
Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik telah berlalu, terdapat lima orang yang tengah menunggu di depan pintu ruangan operasi dengan perasaan cemas.
Aki, Power, Makima, Sharky, dan Yoshida yang baru datang masih menunggu kepastian dari operasi yang dijalani Denji.
Mereka semua hanya bisa berharap dengan keadaan. Tanpa bisa berbuat apa-apa mereka hanya berdoa untuk keselamatan Denji.
Sunyi sepi yang mereka rasakan saat ini, malam yang semakin larut dan suasana rumah sakit yang sepi semakin menambah rasa khawatir mereka.
Sudah hampir 3 jam sejak Denji di operasi dan masih belum ada kepastian apakah operasinya berhasil atau gagal.
Hanya suara detik jam yang terdengar di lorong itu sekarang. Benar-benar perasaan yang mereka inginkan sekarang.
Hanya karena satu orang wanita sahabat mereka harus menderita seperti itu.
Di tengah mereka yang sedang berharap dan juga berdoa, pintu operasi pun terbuka dan seorang dokter keluar dari ruangan itu.
Rasa cemas dan rasa khawatir semakin besar dalam hati mereka, dengan badan yang gemetar Power pun bertanya kepada dokter itu.
"Bagaimana keadaan pasien?" Tanya gadis bersurai merah muda itu.
"Operasinya berhasil, pasien kini sedang beristirahat" jelas dokter tersebut.
Mendengar kabar itu membuat mereka semua lega, penantian dan doa yang mereka panjatkan kini terbayar sudah.
"Apakah kami sudah boleh melihatnya??" Aki bertanya kepada dokter tersebut.
"Boleh saja tapi kalian harus bergantian, hanya dua orang saja yang boleh masuk" dokter itupun pamit pergi setelah mengatakan itu.
"Aku dan Power-san akan masuk duluan" Makima mengajukan dirinya.
Aki dan yang lainnya hanya mengangguk tanda setuju. Setelah itu mereka berdua masuk ke ruang operasi dan memakai pakaian khusus dan masker.
Mereka pun menghampiri meja operasi Denji. Power meneteskan air matanya ketika melihat Denji terbaring lemas dan memakai oksigen.
"Denji, bangunlah cintamu ada disini" Power memegang tangan Denji dan Makima bersamaan.
Namun, karena masih dalam pengaruh obat bius, Denji pun tak bisa mendengar apapun dan tak bisa merasakan apapun.
Makima perlahan mendekati Denji dan memegang tangannya "Denji-kun, aku tau siapa yang melakukan ini kepadamu, ketika kau bangun nanti... Kau akan ku jadikan milikku sepenuhnya" gadis berambut merah itu menatap Denji dengan sendu.
Nampak dari sekarang, Makima sudah sepenuhnya mencintai Denji. Ia telah melupakan masa lalunya yang kelam dan telah memaafkan perbuatan ayah Denji terhadapnya.
Power yang mendengar kata-kata Makima itu merasa tenang, sebuah senyuman manis terpancar dari bibir gadis cerewet itu.
Ia senang tujuannya untuk menyatukan Makima dan Denji telah berhasil.
Power dan Makima melanjutkan dengan mengajak Denji berbicara. Mereka sesekali bercanda dan tertawa di samping Denji.
Denji hanya diam dan tertidur di samping pembicaraan Power dan Makima. Setelah merasa cukup lama, mereka berdua pun keluar untuk bergantian dengan yang lainnya.
Setelah keluar, kini gantian Aki dan Sharky yang ingin menjenguk Denji.
Sebenarnya Sharky sudah menawarkan kepada Yoshida untuk masuk bersama Aki, akan tetapi ia menolak dengan alasan ada hal yang ingin ia lakukan sendiri.
Sharky dan Aki berganti pakaian sama seperti yang dilakukan oleh Power dan Makima, mereka pun perlahan mendekati meja operasi Denji.
"Hiks, Master... Seharusnya aku saja yang berada di posisimu sekarang" Sharky menangis ketika melihat kondisi Denji.
Walaupun operasi Denji berjalan dengan lancar namun ia tak tega melihat malaikat penolongnya itu menderita seperti ini.
Bahkan, seorang Aki Hayakawa yang terkenal dingin dan cuek sampai meneteskan air matanya.
"Oe bodoh, apa yang kau lakukan!! Mulai sekarang aku tidak akan mengikuti rencana bodoh mu" Aki berkata dengan tubuh yang bergetar karena terisak-isak.
Kedua laki-laki cengeng itu sekarang sedang meratapi penderitaan Denji sekarang.
Mereka tak menyangka kalau sahabat dan pahlawan mereka itu baru saja selamat dari maut.
"Master, bila kau sudah bangun nanti... Aku akan menjadi pengawalmu" Sharky mengucapkan Janji di samping pahlawannya yang sedang tertidur itu.
