Asisten Special

Asisten Special
Kita berjarak untuk sementara


Nana mengelus pipinya yang memerah dan memilih beranjak pergi karna ia jadi ciut melihat Amira datang bersama teman temannya.


" Kamu ga pa pa ? " tanya Amira sembari membuka kursi di samping Ami.


" Ga pa pa kak " jawab Ami dengan gelengan lemah. Ia sedikit kena mental juga mendengar tuduhan Nana yang mengatakan kalau ia menjual tubuhnya pada Bastian.


Ami menghela nafas. Ia melihat satu persatu teman teman Amira yang mendekati mejanya.


" kenalkan ini guys..asisten Bastian, babe gue udah anggap dia kaya adik sendiri " jelas Amira mengenalkan Ami pada wanita wanita dengan gaya berkelas itu.


" Ami.." ucap Ami sambil menjabat satu persatu tiga wanita yang datang bersama Amira. Mereka memindai Ami dengan lirikan yang berbeda, ada santun, biasa aja dan ada yang sinis. Ami hanya mengangguk hormat.


" Sudah lama jadi asisten Bastian ? " tanya wanita bernama Chelsia . Ia yang punya punya tatapan sinis pada Ami.


" Baru enam bulan " jawab Ami santun.


" berarti sudah paham luar dalam Bastian "


Ami melipat bibirnya, ia melirik Amira yang sedang berbalas pesan di layar hijau. Berharap Amira menghentikan teman usilnya ini.


" Maaf kak, saya nggak paham maksud kakak "


 terdengar kekehan mengejek.


" Anak bau kencur rupanya, lo nggak tau dunia bos bosan atau lu pura pura muna ! " bisik Chelsea menatap tajam Ami.


Ami ingin menggebrak meja, sudah dua orang yang menilai dirinya adalah mainan Bastian, sekedar pelampiasan. Tapi hatinya juga mempertanyakan itu. Apakah Bastian mencintainya ? apa yang dikatakan Lila kembali menjejali pikirannya.


Awalnya mereka akan memuji kita bak dewi, menghujami kita dengan kata kata cinta dan setelah manis kita dia isap habis, kita akan dicampakkan dan kembali pada orang yang dicintainya. Terdengar sangat menyakitkan.


Ami melirik Amira yang masih sibuk dengan ponsel. Dia adalah wanita yang pernah dicintai Bastian, rupanya begitu sempurna. Ami menelan ludah.


" Sampai kapan Bastian sesibuk ini Mi ? " tanya Amira dalam helaan nafas berat.


" Minggu ini akan sibuk kak, sebab pemegang saham ingin perencanaan yang sempurna untuk proyek pembangunan apartemen "


" boleh aku minta tolong, atur jadwalku dengan Bastian seperti berkencan. makan malam romantis mungkin " ucap Amira dengan mata berbinar.


Kali ini hanya imajinasi Ami yang bermain, ia ingin menggebrak meja dan berteriak.


" Aku istrinya !!! "


untung hanya dalam imajinasi.


" Maaf kak, semua jadwal pak Bastian harus diketahui ibunya jadi tak bisa mengubah seenak kita. Kakak sendiri tau kan kalau bu Winda sedang mengatur pertunangan Bastian dengan Nana " Ami yang menjelaskan itu merasa tercekat sendiri dengan perkataannya. Wajah Amira berubah pias, disaat ia berusaha merebut hati Bastian, justru laki laki itu tengah menuju gerbang pernikahan.


" Cukup Amira, gue yakinkan lu ga usah mengharapkan cinta Bastian, dia sudah move on dari lu " sentak Chelsea yang sejak tadi terus memperhatikan Ami.


" Gue yakin Chel, Bastian itu masih cinta sama gue, gue cinta pertamanya dan jika benar pun dia punya wanita lain saat ini, itu hanya ingin membalas sakit hatinya pada gue, gue yakin itu " tanggap Amira penuh keyakinan.


Ami meremas dadanya, kata kata Amira bak anak panah yang menusuk jantungnya, wanita lain itu adalah dirinya, jahatnya Bastian jika menjadikan dirinya alat balas dendam. .


" Kamu tau siapa wanita sedang dekat dengan Bastian mi ? "


Ami tertegun, apakah ia harus menjawab jujur ? apa reaksi Amira nanti ? marah. Jelas. kecewa. tentu saja.


Ami bukan ingin merasa menang, ia hanya merasa ia berhak mencintai dan dicintai seseorang.


denting notifikasi membuat jeda untuk Ami menjawab pertanyaan Amira.


