
Hubungan Bagas dan Bastian memburuk setelah pesta pernikahan megah itu. Bagas memilih resign dari HWD grup dan memilih pergi melanjutkan studinya di Amerika.
" Jangan salahkan mereka Gas, mereka hanya dua orang yang saling mencintai " ucap Deni ketika mengantarkan Bagas ke Bandara. Laki laki itu mengangguk getir.
" Ya.., gue sadar. Amina sebenarnya sudah mencintai Bastian sebelum bertemu gue..ya udah take care.." ujar Bagas sebelum berbalik tapi baru beberapa langkah ia kembali menghadap Deni.
" Ada yang ketinggalan ? " tanya Deni ketika Bagas kembali ke hadapannya.
sejenak terlihat Bagas tengah berfikir.
" Lo yakin menerima tawaran Amira untuk menikah ? "
Deni menghela nafas dan tertunduk.
" Hanya itu satu satunya cara agar dia bisa bertahan di sini " Bagas menepuk nepuk pundak Deni.
" Gue tahu lu dari suka si indo itu, tapi lu insecure dan lu adalah sahabat yang baik buat kita, lu nggak pernah ngerecoki hubungan Amira dan Bastian padahal hati lu sangat sakit "
Deni hanya tersenyum getir dan gantian menepuk pundak Bagas.
" Gue baik baik saja. lu jangan kuatir " Bagas tersenyum.
" Well, gue yakin Amira bakal jatuh cinta sama lu melebihi cintanya pada Bastian " Bagas mengedipkan sebelah mata. Deni hanya tersenyum dan mengangkat bahu.
" We'll see "
******
Sore yang teduh, suasana tengah ramai di apartemen Amira. saat ini tengah berlangsung persiapan pernikahan sederhana Amira dan Deni.
Setelah mengantar Bagas, ia menjemput keluarganya di statiun kereta. Ibu dan ayahnya meski bisa menggunakan mobil mereka lebih memilih naik kereta, kata mereka ada aura nostalgianya sebab sejoli itu pertama kali bertemu di gerbong kereta.
Suasana menjadi hening ketika Deni datang, semua keluarga memandang laki laki yang terlihat gagah hari itu.
Bastian yang membantunya untuk melakukan persiapan pernikahan, membelikan mahar dan seserahan untuk sahabat terbaiknya itu.
Deni Satya Pratama duduk di depan penghulu dan tuan Smith, ayah Amira.
Ijab kabulpun dilakukan dengan khidmat, dengan satu tarikan nafas, Deni mengucapkan laras ijab kabul dan kata sah menggema di ruang tengah apartemen Amira.
Ami merasa risih di pandangi sahabat sahabat Amira yang hadir di pernikahan itu. Sejak tadi Bastian mengenggam tangannya.
mungkin ia dianggap munafik oleh Chelsia yang pernah mengintrogasinya di kafe dulu.
Saat itu, Ami terlihat lugu dalam menjelaskan hubungannya dengan Bastian murni sebagai karyawan Bastian. realitanya sekarang, ia sudah jadi nyonya di rumah Bastian.
Kedua pembelai di minta menghadap orangtua masing masing, Amira sungkem pada ayahnya. Entah kenapa, ia jadi terharu mendengar nasihat ayahnya.
" Amira, sekarang ayah tenang meninggalkanmu di sini, kamu sudah punya suami untukmu berlindung, dengarkan ayah baik baik nak, pernikahan bukan untuk dipermainkan. Kalian berdua tidak berjanji pada ayah untuk menjaga pernikahan kalian agar tetap utuh sampai maut memisahkan tapi kalian berjanji pada Tuhan "
Amira memeluk erat ayahnya dan menangis di bahu tuan Smith. Ia jadi merasa bersalah dengan tujuan awal ia meminta Deni menikahinya tak lain agar ia tak dibawa ayahnya kembali ke Swiss. ia merasa bahagia tinggal di tanah air dari pada tinggal di luar negri.
" Deni, papa titip Amira. tolong jaga dan perlakukan dia dengan baik. Sayangi dia seperti papa menyayanginya " ucap tuan Smith saat Deni sungkem pada ayah mertuanya.