"Bodoh, kau bisa apa?! lebih baik aku saja yang menjadi pengawalnya" ejek Aki sambil menangis.
"Kau yang bodoh!!" Timpal Sharky yang tak terima karena kata-kata Aki.
Mereka sempat berdebat kecil soal siapa yang akan menjaga Denji ketika sudah bangun lagi.
Setelah puas dengan perdebatan kecil mereka, akhirnya mereka pun bergegas keluar.
Kali ini, hanya tinggal Yoshida saja yang belum melihat Denji. Setelah ia melihat Aki dan Sharky keluar, ia pun langsung bergegas masuk dan mengganti bajunya.
Sesampainya di samping meja operasi Denji, ia langsung sujud menghadap ke meja operasi.
"Maafkan, maafkan kelalaian saya!!" Yoshida membenturkan kepalanya dengan lantai berulang kali.
Jika dilihat dari yang lain, Yoshida lah yang merasa paling bersalah. Ia mendapat kewajiban untuk menjaga Denji dan ia lalai, karena itulah Denji bisa berada di ruang operasi sekarang.
"Tuan muda, saya mohon jangan seperti ini lagi. Jika anda mati mendahului saya, saya tidak akan mampu bertemu Shimano-san di akhirat" air mata mulai turun membelah pipinya.
Tak disangka, seorang mantan mafia seperti Yoshida juga bisa menangis.
Andai saja operasi Denji gagal dan Denji tak selamat, sudah pasti Yoshida juga akan mengakhiri hidupnya sekarang.
----------
"Hihi.. hihihahahaha" sebuah tawa yang menyeramkan mulai terdengar di sebuah ruangan.
Semua orang yang berada di ruangan itu memegang senjata masing-masing, tak sedikit dari mereka yang merasa ketakutan karena mendengar suara itu.
"DENGAR KALIAN SEMUA!!! APAPUN YANG TERJADI JANGAN TUNJUKKAN RASA TAKUT KALIAN!!" Gun Devil mengumumkan hal itu kepada semua anak buahnya.
"Siap pak!!!" Jawab mereka semua secara serentak.
Mereka semua tau betul betapa berbahayanya orang yang sedang menuju ke ruangan mereka tersebut.
Bahkan bos mereka sendiri yang terkenal bengis dan kejam sampai pikir-pikir bila ingin berususan dengan pria tersebut.
"Hahahaha!!!" Suara itu semakin keras terdengar, nampak kalau pria tersebut sudah semakin dekat menuju ruangan itu.
*Tok tok tok
Semua orang terkejut dan tertegun ketika mendengar suara ketukan di pintu. Tak disangka, orang yang mereka takutkan sudah berada di balik pintu besar itu sekarang.
"Buka!!" Perintah Gun Devil kepada anak buahnya yang berdiri di ambang pintu.
Dua anak buahnya yang sedang berdiri pun kini beranjak menuju gagang pintu, dengan tangan gemetaran mereka mulai membuka pintu itu dengan perlahan-lahan.
Ketika pintu itu sudah sepenuhnya terbuka, nampak seorang pria kurus tinggi sedang memegang dagger di tangan kanannya.
Gun Devil yang sudah dari tadi bersiap akan kedatangannya itupun langsung menodongkan senjata ke arah pria tersebut.
Para anak buahnya pun juga mengarahkan senjatanya kearah pria tersebut untuk mengintimidasi.
Namun, pria tersebut tak takut sama sekali. Sebaliknya, ia malah dengan santainya berjalan memasuki ruangan tersebut sambil memainkan daggernya.
"Lama tak jumpa, Gun-chan hihihahaha" sapa pria itu dengan tawa menyeramkannya.
"Tck, Goro Majima" jawab Gun Devil.
Nampaknya berita mengenai Goro yang akan mendatangi Gun Devil itu ternyata benar, ia benar-benar mendatangi Gun Devil.
Namun, Gun Devil benar-benar tak menyangka kalau pria itu datang sendirian tanpa pengawalan satupun.
"Hehh kau datang sendirian, apakah kau ingin menyerahkan nyawamu Majima??" Perasaan takut yang tadi sempat melanda dirinya kini telah sirna begitu melihat Goro datang seorang diri.
"Hmm?? Kita tidak sama Gun-chan, aku besar karena kekuatanku kau besar karena anak buahmu" ledek Goro sambil tersenyum sinis.
Gun Devil benar-benar dibuat murka oleh ulahnya itu, ia merasa di remehkan oleh Goro.
Akan tetapi, ancaman itu nampaknya tidak membuat nyali Goro menciut sedikitpun. Malahan, ia malah menantang Gun Devil untuk menembak dirinya.
"Bunuhlah aku Gun-chan!!! Jika kau membunuhku namamu akan semakin besar!!!" Perkataan Goro itu seketika menimbulkan aura membunuh di ruangan itu.
