
"Majima-ojisan" Denji benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Tidak!! Kau bukanlah ayahku!!!" Makima langsung membantah pengakuan dari Goro tersebut.
"Yoshida-san, apa yang dikatakan oleh Goro-san itu benar?" Aki bertanya kepada Yoshida.
"Benar, Makima adalah anak kandung dari Goro-san" Yoshida membenarkan bahwa perkataan Goro itu benar.
"Tidak mungkin!!! Ayahku sudah mati!!!" Makima menggelengkan kepalanya.
"Majima-ojisan, ceritakan kepada kami semua" seru Denji dari belakang.
Goro mulai tersenyum ke arah Makima "tidak aku sangka kalau kau akan bisa tumbuh besar sendirian, aku juga tidak pernah menyangka kalau Tuhan akan menakdirkan kita bertemu kembali".
"Sudah kubilang tidak!!! Kau itu bukan ayahku!!!" Makima tetap bersikeras menolak kenyataan itu.
"Goro-san, lebih baik anda menceritakan semuanya sekarang" Aki merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
"Majima-ojisan, jika Makima-san benar anak kandungmu, kenapa kau tidak merawatnya ketika ayahnya meninggal?" Tanya Denji kepada Goro.
"Shimano melarangku, dia bilang kalau Makima masih terlalu kecil untuk mengerti" ujar Goro menjelaskan.
"Kau hanya ingin menyelamatkan anak di kandungan ku ini kan?!! Makanya kau membuat ucapan bohong seperti itu!!" Seru Makima dengan kemarahan yang terpancar di wajahnya.
"Makima, nama ibumu adalah Quanxi kan?" Ujar Reze secara tiba-tiba.
Makima pun terkejut dengan ucapan Reze itu, ia tak menyangka kalau Reze mengetahui nama ibunya yang telah lama meninggal.
"Quanxi-san adalah mantan istri Goro-san" sambung Yoshida.
"Yoshida-san, jelaskan lah semuanya kepada kami!!" Sahut Denji secara tiba-tiba.
"Tidak Denji, hanya Goro-san yang bisa menceritakannya" Aki mencegah Denji yang memaksa Yoshida untuk bercerita.
Semua orang di ruangan itu pun mengalihkan perhatiannya kepada Goro. Tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara, mereka sekarang hanya ingin Goro yang menceritakan hal itu sendiri.
"Quanxi-chan, aku ingat sekali dia sangat senang dengan kelahiranmu, Makima-chan. Aku bertemu dengannya saat pertama kali...."
-----Flashback-----
"Kejar dia!!!" Sekelompok mafia mengejar seorang pria berjas hitam yang sedang kabur membawa koper.
"Jangan biarkan dia lari!!" Sahut salah satu mafia tersebut.
*Dor... Dor....
Suara tembakan terdengar di bawah langit malam tersebut, pria itu bisa menghindari tembakan dengan gerakan-gerakannya yang lincah.
"Hah... Hah.. sedikit lagi" pria itu mulai merasakan lelah karena terus berlari sembari menghindari peluru yang di tembakkan.
Perlahan-lahan pandangan pria itu mulai kabur, larinya mulai menjadi pelan karena tubuhnya telah kehabisan stamina.
"Sial... Aku lelah" ujar pria itu.
"Kena kau, Majima!!!!" Para mafia itu pun akhirnya bisa menangkap pria yang bernama Goro Majima tersebut.
"Hah... Hah..." Goro terbaring di jalanan karena kehabisan nafas.
"Sekarang, berikan koper itu kepada kami!!!" Para mafia itu merebut paksa koper yang sedang di peluk oleh Goro.
Goro pun hanya bisa pasrah ketika koper di tangannya di rebut dengan paksa, ia benar-benar sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan para mafia tersebut.
"Hah?!! Apa ini?!!" Seorang mafia yang membuka koper itu terkejut.
"Kosong?? Bagaimana mungkin??" Sahut mafia yang lainnya.
"Hihihi..." Goro tertawa kecil karena melihat para mafia itu yang keheranan.
"Bangunkan tubuhnya!!!" Para mafia itu pun mengangkat tubuh Goro yang lemas dan mulai mengintrogasinya.
"Hoe Majima!! Aku hanya akan bertanya sekali dan tidak akan mengulanginya lagi, jadi jawab dengan benar dan jelas, DIMANA UANG ITU!!!!" Mafia itu berteriak tepat di depan wajah Goro.
"Di neraka" Goro menjawab dengan senyuman sinis.
Sontak saja mafia yang sedang mengintrogasinya itu marah dan langsung memukul wajahnya hingga terpental ke belakang.
"Bagaimana ini??"
