
Deni meraih kertas yang diberikan oleh Rania. ia mematut no yang tertulis dalam kertas tersebut lalu mengetik nomor itu dalam layar hpnya dan membuat panggilan. tersambung.
" Haloo..."
" Den, ini gue Bagas " jawab suara dalam hp cepat tanggap.
" Dimana Bastian dan Joni, apa kaitan lu dengan semua ini ? " serbu Deni yang penasaran apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Bastian tiba tiba menghilang dan kenapa Rania mengatakan ayahnya baik baik saja.
" Nanti gue cerita, sekarang lu balik ke kantor Bastian. ada sesuatu hal yang harus lu lakukan disana, tolong katakan pada Rania ini tetap jadi rahasia kita "
" Gas...tunggu ! " Deni tertegun karena panggilan diputus mendadak dan tak bisa di hubungi lagi.
" Om..." tegur Rania yang sejak tadi berdiri mematung setelah menyerahkan secarik kertas itu pada Deni.
" O..ya. Rania mau main disini dulu ya sama Gio, Om Deni mau balik ke kantor " ucap Deni sambil berjongkok.
" Tapi Gio nakal om, dia suka gangguin Nia.." rengek gadis kecil itu.
" Nanti kalau dia gangguin Rania, om jewer telinganya. sekarang kita minta izin sama ibumu dulu " Deni menghubungi Ami.
" Mi..Rania biar tinggal disini dulu " ujar Bastian ketika panggilan vidio tersambung.
" Kamu main disana nak, ya sudah baik baik disana, jangan merepotkan tante Amira "
" baik bu, ibu juga jangan lupa makan. ibu jangan bersedih lagi " ucap Rania sambil melambaikan tangannya.
Deni segera kembali ke kantor, ia menuju ruang Bastian sesuai perintah Bagas. Meski hatinya masih bertanya apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya. tapi saat ini nada bicara Bagas tak mengizinkannya untuk bertanya.
Deni mengetik pesan ketika sampai di depan ruangan Bastian.
[ gue udah di depan ruangan Bastian ]
Ting ! dibalas
[ Jika Ami masih ada di situ, minta dia pulang ]
[ oke ]
Deni mengetuk pintu dan terdengar suara Ami yang memintanya masuk. Deni menarik nafas, saat ini ia ikuti saja instruksi Bagas padahal ia sudah tak sabar untuk mencecar Bagas banyak pertanyaan.
" Ada apa mas, apa ada kabar terbaru ? " tanya Ami was was. ia melihat reaksi wajah Deni yang terlihat tegang.
" Mi..aku lihat kamu terlihat lelah. baiknya kamu pulang. biar aku yang menyelesaikan semua pekerjaan Bastian " Deni tak menjawab pertanyaan Ami soal perkembangan pencarian Bastian. ia meminta Ami beristirahat di rumah.
" Di rumahpun aku tidak bisa Istirahat Mas Deni, sebenarnya apa yang terjadi ? " keluh Ami, ia mengusapnya, menarik nafas berkali kali.
" Mi..aku harap kamu bisa kuat untuk anak anak " tanggap Deni menguatkan Ami.
" Baiklah, aku akan pulang "
Ami akhirnya pulang dan kembali saat sampai di rumah ia tak bisa menahan tangisnya ketika melihat foto foto yang terpajang yang menggambarkan kebersamaan mereka.
sementara di ruangan Bastian, Deni kembali menghubungi Bagas. Ia terkejut saat melihat wajah Bastian muncul di layar.
" Diem dan dengerkan gue dulu, baru lu boleh tanya " ujar Bastian galak.
" Oke...bicaralah " suruh Deni sambil duduk di bangku Bastian.
" bini gue baik baik saja ? " tanya Bastian sebelum bercerita.
" Lu pikir dia baik baik saja setelah orang yag dia cinta hilang tak tentu rimbanya ? " Deni berdecak. ingin ia tarik orang yang sedang menatapnya itu. bisa bisanya dia buat seluruh keluarganya panik.
" Gue minta lu tenangin keluarga gue terutama Ami "
" ya...ya..kalau lu nggak muncul muncul gue suruh dia kawin lagi " kekeh Deni, Bastian merengut.
" gue dapat ancaman. ada yang mengirim pesan berantai sama gue, dia ingin menghancurkan HWD grup tanpa kita sadari, perusahaan kita dimasuki penyusup tapi kita tak bisa menuduh karyawan itu sembarangan. permainan mereka sangat halus "
" apa ini ulah ibu tiri lu ? Rendra...siapa tau dia dalang di balik semua ini, bukannya dia benci sama lu dari dulu " ujar Deni emosi.
