
*kringggg.....
Suara deringan dari jam weker tersebut berhasil membuat Aki terbangun dari tidurnya, sambil mengucek matanya, ia mencoba meraih jam weker tersebut.
"Emm... Ternyata masih jam setengah 6, kurasa aku terlalu cepat menyetel alaramnya". Aki bergumam sambil mencoba untuk mengumpulkan kembali nyawanya.
Dia merasa kalau dia kurang tidur, sehabis pulang dari kerjanya, dia selalu menonton tv terlebih dahulu.
Padahal dia sendiri masihlah seorang pelajar dan harus bisa bangun tepat waktu di pagi hari.
Masalahnya, menurut Aki, pelajar itu harus bangun tepat jam 6 pagi, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang, dia sangat perfeksionis dalam segala hal.
"Hmm... Hari ini minum kopi yang mana yaa...". Dia berdiri di sebuah rak yang didalamnya sudah tersusun toples berisi bermacam-macam kopi.
Setelah berpikir lumayan lama, akhirnya dia mengambil sebuah toples yang bertuliskan "Green coffe"
"Kudengar kopi hijau bisa membuat pikiran tenang". Setelah menentukan pilihannya, ia langsung merebus air dan mulai meracik kopinya.
Meracik kopi bukanlah hal yang sulit bagi Aki, karena ia sendiri juga seorang barista, bisa dibilang dia cukup handal untuk membuat kopi yang nikmat.
Sambil menunggu airnya panas, dia memutuskan untuk mandi, dia meraih handuknya dan mulai berjalan ke kamar mandi.
Hingga tiba-tiba....
"Woff.... woff". Sebuah suara dari hewan kesayangannya mengagetkannya.
"Ahh fox kau juga sudah bangun". Sambil tersenyum dia mengelus-elus hewan peliharaan kesayangannya itu.
Aki memelihara seekor rubah albino kecil yang dia dapat dari mendiang ayahnya, rubah itu sangat penurut dan jinak, Aki pun juga sangat menyayangi dan menjaga hewan peliharaannya itu, setidaknya... Dia tidak akan sendirian kalau dirumah.
"Iya-iya aku tau kau ingin sarapan kan??". Mendengar tawaran dari majikannya itu, membuat rubah itu sangat senang sampai sampai dia meloncat dan menjilati Aki.
Tanpa pikir panjang, Aki segera mengambil makanan dan wadah dari lemari untuk memberi makan rubah kecilnya yang imut itu.
Setelah selesai dengan hewan peliharaannya, ia melanjutkan langkahnya ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Setelah Aki kembali segar, dia mematikan kompor dan menuangkan air panas ke cangkirnya, setelah itu, dia lanjut mengambil bahan makanan lain dari kulkasnya.
"Ahh... Celaka, aku lupa kalau rotiku sudah habis". Karena keteledorannya sendiri, akhirnya Aki hanya sarapan dengan meminum kopi pagi ini, dia memakai Hoodie dan celana pendek selutut. Tak lupa, dia juga mengambil koran dari depan pintunya sebelum menuju balkon apartemennya.
Dia mulai membaca korannya dan menyeruput kopinya secara perlahan.
"Hmm, cukup nyaman juga minum kopi sepagi ini". Suasana yang sangat menenangkan di apartemen Aki hari ini, dia memang suka bersantai di balkon apartemennya sebelum sekolah.
Menikmati udara pagi dan meminum kopi adalah hal yang sangat menenangkan bagi Aki.
Namun, tidak semua orang di kota itu bisa mengalami ketenangan seperti Aki, contohnya seperti yang dialami oleh sahabatnya...
*Denji house
*Guk.. guk*
Seekor anjing berwarna oranye mencoba untuk membangunkan majikannya yang masih pulas tertidur.
"Ahhh Pochita.... Diam lah aku masih ngantuk". Yaa Denji sangat berbanding terbalik dari sahabatnya kalau soal bangun pagi, kalau Aki suka bangun tepat waktu, maka kalau Denji ini ya kebalikannya.
*Rawrrr*... Sebuah gigitan dari anjing tersebut akhirnya membuat Denji menyerah, dengan kesal dia berusaha bangun, "Padahal masih jam 6 pagi" dengan mata masih setengah terpejam dia mencoba untuk mencari keberadaan handuknya.
