
" Jangan paksa aku pulang pa, aku masih mau tinggal disini " Ketiga sahabat itu dan Ami hanya bisa mematung melihat Amira diseret papanya yang baru pulang dari Swiss di lobi apartemen Amira. setelah kejadian di hotel, Bastian menghubungi Deni dan Bagas karena Amira terus meminta tolong untuk menghadapi ayahnya yang ingin membawa Amira kembali ke luar negri.
Bagas mendorong tubuh Bastian agar mendekati Amira yang terjatuh karena ingin lepas dari pegangan ayahnya. gadis itu menangis dengan memeluk lututnya.
" Ayo Bas, dekati Amira, bilang kamu masih mencintainya " bisik Bagas yang reflek membuat Ami melirik suaminya.
" Waktu yang papa berikan sudah habis, kalau kamu tidak bisa menunjukkan siapa calon suamimu disini, maka kamu harus menikah dengan pilihan kami " ujar laki laki paruh baya itu sambil membantu anaknya berdiri tapi Amira menolak.
" Aku masih ingin disini pa, beri aku sedikit waktu lagi " Amira mengusap air matanya, fokus wanita itu sekarang beralih pada mantan kekasihnya. ia sangat berharap laki laki itu berbicara sesuatu pada ayahnya.
" Om, biarkan Rara tenang dulu " ujar Bastian mendekati tuan Smith. Amira memang keturunan blasteran karna itulah ia memiliki kecantikan khas wanita indo.
Ketika berada dekat Amira, Ami sering merasa insecure. wanita itu begitu cantik, Pertanyaan itu kerap muncul di pikiran Ami kenapa Bastian memilihnya ? yang jika dibanding Amira secara fisik ia bukan apa apa.
Ami memalingkan wajah ketika Amira menjatuhkan kepalanya di bahu Bastian, setelah Bastian membantunya berdiri.
" Oke..papa kasih waktu kamu dua bulan lagi, kalau tidak kamu harus menikah dengan Joshua " laki paruh baya itu membantu putrinya merapikan diri. Amira sertamerta memeluk pria bule itu.
" Terima kasih pa, aku akan membawa menantu papa ikut ke Swiss " ujar Amira seraya melirik Bastian. Ami memandang Bastian dengan sudut mata.
Setelah tuan Smith pergi, mereka berkumpul di apartemen Amira. Menenangkan Amira yang terus menangis. Tentu Bastian yang lebih dominan menghibur mantan kekasihnya itu. Ia membiarkan Amira memeluknya meski tak begitu membalas pelukan itu.
Ami memilih melepaskan sesaknya di balkon. Sebenarnya ia ikut simpati juga mendengar kisah mantan suaminya itu. Demi mengejar cinta lamanya, ia rela melepaskan karirnya yang cemerlang di luar negri. Mengambil resiko terburuk terbuang dari keluarga jika keluarganya tak setuju Bastian menjadi pilihannya, secara konflik ibunya dan ibu Bastian masih kental. Tapi sekarang Bastian sudah jadi suaminya, ia tak rela wanita manapun merebut laki laki yang dicintainya.
Amira datang ke hotel tengah malam. Wanita itu melacak keberadaan Bastian melalui GPRS. Pagi tanpa sengaja mereka bertemu di restoran, saat tengah berbincang. Nana yang kebetulan juga sedang mengadakan seminar ditempat itu, tak sengaja melihat Amira tengah menghapus baju Bastian yang tertimpa kopi. Melihat kemesraan itu, Nana naik darah. ia menghampiri tunangan dan mantan kekasih tunangannya yang menurut pikirannya sedang bermesraan, kecurigaannya meninggi saat ada yang mengatakan keduanya tampak mesra sejak tadi malam. Terjadilah ribut ribut, bak drama istri menggrebek pelakor.
Padahal yang jadi istri sendiri tidak segarang itu.
********
" Pak, semuanya sudah siap " ucap Ami sambil meletakkan semua kebutuhan Bastian untuk meeting di meja Bastian.
Bastian tertegun sejenak, memperhatikan wajah istrinya yang sedang mendung, padahal hari sangat cerah.
" Kamu sakit ? " Bastian meraih tangan Ami, wanita itu menggeleng.
