya itu berniat untuk menggodanya.
Denji pun duduk bersama Aki di sofa "Kau tahu?? Si laki-laki awalnya juga bilang lebih baik lajang dari pada berpacaran dengan si gadis, tapi akhirnya mereka menikah dan bahagia selamanya"
"Lalu apa hubungannya denganku?!!" Ucap Aki yang mulai geram dengan ulah Denji yang menggodanya.
"Heh?? Aku tidak bilang kalau ini ada hubungannya dengan mu" timpal Denji.
Aki hanya terdiam setelah mendengar ucapan Denji, dia telah masuk ke mind games yang Denji buat. Terlihat sekali senyuman sinis Denji yang sedang menggoda Aki.
"Pasti kau ingin mencocokkan aku dengan drama konyol mu itu!!" Aki mencoba untuk menutupi rasa gugupnya.
"Apa kau merasa hidupmu juga akan berakhir seperti drama itu??" Lagi-lagi permainan pikiran dari Denji berhasil membuat Aki terdiam.
"Tidak, walaupun aku sudah mengikhlaskan kepergian Himeno-san, aku masih tidak tertarik mencari wanita lain" ujar Aki yang mencoba untuk membela dirinya.
"Kau tidak tertarik mencari wanita lain karena kau hanya tertarik kepada Power" lagi-lagi Denji mencoba menjebak Aki dalam permainan pikirannya.
*Bughhhh....
"Aduh, itu sakit bodoh!!" Denji memegangi lengannya yang baru saja di tinju oleh Aki.
"Kalau kau membahas Power lagi akan ku sebarkan tentang di pulau Onikawa!!"
----------
"Hachuuu.... Hah, kenapa aku bersin terus menerus hari ini" Power yang sedang bersantai dirumahnya merasa heran karena dari tadi dia terus bersin.
"Apa ada orang yang membicarakan aku?? Tapi siapa??" Power merasakan kalau ada orang yang membicarakannya sehingga ia terus-terusan bersin.
"Meow..."
Seekor kucing menghampiri Power yang sedang duduk manis di depan tv-nya.
"Meowy!!!!!!" Power langsung memeluk kucing kesayangannya itu dengan erat.
"Kau sudah bangun?? Apa kau lapar lagi??" Power mengangkat kucingnya ke udara.
"Meow..."
Power pun seakan juga mengerti perkataan hewan peliharaannya tersebut, ia mengira kalau kucing itu kegiatannya hanya tidur dan makan.
"Coba kita lihat, ada apa di kulkas ini" Power berjalan ke arah dapurnya dan langsung membuka kulkas.
Power terkejut karena ternyata makanan milik Meowy sudah habis dan dia belum membelinya "Ah, maaf Meowy, aku lupa membeli lagi makananmu"
"Meow..." Meowy juga merasa sedih karena makanan kesayangannya telah habis.
"Di luar sangat panas, aku malas untuk keluar" gumam Power ketika melihat ke arah jendela.
Cuaca yang sangat terik membuat Power merasa malas keluar rumah untuk membelikan makanan kucing. Namun, Power juga merasa tak tega dengan kucingnya yang merasa kelaparan tersebut.
"Bagaimana ini..." Power merasa bingung, dia tidak ingin keluar karena cuaca yang panas sedangkan dia juga merasa kasihan dengan Meowy yang kelaparan.
"Ah, aku ada ide!!" Power langsung bergegas kembali menuju ke ruang tv untuk mengambil hpnya.
Setelah mengambil hpnya, Power langsung mencoba untuk menghubungi seseorang "Halo??"
"Ada apa??" Jawab orang di sebrang telepon tersebut.
"Aku kehabisan makanan kucing, belikan untukku atau akan ku sebarkan kalau kau adalah pengecut" ancam Power kepada orang di sebrang telepon tersebut.
"Sialan, Power jangan macam-macam!!" Orang di sebrang telepon itu juga merasa tak terima karena Power memberinya perintah seenaknya saja.
