
Amira hanya tersenyum kecut, ketika mendengar bisik bisik bawahan Deni. ia baru saja mengantar makan siang suaminya.
" Sok romantis, sok sok an bawakan makan siang. Cih..palingan itu sandiwara doang biar pak Bastian cemburu. kasihan pak Deni hanya di jadikan persinggahan " ujar seorang pegawai yang berjalan di depan Amira pada temannya.
" Pak Deni ngapain juga mau, padahal yang naksir dia banyak. laki laki penuh tanggung jawab, baik, ngomongnya lembut dan mengayomi. kabarnya dia rela ngejomblo demi membiayai kuliah adik adiknya "
Amira mempercepat langkahnya menuju lift. sudah ada beberapa orang yang masuk dan untung bukan dari karyawan divisi Deni, mereka seperti barisan haters Amira. setiap ketemu pasti bawaannya jutek.
Tiba tiba lift macet, lampu di dalam lift padam, ada yang menjerit ketika mendengar derit yang menakutkan.
" Tenang, jangan panik " ujar Amira mencoba menenangkan karyawan yang begitu resah. Dalam lift ada seorang perempuan hamil.
" Mas lift 3 yang aku naik macet, di sini ada ada ibu hamil keliatan dia shock. buruan mas cari bantuan " ujar Amira bergetar saat panggilan pada Deni tersambung.
" kamu ga pa pa Ra ?" tanggap Deni terdengar kuatir.
" Nggak apa apa mas, cepat mas kayanya ibu ini kontraksi " Amira memegang tangan ibu hamil yang terlihat meringis.
" tunggu, aku akan hubungi teknisi gedung " ujar Deni sebelum menutup telpon, ia bergegas menelpon teknisi gedung dan keluar menuju lift 3 di lantai bawah.
" Aagggh..perutku mbak " rintih perempuan hamil itu sambil meremas tangan Amira.
Deni terlihat cemas menunggu teknisi pemberbaiki lift 3. ia terus memberi instruksi agar Amira tidak panik. Setahunya Amira punya trauma terjebak di lift.
Tak lama lift perlahan turun dan terbuka di lantai dasar. Dua pegawai kesehatan yang dihubungi Deni langsung menangani ibu hamil. Ternyata tujuannya sama dengan Amira menemui suaminya.
Ketika melihat Deni. Amira langsung menubruk tubuh suaminya itu. Deni merasakan degup jantung Amira berdetak kencang. Sebenarnya Amira begitu cemas tadi di lift tapi karna pikiranya teralihkan pada ibu hamil kecemasannya berkurang.
Shock itu baru muncul ketika pikirannya mulai sadar dengan apa yang terjadi. Amira mempererat pelukannya pada Deni.
" udah ga apa apa, kamu aman. ada aku " ujar Deni menenangkan Amira. wanita yang sudah dinikahinya itu mulai terisak.Deni mengajak Amira ke ruangannya. tentu harus naik lift karena ruangan Deni ada di lantai 15. Amira pingsan saat berada dalam lift.
Sejak dulu, Deni tahu kalau Amira punya daya tahan tubuh yang lemah. Ia menggendong Amira ala bridal style dari lift menuju ruangannya.
Deni meminta bantuan pegawainya untuk menyadarkan Amira.
" Longgarkan pakaiannya pak " saran Desta saat Deni mencoba menepuk nepuk pipi Amira dan menciumkan minyak kayu putih. tapi Amira belum berhasil bangun.
" Maksudnya ? " Deni terlihat ragu menyentuh Amira, biasanya Bastian melakukan pertolongan pertama saat Amira pingsan. meski Amira sudah jadi istrinya. laki laki itu masih takut kulitnya menyentuh kulit Amira.
" kancing kemeja buka beberapa dan ikat pinggangnya di buka, sama sepatunya " ucap Bastian yang tiba tiba sudah berada di samping Deni. Deni memandang sahabatnya, ragu melakukan apa yang Bastian suruh.
" Dia udah jadi istri lo bro, ga usah sungkan " bisik Bastian. Ia meminta pegawai yang memenuhi ruangan Deni untuk keluar.
" lakukan tugas mu bro, sebagai suami " ujar Bastian sebelum menutup pintu ruangan Deni.
Deni mulai mengerjakan apa yang di suruh Bastian. Mulai membukakan sepatu, membuka ikat pinggang dan ini bagian yang tersulit, melepas kanjing kemeja. Deni menghela nafas. Selama di rumah ia telah berhasil melewati godaan melihat kulit leher putih mulus itu dan tak berani menatap bagian yang paling menantang mata itu.
Hati hati ia lepas dua kancing kemeja Amira sambil terus menepuk pipi Amira. tangannya mengusap hidung Amira dengan minyak kayu putih..
" Maaass...." panggil Amira lemah. Deni menghela nafas lega. akhirnya istrinya siuman.
