Asisten Special

Asisten Special
Hari yang dinanti


Beberapa bulan telah berlalu, hukuman untuk Rendra sudah diputuskan pengadilan. Bagaimanapun buruknya hubungan mereka di masa lalu, Bastian selalu memberi dukungan pada Rendra karna mereka adalah saudara sedarah. Bastian seharusnya tak merasa sendiri karena ia punya saudara meski tidak satu ibu namun mereka sejak kecil sengaja dipisahkan.


Dina selalu menanamkan kebencian pada Winda dan anaknya di pikiran Rendra. Hal itu yang selalu ditanyakan Rendra pada ibunya kenapa ia harus membenci Bastian, dari hati kecilnya ia telah merasakan ikatan batin tali persaudaraan antara ia dan Bastian.


Hari ini Deni meminta sahabat sahabatnya menemaninya di rumah sakit karna Amira mau melahirkan. papa muda itu begitu cemas melihat istrinya meringis kesakitan.


Bagas dan Bastian ikut meringis ketika melihat Deni harus bersikap baik baik saja saat Amira mencengkram lengannya kuat kuat. kata suster yang memeriksa Amira, masih pembukaan empat jadi harus menunggu enam pembukaan lagi baru bayi lahir secara normal.


" Serius guys...ini sakit " bisik Deni pada kedua sahabatnya.


" Sayaang, kenapa ini makin lama makin sakit " keluh Amira yang terus mencengkram lengan suaminya sambil berjalan jalan.


" makin sakit makin baik bu " ucap susternya yang membuat Amira ternganga. suster yang sudah paruh baya itu tersenyum.


" bikinnya yang enak, ngelahiran rasanya seperti patah tulang " ucap suster itu santai. ketiga laki laki itu mengulum senyum. mereka mah enak nggak ngerasain sakitnya.


Ami mengusap peluh di wajah Amira.


" atur nafasnya ya kak, nanti kalau sudah terasa mau ngejan. tandanya bayinya sudah mau keluar "


" Bapak bapak yang bukan suaminya silahkan keluar " usir suster karena ia akan memeriksa jalan lahir bayi lagi. Kedua calon papa muda itu keluar. tinggal Ami dan Deni berada didalam. Suster mengatakan kalau pembukaannya sudah lengkap dan tak lama seorang dokter perempuan masuk ke ruangan. Tampak Amira mulai mengejan.


" atur nafasnya ya bu...dorong terus, kepala bayinya sudah kelihatan " ujar dokter.


Deni memeluk kepala istrinya.


" Kamu hebat sayang " bisik Deni sambil terus mengusap peluh Amira.


" Eeiiiiiight...eeiiiiight " Amira terus mengejan, seluruh tubuhnya sudah basah dengan keringat.


" Semangat kak " ujar Ami sambil mengusap bahu Amira.


" Ya..sedikit lagi...tarik nafas pelan pelan lalu dorong kuat kuat..."


Deni tampak meneteskan air mata melihat istrinya begitu kesakitan. Ia mengecup pucuk kepala istrinya berkali kali. Amira mulai mengejan, kali ini lebih panjang dan tak lama terdengar suara tangisan bayi.


" Selamat ya bu, putranya lahir sehat " ucap dokter pada Amira yang terlihat sudah kelelahan.


" Bayi kita " bisik Deni di telinga Amira. Amira mengelus pipi suaminya.


" Aku sayang kamu mas " lirih Amira dan mempererat genggamannya di tangan Deni.


" Silahkan di adzankan bayinya pak " pinta suster yang membawa bayi Amira yang sudah dibedong.


Ami keluar ruangan dengan wajah pias, melihat proses melahirkan normal tadi memberi efek rasa takut juga padanya. Amira punya satu bayi sudah sebegitu sakitnya, apalagi dia nanti harus melahirkan dua bayi. Ia tak terbayang rasa sakitnya.


" Kenapa sayang ? " tegur Bastian saat melihat istrinya keluar dengan wajah cemas. ia merangkul bahu Ami.


" Nggak apa apa kak, kita makan dulu ya. perutku lapar " jawab Ami sambil mengusap perutnya.


" Baiklah, kita permisi dulu sama Deni dan Amira " tanggap Bastian. Amira sudah dibawa ke ruang rawat inap. merekapun masuk ke dalam dan disambut bahagia oleh papa muda dan mama muda baru itu.


" Selamat ya mas Deni, anaknya ganteng " ucap Ami sambil menerima bayi yang digendong Amira. Bagas terlebih dahulu pulang karena mendapat kabar kalau istrinya juga mengalami kontraksi.