"Tuan pasti akan membunuh kita kalau kita kehilangan uang itu"
"Dia pasti sudah menukarkan kopernya dengan Shimano, kita harus menemukan Shimano"
Para mafia itu sedang berdiskusi karena mereka semua telah masuk ke perangkap yang dibuat oleh Goro, sedangkan Goro tetap terbaring lemas dan menguping percakapan mafia itu dengan diam.
"Berikan aku daggernya" salah seorang mafia itu meminta sebuah dagger yang sedang di bawa oleh anak buahnya.
Ia pun mencabut dagger itu dari sarungnya dan mulai berjalan mendekat ke arah Goro yang sedang terbaring di jalan.
"Katakan di mana Shimano atau akan aku cabut satu bola matamu!!" Mafia itu menduduki tubuh Goro dan menodong mata kirinya menggunakan dagger.
Goro hanya menatap ke mata mafia itu tanpa menjawab pertanyaannya sedikitpun. Sontak saja mafia itu merasa kesal dan mulai mendekatkan daggernya ke arah mata milik Goro.
"Apa kau pikir aku bercanda sialan?!!"
"Apa kau pikir aku keberatan kehilangan satu mataku?!!!" Goro tiba-tiba berteriak ke arah mafia tersebut.
Mafia itu telah kehilangan kesabarannya, tanpa pikir panjang ia langsung menusuk mata kiri Goro dengan daggernya. Dagger itu dengan jelas menancap di mata kirinya hingga keluar darah yang mengalir di wajahnya.
Goro berteriak dengan kencang karena merasakan sakit di mata kirinya, sedangkan mafia itu langsung mencabut daggernya dan meletakkannya di samping Goro.
Para mafia itu langsung kabur dari tempat itu karena mendengar suara sirine polisi dari kejauhan. Bisa di bilang Goro sedikit beruntung karena tidak dibunuh. Meskipun begitu, ia telah kehilangan mata kirinya sekarang.
"Dasar sialan!!" Goro mulai bangkit dengan memegang mata kirinya yang telah hilang.
Ia sempat melihat ke bawah dan menemukan sebuah dagger yang telah menghilangkan matanya. Goro pun mengambil dagger itu dan menyimpannya di belakang kemejanya.
Goro mulai pergi dari lokasi tersebut, ia ingin kembali ke markasnya untuk melaporkan ke Shimano kalau rencana mereka telah berhasil. Namun, tenaga Goro masih belum terisi, ia berjalan dengan lemah sembari memegangi mata kirinya yang terus mengeluarkan darah.
Goro terus berjalan tak tentu arah, tubuhnya mulai terhuyung-huyung di tengah jalan yang sepi, tubuhnya seakan-akan sudah tak bisa berdiri dengan tegak lagi.
*Bruk...
Tubuh Goro ambruk di jalanan dan ia pingsan seketika, suasana tengah malam yang sudah sepi dan tidak ada orang yang berlalu-lalang. Tidak ada seorang pun yang menolong Goro sekarang.
Malam itupun menjadi malam yang sangat berat bagi seorang Goro Majima, ia mendapatkan tugas dari Shimano untuk mengelabuhi para mafia dengan membawa koper kosong bersamanya, namun siapa sangka Goro malah kehilangan mata kirinya karena tugas tersebut.
*Pagi harinya...
Goro membuka matanya secara perlahan, ia tidak bisa melihat dengan jelas karena mata kirinya tertutup perban dan tidak bisa melihat apapun.
Ia sedikit terkejut karena terbangun di sebuah kamar tidur di ruangan yang cukup kecil, ia melihat ke samping dan melihat sebuah laci yang diatasnya terdapat bekas perban berlumuran darah.
"Kau sudah bangun??" Sebuah suara dari ambang pintu mengejutkan Goro yang sedang melamun.
Goro pun menoleh ke sumber suara tersebut, samar-samar ia melihat seorang wanita berambut putih yang masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman di tangannya. Goro juga terkejut ketika menyadari kalau wanita itu menutupi mata kanannya dengan penutup mata hitam.
"Siapa kau?" Tanya Goro dengan suara yang lemas.
Gadis itu langsung duduk di samping Goro yang sedang berbaring dan mulai menyuapinya "Aku Quanxi, jangan banyak bicara dan makanlah" ujar Quanxi dengan senyuman.
-----flashbackend-----
"Aku terus bersamanya hingga kami memutuskan untuk menikah, dia bilang dia sangat membenci mafia karena telah membuat hidupnya menderita, aku berbohong kepadanya tentang pekerjaanku, sampai saat kau berumur tujuh bulan semuanya terbongkar" Goro bercerita panjang lebar tentang masa lalunya bersama Quanxi yang merupakan ibu dari Makima.
"Jadi setelah itu..." Aki mencoba menebak apa yang terjadi.
"Majima-ojisan, kenapa kau tidak mengatakan saja hal ini lebih awal??!!" Seru Denji kepada Goro.