" Sariawan ? dari tadi diam aja " Ami menjauhkan tangannya dari meja. Bastian menghela nafas, sebenarnya ia tahu kenapa istrinya seperti itu. Tidak seorang istripun mau melihat suaminya memeluk wanita lain.
" Aku pergi ya..." Pamit Bastian sambil mengambil tas yang sudah disediakan Ami. Ami mengangguk tanpa menoleh.
Bastian tak jadi membuka pintu, ketika ia melihat Ami, perempuan itu asik dengan kertas dan pena.
" Ekhmm ! "
Ami menegakkan kepala.
" Ada yang ketinggalan pak ? " tanya Ami sambil memperhatikan meja Bastian
" Ada, hatiku tertinggal di hatimu " rayu Bastian mencoba meluluhkan keruh di wajah Ami, sedikitpun istrinya itu tak bergeming. Ami hanya mengangkat senyum sedikit lalu kembali terpekur mencoret coret kertas.
Bastian belum beranjak keluar, tangannya sibuk mengutak atik handel pintu bersamaan otaknya yang terus berfikir bagaimana wajah itu cerah lagi, sedikit galak juga ga apa apa. diamnya wanita yang dicintai, adalah hal yang menakutkan bagi bagi laki laki seperti yang papinya rasakan saat ini.
" Jo..kamu butuh uang berapa ? lima juta, sepuluh juta nanti abang transfer "
Bastian pura pura menelpon Jojo dan tentu saja Ami berlari kearahnya dan merebut ponsel.
'" kamu, jangan minta macam macam Jo, jangan seenaknya minta minta, coba belajar mandiri ! " hardik Ami pada layar yang hening. Bastian tersenyum. Ami melihat wall paper foto dirinya yang sedang tersenyum di hp Bastian dengan tulisan, The one and only. Mau tak mau marah itu bisa luntur juga.
" Maaf, anda kena prank " ujar Bastian sambil mengambil hpnya kembali.
" Jadi kakak jangan pelit pelit, kenapa sih kamu ga bolehin aku bantu Jojo. Gimanapun dia sudah jadi adik aku juga "
" Nggak usah, biar dia tau susahnya cari duit. Nanti kalau punya istri sudah bisa mikir cari nafkah buat istri " omel Ami.
Bastian mengangguk angguk, seperti ingin mengoreksi kata kata bijak istrinya untuk adik tercinta.
" Aku sudah capek capek cari nafkah, aku kasih berdijit dijit, istriku nggak mau pake. padahal itu hak dia, aku kaya suami ga dianggap " suara Bastian persis mak mak curhat.
Ami reflek menutup mulut Bastian.
" Nggak gitu maksudnya "
" Gimana malam ini kita nonton " usul Bastian, beberapa hari yang lalu Ami mengatakan ia ingin nonton bioskop.
" Twenty one ya kak, ada film bagus tuh " sambut Ami senang.
" nonton drakor di rumah biar hemat "
" Please, jangan ngambek. aku ga konsen kalau liat kamu mendung gitu " bisik Bastian sambil mengelus pipi squishy yang selalu ingin ia gigit.
" Pak, sebentar lagi meetingnya dimulai " balas Ami berusaha mengurai pelukan.
" Mereka tak akan mulai kan tanpa saya " tanggap Bastian memperat pelukannya.
" Kasihan kan mereka nunggu bapak lama "
Sebuah ketukan pintu yang membuat Bastian melepaskan pelukannya.
Ami merapikan diri dan membuka pintu. Bastian terkejut karena maminya dan Nana berdiri di depan pintu dengan Wajah tegang.
" Mami..kenapa pagi pagi kesini ? " tanya Bastian dengan nada tidak senang, ia melihat Nana dengan sudut mata. Sudah berulang kali ia sampaikan pada gadis itu untuk tak mengharapkannya karna ia sudah punya pilihan hati sendiri.
Bastian tahu, gadis itu memanfaatkan kebaikan ibunya untuk memilikinya. ini bukan cinta lagi tapi lebih tepatnya ambisi, gadis itu telah berambisi dari dulu untuk menaklukannya karna Bastian tahu Nana selalu bersaing dengan Amira semasa mereka sekolah dulu.
