
Aki sangat kaget dengan pertanyaan Denji, karena ia mengenal Denji sejak kecil, Aki tau kalau Denji itu sangat pilih-pilih dalam mencari pasangan, ia juga tau kalau Denji belum pernah sama sekali merasakan pacaran.
Sebenarnya Aki juga sudah berulang kali Aki mengenalkan Denji kepada wanita. Namun, Denji selalu menolaknya dengan alasan bukan tipenya.
Tapi sekarang, Denji malah bertanya bagaimana cara mendekati wanita, tentu Aki berpikir kalau sahabatnya itu telah menemukan wanita idamannya.
"Mengapa kau bertanya seperti itu?.. apakah kau telah menemukan gadis idamanmu?". Aki mulai menatap serius wajah Denji, Denji yang kebingungan dengan tingkah Aki pun langsung mengejeknya. "Apa-apaan wajahmu itu!! Aku hanya bertanya". Aki yang memasang wajah serius langsung kembali menjadi datar setelah mendengarnya, ia mengira kalau Denji telah menemukan wanita ghaib idamannya, yang bahkan ia sendiri pun tak tahu seperti apa wanita idamannya.
Padahal... Gadis yang Aki tawarkan kepada Denji semuanya memiliki paras yang cantik. Namun, semuanya tidak lolos seleksi untuk menjadi wanita idaman Denji, sungguh hanya Tuhan yang tau seperti apa wanita idaman Denji itu.
"Tch kukira kau ingin berpacaran"
"Yaa aku akan berpacaran kalau bertemu dengan wanita idamanku". Jawab Denji dengan entengnya, ia pun kembali bertanya kepada Aki "Oiya Aki... Apa kau tidak ingin berpacaran? Kudengar Himeno senpai dari kelas 2 menyukaimu". Dia sedikit menggoda temannya itu namun Aki dengan tenang menjawab "aku memang memiliki perasaan dengan Himeno senpai tapi... Aku belum tertarik untuk berpacaran dengannya, lagipula... Aku tak ingin renggang denganmu". Denji pun kebingungan mendengarnya.
Bagaimana bisa, seorang laki-laki yang disukai oleh perempuan cantik menolaknya, apalagi sebenarnya ia juga menyukai perempuan tersebut, Denji juga tak mengerti apa maksud Aki yang tidak mau renggang dengannya.
"Oii Aki... Apa maksudmu tidak ingin renggang dariku? Kau tidak gay kan??". Denji menunjukkan wajah yang sedikit jijik ketika bertanya kepada Aki, mendengar hal itu Aki langsung membantahnya "Tentu saja tidak bodoh!!! Kalau aku berpacaran aku harus membagi waktu bermainku dengan pacarku, itu berarti aku akan jarang bertemu denganmu".
Setelah mendengar itu, Denji langsung terharu dengan kata-kata sahabatnya itu, ternyata ia lebih mementingkan Denji ketimbang hatinya sendiri.
"Aki-kun... Kau baik sekali". Kata Denji sambil tersenyum.
"Dasar homo!!!" Teriak Aki.
*Kembali ke kelas mereka sendiri*
"Baiklah anak-anak karena ini hampir istirahat, kalian boleh keluar sekarang". Murid-murid yang mendengar itu pun langsung bersorak gembira, walaupun menyebalkan pak Kishibe itu sangat baik kalau masalah diskon waktu untuk istirahat dan pulang.
Power dan Makima yang sedang membereskan buku mereka tiba-tiba di hampiri oleh seorang murid laki-laki "Makima-chan... Ayo pergi ke kantin denganku"kata murid laki-laki tersebut yang mengajak Makima pergi ke kantin bersama.
Mendengar hal itu, Power pun langsung mencegahnya "Tidak!!! Makima akan pergi ke kantin bersamaku". Cegah Power sambil memegang tangan Makima
"Hah??!! Makima-chan jangan mau pergi dengannya! Dia akan menghabiskan uangmu". Power pun semakin geram kepada laki-laki ini karena telah menghinanya di depan Makima.
"Hirokazu Arai... Kau berani macam-macam denganku??!!!". Kata Power sambil mengepalkan tangannya.
"Hahh gadis cerewet tak punya teman sepertimu hanya berani bertengkar karena Denji dan Aki, bila dua sampah itu tidak ada di kelas ini, maka kau hanya akan sendirian". Power pun semakin memanas mendengar hal tersebut, ia lalu mengepalkan tangannya namun, Makima langsung mencegahnya "H-hentikan P-power-san, aku tidak akan ke kantin. A-aku tidak punya uang untuk membeli makanan, lagi pula aku sudah membawa bekal". Makima tak ingin kedua temannya itu bertengkar hanya karena ingin mengajaknya ke kantin, namun, Power yang sudah terlanjur sakit hati dengan perkataan Arai langsung menetes kan air matanya dan memaki makinya.