"Hahhh aku sangat tidak bersemangat pagi ini" Denji bilang sambil menunduk.
*Augg... Gukk* anjing kecil itu seolah mengerti kalau majikannya itu telah mengalami sesuatu.
Dia seolah mengajak bicara Denji dengan cara menggonggong, dan Denji pun juga seolah mengerti kalau anjingnya itu mencoba mengajak nya bicara.
"Hahh apa kau tau Pochita?? Tadi malam aku hampir kencan dengan wanita cantik, tapi...... Power sialan itu menggagalkannya!!!" Denji sangat geram dengan Power, bagaimana tidak? Andai saja tadi malam Power tidak berniat untuk menginap di apartemennya Makima sudah pasti tadi malam dia akan kencan dengan gadis idamannya itu.
Seolah mengerti apa yang majikannya rasakan, Pochita langsung mendekati dan mengeluskan kepalanya ketangan Denji.
"Yahh setidaknya Pochita, kau akan melihatku menggapai impian ku sekarang" Denji mungkin sudah membulatkan tekatnya untuk mendapatkan Makima, tapi apa akan semudah itu?.
----------
"Power-san, ayo bangun kita harus bersiap-siap" Makima menggoyangkan tubuh Power, bermaksud untuk membangunkannya.
"Hnggghhh... 5 menit lagi" dengan nyawa yang masih belum terkumpul sama sekali dan mata terpejam, Power berusaha untuk menjawab Makima.
"Tapi Power-san, aku sudah menyiapkan sarapan, dan kita bisa terlambat nanti kalau kau tidak bangun sekarang". Mendengar kata sarapan, Power tiba-tiba bangun dengan penuh semangat.
"SARAPAN??!!! AKU DATANG!!!!" ntah kerasukan setan dari mana, Power yang semulanya tidur seperti orang mati tiba-tiba langsung bangkit.
Makima tersentak ke belakang karena ulah Power, kemudian dia langsung tersenyum karena telah mengetahui trik jitu untuk membangunkan temannya yang satu ini.
"Tunggu Power-san... Kau harus mandi dulu sebelum sarapan" Makima mencoba menasehati Power karena rambutnya sangat acak-acakan.
"Makima-chan, kita harus mementingkan makan dari apapun!!" tanpa rasa berdosa, power langsung meneguk segelas susu hingga habis dan langsung melahap sandwich yang ada di meja.
Makima yang melihat hal itu hanya terkekeh pelan, dia baru tau kalau semua sahabat barunya itu sangat konyol.
----------
"Aki... Kenapa kau tidak menungguku untuk berangkat sekolah" baru saja tiba di kelas Denji langsung menggerutu kepada sahabatnya karena tak menunggunya untuk berangkat.
"Kalau aku menunggumu bisa-bisa kau mengajakku bolos lagi" Mendengar apa yang dikatakan oleh Aki, Denji hanya cengingisan.
"Hehe, tentu saja tidak, aku akan belajar tertib mulai sekarang" timpal Denji.
"Huh??... Kau belajar tertib?" Aki tentu saja tidak langsung percaya dengan perkataan temannya itu.
Tentu saja, murid seperti Denji ingin belajar tertib?? Dunia sedang tidak baik-baik saja.
"Benar" dengan percaya diri Denji menjawab pertanyaan Aki.
"Huh... Palingan kau cuma tertib selama dua hari saja, hahahah" Aki tertawa terbahak-bahak setelah mengejek Denji, sebaliknya Denji terlihat sangat sebal.
"Oioioi tentu saja tidak, mulai sekarang aku janji akan tertib terus sampai kita lulus" muka Denji mengerut setelah mengatakan hal itu.
Bukannya didukung dan membantu niatnya, Aki malah mengejeknya karena menurutnya ia hanya main-main.
"Apa karena Makima?" Denji sedikit serius kali ini.
"Emm... Menurutmu??" bukannya menjawab, Denji malah balas bertanya, yaa bisa dibilang Denji agak malu mengakuinya.
"Aki-san, ada apa denganku?" Makima tiba-tiba sudah berada di depan mereka, sontak Denji dan Aki langsung kaget.
"Oh aku lupa, oyaho Denji-kun, Aki-kun" dengan senyumannya, ia menyapa kedua laki-laki itu dengan sopan.