" Kamu sadar Ra.." ucap Deni sambil mengusap kening Amira. Amira mencoba duduk, shocknya belum hilang. Ia kembali memeluk tubuh Deni, Deni membalas pelukan itu. Kali ini kedua tangannya lebih menekan tubuh Amira, tidak seperti tadi. tangannya serasa di awang awang.
Amira menangis di bahu Deni.
" Aku takut mas " ucap Amira lemah.
" Nggak ada yang perlu di takutkan lagi. Kamu aman bersamaku " Amira menguraikan pelukan dan beberapa saat mereka saling bersitatap.
Apa cinta itu sudah ada ?
*******
Bastian mendengar suara ribut ribut di ruangan Rendra. Sebenarnya ia tak terlalu mau ikut campur urusan kakak tirinya itu.
Tapi karna mendengar suara perempuan menangis, mau tak mau ia menoleh.
" Maafkan saya pak, saya tak sengaja "
" Apa kamu bilang, tak sengaja ! lihat berkas berkas saya basah karena kecerobohan kamu " hardik hendra
Bastian berlahan membuka pintu ruangan Rendra yang tak tertutup rapat. Ia melihat Rendra hendak memukul gadis itu dengan sebuah tongkat.
Melihat kehadiran Bastian, sontak gadis itu berlari ke arah direktur utama itu.
" Pak, tolong saya " cicitnya, wanita malam itu tertegun sejenak melihat paras Bastian. Ternyata laki laki yang jadi target misi yang di embannya begitu tampan.
" Kenapa kamu Ren ? apa tidak bisa kamu nasihati dia tanpa kekerasan " ujar Bastian sambil membantu Lani berdiri.
" Apa urusanmu ?, kalau kamu mau dia, sana bawa saja pegawai kotor itu " sarkas Rendra.
" Sudah sana, kamu kerja lagi " ucap Bastian sambil berbalik melangkah ke pintu.
Ketika hampir sampai di pintu, Lani menghentikan langkah Bastian.
" Pak tunggu, maaf tadi tangan kotor saya menyentuh pipi bapak " ucap Lani sambil melap wajah Bastian, Bastian reflek mundur karena tak ingin wajahnya di sentuh wanita selain istrinya.
PLAKK !!!
sebuah tamparan mendarat di pipi Lani, Nindi tiba tiba hadir di depan pintu dan melihat sikap tak sopan Lani.
" Jangan kurang ajar ya, sama mas Bastian " maki Nindi sambil mendorong tubuh Lani menjauhi Bastian.
Lani keluar dari ruangan Rendra dengan hati panas. Ia tidak terima perlakuan kasar perempuan yang ada dalam foto pernikahan yang ia lihat di rumah Dina. Tapi ia tersenyum saat mengingat wajah Bastian. Jika terjadi one night stand dengan laki laki tampan itu., mungkin akan jadi hari yang tak akan pernah dilupakannya.
Sementara di ruangan Rendra, hati wakil direktur itu panas melihat sikap hangat istrinya pada Bastian.
" Ini mas " Nindi menyerahkan sebungkus tisu kecil pada Bastian.
" Terima kasih " ucap Bastian sambil mengucapkan terima kasih. Ia meninggalkan ruangan Rendra sambil geleng geleng kepala.
Bastian masuk ke ruangannya. menanggalkan jas dan melonggarkan dasi. ia melipat lengan kemeja hingga siku. Ia baru saja keluar dari meeting. Kalau Ami masih bekerja, biasanya ia akan meminta istrinya itu melakukan pijat relaksasi.
" Pusing atau modus " tuduhan Ami yang selalu membuatnya tersipu.
Sementara di ruang Rendra terjadi ribut ribut suami istri. Nindi mulai mencium kalau Rendra menduakannya dengan mantan sekretaris Rendra.
Nindi yang tak terima dengan kemarahan Rendra berlari ke ruangan Bastian, ia mengetuk pintu ruangan adik iparnya itu. Langkah Lani terhenti, tadi ia juga ingin ke ruangan Bastian untuk menjalankan misi yang direncanakan Rendra.
Ia melihat istri bosnya itu lebih dulu masuk ke ruangan Bastian. sebuah notifikasi masuk ke hp Lani. pesan dari Rendra.
[ bagaimana, kamu sudah masuk ke ruangannya, beraktinglah semanis mungkin, buat dia terpedaya dengan penderitaanmu ]
[ maaf bos, istrimu sepertinya akan jadi pengganggu dalam misi kita. ia sudah berada di ruang target, mungkin sedang mengeluh manja ] balas Lani.
Rendra mengeram, ia menggebrak meja. tak terima dirinya di hina oleh adik tirinya karena sikap Nindi yang seperti ingin dekat dengan Bastian.
" Kurang ajar ! " sentaknya sambil melempar tongkat yang tadi ia gunakan untuk memukul Lani.