Arai pun juga tak mau kalah, ia balik memaki maki Power dengan teriakan dan kata-kata kasar yang membuat hati Power terluka ketika mendengarnya.
Murid-murid di kelas yang dari tadi hanya diam pun mulai mencoba memisahkan mereka berdua.
Namun sia-sia saja, adu mulut antara dua manusia berbeda gender itu seolah tak bisa dihentikan walaupun Arai sudah ditarik menjauh ke belakang.
Makima yang dari tadi berada di tengah-tengah orang yang bertengkar itupun merasa ketakutan.
Kedua telinganya dapat mendengar jelas setiap makian dan teriakan yang keluar dari kedua mulut orang tersebut.
Situasi semakin memanas, hingga tiba-tiba... "Oi kalian berisik sekali". Sebuah suara yang terdengar sangat dingin berhasil membuat semua orang di kelas itu terdiam.
Power yang melihat orang tersebut langsung terkejut. "A-aki..".
Aki yang melihat Power meneteskan air mata langsung menghampiri Arai di belakang, para murid laki-laki lainnya yang dari tadi memegang badan Arai langsung melepaskannya ketika melihat Aki berjalan mendekat.
"Aki-san... Dia yang memulainya". Bruhgg.... Sebuah tinju berkecepatan tinggi mendarat di perut Arai.
"Bila dia yang memulainya.... Seharusnya kau tidak meladeninya, membuat wanita menangis?? Apa kau tidak malu??!! Sebagai teman sekelas... Kalian tidak seharusnya berkelahi... Apa kau mengerti?? HAH?!!!". Aki berteriak tepat diwajahnya Arai, ia sangat kesal karena seharusnya teman sekelas itu tidak boleh bertengkar.
Sedangkan Arai yang telah menerima tinjuan dari Aki hanya bisa tersungkur sambil memegangi perutnya.
Semua murid langsung menunduk dan takut ketika melihat Aki berdiri dan menuju bangkunya, ia lalu membuka tas milik Denji dan mengambil beberapa lembar uang.
Sebelum ia pergi, ia menatap Power lalu berkata. "Power ikut denganku!". Power pun langsung menjawab "Aku ingin menemani Makima di kelas".
Makima yang mendengar hal itu langsung menyanggah. "Tidak apa-apa Power-san pergi saja". Ia takut kalau Power menolak ajakan lelaki tersebut akan bernasib sama seperti Arai.
Aki yang mendengar hal itu langsung menatap Makima dengan dingin. "Kau... Ikutlah sekalian, Denji sudah menungguku di kantin cepat".
Makima yang masih ketakutan langsung mengiyakan ajakan Aki.
*Sementara itu di kantin*
"Paman!... Tambah lagi ramen nya!!!". Teriak Denji sambil mengangkat mangkuk ramen nya yang telah habis.
"Siap.. Denji-kun".
Denji sudah menghabiskan tiga mangkok ramen dan dia masih ingin menambah lagi. Yaa... Walaupun badan Denji tidak gemuk, tapi ia memiliki porsi makan yang besar.
Sesampainya di kantin, Aki, Power, dan Makima langsung melihat sekelilingnya. Makima yang baru melihat kantin sekolah itu pun merasa takjub, ia tak menyangka kalau kantin di sekolah ini sangat besar dan bersih.
Maklum, karena SMA mereka adalah SMA yang besar dan terpandang. andai saja Makima tidak bertemu dengan pak Kishibe, tidak mungkin ia bisa bersekolah di sini.
Sementara Makima masih melihat-lihat seisi kantin, Aki mengajak mereka untuk duduk di sebuah bangku yang didepannya sudah ada laki-laki berambut pirang yang sedang asyik menyantap ramen nya.
Mereka bertiga telah duduk bersama dan laki-laki tersebut masih tidak sadar akan kedatangan Makima, Aki dan Power.
Sampai akhirnya Power pun berbicara "Oii baka... Pelan-pelan saja makannya, kalau kau tersedak kau bisa mati". Denji yang tiba-tiba mendengar itu langsung menatap Power dan berkata "Bukan urusanmu cere-" Denji tiba-tiba mematung melihat seorang gadis yang duduk di samping Power, Makima pun yang tersipu malu langsung menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat malu karena diperhatikan oleh Denji.