"Hehh... Kenapa kau menyapa mereka berdua segala sihhh?!!" Power yang memang tiba bersama Makima langsung protes begitu saja.
"Oii Power, memangnya kenapa kalo Makima-chan menyapa kami" Denji menimpali pertanyaan Power dengan nada yang sedikit marah.
Yaa memang bukan tanpa alasan dia merasa marah, jika dia mengingat kemarin malam, waktu dimana dia hampir kencan dengan Makima namun secara tidak langsung digagalkan oleh Power.
Bahkan hingga pagi ini pun Denji masih mempunyai perasaan jengkel kepada Power.
Aki pun merasa keheranan melihat tatapan Denji yang seolah ingin melahap Power hidup-hidup.
"Denji, mengapa tatapanmu sangat tajam seperti itu??" tanya Aki.
"O-ohh tidak... Aku hanya sedikit kesal kepada Pochita karena tadi malam mengganggu tidurku" wajahnya seketika berubah ketika menjawab pertanyaan Makima.
"P-pochita?" Makima sedikit gugup mendengar nama Pochita.
"Iyaa Pochita itu nama anjingku" timpal Denji dengan mengacungkan jempolnya.
Sekilas Makima kembali teringat ingatan kelamnya.
------flashback------
"Hiduplah... Dan kau akan tahu mengapa alasan aku membunuh ayahmu" setelah mengatakan hal itu, pria berjas hitam yang baru saja membunuh ayahnya itu langsung bangkit.
"Langsung pulang pak??" tanya salah satu anak buah orang tersebut.
"Tidak, aku ingin mampir ke petshop, makanannya Pochita sudah habis" jawab orang itu sambil menyalakan cerutu.
"Baik pakk" jawab serentak anak buahnya.
Satu hal yang Makima perhatikan dari orang berjas hitam itu, dia memakai kalung emas berliontin ular.
Makima selalu beranggapan, kalau orang yang membunuh ayahnya ada seorang bos mafia yang memiliki lambang ular.
-----flashbackend-----
"A-ano, Denji-kun... Apakah ora-..." "Selamat pagi anak-anak!!!" pertanyaan Makima terpotong oleh pak Kishibe yang tiba-tiba masuk ke kelas.
"Selamat pagi pak" jawab serentak semua murid dikelas itu.
"Makima-chan, hal apa yang ingin kau katakan tadi?" Denji menanyakan pertanyaan Makima yang tadi terpotong oleh pak Kishibe.
"Bukan apa-apa" Makima mencoba mengelak.
----------
Rasa penasaran yang sangat besar sedang dialami oleh Makima saat ini, dia selalu kepikiran tentang nama anjing Denji tadi.
Pochita... Nama yang persis seperti yang dikatakan orang yang telah membunuh ayahnya.
Apalagi... Dia ingat kalau pemimpin mafia itu ingin pergi ke petshop karena ingin membeli makanan untuk Pochita.
Walaupun bisa saja itu hanya kebetulan, tapi tetap saja terlalu janggal bagi Makima.
Denji sangat kaya raya walaupun tidak punya orang tua, itu yang Makima ketahui.
Lantas, dari mana datangnya semua hartanya Denji?? Tidak mungkin Denji mendapatkan uang sebanyak itu karena dia sendiri tidak bekerja dan masih sekolah.
Mempunyai banyak bisnis dan banyak uang, seorang mafia lah yang cocok dengan ciri-ciri tersebut.
Asal kalian tau.. Makima sangat membenci mafia, mafia itu telah merenggut satu-satunya kebahagiaan yang ia miliki.
Dia juga tau kalau sebenarnya ayahnya juga bersalah. Tapi, Makima benar-benar membenci mereka bahkan semua keluarga yang mafia itu miliki Makima membenci mereka semua.
Namun, saat ini dia tengah jatuh cinta terhadap Denji, tetapi... ia ragu setelah mendengar kalau Denji memiliki anjing bernama Pochita, nama hewan peliharaan yang sama seperti yang dimiliki oleh bos mafia yang telah membunuh ayahnya.
Sempat muncul di benaknya "apakah Denji-kun anak seorang mafia??" memikirkan semua hal yang baru saja terjadi membuat kepalanya pusing.