Namun anehnya, aura itu tidak muncul dari Gun Devil. Melainkan Goro lah yang menciptakan aura mengerikan itu.
Aura itu berhasil mengintimidasi semua anak buahnya Gun Devil, banyak dari mereka yang membuang senjata mereka, melihat Goro yang sedang memainkan daggernya membuat mereka merinding.
Seketika, Santa langsung menembak semua anak buah yang membuang senjatanya. Ia memakai gatling gun dan menembaki mereka secara membabi-buta.
Para anak buah yang lainnya pun langsung memegang senjatanya erat-erat. Mereka tak mau bernasib sama dengan teman-teman mereka.
Walaupun tembakan dari Santa itu membabi buta, namun ia memiliki akurasi yang sama gilanya dengan Gun Devil.
Tembakan itu hanya mengenai orang yang membuang senjatanya saja.
"Oeoeoe Gun-chan, mengapa kau membunuh anak buahmu?" Goro bertanya layaknya anak kecil yang polos.
Lagi-lagi Gun Devil merasa kalau ia telah di remehkan oleh Goro. Namun, tetap saja ia tak bisa melakukan apa-apa.
Walaupun ia sudah memegang pistol di tangannya, namun ia tak bisa menarik pelatuk itu. Padahal, kalau ia menarik pelatuknya sudah pasti Goro akan tertembak dan mungkin tak akan selamat.
Tapi aura yang Goro keluarkan jauh lebih mengerikan dari akurasi tembakan Gun Devil. Aura itu mampu mengintimidasi Gun Devil agar tidak menarik pelatuknya.
"Apa yang kau inginkan dariku Majima?!!!" Gun Devil menanyakan maksud dari kedatangan Goro.
"Tentu saja, aku ingin menghentikan rencanamu untuk membunuh tuan muda!!!" Kali ini, Goro menjawab dengan wajah yang serius.
Ia benar-benar tak main-main kali ini, ia menghapus senyuman sinis yang ada di wajahnya dan menggantinya dengan tatapan yang tajam ke arah Gun Devil.
Gun Devil pun merasa terintimidasi dengan tatapan tersebut. Namun, karena ia tak ingin terlihat lemah di hadapan anak buahnya ia pun menentang Goro.
"JANGAN BERCANDA MAJIMA!!! MEMBUNUH ANAKNYA SHIMANO ADALAH KEWAJIBAN BAGIKU!!!" Gun Devil berteriak ke arah Goro.
"JANGAN BERCANDA GUN-CHAN!!! MELINDUNGI ANAKNYA SHIMANO-SAN ADALAH KEWAJIBAN BAGIKU!!!" Goro membalas teriakan itu dengan nada yang sama.
Para anak buah yang mendengar itu pun merasa heran, orang itu benar-benar gila karena berani berteriak kepada bos nya.
"Oeoeoe ini bercanda kan??" Santa pun juga heran karena ada manusia di bumi ini yang berani membentak Gun Devil.
"JANGAN MEREMEHKAN AKU MAJIMA!!! AKU BISA SAJA MEMBUNUH MU DISINI BILA AKU MAU!!!" kali ini, Gun Devil yang berusaha untuk mengintimidasi Goro.
Namun, teriakan mengerikan dari Gun Devil seolah hanya angin lalu baginya. Ia tak sedikitpun merasa terintimidasi oleh banyaknya orang di ruangan itu.
Goro mulai memunculkan senyum sinisnya kembali, tak diduga, senyuman itu mampu mengintimidasi kembali Gun Devil.
Melihat senyuman itu, Gun Devil seolah melihat iblis yang sedang tersenyum kepadanya.
"Jangan main-main denganku bocah!! Jika aku sudah mengatakan perintah maka kalian semua harus mematuhinya!" Goro pun mulai berjalan pergi setelah mengatakan hal itu.
Semua orang di ruangan itu pun hanya terdiam dan tetap menodongkan senjata mereka.
Bahkan Gun Devil pun juga hanya terdiam sambil melihat Goro berjalan keluar.
Tangannya seolah-olah terpaku oleh sesuatu yang tak kasat mata, ia ingin menarik pelatuk di pistolnya namun ia merasa tak bisa melakukannya.
Mulutnya juga seolah tak mampu untuk memberikan perintah kepada anak buahnya untuk menembak Goro.
Padahal, jika dipikir secara logika, sekuat apapun Goro tidak mungkin ia mampu menang melawan orang sebanyak itu. Apalagi semuanya bersenjata lengkap.
Jadi, semengerikan apakah aura dari Goro Majima??
----------
"Hoammm.... Sudah jam setengah 6, harusnya aku menyeduh kopi saat ini" Aki baru terbangun dari tidurnya.