" Kita pulang dulu Den, Ra.." pamit Bastian. ia memeluk Deni, sahabat yang selalu setia menemaninya meski dulu sosok penyabar itu menaruh hati sama kekasihnya. Kesabarannya itu sekarang berbuah manis, ia berhasil menikahi Amira, gadis indo yang ia puja sejak SMA.


" Apa aku sanggup ya kak.lahiran normal seperti Amira, satu aja udah sesakit itu apalagi dua " curhat Ami saat mereka sudah ada di dalam mobil.


Bastian menoleh sebentar lalu tersenyum.


" Jadi mikirin itu to dari tadi, Kami para lelaki memang ditakdirkan punya fisik lebih kuat dari perempuan tapi sesungguhnya perempuan itu lebih kuat dari laki laki, buktinya setelah merasakan tubuh hampir remuk masih bisa tersenyum dan bersyukur "


giliran Ami yang tersenyum.


" bijak banget papamu nak, kalian juga yang kuat ya nanti pas lahiran " ucap Ami sambil mengelus perutnya.


Bastian membelokkan mobil di sebuah restoran. Dengan saling bergandengan mereka masuk restoran. Bastian memilih tempat duduk yang nyaman untuk ia dan istrinya.


Dari kejauhan ia melihat Dina, ibu tirinya sedang duduk bersama teman temanya. ia jadi teringat ucapan Rendra saat ia menemui kakaknya itu di lapas. ' Berhati hatilah dengan ibuku ' begitu ia ingat pesan Rendra.


Sejak maminya sakit, Bastian mendapati ayahnya lebih sering menghabiskan waktu bersama ibunya. Jelas, wanita itu tak akan menyukainya.


Bastian menutup wajahnya dengan menu ketika Dina melewati mejanya. dua orang laki laki mengikuti Dina di belakang, seorang dari mereka menoleh pada Bastian. Mata itu, Bastian seakan teringat sesuatu. sepasang mata yang selalu menjadi mimpi buruknya di waktu yang tak tentu.


Mata itu seperti mata sopir yang telah menabrak bibi Rahayu karna menyelamatkannya. Jantung Bastian berdegup kencang. Ia mulai mencurigai kalau kecelakaan saat ia masih berumur sepuluh tahun adalah sesuatu yang direncanakan.


" Kenapa kak ? " tanya Ami setelah selesai melihat menu. ia melihat wajah suaminya memucat.


" Tidak apa apa " jawab Bastian setelah menghela nafas panjang. Bastian memesan menu dan makan dengan tenang, walau pikirannya menjelajahi memori masa kecilnya. Pikiran tentang wajah laki laki itu terbawa sampai ke rumah.


Mimpi itu kembali datang lagi padanya, peristiwa traumatik itu terbawa sampai ke alam bawah sadar Bastian. ia mengigau.


" Tidaaaaak ! " jerit Bastian. Ami yang baru saja tertidur terkejut mendengar jeritan suaminya.


" Kak ! bangun ! " Ami menggunjang bahu suaminya. Bastian terkesiap dan langsung memeluk tubuh Ami.


" Dek...aku mimpi buruk " cerita Bastian saat Ami menyodorkan segelas air putih.


" tenanglah kak, semua baik baik saja. " ucap Ami menenangkan Bastian. Ami duduk disamping suaminya dan membiarkan Bastian membelai perutnya.


Hari hari berlalu hingga masa persalinan tiba. Ami tak bisa melahirkan secara normal. ia harus SC. Bastian begitu bahagia melihat dua bayi mungil yang diperhatikan suster padanya. dua orang putrinya.


* Terima kasih sayang, ini adalah hari yang paling bahagia dalam hidupku. Nanti kamu Jangan cemburu kalau ada dua wanita lagi yang mencuri perhatianku " ucap Bastian sambil mengusap kening Ami.


********


Di sebuah ruangan tampak seorang perempuan tengah melempar sebuah anak panah pada foto Bastian.


" cerita kita belum usai Bastian, tunggu saatnya kau akan mencari dan memohon padaku " ucapnya sambil mengepal kedua tangannya.


Seorang pelayan membisikkan sesuatu padanya dan ia terlihat menyeringai. Tidak hanya dia saja melakukan hal itu. Di sebuah kamar mewah, seorang perempuan tengah melempar hpnya setelah membaca portal berita. direktur utama HWD grup tengah berbahagia menyambut bayi kembar mereka.


" Lihat saja, aku tak akan membiarkan kalian hidup tenang " jeritnya


Perempuan itu melempar barang barang ia temui kesempatan arah.