"Maafkan saya tuan muda, saya tak ingin Makima-chan membenci ayah kandungnya sendiri yang merupakan seorang mafia"
"Tapi aku membencimu!!! Kau bukan ayahku!!!" Makima tetap bersikeras untuk menolak kenyataan bahwa Goro adalah ayah kandungnya.
"Aku tahu, aku tidak akan hadir lagi di kehidupanmu putriku, tapi aku ingin meminta satu hal, hiduplah dengan bahagia bersama tuan muda" Goro bersujud di depan Makima.
Sontak saja hal itu membuat semua orang terkejut. Denji, Aki, dan Reze tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, Yoshida hanya diam karena dia tahu bagaimana perasaan Goro sekarang, sedangkan Makima menjatuhkan pisau di tangannya dan menangis sejadi-jadinya.
"Aku yang memberikan kartu ATM itu kepadamu, entah sejauh apapun jarak yang memisahkan kita nanti kau akan tetap menjadi putri kesayanganku" Goro bangkit dan mulai menghampiri putrinya yang terduduk sambil menangis itu.
Pria bermata satu tersebut langsung memeluk tubuh Makima dengan erat, terlihat air mata menetes dari mata kanan milik Goro.
----------
"Sial, aku gugup" Denji mondar-mandir di ruangannya karena merasa sangat gugup.
"Hoe, seriuslah ini hari terpenting dalam hidupmu" ujar Aki yang sedang duduk di sebuah kursi.
Hari ini adalah hari pernikahan Denji dan Makima, semenjak kejadian malam itu, hati Makima luluh dan mau menerima kenyataan kalau Goro adalah ayah kandungnya. Denji pun memutuskan untuk menikahi Makima karena telah hamil dan mengandung anaknya.
Denji dan Makima terpaksa harus putus sekolah karena Denji bersikeras tidak mau menggugurkan janin yang dikandung oleh Makima. Namun, bukan hanya Denji dan Makima yang memutuskan untuk putus sekolah, Aki juga memutuskan untuk putus sekolah karena ia tidak ingin bersekolah sendirian tanpa Denji. Hanya tersisa Power sendirian lah yang terus melanjutkan sekolahnya.
"Huh, bagaimana ini aku tidak bisa tenang" Denji terus mondar-mandir karena merasa cemas.
Ia takut akan membuat acara pernikahannya berantakan karena rasa gugupnya. Sedangkan Aki bersama Pochita dan Fox terus mencoba untuk menenangkan Denji.
"Sudahlah, santai saja seperti biasa" ucap Aki.
"Hei!! Ini hari pernikahanku!! Tentu saja aku tidak bisa tenang" seru Denji kepada Aki.
"Hoe bodoh, kalau kau bisa tenang nanti kau boleh berhubungan dengan Makima sepuas mu" Aki terpaksa berkata seperti itu demi Denji agar mau tenang.
Disisi lain....
"Nee, Makima-chan aku masih tidak menyangka kalau kau akan mendahului ku" ujar Power kepada Makima yang sedang di dandani.
"Jadi, kapan kau akan menyusul, Power-san?" Ujar Makima sambil terkikik.
Pipi Power pun memerah karena mendengar pertanyaan itu "eh, apa yang kau bicarakan!!"
"Fufu... Maaf aku kira kau akan menikah juga karena Aki-san sudah putus sekolah" ucap Makima kembali.
"Huh, dasar si kuncir itu, seenaknya saja putus sekolah karena Denji" Power mendengus kesal karena Aki yang memutuskan untuk berhenti sekolah.
"Nee?? Jadi kau ingin terus bersekolah bersama Aki-san??" Makima kembali menggoda Power.
"Tidak!!!" Seru Power dengan wajah yang memerah.
"Baik, ini sudah selesai" ujar kedua wanita yang sedang mendandani Makima.
"Terima kasih" ujar Makima dengan senyuman yang manis.
"Ya ampun!!! Makima-chan kau cantik sekali!!!" Power merasa kagum ketika wajah Makima yang selesai di rias.
Rambut merah yang di ikat dan di tutupi dengan gaun putih membuat aura kecantikan Makima terpancar dengan jelas.
"Nee nee, Makima-chan pasti anakmu nanti akan cantik seperti mu!!" Mendengar ucapan dari Power itu sontak membuat Makima sedikit tersipu malu.
"Tapi, aku masih belum tahu apakah anak ini laki-laki atau perempuan" sahut Makima yang mencoba menebak-nebak kelamin bayinya.
"Kalau kau sendiri ingin perempuan atau laki-laki?" Tanya Power.
"Untukku tidak masalah laki-laki atau perempuan, tapi Denji-kun bilang dia ingin seorang putri" jawab Makima sembari mengelus-elus perutnya.