"Cepat aku tunggu!!!" Tanpa menunggu jawaban lagi, Power langsung mematikan teleponnya.
Ia tak ingin berdebat lebih lanjut dengan orang yang sedang ia hubungi "Tenang saja Meowy, makanannya akan datang sebentar lagi" ujar Power sembari mengelus kucing kesayangannya.
----------
"Dasar wanita sialan!!!" Aki merasa geram setelah menerima telepon dari teman nya.
Yaa, Power yang malas keluar karena cuaca panas memilih untuk meminta bantuan kepada Aki, Power mengancam Aki dengan perjanjian yang pernah mereka buat agar Aki mau menuruti kata-katanya. Padahal Aki sendiri juga malas keluar karena cuaca yang panas.
"Oe, kenapa kau geram seperti itu??" Tanya Denji yang merasa heran dengan sahabatnya.
"Aku keluar sebentar" Aki langsung bangkit dari duduknya tanpa menjawab pertanyaan Denji.
"Kau tadi di telpon oleh Power kan??" Ucapan Denji itu langsung menghentikan langkah Aki.
Aki pun merasa terkejut karena Denji tahu siapa orang yang baru menelepon nya tersebut "Dari mana kau tahu??"
"Oh ayolah, Aki Hayakawa hanya akan menuruti perintah dariku dan dari Power-chan yang tercinta" lagi-lagi Denji menggoda pria berambut kuncir tersebut.
*Plak....
Aki melemparkan sebuah keset tepat di wajah Denji, Denji pun hanya terkekeh ketika mendapatkan lemparan tersebut.
"Hoi!!! Jangan lupa membawa bunga" teriak Denji ketika Aki berada di ambang pintu.
Aki pun berjalan di pinggir trotoar menuju ke petshop untuk membeli makanan kucing. Setelah sampai, Aki tak hanya membeli makanan kucing, ia juga membeli makanan untuk Pochita dan Fox.
"Baik, sekarang hanya tinggal memberikan makanan ini ke wanita sialan itu!!" Gumam Aki sembari menuju ke rumahnya Power.
Dalam perjalanan menuju ke rumah Power, Aki hanya diam saja. Sesekali ia melirik para muda-mudi yang berpasangan waktu berpapasan dengan Aki.
Aki pun berpikir di dalam hatinya, andai kata Himeno masih hidup pasti dia bisa menikmati hidup berdua dengan wanita yang dicintainya tersebut.
Jujur saja, Aki sedikit iri ketika melihat pasangan kekasih yang sedang kencan di cafenya, dia ingin sekali melakukannya bersama wanita yang di cintainya. Namun tentu saja hal itu tidak bisa terjadi kecuali Aki mencari wanita baru.
Sayangnya, hati kecil seorang Aki Hayakawa masih belum menemukan pengganti yang cocok untuk menggantikan sosok Himeno.
Tanpa sadar, Aki sudah berada di depan rumah Power karena terus-menerus melamun dalam jalan. Aki pun mulai memencet bel rumah tersebut tanpa basa-basi.
"TERIMA KASIH!!!!" Tiba-tiba Power langsung berteriak ketika membuka pintunya dan melihat Aki yang menyodorkan makanan untuk kucingnya.
*Brakkkk....
Tanpa pikir panjang wanita itu kembali menutup pintunya dengan keras, Aki pun hanya terdiam dan mulai melangkah pergi karena urusannya bersama Power sudah selesai.
Di dalam rumah, Power duduk bersandar pada pintu rumahnya "Kenapa, kenapa semenjak ujian aku merasa malu ketika menatap Aki!!" Gumam Power sendirian.
Gadis itu merasa kalau ada yang aneh dengan dirinya, dulu dia biasa berbicara atau menatap Aki tanpa malu, tapi semenjak dia menagih pernjanjian yang ia buat sendiri, Power merasakan sesuatu yang aneh ketika melihat Aki.
"Aki, jika aku jatuh cinta kepadamu akan ku bunuh kau!!" Ucap Power sembari bangkit dari duduknya.