" Ya pa..Insya Allah saya akan menyayangi Amira sepenuh hati saya " Amira tertegun mendengar ucapan Deni, ia mendengar ada kesungguhan pada kata kata itu, padahal ia hanya meminta Deni pandai bersandiwara di depan semua orang, pura pura mencintainya.
entah kenapa ia melihat ada kehangatan singgah dihatinya saat menatap laki laki yang selalu bersedia menolongnya.
Bastian dan Amina pamit pulang setelah acara selesai. Bastian memeluk Deni, ia bukan mengkhawatirkan Amira tapi lebih kepikiran Bagaimana Deni bisa menghadapi Amira yang menurut Bastian dia adalah tipe wanita banyak maunya, merajuk tak kenal waktu. Terbiasa dengan kehidupan mewah. Sementara Deni adalah laki laki sederhana.
" Samawa bro..gue doain ada Deni Junior secepatnya " ujar Bastian sambil mengedipkan mata.
" lo juga, cepet cepet kasih gue ponakan "
" Iya. gue kasih sepuluh nanti..ya kan sayang.." Bastian melirik Amina di sampingnya. wanita itu membulatkan biji mata, ni bapak pikir lahiran anak sama kaya lepehin kacang.
" Selamat ya pak Deni.." ucap Ami sambil mencubit pinggang suaminya.
Amira yang baru mengantar kedua orangtuanya keluar kembali pada suami dan mantan kekasihnya. Suasana tiba tiba menjadi canggung.
" Makasih ya Bas. lu sudah buat acara pernikahan sederhana ini jadi indah " ucap Amira mengatasi kecanggungan mereka. Bastian menjawab dengan anggukan. baik Ami atau Amira, kedua perempuan itu saling melempar senyum. Amira merasa tak ada beban melihat keromantisan yang Bastian tunjukan pada Ami, sejak tadi pinggang mungil itu di apitnya.
" Selamat ya kak " ucap Ami sambil menyerahkan buket bunga.
" Terima kasih mi " balas Amira. Ia menatap tangan suaminya yang tak berinisiatif untuk melakukan seperti yang Bastian lakukan pada Ami. akhirnya tangan Amira yang mengambil tindakan. Deni terkesiap ketika tangan Amira melingkari pinggangnya.
" Jangan kaku lu jadi suami, sudah dikasih lampu hijau. gaspol bro " bisik Bastian sambil memasukkan sesuatu ke dalam saku jas Deni. Deni membelalakkan mata ketika mengintip apa yang dimasukkan Bastian dalam saku jasnya. suplemen malam pertama. Apa mungkin mereka melakukannya ?
Menjelang magrib suasana apartemen yang tadi ramai menjadi sepi. Amira menyewa go clean untuk membersihkan apartemennya sementara ia dan Deni bergantian untuk membersihkan diri.
Saat sholat magrib, sepasang pengantin baru itu menunaikan sholat berjamaah. Amira tercenung mendengar lantunan ayat suci yang di bacakan Deni. begitu sejuk dan menenangkan, belum pernah ia merasakan ibadah seperti ini. ia melihat suaminya berdoa cukup lama.
Selesai berdoa, Deni berbalik ia reflek mengulurkan tangan. biasanya ini ia lakukan saat sholat berjamaah dengan adik adiknya.
Amira terpana sesaat, lalu tergesa meraih punggung tangan Deni dan menciumnya. ketika Amira mengangkat kepala, kedua netra mereka bertemu. Ami melihat laki lakinya tersenyum. Padahal ia sering melihat senyum itu. kok sekarang beda ? Amira menutup mata ketika Deni menundukkan wajah, darahnya berdesir saat Deni mencium pucuk kepalanya.
" Maaf " ucap Deni setelah sadar apa yang dilakukannya pada Amira. ia jadi terbawa suasana, hatinya memang menginginkan pernikahan sungguhan dan wanita yang kini jadi istrinya itu telah lama bersemayam di hatinya dan pikirannya mengingatkan akan permohonan Amira kalau pernikahan ini hanya satu satu cara agar selamat dari permintaan keluarganya di luar negri.
