
*
*
π΄π΄π΄
Flo sedang ditangani oleh Dokter, sedangkan Arga dan bi Minah menunggu di luar ruangan.
Lebih dari satu jam Dokter baru keluar.
"Bagaimana keadaan Kakak saya Dok?" Tanya Arga setelah Dokter menutup pintu kamar rawat Flo.
Dokter tersebut geleng-geleng. "Kenapa pasien bisa sampai seperti itu? Kondisinya sangat lemah, pasien drop. Seharusnya pasien mendapat penanganan sebelum separah ini."
"Maafkan saya Dok, saya juga baru tau kondisi Kakak saya Dok." Ujar Arga penuh sesal.
Dokter menepuk pelan bahu Arga. "Yang penting pasien bisa tertolong, anda belum terlambat membawanya ke rumah sakit. Kalau begitu saya permisi dulu."
Arga sedikit membungkuk. "Terima kasih banyak Dok."
"Sama-sama." Ujar Dokter sembari berlalu.
Arga dan bi Minah segera masuk ke kamar rawat Flo.
Arga duduk di kursi samping ranjang Kakaknya. Dia menatap Kakaknya dengan tatapan iba, Arga juga mengusap lengan Kakaknya lembut.
"Flo, sayang." Teriak Mama dari ambang pintu, dia panik setelah di telepon Arga tadi, dan segera menyusul ke rumah sakit.
Arga berdiri dan menggeser tubuhnya, memberi tempat untuk Mamanya.
Marcia menggantikan posisi Arga lalu membungkuk dan menciumi anaknya. "Sayang, kamu kenapa bisa begini? Jangan bikin Mama khawatir."
Marcia lalu mengedarkan pandangannya. "Dimana Alex?" Tanya Marcia, karena tidak dia menemukan sosok suami dari anaknya di dalam kamar tersebut.
Arga dan bi Minah saling diam tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Marcia.
Dahi Marcia mengernyit. "Ada apa ini?"
"Kita nanya Kak Flo aja Ma kalau Kak Flo sudah siuman." Jawab Arga.
Marcia mengangguk dan kembali menatap anak sulungnya, tangannya terangkat untuk menghapus jejak air mata pipi anaknya.
Marcia tersentak saat merasakan usapan lembut di bahunya lalu mendongak. "Arga."
"Mama jangan sedih." Ujar Arga.
"Gimana Mama nggak sedih Ga, lihat Kakakmu! Gurat kesedihan terlihat jelas di wajahnya." Ujar Marcia sembari menatap nanar pada anaknya.
"Arga tau Ma, yang harus kita lakukan sekarang adalah berdo'a untuk kesembuhan Kak Flo, itu yang terpenting saat ini Ma. Soal masalah bisa kita selesaikan nanti jika Kak Flo sudah sembuh."
"Iya, kamu benar. Kamu nggak kerja?" Tanya Marcia, dia baru menyadari kalau ini masih jam kerja.
"Tadi Arga sudah izin Ma, besok pagi baru masuk kerja lagi." Jawab Arga.
"Oh." Marcia mengangguk.
*
Hari sudah mulai gelap namun Flo belum juga sadar, Marcia menjadi semakin khawatir dengan kondisi putrinya.
Pintu kamar terbuka dari luar, seorang Dokter dan Suster masuk untuk mengecek kondisi Flo.
"Bagaimana kondisi anak saya Dok?" Tanya Marcia setelah Dokter selesai memeriksa Flo.
"Pasien sudah mulai membaik, mungkin sebentar lagi siuman." Jawab Dokter.
"Terima kasih Dok." Ujar Marcia.
"Sama-sama, saya permisi."
Dokter serta Suster keluar dan Marcia kembali duduk di samping ranjang Flo.
Marcia menunggu Flo hingga tertidur.
Pagi menjelang Flo baru siuman, dia membuka matanya perlahan dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, Flo bergerak mencari posisi nyaman badannya terasa pegal, mungkin karena dia terlalu lama dalam posisi seperti itu.
