
Suasana pagi hari yang indah di sebuah SMA, para murid dan guru berdatangan satu-persatu ke dalam sekolah dan saling bertegur sapa satu sama lain. Nampak sekali banyak siswa dan siswi yang sudah siap menyambut pelajaran dengan semangat yang terpancar di wajah mereka, kecuali untuk dua murid laki-laki yang berdiri di depan gerbang.
"Hah... Sekolah lagi, aku ingin segera ujian dan naik ke kelas sebelas" gerutu laki-laki berambut pirang tersebut.
"Bagaimana kencanmu tadi malam?" Tanya seorang laki-laki yang menguncir rambutnya yangs sedang berdiri di sebelahnya.
"Oh iya!! Aki apa kau tau? Aku berciuman dengan Makima-san tadi malam" Ujar Denji dengan semangat.
Karena Denji berkata dengan keras, beberapa murid yang sedang lewat pun langsung memperhatikan kedua sahabat tersebut.
"Lalu?" Jawab Aki yang seolah tak peduli ketika Denji membeberkan berita tersebut.
"Sialan!! Apa kau tidak senang aku berciuman?!!" Denji merasa kesal dengan respon Aki.
"Yang berciuman itu kau, bukan aku kenapa aku harus senang bodoh!!" Aki merutuki kebodohan Denji.
"Yaa... Harusnya kau juga senang!!" Timpal Denji yang tak terima.
"Dan kenapa kau harus menunggu Makima di sini kalau bisa menunggunya di kelas!!" Aki merasa kesal karena harus menemani Denji menunggu kekasihnya di depan gerbang.
"Orang yang tak punya pacar sepertimu tak akan tahu" ledek Denji sambil menjulurkan lidahnya ke arah Aki.
Andai saja bukan Denji yang mengejeknya, pasti Aki sudah membunuh orang itu sekarang. Nampak sekali sebuah perempatan muncul di dahi laki-laki tampan berambut kuncir tersebut.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Makima sampai di SMA tersebut bersama teman baiknya yang berambut pink.
"Denji-kun!!" Panggil Makima ketika melihat kekasihnya sedang berdiri di depan gerbang.
"Makima-san" Denji pun berlari menuju Makima.
Senyuman sama-sama terulas ketika kedua pasangan kekasih itu bertemu pada pagi hari itu. Namun kebahagiaan dari Denji dan Makima itu nampaknya tak bisa menular kepada kedua sahabatnya.
Aki menatap sinis ke arah Power dan begitu juga sebaliknya, Denji tak menghiraukan kedua temannya yang sedang bertatap mata tersebut, ia menarik lengan Makima dan masuk duluan menuju ke kelas.
"Oe Denji tunggu aku bodoh!!" Aki berteriak menyusul Denji.
"Hah?!! Kau sendiri malah melamun!!" Timpal Denji.
"DASAR BODOH!!! JANGAN TINGGALKAN AKU JUGA!!" Power ikut berteriak karena dia tertinggal di belakang.
Tingkah keempat orang itu sontak membuat para siswa siswi yang lainnya kembali memasang perhatian kepada mereka.
Tak terasa, ke empat orang sahabat itu seolah-olah seperti pasangan couple yang masuk bersama ke sekolah. Denji dengan Makima dan Power dengan Aki.
Kedua temannya telah berhasil menjalin hubungan, akankah Aki dan Power bisa segera menyusul dan menepati perjanjian yang mereka buat tadi malam?
Seisi ruang kelas memperhatikan ke empat orang yang baru masuk tersebut, kedua orang masuk dengan bergandengan tangan dengan mesra dan yang dua lagi masuk dengan tatapan saling mengintimidasi.
"Power, Aki, kenapa kalian berdua bertatapan seperti itu?" Tanya salah satu teman mereka.
"Diamlah Angel!!" Power membentak temannya yang tak bersalah tersebut.
Benar-benar tipe Power classic, gadis yang cantik tapi memiliki mulut cerewet dan suara yang sangat kencang.
"Makima-san, duduklah bersamaku!!" Ajak Denji yang menuntun Makima menuju bangkunya.
Aki pun kaget mendengar kata-kata Denji tersebut "oe bodoh!! Aku duduk dimana?!!"
"Bersama Power-san" ujar Makima yang menimpali.
