
Ami mengusap air matanya diam, malam ini ia tidur di punggungi suaminya. Tadi di rumah Winda, ia di anggap tidak ada oleh ibu mertuanya. sekarang ia di tuduh mendua oleh suaminya.
Pada saat bangun pagi. Ami berusaha bersikap biasa pada suaminya meski kedinginan itu masih terlihat. Ia terpaksa mematikan ponselnya agar ketika bu Rahmi tak bisa menghubunginya dan berharap Bastian bersikap hangat kembali padanya.
Ami menyiapkan pakaian kerja suaminya dan membuatkan sarapan. Sambil mengaduk nasi goreng, tak terasa air matanya jatuh. tiba tiba ia merindukan ibunya.
Biasanya, ibunya yang akan menghiburnya kala dia sedih dengan mengirimkan buku buku cerita.
Bastian yang selesai mandi, memakai pakaian yang telah diletakkan Ami di atas tempat tidur. Ketika memakai dasi, ia merasa ada yang kurang ketika dasi sudah tersampir di leher.
" Dek..." panggilnya. Ami yang baru berada di belakang pintu, tergopoh masuk ke kamar, ia tahu ritualnya setiap pagi adalah memakaikan dasi Bastian.
" Maaf kak " ucap Ami sambil mendekati Bastian, ia lupa ada sisa air mata di pipinya. Bastian tertegun dengan apa yang di lihatnya, pipi yang terlihat basah dan mata sedikit memerah.
" Sudah kak " ucap Ami sambil mengungkai senyum.
" Kamu menangis ? " tanya Bastian sambil menyentuh ujung mata Ami.
" Tiba tiba aku ingat ibu " ucap Ami menyembunyikan kegundahan hatinya, sikap Bastian kemarin yang tidak mempercayai cintanya itu yang membuatnya sedih.
Mendengar apa yang diucapkan Ami membuat Bastian semakin tertegun. hatinya tiba tiba terasa perih, ia masih ingat suara anak perempuan yang meraung raung memanggil ibunya. biasanya bibi Rahayu meminjam ponsel Bastian untuk menghubungi keluarganya di kampung. beberapa jam setelah kejadian tragis itu, sebuah panggilan masuk ke hpnya. Ketika Bastian mengangkatnya, ternyata dari anak bibi Rahayu, Amina.
" Ibu...ibu aku rindu ibu.." masih jelas terngiang suara lirih itu di telinga Bastian. Ia semakin di dera rasa bersalah. ialah penyebab bibi Rahayu meninggal.
" Mari sarapan dulu kak " ujar Ami setelah mengurai jarak. Ami hendak berbalik tapi Bastian menahan tangannya dan menarik pinggang Ami agar berada kembali di dekatnya.
" Maafkan kemarin aku bersikap kasar padamu sayang " Bastian merengkuh kepala Ami yang hanya sebatas dadanya.
" it's okay. Kakak harus pergi kerja sekarang " ujar Ami sambil berusaha mengurai pelukan Bastian. tapi tangan kekar itu malah mempererat pelukan, Tangan satu lagi mengangkat dagu Ami agar mata mereka saling bertemu.
" aku mau sesuatu yang manis pagi ini " ucap Bastian sambil mengusap lembut bibir Ami dengan ujung jarinya. Ami tak bisa menghindar kecupan di bibirnya. Bastian memiringkan wajahnya dan menahan tengkuk Ami untuk memperdalam ciuman.
Awalnya Ami tak begitu membalas, tapi hatinya juga rindu sentuhan suaminya, sudah dua minggu ini mereka tak berhubungan intim karna Bastian terlalu sibuk.
" Kak.., nanti kakak terlambat " ingat Ami saat kecupan berpindah ke lehernya.
" Oo..aku lupa " ucap Bastian kemudian mengurai pelukan. Ami mengira suaminya akan mengambil tas dan bersiap untuk sarapan.
" Joni.., tolong batalkan semua meeting hari ini, tunda untuk tiga hari ke depan. kamu siapkan saja semua berkas yang harus saya tanda tangani di meja saya. saya ada acara keluarga penting "
Ami yang akan membukakan pintu reflek berbalik.
" Acara keluarga ? apa ibu sakit kak ?" tanya Ami melihat kearah Bastian yang sekarang membuka jas dan dasinya. Ia menggigit bibirnya ketika kemeja itu juga sudah luruh. sinyal itu membuat tangannya mengunci pintu.
" Aku ada acara dengan istriku, penting " ucap Bastian sambil menggendong Ami ke tempat tidur.
Ami melempar pandangan ketika mata Bastian intens menatap wajahnya. Ami merasakan tubuhnya mengerjap saat jemari Bastian menyingkir rambut di wajahnya.
" Kamu nggak mau kita melakukan pagi ini ? kalau begitu aku berangkat kerja saja " ujar Bastian sambil mengangkat tubuhnya yang berada di atas tubuh Ami.
Ami tak menjawab, hanya tanganya menarik tubuh Bastian agar dada mereka kembali bertemu. Bastian tersenyum saat istrinya itu yang memulai permainan, ia tertantang membalas ciuman panas Ami.
" aku dalam masa subur mas " bisik Ami ketika Bastian sudah menguasai permainan.
" kita berdoa ya biar benihku segera tumbuh di rahimmu sayang "
Ami mengangguk dan mengatup matanya dan menampungkan tangan begitupun Bastian. Ia memang merindukan seorang anak dalam pernikahan mereka.
*********
" aku hamil " ucap Amira bahagia ketika ia menemui Deni yang sedang sarapan pagi. Tentu saja hal itu membuat Deni tertegun, tapi tak bereaksi apa apa. Ia melanjutkan sarapannya. Amira menarik senyumnya ketika melihat reaksi Deni tak sesuai ekspektasinya.