Makima langsung memerah, bagaimana bisa mereka berdua berkata seperti itu di depannya.
"A-apa maksud kalian!! Aku hanya terkejut melihat murid baru!!". Kata Denji sambil membuang muka ke samping, ia berusaha membantah kedua temannya yang usil tersebut.
"Siapa namamu??" Tanya Denji kepada Makima.
Makima yang masih menundukkan kepalanya mulai menjawabnya dengan malu-malu "M-makima".
"Oh s-salam kenal aku D-denji". Balas Denji yang sama-sama malu.
Power pun yang melihat kedua temannya itu malu-malu karena berkenalan mencoba menggoda mereka. "Pertemuan kalian pasti takdir". "Hmm itu benar". Sambung Aki.
Denji yang mendengar hal itu langsung menunduk sambil memakan ramennya kembali.
Ia tak bisa berkata apa-apa, seumur hidup... Baru pertama kali ini Denji merasakan sesuatu yang aneh ketika melihat Makima, padahal dia sendiri sudah sering melihat dan berbicara kepada wanita lain, namun entah mengapa bila berbicara dengan Makima ia merasa sangat malu.
Hal yang sama pun juga dialami oleh Makima, rasa malu yang iya rasakan ketika berbicara dengan Denji berbeda dengan rasa malu biasanya.
Ia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya ketika ia mendengar suaranya, padahal ia sendiri juga sudah pernah berbicara dengan laki-laki sebelumnya tapi, perasaan yang Makima alami ketika berbicara dengan Denji dan laki-laki lain itu sangat berbeda.
Apakah ini yang namanya cinta pandangan pertama???
Melihat momen itu, Aki dan Power tertawa terbahak-bahak, Power pun mencoba untuk menggoda Denji kembali. "Apa kau tau Denji?? Arai juga menyukai Makima" kata Power dengan senyum menggoda.
Makima yang mendengar itu sedikit merasa sebal, entah mengapa ia tidak suka disandingkan dengan laki-laki lain.
Sebaliknya, Denji yang mendengar itu langsung kaget "Apa katamu??!!".
"Iyaa tadi dia ingin mengajak Makima ke kantin dan aku melarangnya".
"Ohhh jadi karena itu kau bertengkar dengannya??" Potong Aki.
Denji yang mendengar Power bertengkar langsung bertanya kepada Power. "Oii Power apa maksudnya kau bertengkar dengan Arai?". Power sangat ragu untuk menjawab, karena Denji dan Aki sangat berbeda dalam menyelesaikan masalah, kalo Aki... Dia tidak suka memperpanjang masalah, sebaliknya... Denji suka memperpanjang masalah.
Melihat Power yang menunduk dan tak kunjung menjawab Denji bermaksud bertanya kepada Aki, namun, Aki seolah sudah tau dan langsung menyuruh Makima untuk menceritakan semuanya.
"Astaga hanya karena masalah seperti itu kau bertengkar Power??". Tanya Aki kepada Power setelah mendengar semua kejadiannya dari Makima.
"Diaa menghinaku tau!!!!". Jawab Power yang berusaha membela dirinya.
Disisi lain, Denji hanya diam dan memperhatikan Makima sejak Makima bercerita, ia merasa jantungnya berdebar-debar ketika melihat wajah Makima, bahkan... Denji sama sekali belum mengerti masalah apa yang membuat Power bertengkar dengan Arai.
Setelah melihat respon Denji yang hanya diam dan melihat Makima, Power merasa lega karena Denji tidak akan memperpanjang masalah ini, namun disisi lain Makima lagi-lagi menunduk karena terus diperhatikan oleh Denji, dia juga merasa kalau jantungnya berdetak tak normal.
Untuk mencairkan suasana, Aki menyuruh Power dan Makima untuk memesan makanan. Power langsung berdiri karena ia sudah merasa lapar, berbeda dengan Makima yang masih duduk dan mengeluarkan bekalnya.
"Oii Makima-chan... Ayo kita pergi memesan makanan". Ajak Power kepada Makima.
"Maaf, aku tidak ikut pesan, aku sudah membawa bekal". Makima lalu membuka bekal makanannya, mereka bertiga lalu terkejut melihat isi bekal Makima, bekal itu hanya berisi nasi, telur, dan sayur. Power keheranan bagaimana bisa Makima memakan makanan itu, apalagi sayur itu terlihat sangat hijau dan segar, Power sangat membenci sayuran.
Melihat bekal yang sederhana itu, Denji langsung menyuruh Power untuk membelikan lauk lagi untuk Makima. Namun, Makima lagi lagi menolaknya "T-tidak usah, aku tidak punya uang untuk menggantinya". Kata Makima kepada Denji.