Dia, Yoshida dan Makima memutuskan untuk tidur di rumah sakit menemani Denji.
Kini Denji telah pindah kamar, ia di pindahkan ke ruangan biasa setelah operasi. Power dan Sharky memutuskan untuk pulang karena mereka harus bersekolah.
Sebaliknya, Aki dan Makima lebih memilih untuk menjaga Denji di rumah sakit.
Aki ingin menjaga Denji karena ingin melindungi sahabat satu-satunya itu, Makima ingin menjaga Denji karena Denji adalah cinta pandangan pertamanya, dan Yoshida ingin menjaga Denji karena kewajibannya.
Aki pun mulai bangkit dari sofa, ia melihat ke ranjang yang Denji tempati. Denji masih belum sadar pasca operasi semalam.
Makima bertanya kepada dokter dan dokter mengatakan kalau itu adalah hal yang wajar, Denji di berikan obat bius dengan dosis yang cukup tinggi.
Setelah mengecek keadaan dan infus Denji, Aki pun berjalan keluar. Ia ingin jalan-jalan di rumah sakit sebentar untuk mencari kopi.
Dimana pun dia berada, Aki Hayakawa tak akan mampu melewati pagi tanpa secangkir kopi.
Matanya memandang dan mencari ke setiap sudut rumah sakit, hingga ia menemukan mesin penjual minuman. Ia pun menghampiri mesin tersebut.
Senyum terukir di bibirnya ketika ia melihat mesin itu juga menjual kopi dalam bentuk kaleng.
"Hmm, kopi dingin? Ini pertama kalinya dalam hidupku" gumam Aki ketika memasukkan koin ke dalam mesin tersebut.
Setelah selesai, ia langsung mengambil kopinya dan membukanya. Aki menikmati kopi itu sambil berjalan-jalan di koridor rumah sakit.
"Hmm, suasana pagi di rumah sakit lumayan juga" ia menikmati suasana pagi di rumah sakit itu.
Karena ini masih cukup pagi jadi suasana di rumah sakit itupun masih sepi. Suasana seperti inilah yang disukai Aki, suasana yang sangat menenangkan pikiran.
Setelah selesai mengelilingi rumah sakit, ia pun memutuskan untuk kembali lagi ke kamarnya Denji. Ia membuang kaleng kopinya yang telah habis ke tempat sampah.
Sambil bersenandung kecil, akhirnya ia sampai di depan kamar Denji. Aki membuka pintu kamar itu secara perlahan-lahan.
Ketika ia masuk, ia terkejut melihat pemandangan yang mengharukan. Makima menangis sambil memeluk Denji yang terduduk di ranjangnya.
Denji pun juga membalas pelukan itu sambil memejamkan matanya, nampak juga Yoshida yang melihat dua insan itu berpelukan dengan tersenyum di tempat duduknya.
Setelah selesai dengan pelukannya, Denji melepaskan tubuh Makima secara perlahan-lahan.
Ia pun membuka matanya dan langsung melihat Aki yang sedang berdiri di depan pintu.
"Yo Aki, lihatkan aku tidak mati!!" Sapa Denji dengan senyuman.
Aki pun tak kuasa menahan air matanya ketika mendengar kata-kata itu, tanpa sadar ia langsung berlari dan memeluk Denji.
Kedua sahabat itu memang sudah seperti saudara sendiri, sering bertengkar karena sesuatu yang konyol akan tetapi juga tak ingin saling kehilangan.
"Oe bodoh!! Jika kau mengulangi lagi akan kubunuh kau!!" Aki berkata sambil terisak-isak di bahunya Denji.
"Ohh Yoshida-san!! Kau juga ada disini??" Sapa Denji ketika ia menyadari Yoshida juga berada di ruangannya.
Yoshida pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Denji, tanpa aba-aba apapun, ia langsung membungkuk di depan Denji "maafkan saya tuan muda".
"Yoshida-san, angkat kepalamu!!! Itu perintah!!!" Denji memerintahkan Yoshida untuk mengangkat kepalanya.
Ia merasa kalau Yoshida sama sekali tak bersalah dalam hal ini, ia seperti ini karena kecerobohannya sendiri yang mengakibatkan dirinya terluka.
Yoshida pun langsung mengangkat kepalanya dengan tegak setelah mendengar perintah dari Denji.
Tatapan Denji kepada Yoshida seolah mengisyaratkan kalau dia baik-baik saja.
"Denji-kun, jangan pernah dekati Reze lagi" Makima tiba-tiba berkata di tengah momen Denji dan Yoshida.
Mendengar kata Reze lagi, raut wajah Denji berubah menjadi sedih. Ia benar-benar tak menyangka kalau crush keduanya itu adalah orang yang sedang memburunya.
*Sialan, setelah yang ia lakukan kepadaku aku masih mencintainya* gumam Denji dalam hati.
-----tobecontinued-----