Gerakan Flo membuat Marcia terbangun. "Sayang, kamu sudah sadar? Syukurlah."
"Mama panggilin Dokter sebentar ya?"
Flo langsung menahan pergelangan tangan Mamanya yang hendak berdiri. "Alex belum kesini Ma?"
Marcia menggeleng. "Belum sayang, kalian kenapa? Ada masalah?"
Flo menggeleng.
Marcia mengusap puncak kepala anaknya penuh kasih. "Mama tidak akan memaksa kamu untuk cerita sekarang. Kamu istirahat lagi biar cepat sembuh."
"Bi Minah dimana Ma?" Tanya Flo.
"Di kamar mandi, sebentar lagi juga datang. Memangnya kenapa nanyain bi Minah?"
"Ada apa Non nyari bibi?" Sahut bi Minah sembari berjalan mendekati Flo.
"Bi, tolong ambilkan cincin di atas nakas kamar bawah serta kalung di laci bawah meja rias kamar atas." Titah Flo pada bi Minah.
"Baik Non, bibi berangkat sekarang." Ujar bi Minah.
Bi Minah pulang untuk mengambil cincin dan kalung yang Flo minta.
*
*
π΄π΄π΄
Alex masih tinggal di apartemen si duo cogan, sudah hampir satu minggu Alex tidak pulang ke rumahnya atau ke rumah Maminya.
Alex hanya bisa pasrah jika Maminya tau masalah rumah tangganya, sudah pasti akan di semprot Maminya habis-habisan.
Alex tidak egois, dia hanya memikirkan perasaan istrinya, jika benar istrinya masih mencintai mantan kekasihnya maka Alex akan mengalah dan membiarkan istrinya bahagia meskipun bukan dengan dirinya.
Saat ini Alex hanya bisa menunggu, menunggu jika sewaktu-waktu istrinya akan minta pisah.
*
"Lo mau sampai kapan sih numpangnya Nyet? bosen gue lihat muka lo?" Celetuk Satria.
Alex mendelik pada Satria. "Mau gue pecat lo?!"
"Elo udah hampir seminggu numpang Nyet, terus muka lo itu yang bikin gue enek, muka asem, jelek, di tekuk mulu!" Cerocos Satria.
"Kata Jessica, istri lo di rawat di rumah sakit, lo kagak ada niatan jenguk dia?" Sahut Kevin yang sedang berjalan keluar dari kamarnya.
Alex terkejut, namun detik berikutnya dia biasa lagi. "Gue nggak di butuhin, dia kan udah punya Dokter pribadi yang akan selalu senantiasa merawat dan menjaganya."
Satria dan Kevin saling pandang.
"Yakin?"
"Yakin?"
Tanya Kevin dan Satria bersamaan.
Alex menyandarkan kepalanya di sofa, seolah sedang menaruh beban berat di sofa tersebut. "Entahlah, pusing gue."
"Mami lo juga belum tau kalau menantunya sakit?" Tanya Kevin.
"Belum lah, kalau dia udah tau pastinya gue udah kena semprot." Jawab Alex.
"Lo beneran kagak pengen lihat kondisi istri lo?" Tanya Kevin lagi.
Alex menggeleng, padahal dalam hatinya dia sangat ingin sekali melihat kondisi istrinya bahkan ingin memeluknya erat dan memberi semangat agar istrinya cepat sembuh.
Namun yang ada di fikiran Alex saat ini adalah Sandy sudah menemani Flo. Mungkin Flo sudah bahagia di rawat orang yang di cintainya.
*
*
Masalah ini kapan selesainya sih?? Tega kamu thor, menyiksa Flo dan Alex.
Sekali-kali di siksa boleh lah ya, enak banget hidup Flo dan Alex mesra-mesraan mulu, kan Author jadi iriπ€£π€£π€£