"Aku tidak ingin kau mengganti uangku"jawab Denji dengan tegas.
Tanpa basa-basi Power langsung berangkat sendirian untuk memesan makanan.
Setelah kembali keempat orang yang sekarang menjadi teman baik itu pun makan bersama, mereka makan sambil bercanda ria, Makima juga tak bisa menahan tawanya ketika melihat perdebatan antara Power dan Denji, begitupun Aki yang merasa sangat terganggu karena keributan yang dibuat Power dan Denji.
Setelah bel berbunyi, mereka berempat bermaksud untuk kembali ke kelas, senyum terukir di bibir manis Makima, ia tak menyangka akan mendapatkan teman yang baik dan konyol seperti mereka.
Tanpa Makima sadari, ada seseorang yang diam-diam melihat senyuman manisnya itu, yaa... Dia adalah Denji, Denji merasakan kehangatan ketika melihat senyuman Makima, hatinya yang berdebar kencang semakin membuktikan kalau Makima adalah gadis impiannya, namun ia masih belum paham kalau yang ia rasakan itu adalah cinta karena memang dia belum pernah pacaran semenjak kecil.
"Aki, Denji sebaiknya kalian membolos saja". Perkataan Power tiba-tiba menyadarkan Denji, Aki yang heran pun bertanya balik kepada Power. "Apa maksudmu menyuruh kami untuk membolos??".
Aki dan Denji sama-sama belum tau kalo pak Kishibe sudah menjadi guru tetap mapel mereka dan menjadi wali kelas baru mereka.
"Yaa lagi pula kenapa?? Aku tadi membolos hanya karena menghindari tua Bangka itu...". Belum sempat menjelaskan kepada mereka berdua tiba-tiba mereka mendengar suara yang langsung membuat Denji dan Aki pucat.
"Ekhemm Denji-kun dan Aki-kun bisakah kalian ikut sebentar bersama orang tua Bangka ini??". Yaa suara itu adalah milik pak Kishibe.
"Ararara.... Makima-chan kau sudah akrab dengan teman barumu, itu bagus sekali". Makima dengan senyumannya yang manis lalu membalas perkataan pak Kishibe. "Iyaa.. ini semua berkat anda pak Kishibe, terima kasih banyak". Kata Makima sambil menunduk.
"Ahh iyaa sama-sama silahkan kembali ke kelas duluan bersama Power-chan". "Baikk pakkk". Jawab Power dan Makima bersamaan.
Melihat Makima meninggalkannya duluan membuat Denji bersedih, Aki yang melihat itu lalu berkata "Simpan dulu sedihmu itu untuk nanti, sekarang siapkan tenagamu". Setelah mengatakan itu mereka lalu berjalan mengikuti pak Kishibe ke arah aula sekolah.
Sesampainya di kelas, Power dan Makima kembali duduk di kursinya, karena pak Kishibe masih menghukum Denji dan Aki, kelas itu sekarang jam kos, para murid-murid mengisi kesempatan itu dengan mengobrol dan bercanda satu sama lain.
Setelah setengah jam dan pak Kishibe masih belum kembali... Makima penasaran hukuman apa yang diberikan kepada Denji dan Aki, dari pada ia larut dalam kebingungan, ia lalu bertanya kepada Power. "Ano Power-san.... Sebenarnya hukuman yang diberikan kepada Denji-kun itu hukuman apa??". Tanya Makima
"Hmm?? Denji-kun???". Kata Power sambil tersenyum "Kau menyukai Denji yaa". Makima yang sadar akan omongannya itu langsung menunduk malu dan membantah. "T-tidak aku hanya penasaran karena lama sekali". Mendengar itu Power sama sekali tidak hilang akal, ia kembali menggoda Makima "Lalu kenapa kau hanya menanyakan Denji?... Apa kau khawatir dengannya?". Senyum menggoda itu seolah kembali membuat rasa malu Makima semakin besar.
Dia merutuki dirinya sendiri dalam hati karena telah keceplosan ketika berbicara kepada Power, dengan memberanikan dirinya, Makima kembali bertanya. "Aku serius Power-san... Hukuman apa yang diberikan pak Kishibe itu". Melihat Makima yang masih malu Power pun akhirnya menjawab pertanyaan nya "Jika kau tidak mengerjakan pr atau membolos dari pak Kishibe maka kau.... Akan disuruh bertarung dengannya" kata Power sambil sedikit berbisik.
"A-apaaaaa??!!!!"