Asisten Special

Asisten Special
Tidak semua. Contohnya aku


Siang itu matahari bersinar cerah, burung burung kecil berterbangan dari dahan ke dahan. Riuh suara anak anak berlari meningkahi hari, sepertinya cerahnya hari juga bisa dilihat di wajah Bastian. Ami mengekori Bastian melangkah memasuki taman kota.


Dengan langkah santai Bastian berjalan ke arah bangku taman, tepat di bawah pohon rindang.


" Bener ketemu kliennya di sini pak ? " tanya Ami heran. ia memendarkan pandangan ke sekeliling. suasana begitu ramai, ada sekelompok anak TK sedang melakukan aktifitas. Nggak mungkin bicara bisnis ditempat yang riuh ini.


" Nggak " jawab Bastian santai. ia membersihkan bangku kosong dengan tisu. lalu duduk dengan kaki menyilang dan tangan memegang sandaran bangku. persis model yang mau difoto.


" Lo bukannya bapak bilang kita mau ketemu klien ? " tanya Ami heran. Ia melihat atasannya itu senyum senyum sendiri. Masih waraskan dia ?


" Kemarin Bagas sudah bohong sama saya, jadi gantian saya bohongi dia " ujar Bastian sambil tertawa.


" Bohong tentang apa pak ? " Ami kembali bertanya membuat Bastian mengernyitkan kening.


" Kamu ini, nanya mulu duduk sini ! " Bastian menunjuk pahanya, giliran Ami mengernyitkan keningnya.


" Sini ! " Bastian menarik tangan Ami hingga terduduk disampingnya tak berjarak. Ami mencoba bergeser tapi tangan kekar itu menahan pinggangnya.


" Pak..jangan berlebihan " tegur Ami ketika atasannya itu memainkan rambutnya. Ia jadi sibuk nyengir malu malu ketika ada yang melintasi mereka sambil senyum senyum.


" Kemarin, kenapa kamu di tempat Bagas, bukan pulang ke apartemen saya ? " tanya Bastian dengan tatapan mengimintidasi.


Ami tergagap, benar juga. Sekarang ia sudah jadi istri Bastian, jadi kehidupannya Sudah berada dibawah naungan Bastian.


" Saya..." Ami rasanya tak punya alasan kenapa tak pulang ke rumah. Bastian sudah lengkap memberi tahukan informasi tentang apartemen miliknya.


" Kamu tau kan, kalau perempuan sudah menikah itu harus nurut kata suami. Saya suami kamu " tekan Bastian, Ami tertunduk.


" Kemarin, saya telpon Bagas. Saya tanya sama dia, apa dia bersama kamu ? dia jawab tidak. Dia pikir saya percaya "


" Maaf " Cicit Ami


Bastian meraih kedua jemari Ami dan meletakkan di keningnya.


" Tolong dipijit " ucapnya manja. Ami melihat sekeliling takut ada yang mengenalinya dan Bastian.


" Pak, gimana kalau di rumah saja " saran Ami, merasa disekelilingnya di penuhi mata mata Winda.


" Tentu saja, yuk pulang " Bastian seketika berdiri sambil meregangkan tangannya.


" Nanti pijit tambah tambah ya " ucap Bastian dengan senyum lebarnya. Ami mengerutkan kening, mode onya mati total siang hari.


" Apa itu tambah tambah ? "


" plus plus neng, gitu aja ga tau " jawab Bastian sambil menowel pipi Ami, mode langsung on. Pipinya bersemu merah.


Dari kejauhan seorang wanita berpakaian ala kantoran berlari ke arah Ami, ia menubruk tubuh Ami membuat Ami terduduk kembali.


" Ami...untung aku ketemu kamu disini " perempuan itu memeluk Ami dan terisak di bahu Ami.


" Lala..kamu kenapa ? " tanya Ami yang ternyata mengenal perempuan itu.


Bastian yang sudah riang dan sudah terbayang adegan tambah tambah bakal dilakukannya terpaksa duduk kembali. Ia merutuk sendiri.


" Breng..sek ! " umpatnya pelan. Ami meletakkan jari di bibir agar Bastian tak bersuara.


" Mi...selama ini aku jadi istri simpanan bosku " Ami mengangakan mulut. Lala adalah teman kuliahnya. Selama ini mereka cukup dekat.


" Awalnya dia bucin sama aku, sering merayu aku, bilang cinta berkali kali. muji aku bak bidadari. setelah tubuhku habis dia isap, dengan mudahnya ia tunangan sama orang lain. katanya nggak ingin jadi anak durhaka " Tangis perempuan itu semakin menjadi.


'" Tenang la, semua masalah pasti ada solusinya " bujuk Ami.


Lala merenggangkan pelukannya dan mengusap air mata yang tak seberapa itu.