" kok minta maaf, mas salah apa ? " tanggap Amira sambil melipat mukenanya, wajah putihnya terlihat jernih bekas di siram air wudhu.
Deni mempertajam pendengarannya, apa dia tidak salah dengar, Amira memanggilnya mas, biasanya hanya Den atau bro.
" Mas ? " tanya Deni untuk sebuah konfirmasi kalau telinganya baik baik saja.
" Kamu mau aku panggil babe..atau..sa.."
" ga usah ga usah, mas saja cukup " sergah Deni tergesa. ia ingat sekali kalau itu panggilan untuk Bastian yang membuatnya eneg bertahun tahun.
" Aku ke kamar dulu, kamu duluan aja makannya "
" ke kamar, ngapain ? " tanya Amira yang tiba tiba bertanya dengan polosnya.
" mau main bola, mau ikut ? " Deni menarik turunkan alisnya. Amira menatap Deni bingung, ni lugu apa oon sih tapi sedetik kemudian.
" Main bola itu di lapangan bukan di kamar, ah kamu ada ada aja " ucap Amira sambil mengibas rambutnya yang panjang hingga memperlihatkan leher putih nan jenjang. Deni menelan ludah. Hari pertama godaannya sudah luar biasa.
" Kamu lama di luar negri, ngapain non. main barbie sama bule bule tu.." ucap Deni sambil menoyor kening Amira. mode on aktif. Amira menggigit bibirnya. Apa Deni akan meminta haknya malam ini ?
Aneh rasanya mereka bercanda sebagai sahabat sekarang berubah status jadi suami istri. tanpa punya kisah cinta pula..
" Kamu jangan mikir macam macam, aku cuma mau ambil laptop, lanjut kerja " ujar Deni seperti mengerti ke khawatiran Amira. ia tak akan melakukan sesuatu yang sudah jadi haknya jika Amira tidak menginginkannya meski ia begitu mencintainya.
" Oke.., aku tunggu di meja makan " ucap Amira canggung.
********
Keesokan hari, setelah satu minggu menghabiskan bulan madu. kedua pimpinan baru HWD grup kembali bekerja. Rendra dan Nindi pergi bulan madu ke Eropa sementara Bastian dan Ami lebih memilih Bali sebagai tempat mereka merehatkan diri sejenak sebelum masuk dunia kerja yang sangat sibuk, apalagi jabatan Bastian sangat penting di perusahaan, direktur utama.
Hendra telah memperkerjakan dua asisten laki laki untuk anaknya agar tidak terdengar lagi skandal skandal yang merusak nama perusahaan.
Rendra begitu panik mendapati meja Luna sudah di gantikan seorang laki laki.
" Mana Luna..ha..? " tanya Rendra pada semua staffnya.
" Luna sudah tidak bekerja lagi pak, seminggu yang lalu ia mengantarkan surat resign " jawab staff Rendra ketakutan. mereka semua sudah tahu skandal bos dan sekretarisnya itu. tapi sebagai budak korporat mereka hanya bisa tutup mulut dari pada gaji tak seberapa di permainkan atasan.
Rendra menghubungi wanita simpanannya itu, bercinta dengan Luna sudah menjadi Candu laki laki tampan itu. Tersambung.
" Kamu dimana Sa...." Rendra terpaksa mematikan ponsel karena tiba tiba Nindi masuk ke ruangannya.
" Pagi...sayaaang, maaf aku menyusulmu ke sini "
Rendra membaca notifikasi pesan Luna.
[ aku ada di apartemenmu ]
" aku mau tanya passcode apartemenmu, aku mau kita tinggal di sana "
" Passcode ? " tanya Rendra. Nindi mengangguk pasti. Ya ampun, cobaan apa ini. rutuk Rendra, tak mungkin ia membiarkan Nindi pergi ke apartemennya karena disana di dominasi barang barang Luna dan di sana mereka punya stok pengaman yang begitu banyak.
" Jangan di apartemen ku yang lama sayang, kita beli apartemen baru "
Rendra menelan salivanya saat Luna mengirimkan foto wanita itu dalam balutan lingerie.
" Apartemen lama saja sayang, aku suka viewnya " rengek Nindi. Rendra menggaruk tengkuknya.
Bagaimana ini ?