
Bastian harus istirahat dirumah Winda untuk beberapa hari. Artinya Ami harus tinggal sendiri di apartemen Bastian meski setiap malam mereka sering bertukar informasi melalui telpon.
Saat Ami datang memberikan berkas untuk di tanda tangani, Ami mendengar sebuah perdebatan antara Winda dan Dina di halaman rumah.
" Rendra sebentar lagi akan menikah dengan anak pewaris Brigtness grup. Tentu ini akan jadi kerajaan bisnis keluarga Rendra. Mereka akan memberikan saham yang besar untuk Rendra " ucap wanita berparas blasteran itu.
" Saya ucapkan selamat untuk itu " tanggap Winda datar.
" Saya kesini hanya ingin memperingatimu kak tentang skandal anakmu dengan asisten kampungannya itu. dengar dengar mereka sering berdua di luar jam kerja, selera anakmu memang payah. Wanita dari kaum rendahan tak sederajat dengan kita "
Deg ! jantung Ami bergemuruh hebat, hinaan itu telah menusuk hatinya. Ia merasakan bola matanya panas. Ia memang berasal dari kampung, tapi bukan berarti ia kampungan.
" Kamu jangan mengada ada, Bastian akan menikah dengan anak Hutomo, pemilik saham terbesar dalam beberapa perusahaan '" Winda terpancing.
" Kita bisa lihat saja nanti kak, kalau hubungan mereka tak berbatas lagi, saya pamit pulang "
Tak lama mobil meluncur meninggalkan halaman rumah Winda. Ami yang bersembunyi dibalik pohon hias berdaun lebar bisa melihat tatapan tajam Winda.
Ucapan Dina tadi ternyata memberi pengaruh besar pada Winda. Saat Ami muncul. Ia tak lagi menunjukkan senyum ramahnya.
" Bisa saya bicara sebentar " ucap Winda saat Ami mendekatinya, Ami bahkan tak sempat mengucapkan salam.
" Ya..mi " jawab Winda. Ada rasa cemas menghinggapinya, apa ucapan Dina tadi masuk kedalam pikiran ibu mertuanya itu ?.
Winda membawa Ami ke halaman belakang. mereka duduk di bangku taman, menghadap jejeran bunga Crisant yang sedang merekah. Ami mendengar helaan nafas berat Winda. Cukup lama nyonya itu terlihat berfikir sebelum mengeluarkan kata katanya.
" Benar kamu tidak ada hubungan apa apa dengan Bastian selain asisten dan pimpinan perusahaan ? " tanya Winda dengan berdiri tegas di depan Ami. Ia meletakkan kedua tangannya kebelakang. Ami melihat muka Winda mengeras, aura tidak sukanya begitu kentara.
Ami menatap pias ibu mertuanya, bibirnya bergetar. Tenggorokannya terasa tercekat, benar kata Bastian cepat atau lambat pernikahan mereka akan diketahui.
" Saya..." Ami tak dapat melanjutkan kata katanya. Tenggorokannya sakit sekali.
" Sudah saya mengerti, bukan rahasia lagi kalau para bos bos itu menjadikan asistennya sebagai pelampiasan. anak saya juga bukan malaikat, disaat kegalauan yang ia rasakan saat ini, ia pasti butuh pelampiasan, sialnya kamu terpikat rayuan Bastian "
Ami merasa racun yang tadi ditenggorokannya kini turun memecahkan empedu hatinya, memompa detak jantung untuk mendorong bulir bulir hangat keluar dari pelupuk mata.
" Saya tidak seperti itu mi .." ucap Ami dengan bibir bergetar.
" Saya tahu kamu baik dan polos, tapi mulai saat ini berusahalah menjaga dirimu agar tidak termakan rayuan kosong atasanmu. Besok saya akan minta suami saya memindahkan kamu ke divisi lain jadi kalian tidak sering bertemu lagi " ucap Winda penuh penekanan. Ami mengangguk, pilu itu semakin menusuk hatinya.
Rasa rindu yang baru ia miliki harus jadi penggores luka saat si empu raga harus dipaksa menjauh darinya.
" Mi.., kalian disini " Bastian tiba tiba muncul. Ami menautkan kedua jemarinya agar bulir hangat itu tidak jatuh.
" Kamu sudah sehat nak ?, kalau belum jangan dipaksakan bekerja " tanya Winda sambil mendekati Bastian.
" Sudah mi, papi minta aku temani meeting dengan dewan direksi pagi ini "
Bastian tertegun melihat asistennya tertunduk sambil mengusap matanya dengan ujung jari. Suara helaan nafas itu bisa menjelaskan saat ini dia tidak baik baik saja. Pasti ada hal penting yang dibicarakannya dengan ibunya.