*Malam hari.....
"Yosh Pochita, apa kau sudah siap??" Denji sudah selesai mengikatkan tali di leher Pochita.
Malam ini Denji ingin keluar bersama Makima dan ia memutuskan untuk mengajak Pochita bersamanya.
"Gug..." Pochita mengangguk sembari menjulurkan lidahnya.
"Anak pintar, ayo kita berangkat sekarang!!" Denji mulai menuntun Pochita menuju ke pintu keluar.
Sekarang, apartemen itu kosong karena Aki yang sedang bekerja di cafenya, Aki memutuskan mengajak Fox bekerja karena Pochita yang di ajak keluar oleh Denji.
Jadi, dari pada Fox sendirian di apartemen lebih baik ia mengajaknya untuk bekerja bersamanya.
Denji membawa Pochita menuju ke apartemennya Makima, Makima kembali pindah ke apartemen milik Denji yang lainnya. Sekarang gadis berambut merah itu tinggal tiga lantai di bawah apartemen milik Aki.
*Ting tong....
"Makima-san, apa kau sudah siap??" Denji memanggil Makima di depan pintu apartemennya.
Tak perlu menunggu lama, seorang gadis cantik bersurai merah langsung keluar dari ruangan apartemen tersebut.
"Ara, Denji-kun kau juga mengajak Pochita??" Makima menundukkan kepalanya untuk menatap Pochita lebih dekat.
Pochita pun juga membalas tatapan dari Makima dengan tatapan menggemaskan.
"Yaa... Aki bilang aku harus mengajak Pochita sesekali" Denji mencoba beralasan kepada Makima agar gadis itu mengijinkannya membawa Pochita.
Makima pun kembali menoleh ke arah Denji "Tidak apa-apa, apa aku boleh membawanya??"
"Tentu saja!!" Denji pun memberikan tali yang di pegangnya kepada Makima.
"Ayo kita jalan, Pochita" Denji dan Makima pun bergegas menuju ke lantai paling bawah menggunakan lift.
Setelah sampai, mereka berdua langsung menuju ke arah parkiran untuk mengambil mobil milik Denji.
Awalnya, Denji ingin jalan-jalan dengan Makima menggunakan motornya. Namun karena ia membawa Pochita bersamanya, akhirnya ia memutuskan untuk membawa mobilnya karena tak mungkin membawa Pochita bersama di motor sportnya.
"Silahkan masuk Makima-san, oe Pochita kau duduk di belakang!!" Denji membukakan pintu kepada Makima dan menyuruh Pochita untuk duduk di kursi belakangnya.
Karena Pochita sangat menurut kepada Denji, anjing itu hanya nurut saja ketika Denji menuntunnya menuju ke kursi di belakang.
"Kenapa tidak mengijinkan Pochita duduk di depan??" Tanya Makima ketika masuk ke dalam mobil.
"Dia bisa memencet tombol macam-macam, baiklah sekarang kita berangkat!!!" Denji memasang sabuk pengamannya.
Kemudian Denji membawa mobil itu melaju ke jalan raya, awalnya Denji tak tahu ingin mengajak Makima kemana lagi karena dia sudah pernah mengajak Makima ke semua tempat di kotanya.
"Makima-san, kau ingin kemana??" Tanya Denji sembari menyetir mobilnya.
"Kau belum pernah mengajakku ke pantai" jawab Makima.
"Eh?? Benar juga, kita sudah mengunjungi semua tempat di kota ini kecuali di pantai" Denji baru sadar kalau dia belum pernah mengajak Makima jalan-jalan ke pantai sekalipun.
"Bagaimana Pochita?? Apa kau mau ke pantai??" Tanya Denji kepada Pochita yang sedang duduk manis di belakangnya.
"Gug...." Pochita pun juga mengangguk dengan antusias.
"Yosh, baiklah kalau begitu kita ke pantai!!" Setelah mendapatkan tujuannya, Denji langsung memacu mobilnya menuju ke arah pantai.
