
Alicia dan Bara duduk di kursi, mereka makan siang dengan ala kadarnya saja yang di buat oleh Alicia. Bara senang makan masakan Alicia meski sederhana, dia baru kali ini makan masakan calon istrinya itu.
"Bara, kenapa mendadak banget menikahnya? Apa tidak bisa menunggu satu bulan lagi? Kenapa harus minggu depan." tanya Alicia.
"Tidak. Aku ingin secepatnya mengikatmu, dan nanti aku akan bawa kamu di rumah papa. Bagaimana?" kata Bara.
"Kamu tidak menyediakan rumah untukku?" tanya Alicia.
"Aku sudah membeli rumah, tapi perlu di perbaiki. Aku belum sempat memperbaikinya, jadi kamu bisa tinggal di rumah papa. Atau di apartemenku saja?" tanya Bara.
"Mending di apartemen aja, lebih bebas." kata Alicia.
"Oke, setelah rumah sudah siap kita langsung pindah." kata Bara.
Mereka makan dengan santai. Mengobrol masalah masa depan setelah menikah dan pekerjaan masing-masing.
"Kamu masih kerja di agensi itu?" tanya Bara.
"Aku sudah keluar, sejak kamu memutuskanku." jawab Alicia.
"Karena aku?" tanya Bara.
"Nggak, aku memang sudah memutuskan untuk keluar dari pekerjaan itu. Dan rencananya aku ingin buka toko kue di kampung."
"Kamu mau pulang kampung? Tapi bukankah kedua orang tuamu sudah tiada?"
"Masih ada tanah milik ayahku di saja, dan rencananya mau aku bangun lalu berjualan kue." kata Alicia.
"Aku juga lebih suka kamu tidak bekerja lagi di agensi itu. Aku takut kejadian tentang klienmu yang psikopat itu terulang lagi." kata Bara.
"Dan kembali jatuh cinta dengan kliennya?" ucap Alicia menyindir Bara.
"Tidak! Tidak akan aku biarkan kamu jatuh cinta sama klienmj lagi, lagi pula cukup diriku yang kamu cintai." ucap Bara.
Alicia tersenyum saja, dia lalu membereskan piring-piring bekas makanan yang tadi mereka makan bersama. Dia membawanya ke belakang untuk di cuci.
_
Persiapan untuk menikah Alicia benar-benar secepat kilat. Alicia hanya memberitahu pamannya satu-satunya di kampung ayahnya itu. Pamannya itu kaget ketika Alicia memberitahu akan menikah dengan seorang pengusaha muda dan kaya.
Namun begitu, pama Alicia itu senang jika keponakan satu-satunya dari anak almarhum kakaknya yaitu ayah Alicia akan menikah. Dia tidak merasa khawatir lagi karena nantinya gadis itu akan ada yang menjaganya.
Sedangkan Nindy dan Reina juga ikut kaget dengan berita Alicia minggu depan menikah dengan Bara secara mendadak.
Kini Alicia berada di kantor agensinya, sedang berkunjung untuk bicara pada Nindy dan Reina.
"Jadi kamu menikah secara mendadak Alicia?" tanya Reina.
"Iya mbak, Bara sudah mempersiapkan semuanya. Aku tinggal datang saja ke gereja dan nantinya mengadakan resepsi pernikahan di hotel." kata Alicia.
"Waah, kamu beruntung. Oh ya, bagaimana kasus papanya itu dengan mama sambungnya?" tanya Reina lagi.
"Om Hengky dan tante Irma bercerai. Aku juga tidak menyangka istrinya itu justru suka sama Bara. Gila ngga itu, dia melampiaskannya dengan banyak permintaan barang mewah. Dan adiknya, bukan adik kandung Bara, justru entah siapa ayahnya. Kupikir memang aku juga marah sewaktu mendengar tante Irma mengatakan suka sama Bara. Tapi dia di usir sama Bara dari rumahnya." kata Alicia.
"Syukurlah, aku takut waktu kamu menerima pekerjaan itu. Dan kamu akan jadi banyak masalah." kata Nindy.
"Aku pikir kenapa juga harus menerima pekerjaan om Hengky, karena dia menderita selama lima tahun memendam itu. Bayangkan, dia bertahan agar anaknya itu tidak kecewa. Dan berharap istrinya itu berubah." kata Alicia.
"Miris sekali hidupnya, dulu di selingkuhi pacarnya yang bekas modelnya. Sekarang dia di kecewakan oleh ibu sambungnya. Semoga pacarmu itu bahagia denganmu, Alicia." kata Reina.
"Ya, aku akan mendampinginya selamanya. Berada di sisinya terus apa pun yang terjadi."