"Tidak mau!!!" Jawab Aki dan Power secara serentak.
"Sialan kalian benar-benar kompak" ujar Arai yang melihat drama tersebut.
"Kau mau kutinju lagi sialan?!!" Aki menatap tajam ke arah Arai.
Mengingat traumanya, Arai pun menunduk karena tak mau merasakan lagi tinjuan Aki yang sangat cepat dan kuat itu.
"Makima-chan, yang benar saja aku tak mau duduk bersama Aki!!" Power kembali protes kepada Makima.
"Tidak apa-apa, lagi pula kalian cuma teman kan?" Aki dan Power sama-sama terdiam mendengar kata-kata dari Makima tersebut.
Benar kata Makima, Aki dan Power hanyalah teman biasa. Lalu, kenapa mereka tidak mau duduk bersama kalau mereka hanya teman biasa?
Setelah perdebatan kecil itu, bel masuk berbunyi dan secara ajaib pak Kishibe langsung masuk ke kelas tersebut. Sekarang, mau tak mau Aki harus duduk bersama Power.
Mereka berdua duduk bersama dengan tatapan yang saling menjauhi, tak lupa juga Aki menggeser kursinya agar sedikit menjauh dari Power.
"Selamat pagi anak-anak" sapa pak Kishibe.
"Selamat pagi pak" jawab para murid dengan serentak.
"Saya punya berita gembira hari ini, karena sebentar lagi kalian akan ujian, maka sekolah memutuskan untuk mengadakan rekreasi agar kalian bisa melakukan relaksasi sebelum ujian" ujar pak Kishibe yang sedang membagikan kabar gembira tersebut.
Banyak dari murid yang bersorak kegirangan ketika mendengar pengumuman dari pak Kishibe tersebut, hanya Aki, Power, dan Makima lah yang terlihat biasa saja.
"Wuhu!!! Akhirnya ada rekreasi!!" Sorak Denji dengan penuh semangat.
Sesaat, ia heran melihat kekasihnya yang menampilkan ekspresi yang biasa saja "Makima-san, apa kau tidak senang berekreasi?"
"Nee? Rekreasi itu apa?" Makima bertanya dengan wajah polosnya.
"Haa?!! Serius Makima-chan kau tidak tau rekreasi itu apa?" Power yang sedang duduk di depannya pun terkejut karena mendengar Makima yang tak paham tentang rekreasi.
"Kita akan berjalan-jalan ke suatu tempat, bersama satu sekolah" Aki mencoba menjelaskan kepada Makima maksud dari pengumuman pak Kishibe tersebut.
"Yaa itu benar!! Nanti kita juga bisa jalan-jalan berdua!!" Denji semakin bersemangat ketika membayangkan jalan-jalan kembali bersama Makima.
"Begitukah?? Kalau begitu aku ikut" Makima menganggukan kepalanya.
"Eh?? Tentu saja kau harus ikut!! Kalau kau tidak ikut nanti kau rugi!! Ikut atau tidak ikut tetap wajib membayar" Power merasa gemas dengan kata-kata Makima.
"Oiya, pak Kishibe!! Berapa biayanya?" Tanya Denji kepada pak Kishibe.
"Ah tidak, sekolah yang akan membiayai kali ini, jadi kalian tidak perlu membayar biaya perjalanan" lagi-lagi pengumuman yang membahagiakan itu membuat para murid bersorak.
"Lalu, kita akan berekreasi dimana?" Tanya Arai yang merasa penasaran.
"Ke pantai" jawab pak Kishibe dengan santainya.
Para murid pun seketika berhenti bersorak ketika tahu kemana tujuan rekreasinya.
"Oeoeoe pak!! Apa anda bercanda?? Kalau ke pantai jalan kaki saja bisa!" Protes Denji yang tak terima dengan tujuan rekreasi tersebut.
"Kalau begitu Denji-kun, kau jalan kaki saja biar yang lain naik bis" wajah Denji menunjukkan ekspresi kecewa ketika mendengarnya.
Kalau ia tahu lebih awal rekreasinya akan ke pantai, dia tak perlu bersemangat seperti tadi.
"Kenapa tidak ke tempat pariwisata yang lain?" Tanya murid yang lainnya.
"Yaa benar!! Kalau hanya ke pantai saja kami tidak ikut" seru Power dari tempat duduknya.
