Asisten Special

Asisten Special
Ketika cinta di uji


Ami masih terus berupaya agar ia diterima Winda sebagai menantu. Setiap minggu ia mengunjungi ibu mertuanya itu dengan membawakan kue kue atau makanan yang disukai Winda. Ami selalu rajin menanyakan kepada Bastian apa yang ibunya itu suka.


Meski setiap kali ia datang, setiap itu pula Winda menyambutnya dengan datar. seolah olah pernikahannya dengan Bastian adalah suatu kesalahan.


Hari itu ia tak mendapati Winda dirumah. Tanpa sengaja ia mendengar percakapan Windi dan anak anaknya dengan orang di telpon. Ami beesembunyi di balik pohon yang ada di halaman.


" Sabar dulu sayang, sekarang kami sedang berusaha untuk membuat kakak tiriku itu tanda tangan surat wasiat "


" Rencanaku, aku akan buat kesehatannya semakin menurun " ucap Windi membalas pertanyaan orang dalam telpon.


Tak lama mereka pergi dengan taksi online yang mereka pesan. Ami menahan gemuruh hatinya. apa yang ia dengar sungguh membuat hatinya sakit. siapa sangka, ibu mertuanya dalam bahaya bersama adiknya sendiri.


Ami terkesiap ketika ada yang menepuk bahunya.


" Nyonya..kenapa hanya berdiri di sini, silahkan masuk ke dalam " ujar Art yang bernama Dwi. Art masih muda itu punya sikap baik pada Ami. Ami yang memintanya tak mengadukan perlakuan tuan rumah terhadapnya pada Bastian.


" Dwi.., kamu ini ngagetin saya saja "


Tak lama sebuah mobil datang, Ami yang sudah berada di teras. tertegun ketika melihat Winda turun dengan seorang wanita cantik.


" selamat siang mi "


" Siang "


Seperti biasa, Winda hanya menanggapi sapaanya dengan datar. Wanita di sampingnya adalah Nindi. iparnya itu juga hanya melempar senyum basa basi.


" Gimana mi, hari ini, acara belanjanya. Besok mami akan aku ajak acara pesta dengan teman temanku, disana mami bisa lihat selera pakaian wanita berkelas, nggak seperti yang kita lihat tadi, seleranya sangat kampungan " tutur Nindi, Ami tertunduk. ia merasa dirinya lah yang tersindir karena sekilas Nindi melihat kearahnya.


Ami melihat dirinya, ia hanya memakai terusan polos dengan sedikit bunga di atas dada dan tas yang Ami tak tahu apa itu bermerk atau tidak. Tas ini pemberian pacar Jo sebagai hadiah pernikahan. Pacar Jo bukan orang sembarangan, seorang anak dokter pemilik rumah sakit.


Jabatan yang diemban Bastian sekarang, membuat Ami bergelimang uang. ia bisa membeli pakaian tas, sepatu dan alat kecantikan termahal sekalipun tapi ia hanya menggunakan seperlunya.


Ami lebih memilih melanjutkan studi S2, hingga ia tak perlu merasa bosan tanpa aktifitas yang berarti, ia kerap ikut acara amal dan menjadi penanggung jawab atas yayasan yang didirikan ayah mertuanya.


Ami memberikan kue yang dibuatnya pada Art karena Winda sibuk bercengkrama dengan menantu madunya di kamar nyonya rumah itu.


" Nyonya, ada yang mau saya omongkan tapi saya takut " bisik Dwi ketika mengantarkan Ami ke depan mobil.


" Apa Wi..katakan saja, jangan takut " ucap Winda sambil menepuk bahu Art muda itu.


" bu Windi sering memberikan obat yang rasa itu bukan obat nyonya, saya sudah dua tahun bekerja dengan nyonya dan saya yang sering mengambilkan obat nyonya. saya lihat mereka memberikan obat yang berbeda " jelas Dwi dengan wajah cemas.


" Terima kasih Wi..kalau kamu bisa, ambil contoh obat itu dan kirim kepada saya " ujar Ami dengan melihat ke arah gerbang. untung saja saat itu Windi belum kembali.


Saat ditengah perjalanan Ami mendapat telpon dari Rahmi, ibu Bagas. Ami merasa nyaman berbincang dengan Rahmi. ia merasa dihargai oleh wanita yang berprofesi sebagai dosen itu.


" Mi..kalau kamu tidak ada kegiatan, bisa bantu saya di kampus "


" Nggak ada sih bun, nanti Ami izin dulu sama suami kalau dapat izin Ami meluncur kesana "


Ami menghubungi Joni, asisten Bastian. Ami tahu di jam seperti ini Bastian kemungkinan sedang memimpin rapat.


" Jon, bapak lagi apa ? " tanya Ami setelah telpon tersambung.


" Ada bu.., sedang ada di dalam nanti saya sambungkan "


Tak lama telpon tersambung. Ami mendengar suara wanita di samping Bastian.


