
Ami terbangun dan menghapus sisa air mata semalam. Setelah Winda pergi, ia menumpahkan air matanya diatas bantal. Jojo sangat megkhawatirkan dirinya meski ia berkata baik baik saja.
Pagi hari, Ami terbangun seperti biasa. Ami berkemas untuk bersiap ke kantor. ia mencoba menyamarkan bengkak di matanya dengan bedak.
" Ga pa pa, Ami kamu itu batu karang, semakin dihempas akan semakin kuat " ucap Ami pada dirinya dalam cermin.
Sesampai di kantor Ami mengerjakan hal seperti biasa. Bastian kembali merasa canggung berhadapan dengan istrinya, ia tahu senyuman yang ia dapatkan adalah senyuman dipaksakan, pasti istrinya itu tak terima perlakuan ibunya semalam dan seperti biasa ia akan menyimpannya.
" Bapak, mau dibuatkan kopi ? " tawar Ami seperti biasa. Bastian menggeleng. ia melipat tangan di dada dan memandang keluar jendela.
" kenapa kamu blokir nomor saya, kamu marah karna saya berdansa dengan Amira ? "
Ami tak menjawab. ia hanya mengigit bibirnya, gemuruh itu kembali hadir di hatinya. Ia tak mau Bastian tahu apa yang ia lakukan karna perintah Winda. Ami tak ingin ibu dan anak itu bertengkar karena dirinya.
" Sebaiknya kita berkomunikasi tak lebih dari saya adalah karyawan bapak. kita jangan melangkah terlalu jauh pak "
Ami meremas ujung blazer, menahan gejolak hati yang akan mendorong bulir hangat itu keluar dari pelupuk mata.
Bastian lupa mengunci pintu. Amira datang untuk meminta tanda Bastian dan tertegun di pintu melihat Bastian bicara penuh emosi.
" Kalau kamu marah gara gara Amira, saya sudah beberapa kali katakan padamu, saya tidak punya perasaan apa apa lagi dengannya. kisah saya dan dia hanya masa lalu. Saya cinta kamu Ami ! "
Braaak ! pintu dihempaskan Amira. Ia berlari ke sembarangan arah sambil menyeka air matanya. Deni yang sedang berbicara dengan bawahannya melihat keadaan Amira yang berlari sambil menangis. Deni menghentikan kegiatannya dan menyusul Amira.
wanita itu masuk lift, untung Deni bisa ikut masuk sebelum pintu di kunci. Ketika Amira melihat Deni serta merta ia memeluknya dan menangis pilu di dada sahabatnya itu.
" Mereka sudah mengkhianati saya, Den. Mereka ternyata punya hubungan di belakang saya " curhat Amira saat mereka sudah berada di kafe.
Bagas yang baru pulang dari perjalanan dinasnya di Singapura menghampiri Deni dan Amira yang ia lihat sedang berbincang di kafe
Ia tertegun ketika Deni menjelaskan sesuatu.
" Sebenarnya Bastian dan Ami sudah menikah, aku ingin jelaskan ini padamu Ra tapi aku takut kamu tidak bisa menerima "
" Kapan mereka menikah ? " tanya Bagas dengan suara memendam marah. Deni menoleh pada Bagas yang mengambil tempat duduk di sampingnya.
" Sekitar satu bulan yang lalu, aku harap kalian bijaksana menerima ini. Mereka sudah saling cinta sejak lama " jelas Deni gusar, ia melihat kedua sahabatnya menunjukan muka frustasi.
Bagas menghela nafas kasar dan berkali berdecak. Ia menghempaskan kepalan tangan ke meja.
" Kita sudah sepakat tidak saling tikung. Bastian tahu gue suka sama Ami. kenapa dia nikam gue dari belakang "
Deni memijit keningnya. runyam. persahabatan yang mereka jaga selama puluhan tahun akan berakhir runyam. itu karena cinta.
Bastian menatap pintu dengan nanar. Hatinya juga tersentuh melihat mantan kekasihnya itu menangis. Jika ia kejar, Ami bukan lagi memblokirnya tapi langsung pergi ke pengadilan. Bastian tak mau itu terjadi, ia sangat cinta wanita yang sedang menyusun map di rak penyimpan map itu.
" Bapak, kenapa belum bersiap ? Bapak ada meeting pagi ini, saya sudah siapkan bahan bahannya dalam tas bapak..o ya, tadi bu Winda menyampaikan pesan kalau ia sudah pasang CCTV di ruangan ini "
Bastian mengangkat wajahnya yang baru ia tundukkan saat membaca pesan Deni yang mengirimkan foto Amira tengah menangis. ia melihat ke arah yang di tunjuk Ami. sebuah kamera CCTV.