" Aku dengar kamu jadi aspri pimpinan perusahaan, kamu jangan seperti itu ya. Jangan mudah memberikan tubuhmu meski kamu sudah dinikahi "


" Para bos bos itu hanya menjadikan kita jadi pelampiasan, melakukannya tanpa rasa cinta "


Bastian mendehem, Lala menoleh.


" Maaf anda siapa ya ? kenapa menatap saya seperti itu ? " sarkas Lala merasa laki laki dibelakangnya menatap penuh emosi.


" Saya bos Amina sekaligus suaminya, ada masalah ? " balas Bastian lebih sarkas. Lala menciut, melihat laki laki yang dibelakanginya dan Amina bergantian. Matanya minta persetujuan Ami. Ami mengangguk pasti.


" Boleh lepaskan istri saya " Lala menjauhkan tubuhnya dari tubuh Ami. Ia tersenyum kecut.


" Aku pergi dulu ya La, lain kali kita ngobrol lagi " Ami melambaikan tangannya pada Lala yang hanya bisa menatap hampa bos dan aspri yang terlihat romantis itu. Bastian menggandeng lengan Ami.


Dalam perjalanan pulang, Ami lebih banyak diam. Entah kenapa perkataan Lala meracau hatinya. Sentuhan tanpa cinta, pelampiasan.


Ami menggigit kukunya, sesekali menoleh pada si pengendali kemudi.


" Kenapa ? kepikiran sama yang dikatakan Markonah " tanya Bastian sambil memperhatikan wajah istrinya. kok sendu ? Markonah memang jahat, kata katanya membuat junior terkulai.


" Lala pak, namanya Lala, enak aja ganti nama orang "


Bastian menghela nafas. Ia pun diam sampai di basement apartemen.


" Mi.., apa yang temanmu katakan tidak salah, memang banyak mereka yang punya pangkat dan jabatan memanfaatkan wanita sebagai pelampiasan tapi aku tidak seperti itu " tutur Bastian sambil mengusap bahu Ami.


Ami hanya menata dua bola mata itu penuh tanya, jujurkah ?


Rasa membuncah itu membuat Ami gugup untuk membuka seatbelt. Tanpa diminta Bastian membantunya, tepatnya memanfaatkan kesempatan. Ia merengkuh kepala Ami menautkan bibirnya dengan bibir Ami, menikmati manisnya bibir tipis yang selalu diperhatikannya setiap hari.


" Pak..jangan disini " cegah Ami ketika tangan suaminya sudah mulai menjelajah. Bastian tersadar, ia berusaha menahan hasrat yang sejak tadi tertahan.


Mereka berdua melanjutkannya di apartemen, Ami tahu ia akan berdosa jika menolak keinginan Bastian karna laki laki itu sudah sah jadi suaminya dan ia juga bukan istri simpanan.


Ketika Bastian hendak membuka baju Ami, hp yang terletak diatas nakas berdering. Bastian mengabaikannya. Ia baru saja memulai pergulatan panas ini dan tak ingin diganggu siapapun.


" Pak...hpnya, siapa tau penting " Ami menghentikan tangan Bastia yang terus bergerak untuk membuatnya polos.


" Ish..siapa lagi ganggu kesenangan orang " rutuk Bastian sambil memukul kasur.


Ia meraih hp diatas nakas dan melihat nama Deni di layar.


" kenapa sih lu ganggu..." Bastian menghentikan ucapannya dan seksama mendengarkan suara Deni dalam hp.


" Sebentar, gue izin dulu sama Ami "


Ami yang kembali mengenakan bajunya menoleh. Bastian ragu untuk bicara.


" Ami, kamu jangan marah. Aku..."


Ami seakan bisa membaca isi pikiran suaminya dan itu membuatnya kecewa.


" Aku harus ke rumah sakit, kondisi Amira tidak stabil "


Hanya anggukan pelan dan tatapan nanar yang bisa Ami berikan. Hatinya merutuki bibirnya yang tak mampu mencegah suaminya menemui wanita lain di saat mereka baru saja ingin melepas hasrat.


" Jangan marah, hatiku hanya untukmu. Aku hanya menganggap Amira sahabatku seperti Bagas dan Deni " ucap Bastian saat Ami mengantarkannya ke pintu.


" Nggak apa apa, pergilah " balas Ami pelan mengandung mendung.


" Aku sayang kamu " ujar Bastian sambil mencium pucuk kepala Ami. Ami menutup pintu setelah Bastian keluar. Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu. ada bulir hangat yang sejak tadi mendesak keluar.


Ia menurunkan tubuhnya perlahan dan memangku kedua lututnya. Beberapa saat mengeluarkan isakan.


" Kenapa aku harus jatuh cinta padamu Bastiaaan ! " jerit Ami pada ruang yang sepi.