Asisten Special

Asisten Special
Strategi yang salah


Dengan susah payah, Joni mengangkat tubuh Bastian ke atas sofa. Tubuh atletis bosnya tak sebanding dengan tubuhnya kutilang, kurus tinggi langsing dan jangan lupakan botak.


" bener bener si bos, kurang kerjaan " gerutu Joni setelah berhasil membaringkan bosnya ke atas sofa.


" Jangan ngedumel Jon, ini kepala sakit tau, akibat salah perhitungan Jon. harusnya jatuhnya agak jauh dari pinggir meja. karna mendadak jadinya kepala kepentok pinggir meja.. au.! " Bastian merasakan belakang kepalanya perih, ketika ia raba, ada lelehan darah di tangannya.


" Astaga Jon, berdarah "


" Ya..bos, itu darah bukan selai strawberry " Joni terus menekan belakang kepala Bastian yang mengeluarkan darah.


" terus di tekan ya Jon, biar darahnya berhenti keluar. sebentar lagi dokternya sampai " Ami tampak sibuk membersihkan di sekitar sofa yang dipenuhi botol soft drink dan kulit kacang.


Tak lama bel berbunyi. Ami membukakan pintu. dua orang paramedis memakai pakaian serba putih masuk ke dalam rumah.


" Silahkan dok, suami saya tadi terpeleset, kepalanya terbentur meja " Ami menuntun tamunya ke ruang keluarga.


Joni membiarkan dokter dan suster itu menangani Bastian.


" ini lukanya harus di jahit ya bu Ami, nggak apa apa ya pak Bastian kalau rambut belakangnya di botak sedikit agar bisa diobati lukanya " ujar dokter sambil memasang sarung tangan medis.


Bastian mengerutkan kening, ia shock mendengar kata di jahit. Ia punya trauma saat kepalanya harus di jahit saat ia mengalami kecelakaan bersama ibu Ami. peluh dingin mulai menetes di kening.


" Sayaaang " panggilnya pada Ami dengan suara parau. Ami yang merasa risih dengan panggilan sayang di depan dokter suster itu buru buru mendekat.


" Aku nggak mau di jahit " rengek Bastian seperti anak kecil. Joni terbelalak, bos yang dikenalnya galak dan tegas itu berubah unyu unyu kaya kucing anggora. Ami terpaksa nyengir pada paramedis yang ragu memegang kepala Bastian. mereka mengulum senyum, tubuh kekar atletis itu bisa takut juga sama jarum.


" Jangan ke kanak kenakan kak " geram Ami, ia membiarkan kedua tangannya di genggam Bastian.


" Nggak apa apa dok, lanjut saja" titah Ami pada dokter. Ami berusaha melepaskan tangan Bastian yang menggenggam tangannya justru dokter yang melarang.


" bu Ami di situ saja, mungkin pak Bastian nyaman dekat bu Ami " ujar dokter membuat Ami tersipu.


" betul sekali dok, saya nggak bisa jauh jauh dari istri saya " ucap Bastian sambil memeluk tubuh Ami. Ami terpaksa menunjukan giginya yang rapi alias nyengir kuda menahan malu karna kelakuan kolokan suaminya. dokter dan suster hanya senyum senyum.


" Modus ! " umpat Joni. Bastian mengungkai senyum cerah dan mengacungkan jempol pada Joni.


Selama dokter bekerja, Bastian terus menggenggam tangan Ami dan mendekap tubuh Ami lebih erat. Ami tak bisa membohongi reaksi tubuhnya yang memang rindu akan pelukan itu, hampir lima bulan mereka pisah ranjang.


" sudah selesai bu Ami, ini resepnya " ujar dokter sambil menyerahkan secarik kertas.


" Terima kasih dok, Jon tolong antar dokter keluar dan sekalian tebus obatnya, saya mau bawa bapak ke kamar dulu " ucap Ami sambil membantu Bastian berdiri. Joni mengangguk lalu melangkah keluar bersama dua orang paramedis itu. tentu dengan melancarkan rayuan pada suster cantik.


" sudah punya pacar ? kalau belum boleh dong saya mendaftar " rayu Joni sambil membukakan pintu mobil.