Astaga ! maminya sudah keterlaluan mengobrak abrik privasinya. Satu hal yang paling suka ia lakukan dalam ruangan ini adalah membuat wanita yang tengah mengetik berkas itu terkejut saat ia peluk tiba tiba, saat istrinya itu berusaha melepaskan pelukan dan melihat kearah pintu dengan ketakutan. Ia akan menenangkannya dengan memberikan kecupan di bibir dan rasa gugup wanita itu akan membalasnya dengan pagutan liar. Ah...itu sudah jadi candunya
Bastian berdecak, membuat Ami menoleh.
" Kenapa pak ? apa berkasnya ada yang kurang "
Bastian Memandang Ami dengan wajah kesal, kenapa ia bisa setenang itu. Hatinya sudah berlonjak ingin berkata.
' Ayo kita berjuang bersama demi cinta kita '
Tapi tak bisa ia ucapkan. Pagi ini tak cukup durasi untuk drama cinta. Bastian mengambil tas dan melangkah keluar pintu lalu mundur lagi. Ia melihat jam, masih ada setengah jam lagi untuk meeting. Ia berdiri di depan CCTV yang dipasang di depan pintu dan kembali berdecak. Ia mengusap wajahnya.
Bastian tak bisa menahan kesalnya lagi pada ibunya. ia akan membuat ibunya menjerit saat melihat rekaman CCTV.
" Ya...saya kurang dapat kasih sayang dari kamu "
Bastian menarik tubuh Ami dan tangannya melingkari leher istrinya. dalam gerak cepat ia sudah mengunci bibir tipis itu dengan bibirnya dan menjelajahinya dengan liar.
Ami tak bisa mengelak, gerakan Bastian begitu cepat. tangan kekar itu mengungkungnya begitu erat.
" Bastiaaan !!!!!! " jerit Winda di ruang tamu, saat menonton CCTV bersama Nana.
PLAK !!!
tangan Ami melayang di pipi Bastian, wanita itu terperangah sendiri dengan apa yang tangannya lakukan. Ia memandang Bastian antara rasa marah dan takut. Mungkin tamparannya cukup keras di pipi Bastian.
" Mulai sekarang, kamu harus laporkan apa yang mami lakukan pada istri saya. Saya sudah kirim bukti kalau kita sudah menikah " ucap Bastian sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangan dan mengelus pipinya yang terasa perih.
Bastian melangkah lebar keluar ruangan, meninggalkan Ami terpaku menatap nanar CCTV. Semua ketakutan itu menjejal pikirannya. semalam secara halus ibu suri itu memintanya menjauhi putra mahkota dan setelah kejadian tadi, ia pasti di usir secara hina.
Denting notifikasi membuat dentum horor di hati Ami. ia membuka pesan hijau dengan tangan bergetar.
[ Temui suami saya di kantornya sekarang dan kemasi barang barangmu setelah ini ]
Benar saja ia di usir oleh ibu mertuanya, lidah ibu mertua memang tajam.
Ami gugup mengetuk pintu ruangan Hendra. Jika istrinya bisa semarah itu, apalagi suaminya. Ia harus siap dengan amukan tuan Hendra.
" Masuk ! " perintah suara dari dalam. Ami berlahan membuka pintu. Ruangan direktur utama milik Hendra begitu luas. Di dindingnya terpajang dua foto putra sang direktur. Bastian dan Rendra.
Ami melihat Hendra sedang menerima telpon. Ia menunduk ketika Hendra menatapnya sambil menjawab telpon.
" Duduk Mi " Ami tercengang mendengar suara teduh itu menyuruhnya duduk padahal ia sudah siap dibentak.
" Sudah sarapan ? " Ami menggeleng lemah, ia terlalu jujur tentang hal ini sehingga ayah mertuanya itu sampai menelpon OB untuk membawakannya sarapan.
Hendra belum bicara, ia menggaruk tengkuknya menyusun kalimat yang mungkin bisa menenangkan menantu perempuannya yang sedang kalut karena omelan istrinya.
" Sungguh kamu mencintai Bastian ? " tanya Hendra setelah beberapa saat hening.
Ami terdiam, ia takut menjawab iya. takut ia dianggap lancang.
" Maafkan saya pak " ucap Ami sendu.
Hendra menghela nafas.
" Karna kamu sudah berani mencintai anak saya maka kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sekarang ia rasa. buat dia bahagia "
Hendra berdiri. Ami mengangkat wajahnya, kalimat itu masih ambigu untuk ia cerna.
" selamat datang di keluarga Perdana, Amina Rahayu Bastian " Hendra mengulurkan tangan. Ami semakin tercengang, ia memandang lekat direktur utama yang tak lain ayah mertuanya. Sungguhkah ia diterima ?
Hendra mengangguk sambil melihat ke arah tangannya yang belum di jabat Ami, lekas Ami menjabat tangan Hendra.
Bastian masuk ke kantor ayahnya dan terkejut melihat Ami sedang berjabat tangan dengan ayahnya. apa yang terjadi ?
" Sekarang kemasi barang barangmu dari kantor Bastian " ucap Hendra yang disambut bentakan Bastian.
" Papi ! papi memecat Ami !"