" Mami bukan mau memohon lagi, tapi mami mau kasih peringatan, kamu harus menikah dengan Nana titik ! jauhi wanita masa lalumu itu " tegas Winda. Ia melirik Ami yang tengah menggigit kukunya.
" Kamu, kenapa masih disini, bukannya kamu harus pindah divisi ? atau sebaiknya kamu mengundurkan diri "
Bastian melirik ibunya dan Ami bergantian, jadi soal pemindahan Ami ke divisi lain, itu yang dibicarakan Ami dan ibunya beberapa hari yang lalu. Pantas istrinya itu sedih. Ini yang ia tidak suka dari ibunya sejak dulu. suka memaksakan kehendak, semua yang ia kenakan harus sesuai dengan maunya mami, sebab itulah ia lebih dekat dengan bibi Rahayu dan karena dialah bibi Rahayu meninggal.
" Mami, jangan campuri urusan pekerjaan Bastian dengan masalah pribadi mami. Amina tetap jadi asisten Bastian sampai kapanpun "
" Oke.., asal kamu mau mengikuti kemauan mami menikah dengan Nana ! "
Perdebatan itu berhenti saat pintu di ketuk. Edi, asisten papinya menyampaikan pesan.
" Pak Bastian, sudah di tunggu pak Hendra di ruang meeting "
Bastian Mengikuti Edi ke ruang meeting.
Winda dan Nanapun keluar ruangan. Ami menjatuhkan bobotnya lemas di kursi. Ia menatap layar komputer dengan hampa. sambil menghela nafas ia memijit kepala.
kenapa serumit ini masalahnya ?
saat jam istirahat Ami termenung di kafe. Ia duduk menatap jalanan yang ramai. Mungkin sudah puluhan kali jus jeruk itu diaduk aduknya, minuman berwarna kuning itu tak kunjung diminum. Bastian menghubunginya.
" Dimana dek ? " suara teduh itu langsung menyentuh telinganya, mengalir merasuki rongga dada. Ami merasa dirinya sudah terperangkap oleh rasa bernama cinta.
Sayang cintanya jatuh pada laki laki yang ber strata tinggi darinya, meski negeri ini tak mengenal kasta, dunia sosial akan tetap mengkotak kotakan manusia. cinta si kaya dan si miskin akan dianggap prahara.
Siapa yang dianggap bersalah ? tentu mereka yang tak berpunya. bermimpi terlalu tinggi.
" Aku di kafe, lagi makan siang " jawab Ami.
" Nanti, kamu pulang duluan ya. kakak masih ada pertemuan sampai malam nanti "
" Ya kak, nanti malam mau dimasakin apa ? pulang nanti aku mau belanja di pasar " sergah Ami sebelum Bastian menutup telpon. terdengar tawa kecil Bastian.
" Tumis kangkung sama telur ceplok saja "
" oke.., semangat kakak I love you "
Ami mematikan panggilan dan menutup bibirnya, duuh ini bibir lancang banget bilang cinta.
Ami terkesiap ketika Nana tiba tiba sudah duduk di depannya.
" Saya menganggu ?" tanya gadis berlesung pipit itu. Ami berlahan menggeleng, ia merasa tatapan perempuan itu tengah mengancamnya.
" Saya tidak mau berbasa basi lagi, selama ini saya tahu apa yang kalian lakukan di belakang saya. kau sudah berikan tubuhmu pada Bastian bukan ? "
Deg ! Ami merasakan darahnya menggelegak. pertanyaan itu ibarat mengatakan kalau ia adalah perempuan murahan.
" Saya tidak sehina yang anda kira " Ami berusaha mengatur emosinya.
Nana tertawa mengejek.
" Ya..ya..saya tahu, Amina kamu ini wanita suci. Tapi demi mengejar harta kamu mau jual diri ! kamu satu kamar dengan Bastian di hotel apalagi yang kalian lakukan disana kalau tidak bercinta "
Plak !
sebuah telapak tangan mendarat di pipi Nana. Ami merasa ia tak melayangkan tangannya, ia terkejut Amira berdiri di samping Nana.
" Kau menyebut wanita lain murahan, sebenarnya kaulah yang hina. jelas jelas laki laki itu tak menginginkanmu tapi kau memaksanya dengan harta orangtuamu " hentak Amira dengan tatapan menghujam