"Ya ampun, apa kalian tidak mau ke pantai di pulau Onikawa?" Pak Kishibe menjelaskan kembali secara rinci tentang tujuan sebenarnya rekreasi yang akan dilaksanakan.
"Onikawa?"
Mereka awalnya mengira kalau rekreasi itu akan dilakukan di pantai yang terletak di kota mereka, ternyata pantai yang di maksud adalah pantai yang terletak di pulau Onikawa.
"YAAA!!!!!!" Denji kembali berteriak dengan penuh semangat.
"Onikawa??" Aki bergumam kecil ketika mendengar kata tersebut.
-----flashback-----
"Aki-kun!!! Kalau nanti kita menikah aku ingin bulan madu di pulau Onikawa!!" Seru Himeno yang sedang berjalan di samping Aki.
"Tak mau" jawab Aki dengan cuek.
"Oh ayolah!!" Himeno kembali merengek seperti anak kecil.
"Himeno-san, aku tidak mau memikirkan pacaran atau pernikahan dulu" lagi-lagi Aki berkata dengan logat dinginnya.
"Kenapa kau terus bersama si Denji itu!! Lagi pula dia sudah besar kau tidak harus menjaganya terus menerus" gerutu Himeno yang kesal karena Aki lebih memperhatikan Denji dari pada dirinya.
Tanpa menjawab satu kata pun, Aki terus meneruskan langkah kakinya, ia ingin cepat-cepat menemui Denji yang sudah menunggunya di kantin.
Sesampainya di kantin, Aki mencoba mencari keberadaan Denji, matanya menelisik setiap sudut kantin untuk mencari keberadaan sahabatnya tersebut.
"Dia tidak ada disini, lebih baik kau duduk bersamaku saja!!" Ujar Himeno yang juga ikut mencari keberadaan Denji.
"Himeno-san, kalau kau pergi sekarang aku akan mengajakmu ke pulau Onikawa" ucap Aki yang merasa sedikit kesal dengan Himeno.
"Ah, benarkah?!! Kau berjanji Aki-kun?!!" Himeno tersenyum dengan penuh antusias.
"Iya, sekarang pergilah dulu"
-----flashbackend-----
Hampir saja Aki menumpahkan air mata ketika mengingat momen tersebut, momen dimana ia belum mengatakan isi hatinya kepada Himeno, momen dimana ia masih mengabaikan gadis yang mencintainya tersebut.
Janji hanya tinggal janji, Aki pernah berjanji kepada Himeno akan mengajaknya jalan-jalan ke pulau Okinawa. Namun, hingga akhir hayatnya Himeno janji itu tak pernah Aki tepati.
Setiap Himeno menagih janji tersebut Aki selalu mencoba untuk mengundurkan janjinya tersebut, hingga Himeno sendiri lelah karena Aki yang selalu mengundur janjinya.
Apakah Aki menyesal? Yaa tentu saja ia menyesal karena telah mengingkari janjinya kepada Himeno, namun setidaknya ia tetap bisa memenuhi janjinya untuk selalu bersama Denji.
"Oe kuncir, kenapa matamu merah?" Power tiba-tiba bertanya kepada Aki karena melihat mata laki-laki tersebut yang tiba-tiba memerah.
"Huh, Aki apa matamu sakit?" Ujar sahabat Aki yang berambut pirang dan bodoh itu.
"Aki-san, apa kau teringat akan sesuatu?" Makima mencoba bertanya kepada Aki.
Namun Aki tak menanggapi pertanyaan dari teman-temannya tersebut dan lebih memilih untuk membuang mukanya "diamlah, aku tidak apa-apa"
"Bodoh!! Kau mau menangis kan?!!" Aki sedikit terkejut mendengar kata-kata gadis berambut pink di sampingnya tersebut.
Namun, sebisa mungkin ia menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
"Power bodoh!! Aki tidak mungkin menangis tanpa sebab!!!" Denji merutuki Power yang dengan terang-terangan menuduh Aki menangis.
"Denji-kun" Makima memegang lengan Denji mengisyaratkannya untuk diam.
"Aku ingin ke toilet" Aki bangkit dari tempat duduknya dan meminta izin kepada pak Kishibe.