" Belum tentu, kita tidak bisa menuduh orang tanpa bukti, Rania dimana ? "
" Rumah gue, gue terpaksa bohong kalau anak lu mau main sama anak gue, padahal mereka musuh bebuyutan, barusan gue dapat pesan anak gue nangis gara gara anak lu. tomboi bener tu anak berani nonjok hidung Gio " beber Deni sambil berdecak.
" eh..tapi kenapa lu libatin Rania dalam misi berbahaya ini, dia masih kecil Bas "
Bastian tertegun, ia ingat kejadian beberapa hari yang lalu saat ia membahas pelarian ini bersama Joni dan Bagas secara virtual.
Tanpa mereka sadari, Rania masuk ke ruang kerja ayahnya saat bermain petak umpet dengan Rana. karena tak kunjung di cari Rana, Rania tertidur di bawah sofa.
gadis kecil itu keluar dengan berderai air mata ketika Bagas mengatakan,
" semua orang mengira, kemungkinan kau selamat itu kecil dan target kita mengira kau sudah mati. Saat itu mereka akan muncul "
Bastian meraih tubuh putrinya ke pelukannya.
" are you going to die ? No ! " jerit Rania, beruntung Ami dan Rana sedang pergi. mereka mengira Rania sedang tidur di kamar.
" Dengarkan ayah, kita akan baik baik saja, bukankah kamu suka dengar cerita petualangan. we are in the adventure "
" You are an agent " tambah Bastian dengan tatapan berbinar tapi hatinya getir. ia membawa putrinya dalam pusaran bahaya.
" Bas ! " kejut Deni, Bastian tersentak. Ia mengusap mukanya.
" jangan kuatir, Rania itu gadis pemberani. dia lu dalam versi mini, dan cerdik seperti ibunya ".hibur Deni, ia tahu Bastian sedang mengkhawatirkan keluarganya.
" sekarang apa tugas gue " tanya Deni, ia mendengarkan seksama instruksi Bagas dan Bastian.
********
Di sebuah vila, kembali seorang perempuan menerima laporan dari anak buahnya perihal Bastian.
" Kalian yakin dia dan si botak itu sudah mati ? "
" Ya bos.., mungkin mereka sudah terbawa arus hingga ke laut dan kemungkinan mereka sudah di makan hiu " lapor si anak buah.
Perempuan itu tertegun. ia menatap layar hp, membaca berita kepemimpinan HWD grup sementara dipimpin oleh Amina Rahayu. ia menatap foto Ami yang sedang memberikan keterangan di konfirmasi pers dengan sorot kebencian lalu layar berpindah pada foto Bastian dalam balutan stelan jas dan dasi.
" Kalau aku tak bisa memilikimu, dia juga tidak. aku akan menghancurkan kalian pelan pelan " desisnya penuh amarah dendam. ia menggenggam pensil sampai patah tiga.
" Kalian buat isu kalau hilangnnya Bastian dicurigai adalah ulah istrinya sendiri yang ingin merebut harta kekayaan suaminya " titahnya sambil berdiri.
" Baik bos "
*******
Ami baru saja selesai memimpin rapat dengan divisi perencanaan. Ia mendapatkan laporan bahwa setiap rancangan mereka akan di plagiat oleh beberapa perusahaan berbeda dan mereka lebih cepat menyampaikan pada klien hingga mereka kalah saing.
Ami merenung di mejanya. tiba tiba ia menerbitkan senyum.
" Oke..kita buat rancangan terbaru, kita akan buat perhitungan dengan mereka ! " sentak Ami, ia tersenyum smirk. Ia akan membuat jebakan terburuk untuk para plagiator yang ingin menghancurkan HWD grup.
" Jangan main main denganku " desis Ami.
Ketika Ami keluar dari ruangan meeting, ia mendapati para karyawan menatapnya dengan tatapan aneh. mereka rame rame tertunduk melihat layar ponsel dan melihat kearahnya kemudian saling berbisik.
" Ada apa Siska ? kenapa semua karyawan bertingkah aneh " tanya Ami pada asistennya setelah ia berada di ruangan Bastian
" Maaf bu, apa ibu sudah baca berita hari ini, ada isu buruk tentang ibu perihal hilangnya pak Bastian " Siska memperlihatkan hpnya. Ami membelalakkan mata saat membaca berita hoax tentang dirinya dan Jojo.