Tak butuh waktu lama bagi Denji untuk sampai di pantai tersebut, karena memang jaraknya yang tak terlalu jauh. Mereka bertiga langsung berjalan bersama di pinggir pantai setelah keluar dari mobil.
Makima menuntun Pochita untuk berjalan di sampingnya, suasana pantai yang sepi di malam hari membuat Makima dan Denji merasa tenang.
Karena tak ingin hanya berjalan-jalan saja, Denji langsung mengajak Makima untuk minum di cafe yang berada di pinggir pantai tersebut.
"Maaf nyonya, hewan peliharaan tidak di ijinkan masuk" seorang pelayan yang berdiri di depan pintu menghalangi Makima yang ingin masuk membawa Pochita.
"Hoi!!! Denji, anak dari mantan mafia Shimano" Denji melemparkan segepok uang ke arah pelayan tersebut.
Sontak pelayan itu langsung mengambil uang yang berada di lantai dan tak menghiraukan Denji dan Makima yang masuk bersama Pochita.
Makima dan Denji memutuskan untuk duduk di pinggir agar bisa menikmati pemandangan pantai di malam hari.
"Nee Denji-kun, apa kau dulu menyayangi ayahmu??" Tanya Makima yang sedang menunggu pesanannya.
"Yah... Tidak terlalu, karena ayahku jarang bermain bersamaku" jawab Denji sembari mencoba mengingat masa lalunya.
"Lalu, bagaimana dengan ibumu??" Tanya Makima kembali kepada Denji.
"Ibuku sama-sama sibuk seperti ayahku" jawab Denji kembali.
Sebenarnya Denji tidak ingin bercerita tentang masa lalunya kepada siapapun, namun karena yang bertanya adalah kekasihnya sendiri jadi Denji tidak masalah menceritakan semua masa lalunya.
"Jadi, kau benar-benar sendirian di rumahmu??" Makima ingin mengetahui masa lalu Denji lebih jauh.
"Tidak, banyak pembantu di rumahku, biasanya aku bermain bersama Aki, Pochita dan juga pamanku" sahut Denji.
Makima pun merasa heran ketika Denji bilang kalau ia punya paman "Kau punya paman??".
"Iya, tapi sayangnya dia telah meninggal" Denji tiba-tiba memunculkan raut wajah sedih.
Pochita yang seakan mengerti dengan perasaan majikannya itu pun juga ikut menunduk. Sedangkan Makima sendiri mulai mengingat masa lalunya, dimana malam ayahnya di bunuh oleh seorang mafia karena telah membunuh adik dari pemimpin mafia tersebut.
"Denji-kun, apa pamanmu meninggal karena di bunuh??" Makima tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sensitif tersebut kepada Denji.
Denji pun terkejut ketika Makima menanyakan hal itu kepadanya "B-benar, Makima-san dari mana kau tahu??"
Makima hanya terdiam, dia tidak berani menjawab pertanyaan Denji tersebut, Makima juga merasa menyesal karena telah menanyakan hal tersebut.
"Hah... Aku sangat merindukannya, andai saja aku tahu siapa orang yang membunuhnya" ucap Denji sembari memandang ke atas.
Makima yang masih terdiam pun pelan-pelan mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kepada Denji tentang masa lalunya, ia sebenarnya merasa takut untuk mengatakannya tapi dia sudah berjanji kalau tidak ada rahasia lagi antara dirinya dan Denji.
"Denji-kun" Makima memanggil Denji dengan suara yang pelan.
Denji pun menoleh ke arah kekasihnya tersebut "Ada apa, Makima-san?"
Tangan Makima bergetar, Makima merasa sangat takut ketika ingin memberitahukan kebenaran yang ia ketahui kepada Denji.
Pelan-pelan, Makima mengambil nafas dalam-dalam dan mulai mengatakannya kepada Denji "Denji-kun, orang yang membunuh pamanmu, adalah ayahku"
"Ehh??!!"
-----TOBECONTINUED-----