[ Nanti malam pakai ini ya, miss you ❤]


Ami menahan senyumnya, baru saja Bastian mengirimkan sebuah foto lingerie warna merah. Hal yang lumrah jika Bastian minta sering dilayani di ranjang. Laki laki itu masih muda dan dia meminta pada istrinya yang sudah halal ia sentuh. Justru Ami berdosa menolaknya.


" Maaf kak, pak Bastian tidak suka saya mengusik masalah pribadinya " bohong Ami. Jelas sekarang, ia mengurusi hal paling pribadi dari mantan Amira itu.


" Saya permisi dulu "


Ami terkejut ketika Winda sudah duduk di meja kerja Bastian, sepasang manik itu menatapnya tajam.


" Duduk ! " titahnya. Disamping Winda, berdiri Nana yang menghujami Ami tatapan kebencian.


" Benar kamu satu kamar hotel dengan Bastian ? "


Ami merasa petir sedang menggelegar ditelinganya, apa yang ia cemaskan terjadi. Wajahnya seketika dititiki peluh.


" Berapa Bastian membayarmu untuk itu ? " kali ini Nana yang bicara.


Ami hanya diam, bibirnya serasa dikunci.


" Kenapa diam ? ini kan yang kamu mau "


Nana melemparkan sejumlah uang kertas berwarna merah ke muka Ami.


Ami ingin berteriak sekuat tenaga pada semua orang, ia bukan murahan. Bastian sudah jadi suaminya bukan karna laki laki itu kaya tapi karna ia mencintai Bastian. sampai saat ini ia belum memakai sepersen pun uang Bastian padahal ia berhak.


" Nana, hentikan ! " teriak Bastian yang tergopoh masuk kedalam ruangan. tubuhnya menghalangi segelas air yang dilempar Nana ke wajah Ami, membuat jas yang dikenakan Bastian basah.


" Apa apaan kalian ini, tolong hormati asisten saya " hanya dalam hati Bastian bisa berucap ' dia istri saya '


Ami mengambil tasnya dan berlari keluar. ia menghubungi Jojo.


Bastian tak bisa mengejar istrinya yang saat ini tengah terluka ulah ibunya dan calon tunangan yang tidak dia kehendaki.


Bastian melipat tangan di dada dan menunjukan bukti pemesanan kamar hotel. dua buah kamar hotel. Bastian memang memesan dua kamar hotel. dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Menyusup ke kamar Ami tidaklah sulit karna pemilik hotel itu adalah temannya.


Ibunya tak akan menemukan rekaman CCTV, saat ia masuk ke kamar Ami.


Winda hanya bisa menggigit bibirnya. Begitupun Nana, menatap Bastian dengan perasaan bersalah.


" Jadi kalian silahkan simpulkan sendiri, apa yang saya dan Ami lakukan disana "


Winda dan Nana pamit pulang


" Mami hanya ingin kamu dapat istri yang sepadan denganmu nak, mami akan minta papi memindahkan Amina ke perusahaan lain , supaya Nana tidak mencurigaimu lagi "


Bastian tak menanggapi perkataan ibunya, matanya lurus melihat ke arah pintu. ia menekan gemuruh yang begitu kuat berhembus di dadanya dengan menekan kuat kepalan tangannya ke atas meja.


Ia ingat sekali pesan pengasuh yang sangat ia sayangi.


" Jangan menghardik mami ya, itu dosa " kata kata itu selalu terngiang ditelinga Bastian saat ingin marah pada ibunya.


Setelah maminya pergi, Bastian mencoba menghubungi Ami, tersambung tapi tak kunjung diangkat.


Jojo menghubungi Bastian


" Apa yang terjadi ? kenapa kak Ami terlihat shock ? "


Bastian menemui Ami di rumah KPR yang dibeli Ami. Rumah itu ditempati Jojo. Istrinya itu menjaga jarak.


Ia menepis tangan Bastian yang ingin meregkuh kepalanya.


" Kak, sebaiknya. kita saling menjauh dulu. Saya sudah tidak tahan dengan situasi yang menekan saya " ucap Ami dengan bibir bergetar.


" saya selalu ingin kasih tau mami soal pernikahan ini tapi kamu selalu melarang, saya sudah siap dengan segala resiko Mi "


" Saya akan siapkan resepsi, mau tak mau mami harus menerima keputusan saya " Lanjut Bastian sambil menahan lengan Ami yang ingin menjauh darinya.


" Bukan itu yang penting bagi saya Kak, satu hal yang selalu jadi tanya di hati saya " Ia mengeluarkan sebuah notebook biru dari dalam tas, saksi awal pertemuan mereka. Sebuah diary, catatan hatiku untuk Amira.


" Di sini jelas tertulis, kakak ingin menghabiskan masa tua bersamanya. Apakah saya hanya dijadikan persinggahan, untuk pelampiasan rasa sakit hati ? "