
Kesehatan Winda semakin membaik, Hendra mengirimkan dokter pribadi mereka ke rumah untuk merawat Winda. karna Bastian merasa ibunya butuh seseorang untuk menemani di rumah, ia meminta Windi tinggal bersama ibunya. Windi membawa dua anak perempuannya. Della dan Arumi.
Bastian merasa tenang karna ibunya akan aman karena ada tiga orang yang menjaganya.
Bastian telah membangun sebuah rumah untuk keluarganya sendiri. Ia merahasiakan seperti apa rumah yang ia bangun untuk Ami dan anaknya kelak. ini akan jadi kejutan untuk istrinya yang tengah jadi perwakilan perusahaan HWD grup di Inggris.Tapi seringkali ia memberikan kejutan barang barang mewah, Ami tak begitu sumringah beda halnya ketika asistennya di sodorkan permen kaki.
" You are so sweet " meluncur manis dibibirnya. Bastian tersenyum sendiri kala ingat bagaimana istrinya tersenyum saat ia berikan permen kaki.
Saat waktu makan siang ia gunakan untuk menghubungi istrinya itu. dua hari ini berjalan begitu lama. Kalau lagi bucin. semenit rasa setahun.
Panggilan tersambung, tapi belum diangkat. kali ketiga baru vidio call Bastian diangkat Ami. ia mengerjapkan mata karena terbangu mendadak, masih sangat pagi di kota London.
" pagi dek " sapa Bastian sambil tersenyum memandangi wajah acak acakan di depannya.
" Masih pagi ini lo kak, sudah telponan. kangen ya.." goda Ami sambil merapikan diri.
" Ah..siapa lagi yang ngangenin kamu..ge er " sembur Bastian dengan mengerucutkan mulut padahal hati berkata ' iya, aku kangen kamu sayang '. Ami terkekeh. diam diam Bastian menikmati tawa itu.
" lain di mulut lain di hati " cibir Ami, ia mengenakan hoodie yang diberikan Bastian.
" Sudah makan siang kak ? bukannya ini jam makan siang ? "
" Sudah..liat kamu aku udah kenyang " jawab Bastian enteng.
" Emangnya aku makanan apa " sungut Ami. ia mencubit pipinya sendiri.
" Tu kan nyadar pipinya mirip bakpau " ejek Bastian yang di balas Ami dengan kepalan tangan.
" Berapa hari lagi disana ? " tanya Bastian serius. Ami terdiam sejenak meghitung hari dengan jari.
" Mungkin empat hari lagi. kenapa kak. aku kan bukan asisten kakak lagi, kata papi peraturan kantor tertulis suami istri tak boleh satu kantor "
" Bukan itu " sanggah Bastian, ia mengetuk meja dengan jari, entah kenapa ia jadi gugup sendiri mengatakan yang baru terlintas di kepala.
'" Apa kak ? iya beneran kangen kan " goda Ami lagi. Bastian menghela nafas, mengatakan hal ini perlu siap mental juga.
" Aku ingin punya anak " ucap Bastian terburu
Klik ! layar mati.
Bastian mengusap wajahnya. Ia jadi tersenyum sendiri, kan jadi ketauan ia ingin bercinta lagi. Malu tapi mau.
sebenarnya Bastian memang ingin segera punya anak secara umurnya sudah cukup matang untuk menjadi seorang ayah. Ia selalu berharap setelah mereka berhubungan intim, Amina menyampaikan berita gembira itu bahwa mereka akan menjadi orang tua.
Tapi ini masih awal, pernikahan mereka baru berjalan satu bulan. Masih banyak waktu bagi mereka menikmati hari hari sebagai pengantin baru. Pernikahan tanpa restu ini membuat Bastian tak begitu leluasa menikmati couple timenya bersama istrinya, karna Ami sering merasa cemas akan reaksi Winda jika pernikahan mereka diketahui.
Semua orang sudah tahu, Winda ingin menjodohkan Bastian dengan anak sahabatnya.
Bastian sedikit bernafas lega karna sepertinya mami telah bersikap ikhlas menerima kehadiran Ami sebagai menantu seperti yang diungkapkan ibunya saat Bastian menemui Winda yang sedang sakit.
" Mungkin dia memang jodohmu Bas " ungkap ibunya waktu itu.
Tapi pendapat Winda saat itu akan mudah goyah jika angin hasutan terus berhembus di telinganya belum lagi ejekan Dina, madunya yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan Rendra dengan anak keluarga pengusaha ternama.