"Pak, saya izin ingin ke toilet"
"Ah silahkan Aki-kun" setelah mendapatkan izin dari pak Kishibe, Aki langsung berlari keluar.
"Huh? Dasar anak itu, apa dia sudah tak tahan??" Denji merasa heran dengan sahabatnya tersebut.
"Denji-kun, susul dia" sahut Makima yang tiba-tiba menyuruh Denji untuk menyusul Aki ke toilet.
"Haa?!! Untuk apa aku menyusulnya??" Denji keheranan dengan permintaan kekasihnya tersebut.
"Sudahlah" Makima kembali menatap Denji dengan yakin.
Karena Denji sama sekali tak bisa menolak permintaan kekasihnya tersebut, akhirnya ia juga meminta izin kepada pak Kishibe untuk menyusul Aki menuju toilet.
"Makima-chan, mengapa kau menyuruh Denji menyusulnya?" Tanya Power yang keheranan.
"Aki-san sedang terluka, dia butuh sahabatnya"
...----------------...
Aki menangis di depan kaca toilet, air matanya yang dari tadi ia tahan sekarang telah tumpah membanjiri pipi laki-laki tersebut. Aki menyesal telah mengingkari janjinya untuk mengajak Himeno berjalan-jalan ke pulau Onikawa.
Sekarang, ia akan ke pulau tersebut namun tanpa Himeno di sisinya.
Aki masuk ke toilet pria, namun ia tidak masuk ke dalam kamar toilet, ia menangis di wastafel yang terletak di depan pintu kamar toilet.
Sebenarnya ada beberapa siswa yang masuk ke toilet, mereka heran melihat laki-laki yang sedang menangis tersedu-sedu di depan cermin wastafel.
Namun karena yang menangis itu adalah Aki Hayakawa, tentu saja mereka tak berani mengusik atau mentertawakannya.
"Maafkan aku!! Anata maafkan aku!!!"
*Prank....
Aki meninju cermin yang berada di depannya hingga pecah, darah mengalir di tangan kanannya Aki, rasa sakit di tangannya itu tak sebanding dengan rasa sakit yang ia derita karena kehilangan Himeno.
"Aku tak berguna... Menepati janjiku saja aku tidak bisa!!!" Aki merutuki dirinya sendiri, ia benar-benar merasa tak berguna sebagai seorang lelaki.
Aki menunduk, tak ada yang bisa dilakukan oleh Aki sekarang selain menyesal, walaupun sebenarnya penyesalan Aki juga tidak ada gunanya karena penyesalan tak bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati.
"Bodoh!! Kenapa kau tidak bercerita kepadaku!!" Aki tiba-tiba di kejutkan dengan suara Denji yang berada di belakangnya.
"Aki, masalahmu adalah masalahku, rasa sakitmu adalah rasa sakitku, kau tidak harus menanggung semuanya sendirian" Denji berjalan dengan pelan menuju sahabatnya yang sedang menangis tersebut.
"Sialan!! Kenapa kau melihatku menangis kembali!!" Aki kembali memarahi Denji karena telah melihatnya menangis.
"Aku adalah orang yang bodoh, tapi aku tahu kalau Himeno-san tak mau kau terus menangisinya" entah apa yang merasuki Denji hingga ia bisa mengatakan kata-kata seperti itu.
Denji memeluk tubuh sahabatnya tersebut, ia benar-benar hancur ketika melihat sahabat semata wayangnya itu menangis.
"Kau dan aku, kita mengenal sejak kecil, kita bisa melalui ini bersama" Denji kembali mengucapkan kalimat mutiara di tengah pelukan mereka.
"Dasar bodoh!! Jangan berkata seperti orang sok pintar begitu!" Aki berdecak kesal karena Denji yang berbicara layaknya seorang pujangga.
"Aki, kalaupun kau menginginkan semua hartaku, aku bisa memberikannya kepadamu, namun syaratnya kau tidak boleh hancur lagi"
Denji melepaskan pelukannya, ia menatap mata sahabatnya tersebut seolah-olah ia juga mengerti perasaan Aki sekarang.
"Denji, bolehkah aku minta satu hal darimu?" Aki melontarkan pertanyaan kepada Denji.
"Kau boleh minta 100 hal kepadaku"
"Aku ingin, kau tidak merasakan apa yang aku rasakan"
-----TOBECONTINUED-----