" Aku berangkat dulu mi " ucap Bastian sambil meraih punggung tangan ibunya untuk dicium.
" Hati hati " ujar Winda saat Bastian mengajak Ami berdiri dan berjalan meninggalkan halaman belakang. Baru beberapa langkah, jalan mereka terhenti.
" Bas ! " panggil Winda, pasutri itu menoleh serempak.
" Jaga sikap kamu sama Ami, meski mami sudah menganggapnya anak bukan berarti kamu seenaknya pada asistenmu "
Bastian seakan mengerti apa yang dibicarakan ibu dan istrinya tadi, ia mengangguk dan memperhatikan Ami yang mengambil jarak dengannya.
Setelah mobil meninggalkan rumah, Bastian tak sabar mengusap bahu istrinya. Pasti ada hal buruk yang disampaikan ibunya tadi pada Ami.
" Pak.." Ami tak sanggup lagi menahan air matanya, hinaan sebagai wanita kampungan itu begitu menusuk hatinya. Bukankah Tuhan saja tak pernah membeda bedakan manusia ciptaan-Nya. Dari dulu ia tak pernah memanfaatkan siapapun. Meski kesempatan itu banyak, bahkan sampai saat ini ia belum memakai uang yang Bastian transfer ke rekeningnya.
Ami terisak, Bastian melihat lihat tempat dimana ia bisa menepikan mobil. Ia melihat halaman parkir sebuah mini market. Bastian membelokkan mobil ke parkiran mini market.
Bastian merengkuh kepala Ami dan meletakkan di dadanya, ia tahu pasti ada hal menyakitkan yang disampaikan ibunya pada Ami dan istrinya itu akan mengelak jika ditanya jadi tak usah ditanya.
Bastian mengusap air mata Ami dengan jarinya.
" Sudah jangan nangis lagi, Mami itu sebenarnya baik meski kadang ucapannya suka ngorek kuping "
Ami masih terisak, dada kekar itu terasa nyaman untuk disandari. Ia membiarkan Bastian membelai rambutnya dan berkali kali mengecupnya.
Meski ia tahu saat ini ia melanggar kesepakatannya dengan Winda tadi, tapi Ami ingin menikmati haknya sebagai istri Bastian. Setidaknya biarkan ia sesaat melepas rindu.
" Sebentar, saya tau apa yang membuat kamu berhenti menangis " Bastian keluar dari mobil dan tak lama kembali lagi.
Ia menghidupkan mesin mobil seraya menyerahkan beberapa tangkai permen kaki.
" Bapak kira saya anak kecil " ujar Ami sambil merengut tapi mengambil juga permen yang diberikan Bastian.
" Kalau sudah besar, tau dong apa yang harus di **** " Bastian menarik turunkan sebelah alisnya.
Ami melototkan mata. ' Ini masih pagi lo pak '.
" Aduuh..." Bastian mengaduh karna pinggangnya di cubit Ami.
" Jangan mancing mancing sayang, kita kerja dulu "
Ami menarik tangannya dari pinggang Bastian dan mencoba duduk tenang. Bastian mengangkat panggilan dari Deni. ia sengaja mengeraskan suaranya karna ia pikir pembicaraannya tak akan mengganggu hubungannya dengan istrinya.
" Ya Den.., gue lagi di jalan. tar lagi sampai "
" Ini aku mas, Amira..."
Bastian menelan ludah tak mungkin ia mengecilkan suara panggilan karna Ami sudah terlanjur mendengarnya.
Ami menarik permen yang sedang dikulumnya. ada rasa pahit singgah dilidah meski permen yang ia isap sangat manis.
" Mas.., aku berharap kamu masih membuka hatimu lagi untukku, aku tahu kamu masih mencintaiku. Seminggu lagi aku akan berangkat ke Swiss, cegah aku pergi mas, aku ingin kau menahan " ..
Klik !
" Kenapa di matikan ? " tanya Ami mengimintidasi.
" Kakak masih marah sama kak Amira ? "
Bastian mengusap mukanya, tak ingin menjawab pertanyaan Ami. pikirannya mengoreksi ucapan, seperti ada yang berbeda.
" Kamu manggil apa tadi ? "
" Kakak " jawab Ami cepat, ia tak berani menatap Bastian yang begitu lekat menatapnya.
" Aku di panggil dek, jadi pasangannya ya kakak " jelas Ami dengan muka tertunduk. Bastian tersenyum sambil menggusar rambut Ami.
" Terserah, yang penting diluar jam kerja jangan panggil bapak terus, bisa tua aku lama lama kamu panggil bapak, emang aku bapakmu neng " ucap Bastian terkekeh.
Ami berusaha tersenyum meski kegundahan itu jelas terpancar di matanya.
Benarkah ada cinta untuknya ?