" Kenapa mas ? kamu nggak senang dengar aku hamil " Amira duduk sambil fokus menatap mata suaminya. Deni meletakkan sendok dan melap bibirnya dengan tisu.
" tentu saja aku senang, Ra.." ucap Deni sambil menghindari tatapan Amira. ia beranjak dari tempat duduk.
Amira terperangah, reaksi Deni tak sesuai harapannya.
" aku berangkat dulu ya.." ucap Deni setelah Amira mencium punggung tangannya.
" Mas..." panggil Amira, Deni yang baru beberapa langkah meninggalkan Amira menghentikan langkahnya..
" kamu nggak mau nyapa bayi kita ? " tanya Amira dengan suara sendu.
Ada gemuruh yang berusaha ia tahan, tapi ia tak bisa mengungkapkan isi hatinya yang selama bertahun tahun ia pendam untuk wanita yang selalu dirindukannya itu.
" Welcome home kid, papa bahagia kamu sudah hadir, papa ingin menjagamu jika mamamu tidak keberatan " ucap Deni setelah mengecup dan mengusap perut Amira.
Deni bergegas pergi meninggalkan Amira, ia tak ingin Amira melihat matanya yang sudah berair.
Deni menghempaskan kedua tangannya ke atas kemudi dan membiarkan air mata itu luruh membasahi pipinya. Bukan ia tak senang Amira hamil tapi kesepakatan pernikahan itu yang membuat hatinya hancur. Berarti ada dua orang yang harus ia tinggalkan dua orang yang sangat ia sayangi.
Denting notifikasi membuat Deni mencoba menetralisir perasaannya. ia kira pesan yang di sampaikan bawahannya. Ketika ia membuka pesan, ia melihat emotikon love yang begitu banyak pada foto test pack dengan dua garis.
[ we love you daddy ❤❤ ❤]
[ Percayalah mas. anak ini akan dibesarkan ayah dan ibunya..I love you..Amira ]
Tak bisa Deni gambarkan bagaimana hatinya yang tadi kering tersiram titik titik air dari langit, sampai sekarang ia belum bisa mengungkapkan perasaannya pada Amira dan malah kini Amira yang berani mengatakan apa yang sangat ingin ia dengar.
Ketika jam istirahat, Deni kembali menatap pesan yang di kirim Amira, ia tak tahu harus menjawab apa.
Ia terkejut saat Amira menelponnya.
" kok kamu nggak balas mas..? " todong Amira ketika panggilan terhubung.
Deni rasa inilah saatnya ia harus jujur pada Amira tentang perasaannya pada Amira sejak pertama kali ia jatuh cinta dengan gadis indo itu.
" Nanti malam kita makan di luar ya.."
" Boleh ajak teman teman aku. biar rame "
" Nggak hanya kita berdua. berdua " tegas Deni yang disambut tawa Amira.
" Oke.., I love you.."
" Me too " balas Deni pelan dan hampir tak terdengar.
******
Ami berusaha menjejeri langkah lebar Bastian menyusuri statiun yang penuh sesak. entah kenapa suaminya itu memutuskan pergi ke kampung Ami naik kereta senja.
Bastian mengulurkan tangan saat menuntun Ami naik ke atas gerbong.
" Kenapa tiba tiba mau naik kereta kak, apa kakak nggak apa apa desak desakan seperti ini " tanya Ami setelah mereka mendapatkan tempat duduk. Ami heran ketika orang orang menyingkir ketika mereka mencari tempat duduk. mereka terlihat seperti penumpang pada umumnya.
Ami melihat ke arah beberapa orang pemuda yang sepertinya melindungi tempat duduk mereka. postur tubuh mereka mirip bodyguard. Ami mulai merasakan sesuatu, mereka adalah orang suruhan Bastian.
Ami tersenyum ketika Bastian menjetikkan jari, penumpang penumpang kereta itu mengalihkan pandangan dari Bastian yang merengkuh kepala Ami agar bersandar dipundaknya.
" Jangan berlebihan kak. ngapain bawa pengawal banyak banyak. kamu sewa orang satu gerbong ini kan ? " bisik Ami sambil tersenyum.
" Ah..kamu ini terlalu pintar aku kecoh " ucap Bastian sambil mengelus kepala Ami.
" Kamu tau kak, selama lima belas hari sejak pertama kali kita bertemu, aku nggak nyadar kalau kamu itu tampan. di atas kereta ini, ketika kamu berhasil mengejar gerbongku. aku terpesona padamu "
Ami membayang kembali wajah Bastian saat terakhir kali ia lihat dari kaca kereta, wajah pias itu terlihat teduh di bawah langit senja.
" Aku sadar kalau saat itu aku sedang jatuh cinta pada seorang pangeran " lanjut Ami membuat Bastian memindahkan usapan jemarinya ke pipi Ami.
" Sungguh cintamu hanya untukku mi ?" tanya Bastian sambil mendehem, agar mata mata penasaran itu tak melihat ke arah mereka.
Ami mengangkat kepalanya, kedua netra mereka saling bertemu dalam pantulan jingga yang singgah di jendela kaca.
" Percayalah kak, hati ini hanya untukmu "
********
" Sempurna Lani ! " seru Dina ketika Lani usai menceritakan bagaimana menjalankan misi mereka menjatuhkan kedudukan Bastian.
" Tunggu Bastian sebentar lagi aku akan buat kau bagai sampah " geram Rendra.
" Jangan gegabah Lani, lakukan dengan sempurna " ucap Winda sebelum Lani dan Rendra meninggalkannya.
" Baik nyonya " balas Lani sambil tersenyum smirk.