" bisa saya bersihkan baju bapak ? "


" Tidak terima kasih. bisa kamu pergi keluar saya mau menjawab telpon" jawab Bastian.


" Ada apa sayang ? kamu jadi ke rumah mami ? " tanya Bastian sambil membuka kemeja yang terkena tumpahan kopi. seorang OG tak sengaja menyenggolnya saat dia minum kopi..


Ami tercenung sesaat, tak mungkin ia bercerita kalau ia diusir secara halus oleh ibu mertuanya.


" Sudah kak, ini mau balik ke rumah "


" Kok cepat, mami nggak ada di rumah ?"


" Ada kak, mami baru pulang, sekarang lagi sama Nindi, mungkin mami ada pembicaraan penting dengan Nindi " jelas terdengar ada nada kecewa yang sengaja ditutupi, Bastian bisa merasakan hal itu. Ia bisa mengerti kesedihan istrinya.


" Maafkan mami ya, aku yakin suatu saat mami pasti merubah sikapnya padamu. Kakak berharap kamu tetap berpikiran positif pada mami " hibur Bastian.


" Ya..kak, aku selalu menganggap mami adalah ibuku. O..ya kak, tadi bu Rahmi ngajak aku ke kampusnya, aku mau izin dulu sama kakak, gimana kak boleh aku kesana ?"


giliran Bastian tercenung, bukan ia tak suka Ami berteman dengan ibu Bagas tapi karna Bagas juga menyukai Ami. ada rasa cemburu meliputi hatinya jika Ami terlalu dekat dengan ibu Bagas.


" Boleh..tapi kamu harus pulang sebelum aku pulang " jawab Bastian setelah beberapa detik terjeda


" Baik kak, perintah di terima. miss you " ucap Ami sebelum telpon ditutup Bastian.


Bastian terkejut ketika OG yang tadi menumpahkan kopi kembali lagi saat ia tengah bertelanjang dada.


" Kamu kalau mau masuk ketuk pintu dulu " marah Bastian sambil menyambar kemeja ganti yang sudah disediakan Joni di atas meja.


" Maaf pak, saya mau mengambil kunci saya yang ketinggalan " OG itu menunjuk sekumpulan kunci di atas meja Bastian. setelah mengambil kunci OG itu kembali keluar.


Saat ia berada di lorong tangga darurat, ia merasa ada yang menarik tubuhnya.


" Gimana kamu sudah punya rencana untuk menjebak Bastian ? " tanya sebuah suara di dalam sebuah lorong gelap.


" Sedang saya persiapkan tuan " jawab OG itu yang ternyata adalah Lani.


" Bagus, bertindaklah hati hati " ucap laki laki yang menarik tubuh Lani tadi, remang cahaya tak memburamkan wajahnya. Lani membiarkan laki laki itu menyesap lehernya. Lani menutup matanya ketika bibir laki laki itu berpindah ke bibirnya dan mereka larut dalam ciuman panas. Lani membayangkan kalau laki laki itu adalah laki laki yang tadi sempat ia sentuh wajahnya.


Ia merasa tantangan ini memacu adrenalinnya, biasanya ia tak terlalu antusias dengan hasrat para pelanggannya. Tapi ketika melihat Bastian, apa lagi melihat tubuh kekar tadi, salivanya turun naik.


" Lanjutkan tugasmu " ucap suara itu setelah puas berciuman dengan Lani.


" Baik tuan " ucap Lani. ia memandang punggung tegap itu menaiki tangga darurat.


laki laki itu tak lain adalah Rendra.


Bastian baru saja sampai di rumah, ia ingin membuat konfirmasi atas foto foto yang dikirimkan seseorang padanya. Dalam foto foto itu, Ami sedang berjalan berdua dengan Bagas di taman kampus dan makan bersama di kafe. Ternyata ketika ia sampai di rumah, Ami belum pulang. Ia memang sengaja pulang cepat untuk menanyakan perihal foto foto yang membuat hatinya panas.


Tak lama terdengar mobil masuk.Bastian membuka tirai kamarnya, ia melihat Ami turun dari mobil.


" Kenapa baru pulang ? kamu bukan mau menemui tante Rahmi kan tapi mau menemui Bagas ! " sentak Bastian membuat Ami yang baru masuk terkejut. Wajahnya yang tadi cerah berlahan surut.


" Kok kakak kaya nuduh aku, kebetulan tadi disana memang ada Bagas. ia baru pulang dari studi, dia pulang mau..."


" Sudah saya tak mau dengar apa apa lagi, mulai besok, kamu tidak boleh temui tante Rahmi lagi " ucap Bastian sengaja memotong kata kata Ami.


Ami hanya bisa tertunduk, tak berani menatap hujaman netra Bastian. ia tahu suaminya itu sedang cemburu.


Ami menemani Bastian makan malam, biasanya ada kehangatan di meja makan. selalu ada kata kata manis dan tatapan penuh cinta dari suaminya. Kali ini semuanya keadaan berputar 180 derjat. dingin dan kaku.


apakah ini fase dimana cinta sedang di uji ?