" Saya suaminya ! " dokter yang sudah duduk di belakang kemudi menjawab garang. Joni menelan ludahnya sambil mengacungkan dua jari. peace !


Sebenarnya Bastian masih bisa berjalan dengan baik, kedua kaki baik baik saja tapi berhubung sudah terlanjur akting sakit. tak ada salahnya di lanjutkan. Ia biarkan Ami memapahnya ke kamar.


Ami ikut terjatuh ke sisi ranjang saat membaringkan Bastian. Ami berusaha bangkit tapi tubuhnya di tahan tangan Bastian.


" Mau kemana dek.?, jangan tinggalkan aku lagi please.." ucap Bastian dengan mata berkaca kaca. Ami kembali membaringkan tubuhnya.


ada bulir hangat juga yang mendesak di pelupuk matanya. Ia menahan haru yang membuncah di hatinya, di balik rasa sakit hati tersimpan rindu yang menggebu.


perlahan tapi pasti cinta itu kembali merajai hatinya. Ia membiarkan tangan Bastian membawa kepalanya bersandar di dada bidang itu.


" Maafkan aku ya..." ulang Bastian dengan suara berat. ia meraih bahu Ami dan memutar tubuh itu agar mereka saling berhadapan. Ami melihat tatapan memohon itu, membuat egonya runtuh seketika. Ia mengangguk.


Mereka sama sama duduk dan saling memeluk melepas rindu yang sekian lama tak terlabuhkan. Ketika Bastian memiringkan wajahnya. Hp Ami berdering, ada yang harus tertunda untuk sementara.


" Ya Jon, tunggu sebentar "


" biar aku saja " sergah Bastian ketika Ami mencoba berdiri. karena perut yang mulai membesar itu ia agak kesusahan berdiri.


" Katanya masih sakit ? "


" udah sembuh pas kamu peluk " jawab Bastian sambil melesat menuju pintu. ada tujuan khusus ia mau menemui asistennya itu. nyuruh Joni segera pulang.


" kok bapak yang keluar ? " tanya Joni menatap bosnya yang terlihat sehat walafiat sehabis kejedot meja.


" Mana obatnya, abis ini kamu boleh pulang " titah Bastian sambil menadahkan tangan.


" Ish...habis manis sepah dibuang " umpat Joni sambil merengut.


" siapa yang mau buang lu botak, besok kerjaan lu banyak, saya mau ambil cuti besok "


Joni menepuk keningnya.


" Jangan kuatir, bonus kamu saya naikin, dua kali lipat " senyum Joni langsung melebar.


" Beres bos, saya pulang dulu. Hati hati tu kepala jangan kepentok lagi, trus hati hati kalau bicara sama istri jangan nyakitin lagi "


" Cepat keluar botak ! " usir Bastian. Joni pun segera melesat keluar. Setelah mengunci pintu. Bastian kembali ke kamar. ia mendapati Ami sedang membaca sesuatu di layar hp. Sampai ia tak menyadari suaminya sudah berdiri di belakangnya, ikutan membaca apa yang Ami baca. Bastian mengulum senyum.


" Ekhm ! lagi baca apa ? " tanya Bastian pura pura tidak tahu apa yang Ami baca.


" Eh...oh ini materi pelajaran " jawab Ami sambil menutup hpnya.


" Oh.." tanggap Bastian sok polos.


" biar aku ambil air dulu " Ami buru buru keluar kamar, nafasnya tak beraturan. ia meniupkan udara dari mulutnya saat sudah berada di dapur. meraba pipinya yang menghangat, malu juga jika Bastian tahu apa yang ia baca. ketahuan kalau ia yang inginkan hal itu duluan.


Ami masuk dengan membawa segelas air putih, berkali kali menarik nafas agar semua terlihat normal normal saja. Bastian menerima air putih ditangan Ami dengan gerakan slow mo. pakai acara mengelus jemari Ami.


Ami berbalik ketika Bastian meminum obatnya tapi tangannya keburu di tahan Bastian, jadi ia tak bisa melangkah.


" Tadi baca artikel, bagaimana berhubungan saat hamil kan ? " tanya Bastian yang langsung membuat muka Ami bersemu merah.


" itu..anu.." jawab Ami gugup