"Tapi kulihat dia sangat mencintaimu, Alicia."
"Ya, aku tahu itu." ucap Alicia.
_
"Kenapa tidak mau?" tanya Bara.
"Hanya satu hari ini saja, besokkan aku langsung tinggal di sana. Lagi pula, aku ingin mengenang untuk terakhir kalinya di rumahku ini. Ini rumah perjuanganku selama ini." kata Alicia.
"Ya sudah, terserah kamu saja sayang." kata Bara.
Mereka sedang makan malam di rumah Alicia, Bara sangat senang dengan masakan calon istrinya. Dia juga meminta pada Alicia jika nanti ke kantor akan di bawakan bekal untuknya. Alicia hanya tersenyum saja.
Esok hari, waktu menjelang pernikahan sudah dekat. Alicia sudah di dampingi oleh Nindy dan Reina, dia di dandani di salon. Rasa deg-degan membuatnya gugup dan banyak mengeluarkan keringat dingin.
"Kamu gugup?" tanya Nindy.
"Ya. Aku gugup sekali." ucap Alicia berkali-kali tarik napas panjang.
Reina dan Nindy tersenyum, memang wajar jika menjelang pernikahan pasti merasa gugup. Bahkan ada yang selalu buang air kecil karena gugupnya.
Kini jemputan mobil Alicia untuk membawanya ke gereja di mana dia dan Bara menikah. Reina dan Nindy menemani Alicia, tak lupa juga omnya dari keluarga ayahnya juga sudah menunggu di depan.
"Kamu sudah siap, Alicia?" tanya omnya.
"Sudah om, aku gugup sekali." jawab Alicia.
"Ya, wajar saja." kata omnya Alicia.
Alicia naik mobil yang sudah sediakan. Om Alicia yang jadi pendamping pengantin keponakannya itu. Sedangkan Reina dan Nindy di mobil lain. Mobil pengantin meluncur menuju gereja yang sudah di siapkan untuk pengambilan janji suci Alicia dan Bara.
Perjalanan tidak terlalu jauh, dan mobil yang membawa Alicia sampai tepat waktu. Acara di mulai pukul sembilan pagi hingga jam sebelas siang. Lalu mereka akan istirahat lebih dulu di hotel, baru jam dua siang mengadakan resepsi pernikahan.
Alicia di tuntun oleh omnya masuk ke dalam gereja. Di belakangnya ada Nindy dan Reina sebagai pengiring pengantin. Setelah di beri kode untuk segera masuk ke dalam gereja dan memasuki altar, mereka berjalan dengan pelan.
Tampak Bara dengan baju setelan jas pengantin melihat Alicia sangat cantik. Dia terpaku melihat Alicia yang berbeda dari biasanya, sangat cantik. Di iringi musik, Alicia berjalan menuju altar. Sampai di depan, Bara menerima tangan Alicia.
Dia tersenyum senang karena Alicia sangat cantik sekali. Dia pun berbisik padanya.
"Kamu sangat cantik sayang." kata Bara.
"Terima kasih, kamu juga tampan." ucap Alicia.
Keduanya tersenyum, mereka pun menghadap pendeta yang akan mengambil sumpah janji suci pernikahan. Pendeta pun memberikan wejangan pernikahan pada keduanya, lalu mengambil sumpah janji pada Alicia dan Bara untuk hidup semati dalam rumah tangga dan saling setia.
Setelah pengambilan sumpah dan janji pernikahan dan pemasangan cincin pernikahan, keduanya di persilakan saling berciuman tanda bahwa mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Tepuk tangan dan senyuman haru dari undangan yang hadir di sana, membuat Bara dan Alicia juga ikut tersenyum.
"Kamu sekarang istriku sayang." ucap Bara.
Alicia tersenyum, mereka lalu berjalan di sepanjang karpet merah dan akan menuju hotel di mana resepsi pernikahan di laksanakan siang nanti.
_
Alicia dan Bara sedang bergumul di atas ranjang pengantin mereka. Di dalam kamar hotel presiden suit jadi saksi penyatuan cinta dan perasaan masing-masing.
Bara sangat bahagia, begitu juga dengan Alicia. Ungkapan perasaan cinta tak henti Bara ucapkan, dan kini keduanya saling memeluk.
"Aku mencitaimu Bara." kata Alicia memeluk erat suaminya itu.
"Aku lebih mencintaimu, sayang. Alicia." ucap Bara mengecup kening Alicia.
Kini mereka tertidur, bermimpi indah tentang masa depan pernikahan dan rumah tangga yang bahagia. Akan menghaadapi ujian dan masalah secara bersama-sama.
_
_
>>>>>>>>>>>>>>>>> t a m a t <<<<<<<<<<<<<<<<<