Saat ini, ia hanya bisa duduk di atas ranjangnya, pikirannya penuh dengan pertanyaan.
Jika benar kalau Denji adalah anak bos mafia yang telah membunuh ayahnya, apakah dia akan tetap mencintainya???
----------
"Ahhh bosan juga kalau hanya main game dirumah" Denji meletakkan stick PS nya, ia telah ber jam-jam bermain setelah pulang sekolah.
Ia kepikiran tentang Makima, waktu di sekolah tadi, Makima kebanyakan melamun dan sedikit mengacuhkan Denji.
Ia heran mengapa setelah mendengar nama Pochita Makima seolah menghindar darinya.
-----------
"Apakah kau sudah siap, Reze???" seorang laki-laki bertubuh besar yang sedang menghisap cerutu bertanya kepada wanita yang sedang berlutut didepannya.
"Saya sudah siap tuan" wanita yang dipanggil Reze itu menjawabnya sambil membungkuk.
"Nama anak itu Denji, Dia anaknya Shimano, ketua mafia yang pernah menghancurkan bisnis kita, kau harus bisa membalaskan dendam ku atau..... Takkk " bos mafia itu mematahkan tongkat kayu dengan mudahnya.
Melihat hal itu, Reze langsung meneguk ludahnya sendiri.
"Saya akan melakukan yang terbaik, kalau begitu saya akan memulainya sekarang".
----------
"Itu salah Aki-kun!!! Agak ke kiri lagi!!" teriak Himeno kepada Aki.
"Huhh bukannya sudah benar?? Katamu tadi sedikit geser ke kanan?" Aki sangat jengkel, baru tadi dia bisa bersantai... Tiba-tiba Himeno menghubunginya dengan dalih butuh bantuan.
Yaa, itu hanya akal-akalan saja dari Himeno supaya bisa bertemu Aki, Aki sebenarnya juga mengetahui maksud Himeno tersebut, akan tetapi karena sebenarnya dia juga menyukai Himeno dia mau melakukannya.
Lagi pula dia juga tidak sedang bersama Denji.
"Iyaa.. tapi kau menggesernya terlalu banyak!!!" Himeno berteriak karena Aki yang tidak bisa memasang foto dengan lurus.
Menjengkelkan memang berada dalam situasi seperti ini, situasi dimana laki-laki selalu salah dan wanita selalu benar.
"Himeno-san, kenapa kau tidak memasangnya sendiri saja" Aki sedikit jengkel mendengar teriakan Himeno, seolah-olah dia yang salah.
"Heh... Bukannya itu pekerjaan laki-laki yaa?? Lagi pula aku takut ketinggian" timpal Himeno dengan mata berkaca-kaca.
"Oiya Aki-kun, bagaimana kalo setelah ini kita jalan-jalan lagi??" Himeno kembali mengajak Aki jalan-jalan.
Yahh memang dari awal memang itu sebenarnya rencana Himeno.
Sebelum sempat menjawab, tiba-tiba hp Aki bergetar dan melihat nama Denji yang sedang menelponnya.
Dengan nada santainya, Aki mengangkat telpon itu "Yoo Denji, ada apa?".
"Akiiii!!!!! Tolong aku!!!!!"
Sontak Aki sangat terkejut mendengar teriakan Denji, dia yang baru saja mengangkat telponnya tiba-tiba mendengar teriakan minta tolong dari sahabatnya.
Dengan nada yang panik, Aki mulai bertanya kepada Denji "Ada apa oe... Dimana kau??!!".
"Aku dirumahh!!! Tolong ini bahaya!!!!" Lagi-lagi Denji berteriak lewat teleponnya.
"Tunggu aku!!!" dengan sigap, Aki langsung meloncat dari tangga, ia bermaksud langsung ingin kerumahnya Denji.
Namun, Himeno mencegahnya "Aki-kun mau kemana?!!! Kita akan jalan-jalan setelah ini!!!"
Himeno sangat kesal, dia batal jalan-jalan bersama Aki karena Denji, namun dengan nada yang sangat dingin, Aki membalas omongan Himeno hingga membuat gadis itu diam mematung.
"Temanku sedang butuh bantuan ku sekarang, jangan menghalangi ku!!"
-----tobecontinued-----