Winda terpaksa harus ikut mengurus pernikahan itu karna Hendra mengatakan hari resepsi Rendra juga akan menjadi hari resepsi Bastian.
Pagi itu mereka bertemu di kantor Wedding Organizer. Dina menyapa madunya dengan hangat. Perkataannya lembut tapi maknanya begitu menusuk.
Winda berusaha menahan emosinya. Sudah beberapa malam ini Hendra selalu menginap di rumahnya dan ia kembali memberi pelayanan seperti saat mereka masih pengantin baru, mungkin karena itu madunya jadi PMS.
" Kenapa nggak di balas kak, sesekali pelakor itu harus di kasih pelajaran, iiih..mulutnya itu rasanya mau aku cabein kak level sejuta " geram Windi saat mereka sudah terpisah di ruangan berbeda.
Winda hanya diam saja tak menanggapi pertanyaan adiknya. Tangannya sibuk membolak balikan foto foto pakaian pengantin tapi pikirannya jatuh kemana mana. Perkataan madunya tadi sedikit membuat moodnya rusak.
Kata kata horor itu terus terngiang di telinganya.
' Siapa Amina Rahayu ? dia hanya anak pembantumu kak. Anak seorang pembantu..pembantu, wanita kampung "
Winda memijit pelipisnya, coba saja Ami berasal dari keluarga Pengusaha. Bastian tak mungkin di ejek kolega bisnis suaminya.
" Kenapa kak ? kakak masih sakit ? " tanya Windi sambil memeriksa kening kakaknya. Winda menggeleng lemah. Helaan nafasnya terdengar panjang.
" Aku tahu kakak belum ikhlas menerima menantu kakak yang berasal dari kampung itu "
Winda hanya mengangkat wajahnya sesaat lalu kembali menekuti foto foto pakaian pengantin.
" Nanti. Setelah resepsi ini berjalan, aku akan bantu kakak memisahkan mereka " ucap Windi penuh penekanan.
Winda memandang adiknya lekat. tak ada sanggahan atau anggukan. jujur, ia belum bisa menerima Ami sebagai menantunya.
Saat keluar dari kantor WO. Winda berpas pasan dengan Rina dan Nana. mereka melengos ketika Winda menyapanya. ini seperti menumbuhkan benih benci untuk Ami.
' wanita kampung itu sudah merusak persahabatanku dengan Rina ' rutuk Winda dalam hati.
Ketika Winda dan Windi sedang menikmati makan siang di restoran, Sekelompok sosialita mencari tempat duduk tak jauh darinya. Winda mengenal mereka. salah satunya adalah Rina dan disana juga ada Dina, madunya.
" Eh..jeng, mau dengar nggak gosip terbaru " Dina mulai bicara.
" Apaa tuh ?" tanggap Rina cepat, ia melirik Winda yang duduk tak jauh dari meja ibu ibu sosialita.
" Katanya ada pengusaha muda kawin sama perempuan kampung, bego ya dia mau kawin sama wanita ga jelas, ujung ujungnya habis tu harta diporoti wanita miskin " ucapan Dina di sambut tawa teman temannya terutama Rina, ia paling keras tertawa.
Winda mengepal tangannya, kini benih kebencian itu mulai berpucuk pada wanita yang sedang berpidato di depan sekumpulan pengusaha internasional.
Konsep properti yang ramah lingkungan yang di usung Ami dalam pidatonya mendapat sambutan meriah peserta seminar dengan bahasa inggris yang sangat fasih.
" itu menantu saya " ucap Hendra bangga di hadapan dewan direksi.
Bastian tersenyum saat semua memandangnya, gelenyar itu semakin membuncah di hatinya. Ternyata ucapan gadis yang ia temui dua tahun lalu bukan bualan. Saat ia diajari bicara di depan forum.
Flash back on
" Kamu ga percaya saya sanggup bicara di depan forum internasional " ucap gadis itu percaya diri. saat itu ia hanya menanggapi dengan pandangan meremehkan.
" Ga apa kalau ga percaya, tapi kalau terjadi push up seratus kali "
Flash back off
Rendra mengepalkan tangan dibawah meja ketika Bastian begitu memukau bicara di depan dewan direksi. Sepertinya, Bastian yang akan jadi kandidat untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai direktur utama.
" Ini tak bisa dibiarkan ' gumam Rendra dalam hati