Selang beberapa menit acara pun dimulai, para tamu sudah duduk dengan rapi di depan panggung yang akan menjadi tempat Denji dan Makima mengucapkan janji suci.
Terlihat juga beberapa tamu penting seperti Pak Kishibe dan teman-teman sekelas Denji yang sudah hadir di antara tamu yang lain, bahkan Sharky terus-terusan menangis karena tidak menyangka bahwa pahlawannya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
Denji sebenarnya tidak terlalu mengundang banyak orang, ia hanya mengundang teman-temannya dan mantan anak buah ayahnya. Namun siapa sangka kalau jumlah mantan anak buah dari Shimano akan sebanyak itu.
Lonceng pun berbunyi, terlihat Denji yang sedang memakai jas berwarna putih berjalan menuju ke altar bersama Aki dan Yoshida di belakangnya.
Sedangkan dari sebrang sudah terlihat Makima yang sedang berdiri dengan sebuah buket bunga di tangannya. Makima juga memakai gaun indah berwarna putih yang sangat cocok dengan kulitnya yang cerah, Makima di dampingi oleh Power dan juga Reze di belakangnya.
"Pengantin pria silahkan untuk naik" ucap seorang pria tua yang menjadi penghulu.
Denji pun langsung naik ke altar dan langsung berhadapan dengan Makima, Denji memegang tangan Makima dan tersenyum ke arahnya.
"Makima, apa kau bersedia menerima Denji sebagai suamimu di saat sakit dan senang?"
"Saya bersedia" jawab Makima dengan senyuman.
"Denji, apa kau bersedia untuk selalu mencintai Makima di setiap detik hidupmu??"
"Saya bersedia!!" Jawab Denji dengan tegas.
"Baiklah, sekarang pengantin pria boleh mencium pengantin wanita"
Tanpa basa-basi Denji langsung memeluk tubuh Makima dan mencium bibirnya dengan penuh semangat.
Aki dan Yoshida pun di buat geleng-geleng kepala dengan tingkah Denji tersebut, sedangkan Power dan Reze menutupi mata mereka karena merasa malu.
Para tamu pun bersorak gembira karena melihat Denji dan Makima yang sudah resmi menjadi suami istri "Selamat tuan muda!!!" Seru seluruh mantan anak buah Shimano yang hadir.
"Huaaa!!! Denji-sama!!!" Sharky menangis sejadi-jadinya.
"Hah!! Denji-kun itu melanggar peraturan sekolah!! Akan aku hajar dia sekarang" pak Kishibe berdiri dari tempat duduknya dan menggulung lengan kemejanya.
"Hei hei pak!! Denji sudah keluar dari sekolah!!"
"Berhentilah pak Kishibe, jangan merusak momen ini!!"
Arai dan Angel berusaha untuk menahan pak Kishibe agar tidak menghajar Denji yang sedang berbahagia. Disaat semua orang sedang bersorak gembira, terlihat seorang pria bermata satu di tengah-tengah para mafia yang sedang berdiri dan tersenyum ke arah Makima dan Denji yang sedang berciuman.
"Quanxi-chan, anakmu mirip sekali denganmu" ucap Goro yang meneteskan air mata.
Setelah cukup lama, Denji dan Makima pun melepaskan ciuman mereka, Makima tersenyum ke arah Denji dan sudah bersiap untuk melemparkan buket bunga yang ada di tangannya.
"Eh tunggu Makima-chan biarkan aku turun dulu!!!" Power dan Reze bergegas turun ke bawah untuk ikut menangkap buket bunga yang akan di lemparkan.
Setelah semua orang telah bersiap Makima pun menghadap ke belakang dan melempar buket bunga tersebut. Semua orang yang berada di bawah mencoba menangkap buket tersebut.
"Yahaaa aku dapat!!!" Di luar dugaan ternyata Sharky lah yang mendapatkan buket tersebut.
Reze dan Power yang tak terima pun menatap Sharky dengan tatapan yang tajam.
"Kurasa, aku bisa merakit bom untuk meledakkan orang bodoh itu" ujar Reze dengan tatapan tajam yang mengarah ke Sharky.
"Ayo kita bunuh dia!!!" Power dan Reze pun mengejar Sharky yang berlari dengan buket bunga di tangannya.
"Berhenti Sharky bodoh!!!" Seru Power di tengah-tengah para tamu.
Aki yang melihat kejadian itu dari atas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya "hah, dasar gadis bodoh itu"
"Makima-san" Denji memanggil Makima yang sedang tertawa karena ulah Power dan Reze.
Makima pun menoleh ke arah Denji "Iya??"
Denji pun menarik nafas dalam-dalam dan berkata "Umm, aku ingin malam pertama nanti kita main sampai pagi".
-----THE~END-----